
Aku segera kenakan jaketku dan berlari menuju lift apartemen, kertas milik Debby yang kubaca tadi kulipat dan
kutaruh di saku celanaku.
Kupacu motorku bagai kilat menuju rumah sakit yang letaknya tidak terlalu jauh dari apartemen, hanya dalam
hitungan menit aku sudah tiba di area parkir rumah sakit. Kembali aku berlari menuju ruang ICU , sesampai disana aku tidak diperbolehkan masuk, karena ruangan disterilkan dan beberapa Dokter dan perawat sedang menangani situasi pasien yang kritis. Kulihat Steven dan perwakilan perusahaan Debby sedang bersandar di tembok rumah sakit, wajah mereka tampak gelisah dan juga paniK.
Bahkan Steven sesekali mengepalkan tangannya dan memukul ke dinding rumah sakit. Didalam hanya mama Debby yang diperbolehkan mendampingi Debby.
Aku berdiri disamping Papa Debby dan melihat melalui kaca semua proses penanganan oleh Dokter didalam pada
Debby. Papa Debby melirik sekilas kearahku….dia menepuk dan mengusap bahuku, tanpa berkata sepatah katapun. Akupun refleks ikut mengusap bahu lelaki tua itu. Entah bagaimana seolah laki laki itu dapat merasakan dan mengetahui kedekatanku dengan Debby.
Dari kejauhan dibalik kaca, mataku focus dan tertuju dengan layar monitor penunjuk detak jantung Debby,
degup jantungku seolah mengikuti alur detak jantung Debby melalui alat tersebut.
Tiba-tiba dilayar monitor grafik detak jantung Debby berubah menjadi garis datar, dan lampu merah menyala dari
alat deteksi jantung itu. Jantungku juga seakan mau ikut berhenti……aku terpana….kulihat perawat berlari mengambil alat kejut jantung untuk dihentakkan di dada Debby…Tubuh Debby terlonjak keatas…namun tidak ada perubahan dan respon dari Debby….grafik garis lurus tetap terlihat di layar monitor. Salah seorang Dokter dengan masker yang dikenakannya, menggelengkan kepalanya kearah Dokter yang lain dan juga para beberapa perawat yang ada distu.
Semenit kemudian mama Debby berlari keluar ruangan sambil menangis….Steven memeluknya dan juga ikut meneteskan air mata….papa Debby menghampiri mereka berdua dan ikut memeluk mereka berdua. Perwakilan
perusahaan Debby yang berkepala plontos, langsung menelpon dengan telpon genggamnya untuk emberitahukan berita ini.Tubuhku seolah kehilangan tenaga…aku terduduk dilantai…punggungku bersandar pada tembok luar ruang ICU.
“Kenapa kamu pergi Debby…? Disaat aku dan kamu sudah tahu apa isi hati kita…..disaat aku akan meminta kamu
tinggal untuk jadi pendamping hidupku….kenapaaaaaa…” teriakku dalam hatiku …aku tak kuasa lagi menahan butiran butiran air mataku.
Steven kaka Debby menghampiri dan mengulurkan tangannya untuk membantuku bangkit dari lantai, setelah berdiri aku peluk tubuh Steven.
__ADS_1
“YOU ALREADY DO THE BEST ADRIAN….ME AND MY FAMILY WILL NOT FORGET ALL YOUR KINDNESS, I ALREADY HEARD A LOT ABOUT YOU FROM MY SISTER….THANKS FOR EVERYTHING ADRIAN…(kamu sudah berbuat yang terbaik Adrian, aku dan keluarga tidak akan lupa semua kebaikanmu, saya sudah
banyak dengar tentangmu dari adik saya..terima kasih untuk semuanya Adrian…)”
ucap Steven sambil mengusap punggungku.
Aku masuk ke ruangan ICU,kukuatkan hatiku….kulihat tubuh Debby terbujur kaku, wajahnya pucat dan
bibirnya sedikit membiru. Aku berdiri disampingnya ….sambil ku usap tetesan airmata yang terus mengalir dipipiku, ku dekatkan wajahku ke wajah Debby.
“SEKARANG KAMU SUDAH TIDAK SAKIT LAGI DEBBY….AKU SUDAH BACA TULISAN KAMU….DAN KAMU PASTI SUDAH TAHU APA JAWABAN DAN ISI HATIKU…..SELAMAT JALAN DEBBY….KAMU AKAN ADA DIHATIKU…SAMPAI KAPANPUN…..” ucapku sambil mundur beberapa langkah karena perawat datang dan akan membawa Debby ke kamar Jenazah.
“STEVEN…MY JOB IN SHIPPING DEPT/EXPORT IMPORT, IF YOU STILL CONFUSE BRING DEBBY TO HONGKONG…LET ME HANDLE ARRANGEMENT AT CARGO AIRPORT (Steven, Pekerjaan saya di departemen
pengiriman/shipping ,export dan import, jika kamu masih bingung membawa Debby ke Hongkong..biar aku yang mengurusnya di cargo pelabuhan udara)
“OH…ITS GREAT ADRIAN….THANK YOU SO MUCH…” jawab Steven sambil merangkulku , diikuti papa dan mama Debby.
Hatiku memang hancur berkeping-keping dan sedih teramat sangat, tapi aku harus tetap bisa tenang dan
tetap dapat berpikir secara logis, aku bisa bayangkan…Keluarga Debby pasti lebih terpukul dan ditambah bingung karena ini bukan di Negara mereka.
Didalam ambulan menuju bandara, aku menatap kosong ke peti jenazah Debby….ga akan ada lagi senyuman dari wajah cantiknya…ga akan ada lagi canda dan tawa kami lagi bersama sama…
Aku baru menyadari….bahwa kami saling tergantung satu sama lain, walau dimulut kami tidak pernah terucap kata
CINTA….kami berdua merasa hidup jika berdua…..dan seakan ada yang hilang, saat salah satu tidak ada disisinya….dan kebersamaan kami hampir setiap hari di apartemen, merupakan gambaran bagaimana kami akan jalani hidup dan saling mengisi setiap harinya.
Jiwaku se akan ikut terbang saat pesawat yang membawa peti jenazah Debby terbang menuju Negara asalnya Hongkong.
Sekali lagi aku menggumam “SELAMAT JALAN DEBBY….SEMOGA KAMU TENANG DI ALAM SANA…..AKU SELALU SAYANG KAMU…..”
__ADS_1
Bahkan untuk Cinta yang terucap pun, Cintaku tetap bagai Surya di batas Horizon sana, keindahannya sekejap lalu
pergi dan tenggelam.
Aku tak menyesal mengenalmu Debby….aku juga tak menyesal sayangi kamu….karenamu…aku mampu bangkit dan sembuhkan lukaku….karenamu aku jadi belajar…bahwa CINTA itu tak sekedar kata indah untuk diucapkan….tapi juga sebuah janji dan harus dibuktikan dengan perbuatan.
Kita berdua tak pernah ucapkan kata hati apalagi kata CINTA, tapi kita lakukan dengan perbuatan nyata
dikehidupan dengan saling mengisi satu sama lain dan juga saling bergantung satu dengan yang lainnya. Kita berdua tidak hidup dalam buaian alunan asmara dengan segala mimpi indahnya, lalu tiba tiba terbangun dengan rasa sakit dan luka.
Aku jadi teringat kata kata Debby saat pertama kali berbicara hal pribadi dilembang sekitar dua tahun yang lalu…
FOR ME…
WHY YOU SAID “LOVE” BUT YOU’RE GONE?
WHY YOU KEEP “LOVE” BUT LEAVE HURT INSIDE?
WHY WE TALK ABOUT “LOVE” IF IT’S ONLY A EMPTY DREAM?
(Untukku….
Mengapa kamu katakan CINTA ..tapi kamu pergi?
Mengapa kamu simpan CINTA…tapi tinggalkan luka didalamnya?
Mengapa Kita bicara tentang CINTA….jika hanya sebuah mimpi kosong?)
Keesokan harinya aku walau dengan perasaan galau dan hati yang hancur, aku harus tetap bekerja, untuk melaporkan hasil surveyku di Semarang beberap hari yang lalu, juga berkomunikasi dengan wakil perusahaan tempat Debby bekerja semasa hidupnya, untuk kelanjutan order pekerjaan yang ada di pabrik perusahaanku.
Steven melalui telpon genggam milik Debby , mengirimkan foto foto prosesi pemakamannya di Hongkong, dan
__ADS_1
Steven menyampaikan pesan ucapan terima kasih dari seluruh keluarga besar Debby di Hongkong. Aku tak kuasa menahan haru didadaku melihat seluruh foto foto rangakaian prosesi pemakaman Debby. Dan sangat berharap dan berucap dalam hati..”ANDAI SAJA AKU DISANA…”