
Aku bersimpuh di pusara makam papa, seraya kupegang papan nisan dan tanah merah yang masih basah bertaburan bunga-bunga. Sosok dengan karakter kerasnya yang telah mendidik ku…ajarkan ku..segala hal tentang hidup. Dan disisa sisa perjalanan hidupnya, papa juga ajarkan ku bagaimana memaafkan dan meminta maaf atas masa lalu , sekeras apapun hati kita.
Satu lagi orang yang punya arti dalam hidupku pergi….tapi semua ajarannya…semua prinsip dan ilmu yang ditanamkan dalam diriku tak akan pernah hilang. Satu perkataannya yang sering di ajarkan padaku, dan akan selalu
ku ingat….bahkan Alm papa pernah menuliskan kata kata ini di papan tulis yang terpasang dirumah.
LIFE IS MISTERY….JUST DO THE BEST TODAY (HIDUP ADALAH MISTERI…LAKUKANLAH YANG TERBAIK HARI INI)
“Sekarang papa istirahat yang tenang ya? Percayakan soal mama…dan adik adik sama Adrian…” gumamku sambil menatap nisan papa.
Kurangkul ketiga adikku, Hendra…Satria dan Asty…..
“Papa akan selalu lihat sepak terjang kita di dunia….kita harus jadi “orang” agar papa bangga dan tersenyum disana….dan juga selalu kirimkan doa kita buat papa…” ucapku…sambil perlahan kami meninggalkan tempat
peristirahatan terakhir papa.
“Kak Adrian…sebenarnya beberapa hari yang lalu mau bicara sama papa dan Ka Adrian…tapi karena Papa pergi…..Satria tunda dulu …” Ucap Adikku Satria.
“Soal apa…?” Ucapku sambil meminum kopi panasku, kami baru saja selesai acara pembacaan doa dalam memperingati 7 hari kepergian Alm papa.
“Satria ingin melamar dan menikah dengan Diana kak…” jawab Satria
“Ok…kalo kamu memang sudah merasa siap, kalau boleh Kak Adrian tanya….kesiapan kamu seperti apa hingga mau dan berani melamar serta berumah tangga dengan Diana?” Tanyaku lagi
“Satria sudah punya rumah tempat tinggal, beli secara KPR seperti kak Adrian dan penghasilan Satria sudah lumayan cukup di tempat bekerja sekarang, dulu Kak Ririn yang bawa Satria kesitu ,saat Kak Ririn akan berhenti
__ADS_1
dan pindah kerja ke tempat lain..” Jelas Satria
Ah nama itu lagi…..
“Ok kalau begitu….hanya Kak Adrian sarankan…untuk lamaran lebih baik menunggu 40 hari kepergian papa dan untuk acar pernikahanmu..setelah 100 hari papa ya?” ucapku lagi
“Baik Kak Adrian…nanti Satria sampaikan ke keluarga Diana…”
balas Satria
“Dan ucapkan terima kasih sama Kak Ririn…ingat papa kita selalu ajarkan jangan lupa atas budi baik maupun jasa orang lain…” ujarku diikuti anggukan kepala Satria tanda mengiyakan ucapanku.
Hari hari keluargaku kini harus tetap berlanjut tanpa kehadiran Papa, aku sedikit lega, karena Satria dan Asty telah menyelesaikan sekolahnya dan masing masing juga sudah mempunyai pekerjaan tetap, Hendra dan Tika juga sudah menjalani kehidupan rumah tangganya dan telah dikaruniai seorang putri.
Perut Ita pun makin membesar, kami hanya tinggal menunggu hari kelahiran anakku yang kedua, aku tertawa kalau melihat Clara mengelus-elus perut mamanya dan tidak sabar menunggu kehadiran adik bayi nya.
“Oke…lakukan apapun kata Dokter, aku kesana sekarang…” jawabku
Kulihat mamanya Ita duduk di bangku tunggu ruang operasi, Clara duduk disebelahnya. Melihat kedatanganku Clara menghampiriku, “Ayah….adik aku lagi mau dikeluarin dari perut mama ya?” ucap Clara lucu.
“Iya…nanti Clara harus sayang sama adiknya ya?” balasku smabil tersenyum.
Setengah jam berlalu, seorang perawat keluar dari ruang operasi,dan memanggil namaku “Keluarga Bapak Adrian….” Ucapnya seraya membuka
masker nya.
__ADS_1
“Ya…saya suster…” Ucapku sambil menghampirinya
“Pak…anak bapak sudah lahir dengan selamat….perempuan….tapi istri bapak mengalami pendarahan yang cukup banyak, dia kehilangan banyak darah, hanya saja stok darah dan dengan golongan darah istri bapak sedang
kosomg dirumah sakit ini, jika menunggu dari rumah sakit lain atau bank darah, kami takut Istri bapak akan makin banyak kehilangan darah dan membahayakan nyawa nya” jelas perawat itu.
“Lalu apa yang bisa dan harus saya lakukan sus?” balasku cepat.
“Bapak ke Palang Merah Indonesia di Jakarta, dan bawa coolbox khusus darah nanti dari kami,kami akan bawakan surat referensi dari kami, agar disana langsung bisa siapkan kantong darah sesuai golongan darah istri bapak” lanjut perawat itu lagi.
“Sekarang hari kerja, dan waktu sudah jam 17.00 WIB sore, jam jam orang pulang kerja, jika aku ke
PMI dengan mobil pasti akan makan banyak waktu…” pikirku.
Untunglah…ada suami pasien yang meminjamkan sepeda motornya
kepadaku, kebetulan ruangan rawat istrinya satu ruangan dengan Ita.
Kupacu motor secepat kilat menuju pusat kota Jakarta, jam orang pulang kerja di Jakarta memang macet luar biasa, aku bersyukur mengendarai sepeda motor yang dapat lewat diruang ruang sempit dikemacetan.
Cukup lama aku mengantri untuk dua kantong darah di Palang Merah Indonesia, sekitar jam 21.00 WIB malam, aku baru mendapatkan darah tersebut.
“Gimana Adrian…? Sudah dapat darahnya? Kondisi Ita makin drop ….wjaahnya makin pucat karena dankehilangan banyak darah…perawat minta kamu segera kesini kalo sudah dapat darahnya..” ucap mama nya ita dengan nada panik.
“Iya bu…ini saya baru dapat darahnya…saya segera kesana…” jawabku cepat dan langsung berlari kearah area parkir. Aku langsung tancap gas motor …aku lupa kalau itu motor orang yang kupinjam..dibenakku saat itu hanya….aku sudah kehilangan Debby….Papa…aku ga mau kehilangan Ita ibu dari anak anakku dan
__ADS_1
wanita yang setia dampingiku.