
“Besok kita kerumah kakek ya Clara?” ucapku sambil mengajaknya bermain di halaman rumahnya.
“Kakek siapa ayah..?” balas Clara dengan polosnya.
“Orang tua ayah…..bapaknya ayah…..kakek Tata……Kalo disini kan kakek Adi…bapaknya Bunda…” jelasku sambil gemas memandang wajah lucu Clara.
“Oooo…” ucap Clara lucu sambil meneruskan bermain dengan mainannya.
“Kamu yakin …?’ Ita muncul dari balik pintu ruang tamu lalu duduk disebelahku.
Aku mengangguk tanda mengiyakan, “Papa yang mau ketemu kamu dan Clara” ujarku
Sebelumnya sudah kuceritakan pada Ita kalo papa sekarang terkena stroke dan lumpuh sebagian,sehingga hanya bisa terbaring di tempat tidur.
Saat aku datang bersama Ita dan Clara, hanya ada mama yang sedang mengangkat pakaian yang telah
dijemur seharian. Satria dan Asty belum pulang dari aktivitas sekolahnya.
“Ehhh….siapa ini…? “ ucap mama ramah seraya tersenyum melihat wajah mungil Clara putriku
“Ayo Clara…beri salam dan cium tangan sama nenek..” ujarku sambil mengandeng tangan kecil Clara. Diikuti Ita yang mencium tangan mama.
“Paaa….coba liat nih…siapa yang datang…” ucap mama sambil masuk kedalam rumah
Aku,Ita dan Clara mengikuti langkah mama, kulihat papa terbaring di tempat tidur sambil memakan buah pier yang telah dipotong potong mama.
Mata papa berbinar….tersenyum melihat si kecil Clara….Ita mencium tangan papa…papa megusap rambut Ita lalu memeluk Ita sambil terdengar tangisan papa.
“Maafkan papa ya Ta…” ujar papa sesunggukan
Itapun tak kuasa ikut meneteskan air mata mendengar ucapan dan melihat keadaan papa, laki laki yang dulunya terkenal berwatak keras, bertubuh tegap dan tegas, kini harus terbaring tak berdaya di tempat tidurnya setiap hari.
Akupun terharu melihatnya, kutahan sebisa mungkin agar air mataku tak keluar dari sudut mataku.
Sambil mengobrol, sesekali papa mengusap kepala Clara, dan juga kadang papa tertawa mendengar celoteh celoteh polos dari Clara.
Lambat laun seiring waktu, kehadiran Ita dan Clara bisa diterima keluargaku, suasana saat berkumpul pun sudah mencair , tidak seperti awal awal yang sedikit kaku dan formal.
Akupun mulai sering pulang kerumah Ita dan kehadiranku pelan pelan juga diterima seluruh keluarga besarnya.
__ADS_1
Sudah lama aku tak duduk di tepi laut, tempat menyendiriku….tempat favoritku.art
Selesai urusanku dipelabuhan Tanjung Priok, kuputuskan habiskan soreku disana, cukup lama aku termenung mengingat semua jalan cerita hidupku…
Bayang bayang Sisca….Ita…Ririn dan Debby melintas diantara buih buih ombak yang pecah terbentur karang…..hatiku sudah membeku kini….jiwaku juga sudah lelah dengan semua Cinta dibatas horizon sana…keindahannya membuat semua jiwa mengharu biru, namun saat tenggelam di hempaskan dan pecah
berkeping-keping bagai membentur karang karang yang tajam.
“Debby….what I have to do..?” tak sadar aku bergumam
Tiba-tiba aku teringat percakapanku dengan Debby saat pertama kali dekat di Lembang beberapa waktu silam.
“DON’T WORRY ABOUT YOUR WIFE ADRIAN…IF GOD WANT HER BESIDE YOU…WE DON’T KNOW HOW…DON’T KNOW WHEN….YOU WILL BE MEET HER …AND BECOME TOGETHER AGAIN…”
(Jangan khawatir mengenai Istrimu Adrian….jika Tuhan menghendaki dia disampingmu…kita tidak tahu bagaimana….tidak tahu kapan….kamu akan bertemu dia dan bersama lagi…”
Apakah ini arti semua kisahku? Inikah akhir dari panjangnya pencarianku yang berliku?
Tak penting lagi sejuta kata CINTA …..Tak harus lagi getar asmara dan gelora di dada….ada Clara buah hatiku penghilang luka…ada Ita wanita yang selalu mencintaiku dan menyayangiku dengan sabarnya.
Ya….seperti halnya aku dan Debby dulu, CINTA tak harus selalu diungkap atau diucap, tapi berbuat dan jalani …keseharian dan saling mengisi….
ada dan seolah bisa memberi jawaban atas galauku dan semua pertanyaan…” batinku sambil aku bangkit dan melangkah pulang.
“Kamu dan Clara mau tinggal denganku lagi? Dirumah yang aku beli Ta…?” tanyaku sambil menghirup teh hangat yang dibuat oleh Ita malam itu dirumahnya. Clara saat itu sedang asik menonton telvisi film kartun kesukaannya.
“Sungguh…? Tapi bukannya rumah itu tadinya buat kamu dan Ri….” Kutaruh jari telunjukku di bibir Ita agar die berhenti bicara.
“Jangan ungkit dan bicara masa lalu….” Balasku sambil tersenyum.
Ita langsung menghampiri papa dan mamanya lalu mengutarakan niatku tadi, kulihat sekilas wajah bahagia dari orang tuanya. Ita kembali menghampiriku lalu tiba tiba mencium pipiku…”Terima kasih ya Ayah….”
Aku tertawa melihat kelakuannya, dan itu pertama kalinya Ita tidak memanggilku dengan namaku.
Aku, Ita dan Clara akhirnya pindah dan tinggal dirumahku yang sudah sekian lama kosong, aku sengaja memilih hari kepindahan kami, sehari sebelum ulang tahun Ita.
Hari pertama kami menghuni rumah tersebut, aku ajak Ita dan Clara untuk berkenalan dengan para tetangga. Aku menahan tawa saat melihat sedikit wajah wajah bingung para tetangga. Saat aku ajak Ririn disitu belum
banyak penghuninya dan masih banyak deretan rumah yang belum ditempati, namun saat terakhir aku bersama Debby sudah cukup lumayan banyak penghuni baru dan beberapa sempat menyapaku dan Debby dulu…
__ADS_1
Sambil berjalan pulang Ita bertanya sambil tertawa…” Itu muka para tetangga kok kayak orang bingung ya? Pasti bingung tahu tahu kamu datang sama aku dan seorang anak kecil…sedang kan yang pernah di liat mereka kamu
sama yang lain dulu kesini…malu maluin aja kamu ihhh…” ucap Ita disela gelak tawanya sambil mencubit pinggangku.
Aku mulai belajar menyetir mobil yang kubeli di area komplek perumahanku, karena jalan masuknya yang cukup luas dan masih sepi. Sepupu laki laki Ita yang mengajariku, dan kadang aku nekad bawa sendiri dan aku minta
didampingi Ita, walau seringkali aku kena semprot omelan Ita.
“Kamu kalo disapa tetangga …ga usah balas melambai dan nengok ka arah mereka deh …” gerutu Ita
“Tapi kan nanti aku dibilang sombong sama tetangga ma…”jawabku
“Iya…tapi nanti aja kalo nyetirmu sudah lancar….daripada gara gara disapa …dan kamu respon…lihat tuh akibatnya….bak sampah dan beberapa pot bunga didepan rumah para tetangga rusak kamu tabrak” Ucap Ita lagi menahan tawanya.
Aku tertawa terbahak bahak, Ita benar…setiap kali aku membalas sapaan para tetangga dan menengok kearah mereka, arah mobilku memang langsung ngawur dan menabrak bak sampah atau pot pot tanaman milik tetangga.
Aku sering tersenyum geli jika mengingatnya
Hari hariku pun kujalani bersama Ita dan Clara, luka luka lama dari masa lalu, ku masukan kedalam kotak hati dan kemudian ku kunci. Diwaktu luang kucoba menekuni hobby baruku dengan memancing. Itapun mengandung anak
kami yang kedua, Clara terlihat senang karena ada seoranga dik yang akan menjadi teman bermainnya nanti.
Siang itu baru saja aku tiba dikantorku dari mengurus pekerjaanku di cargo area bandara soekarno hatta, lalu melepas kepergian atasanku dari perusahaan, karena dia sudah membeli pabrik baru dan merencanakan mengelolanya sendiri. Telpon genggamku berbunyi sesaat setelah aku berjabat tangan dengannya.
“Adrian….kondisi papa kritis…dari pagi sudah sering tak sadarkan diri….tadi mama sudah panggil dokter temen mama…katanya…ikuti dan turuti saja semua permintaannya …” ucap mama diseberang sana. Tubuhku dan
persendianku terasa lemas mendengarnya.
“Lalu papa ada bilang ke mama mau apa?” tanyaku
“Dari tadi papa sebut makanan terus…apa itu namanya? Yang makanan jepang?” jawab mama
“Hoka hoka bento?” balasku
“Iya itu…..” jawab mama.
“Oke …Adrian segera kesana dan akan beli yang papa mau…” ucapku sambil menutup telponku
“SORRY MR.YOGI….PAK BUDI….MY FATHER CONDITION CRITICAL, SO I HAVE TO GO NOW..” ucapku kepada dua atasanku yang sedang berbincang-bincang dilobby kantor sambil berdiri didepan kendaraannya.
__ADS_1
“OKE ADRIAN….SAMPAIKAN SALAM KAMI PADA PAPAMU..” ucap salah satu atasanku yang berwarga Negara Indonesia.