
Aku terpekur menatap surya dikala senja…CINTA DIBATAS HORIZON……setiap cinta yang hadir dalam hidupku…..setiap mimpi indah yang hinggap dalam hariku…selalu hadir dan indah sesaat….namun seperti sang surya dibatas horizon sana….perlahan keindahannya akan tenggelam berganti pekat dan gelapnya malam…suara berisik celoteh camar lautpun menghilang …sunyi….kebisuan….hanya debur ombak bersama angin yang terpa
wajahku.
Jiwa gamangku berteriak ….memekik…..berontak….
Ego…amarah…..dan rasa sakit….terajut secepat kilat dan menggumpal bagai bola salju….membeku dan
perlahan menjadi gunung es yang diam terpaku.
Aku percaya cinta itu ada…..tapi kini aku tak percaya bahwa cinta itu indah selamanya…hanya sesaat….dan kemudian tenggelam …seperti surya di batas horizon sana.
Dengan langkah gontai…ku tinggalkan semua lamunan dan kembali pulang
Hari itu badanku terasa sangat penat, karena pekerjaanku yang menumpuk, aku ingin segera merebahkan tubuhku
dikasur kamarku yang empuk lalu pejamkan mataku dan terlelap…kulihat rumahku terlihat sepi dan terkunci…untunglah aku selalu membawa kunci rumah cadangan yang kusatukan dengan kunci motorku. Aku baru teringat kalau mama ke rumah nenek diantar Hendra hari ini, dan papa pergi mencari nafkah seperti biasa.
__ADS_1
Saat kulewati kamar papa mama, kulihat jendela kamar masih terbuka…pasti mama lupa menutupnya saat mau pergi tadi….ucapku dalam hati. Aku masuk kekamar dan menutup jendelanya yang terbuka, kemudian padanganku tertuju pada benda berwarna ungu terselip dibalik bantal tempat tidur mama, mama sudah seringkali lupa, makanya aku sering membenahi barang barangnya di tempat yang mudah terlihat atau kembalikan pada tempatnya.
Sebuah undangan….
Ririn & Farid…..tubuhku bergetar….ulu hatiku terasa dihujam beribu ribu jarum yang tajam, aku terduduk
di tepi ranjang. Kulihat tempat dan tanggal resepsi yang tertera diundangan….satu minggu lagi….ku hela panjang nafasku dan kugigit bibirku…
Dulu saat Sisca tinggalkanku, aku juga rasakan sakit yang teramat sangat, tapi sakit dan perih kali ini berlipat
lipat disbanding dahulu, karena saat dengan Sisca aku tidak sempat membangun angan dan mimpiku….bersama Ita…aku baru sebentar membangun Istana mimpiku tapi harus kuhancurkan sendiri karena keadaan…..kini dengan Ririn, yang tadinya ku anggap cinta terakhir dan terakhir kali aku rangkai angan dan khayalku menjadi nyata…harus pula terlempar….tercabik….dan pecah berkeping-keping bagai cermin yang kubenturkan dengan batu ditanganku.
kuputuskan untuk mengajukan cuti beberapa hari pada perusahaanku. Semua teman kantorku cukup heran dengan pengajuan cutiku, bertahun-tahun aku bekerja baru kali ini aku mengajukan cuti, Adrian si workaholic..gila kerja…mengajukan cuti?Ucap mereka.
“Hendra…besok pagi lu antar gw ke stasiun gambir ya?” ucapku pada adikku sabtu malam , saat dia dan istrinya
menginap dirumah pada tiap week end seperti biasa.
__ADS_1
“Oke…mau kemana lu?” balas Hendra
“Bandung….ada urusan…” jawabku berbohong, padahal aku tidak punya tujuan apapun kesana.
Pagi itu udara pagi cukup lumayan dingin, aku membonceng di jok belakang motor yang dikendarai Hendra, kami tak banyak bicara….dan Hendra juga lebih banyak diam, mungkin dia juga tahu apa yang sedang terjadi dan segala galauku.
Tiba tiba Hendra hentikan motornya diseberang sebuah gedung, aku tahu maksud Hendra….gedung itu adalah
tempat pernikahan Ririn dan Farid..yang acara akad nikah serta resepsinya digelar satu jam lagi…hiasan janur terpasang disisi kiri dan kanan pintu masuk gedung…
“Lu yakin ga mau kesana…?” ucap Hendra
Beberapa menit aku membisu dan menatap ke arah gedung itu, lalu ku gelengkan kepalaku “ Ngga Hen….ayo lanjut ke stasiun…” jawabku sambil menepuk pelan pundak adikku
Kali ini aku tak sekuat dulu, yang berani putuskan datang ke acara pernikahan Sisca bahkan menjabat tangannya,
kali ini cukup anggota keluargaku saja yang datang .
__ADS_1
Motor Hendra kembali melaju,kutinggalkan beribu angan dan mimpiku diseberang gedung tadi….kubawa perih dan
sakit yang kembali harus kutelan dan kurasakan.