
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, tubuhku masih tetap merasa kedinginan dan sedikit menggigil, kulihat samar-samar telapak tangan kiriku yang dibalut perban , mungkin selesai operasi saat aku tak sadarkan diri
tadi, dan aku juga baru sadar kalo orang yang menabrak dan membawaku kerumah sakit, pergi meninggalkan begitu saja begitu aku masuk ke ruang Unit Gawat Darurat.
Kepalaku masih teras pusing dan ruangan tempat ku terbaring terasa berputar, kuputuskan untuk memejamkan mataku lagi agar rasa pusing dan sakit kepalaku berkurang. Mungkin juga akibat pengaruh obat bius yang belum
hilang saat aku mau dilakukan operasi kecil pada tanganku.
Kira kira lima belas menit kemudian, aku kembali terjaga…kurasakan ada jari jari lembut mengelus lenganku, ku coba buka mataku perlahan, aku takut masih terasa pusing dan berputar seperti tadi. Agak kabur kulihat dua wanita berdiri disamping kiriku.
“Kamu sudah sadar Adrian..? “ ucap wanita itu, ternyata Ita dan adiknya. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan lemah.
__ADS_1
“Jika aku sudah kuat berdiri, bawa aku kerumahmu….papa baru sembuh dan pulang dari rumah sakit, aku tidak mau membuat kondisi kesehatannya kembali tidak stabil…” ucapku setengah berbisik.
“Iya…sekarang ganti bajumu yang basah, aku bawa kaos oblong yang ku beli di minimarket tadi…” jawab Ita.
Aku tidak mau berlama lama di ruang UGD, lagipula aku agak takut melihat pasien dengan kondisi gawat dan parah masuk dalam rentan waktu yang sering.
Dipapah Ita dan adiknya, aku memasuki Taksi yang sudah dipesan oleh adiknya. Semua seperti mimpi bagiku, semua kejadian terasa begitu cepat.
Keluarga Ita tidak ada yang bersikap anti kepadaku saat aku dipapah turun dari Taksi menuju kedalam rumah, mungkin mereka pikir yang sedang aku hadapi sekarang adalah kejadian darurat atau kecelakaan. Aku langsung
“Tadi aku tebus resep yang diberi Dokter , dan Dokter juga memberikan cairan dalam botol infus ini, agar di siram sedikit demi sedikit ketanganmu yang dibalut perban…sekarang minum obatnya…” ucap Ita sambil memberikan beberap obat dan segelas air putih. Setelah itu Ita menyiram sedikit demi sedikit jemariku yang terbalut perban, aku meringis menahan sakit saat cairan itu meresap kedalam perban dan mengenai jari jariku yang dioperasi.
__ADS_1
“Oh ya Ta…motorku aku titip di security Bank, kalau ada yang bisa ambil …aku minta tolong…mungkin harus pakai mobil bak terbuka, karena aku takut karena ditabrak , motorku tidak bisa dihidupkan atau dikendarai…” ucapku
pelan
“Iya…nanti aku suruh anak laki laki yang ambil kesana, sekarang kamu istirahat lagi…” balas Ita lembut.
Aku mengangguk , Terima Kasih ta….” Ucapku smabil kembali kurebahkan tubuhku.
Ita keluar kamar dan meutup pintu, aku tatap langit langit dan dinding kamar, ku lihat sekilas beberapa bingkai foto terpasang , foto bayi perempuan yang cantik dan mungil. Saat aku menoleh ke sisi kananku, tak jauh dari ranjang tempat ku berbaring, kulihat seorang bayi sedang tertidur pulas di box tempat tidur bayi. “Itukah anakku…?” batinku….entah kenapa , semenit kemudian aku meneteskan air mata. Dan setengah bergumam sambil terus menatapnya aku berucap “ Maafkan ayah nak….”
Aku merogoh saku celanaku untuk mengambil telpon genggamku,dan berniat mengirim pesan kepada Hendraa adikku agar orang tuaku tidak khawatur, terutama papa yang baru pulang dari rumah sakit.
__ADS_1
“GW ADA URUSAN PEKERJAAN MENDADAK DILUAR KOTA BEBERAPA HARI…BILANG MAMA&PAPA, TOLONG LU JAGA PAPA DAN KONTROL KONDISINYA…KALO URUSAN GW SUDAH SELESAI NANTI GW PULANG..”
Aku terpaksa berbohong, agar keluargaku tidak khawatir, apalagi panik jika mendengarku yang mendapat musibah, biar kondisiku pulih dulu, baru nanti aku ceritakan kejadian yang menimpaku lain waktu. Aku juga mengirimkan pesan kepada rekanku bahwa aku tertimp musibah, dan tidak bisa bekerja selama beberapa hari.