CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
MELAWAN HATI


__ADS_3

“Adrian…..aku takut……” bisik Lily


malam itu ,sambil merebahkan kepalanya di dadaku , setelah kami menjemput Nazwa


dan anak kecil yang cantik serta lincah itu tertidur dikamarnya.


“Takut apa Ly…?” balasku sambil


membelai rambutnya dengan ujung jari jariku


“Aku tahu semua ini salah….aku


ada mas Hendri …walau dia tidak memberikan kebahagiaan hati sejak Robbi


lahir….tapi dia penuhi tanggung jawabnya untuk menghidupi kami….kamu


juga….sudah ada istri dan anak anak, walau setelah lewat jalan yang


berliku…..ini memang tak seharusnya….tapi aku takut Adrian…aku mulai takut


kehilanganmu….aku mulai sering rindu kamu ada disisiku….aku mulai cemburu jika


kamu ga ada disini….aku takut  semakin


dalam mencintaimu dan ingin memiliki…” ujar Lily dengan suara pelan.


“Lily ….apa yang kamu


rasakan…..sama seperti yang aku rasa….logika ku berulang kali katakan ini


salah…tapi saat mendengar suaramu….bersama kamu….semua logika itu sirna….semua


yang kucoba tepis malah semakin besar seperti bola salju ...dan aku seperti


berada di pasir hisap…makin kuat aku berusaha berontak ,malah makin dalam aku


tenggelam kedalamnya…” balasku sambil mengelus pipi putih Lily


“Apa kita harus akhiri dan saling


lupakan Adrian…?” ucap Lily  lagi dengan


suara tersendat seakan lidahnya kelu


“Kalau itu menurutmu yang


terbaik…..aku ikuti kamu….kamu sudah tahu jalan cerita dan kisah cintaku Lily…aku


selalu ikuti dan mencoba menerima…sesakit apapun….seberat apapun….” Balasku


sambil menarik nafasku dalam dalam.


“Tapi aku harus jujur Adrian….aku


ga sanggup….aku bukan remaja lagi….aku tahu harus bagaimana bersikap dan


membaca serta mengerti segala kondisiku juga kamu…..tapi aku ga sanggup melawan


isi hatiku sendiri……” ujar Lily lagi seraya memeluk tubuhku makin erat.


“Apa kita saling jatuh cinta


Adrian…?” ucap Lily sambil menatap le mataku…


Aku terdiam….sudah sekian lama


aku tak mendengar kata kata CINTA….apa Lily betul? Apa ini yang kami rasakan?


Bukan sekedar rasa iba dan kasihanku pada wanita ini karena kondisinya yang


sedang terjatuh dan butuh uluran tangan dan sandaran?


Kami berdua seakan membentur


dinding dan temui jalan buntu, tak kami temukan jawaban….kami hanya bisa hanyut


ikuti arus yang mengalir….walau dengan beribu rasa takut di hati kami.


Sore itu sepulang kerja, aku


singgah dirumah Asty adikku untuk menengok mama dan keponakanku , namun saat


aku datang kulihat raut sedih terpancar di wajah Asty dan mama.


“Kenapa kalian….? Hilman mana?”


Tanyaku pada mama dan Asty.


“Ada dikamar Kak…..” Jawab Asty

__ADS_1


adikku pelan


“Terus…kenapa raut wajah kalian


kusut dan sedih seperti ini?” lanjutku


“Hilman divonis Dokter RS


Fatmawati bagian hemodialisa harus lakukan cuci darah…ginjalnya sudah rusak…”


jelas mama


“Ya Tuhan…Hilman masih tergolong


muda…sudah harus lakukan cuci darah?” ujarku


Kuhampiri Sasya yang sedang


tertidur di box bayi, ada rasa iba dengan adikku , baru saja beberapa bulan


yang lalu, Asty melahirkan seorang putri yang cantik, dan kebahagiaan mereka


seharusnya menjadi lengkap dengan kehadirannya…..namun tak lama harus menerima


vonis penyakit yang termasuk kategori berat.


Aku masuk ke kamar tidur Asty,


kulihat Hilman suaminya tergeletak lemah , mendengar suara pintu terbuka, dia


membuka matanya dan melirik ke arahku


“Eh abang….” Ucapnya emah seraya


senyum ke arahku


“Tetap semangat ya Man…? Nanti


selain medis kita coba juga alternative…kamu harus berjuang untuk sembuh…Asty


dan sikecil Sasha butuh kamu…..” ucapku memberi semangat dan besarkan hatinya.


“Iya bang…” sahut Hilman


Biasanya aku dan adik iparku ini,


ngobrol banyak tentang proyek, bisnis maupun hobi kami yang sama yakni


sesak dan sering harus menarik nafas panjang.


Kukirim pesan Whastapp ke Ita


istriku mengenai kabar sakitnya Hilman dan lima belas menit kemudian Ita datang


menyusul beserta Clara dan Calista, karena rumah yang ditempati Mama dan Asty


masih dalam satu perumahan dengan kami.


“Adriaaaan….mas Hendri……” ucap


Lily diiringi suara tangisnya yang pecah saat menelponku pagi itu saat aku baru


saja tiba di kantor dan menyiapkan berkas berkas pekerjaanku.


“Ada apa Ly…? Tarik


nafasmu…jelaskan pelan pelan….” Jawabku , akupun sebenarnya ikut panik


mendengar suara tangis Ani.


“Tadi pihak LP menghubungiku…bahwa


mas Hendri…telah meninggal…” Lanjut Lily terbata bata disela tangisnya.


“Tapi kan pihak RS Polri tempo


hari mengizinkan pulang karena kondisinya sudah membaik?” ujarku


“Ok…aku kerumahmu sekarang lalu


kita ke LP….” Lanjutku  sambil berdiri


dari kursiku dan kurapikan lagi semua berkas berkas pekerjaanku tadi. Aku


menghubungi bagian personalia dengan telpon dimejaku untuk meminta izin keluar


kantor. Lalu segera bergegas ke area parkir.


Kulihat Lily sudah berdiri di

__ADS_1


teras rumah menungguku sambil memeluk Nazwa, melihat kedatanganku mereka


langsung berlari kearah mobilku.


Sepanjang perjalanan Lily  tak berbicara, hanya menangis yang dia bisa,


Nazwa yang masih polos dan belum mengerti juga ikut diam sambil melihat keluar


jendela, Dia yang biasanya ramai dengan celotehnya , hari ini seakan ikut merasakan


kesedihan mami nya Lily, dan seakan tahu bahwa sesuatu terjadi pada Papinya.


Sesampainya di LP, Jenazah Pak


Hendri  sudah diletakkan dalam peti


jenazah.


Seorang petugas sipir lapas


menghampiriku,


“Jenazah mau diantar ke mana pak?


Boleh kami minta alamatnya?” Ucap petugas itu ramah


“Sebentar saya bicara dengan


keluarganya dulu…” jawabku


Kuhampiri Lily yang masih


menangis dengan derai air matanya di depan peti jenazah Hendri suaminya.


“Ly…Almarhum mau kita bawa ke


ruamhmu di Cibubur atau rumah orang tuamu?” tanyaku sambil mengusap punggungnya


agar dapat lebih sabar dan menerima kejadian ini


“Tadi papa sudah ku


hubungi….katanya bawa ke rumah papa aja di Kramat…” imbuh Lily disela isak


tangisnya


Aku kembali hampiri petugas Lapas


tadi.


“Kita ke kramat raya saja


pak….nanti Ambulan ikuti mobil saya saja bisa?” ujarku


“Oh Baik pak….” Balas petugas


itu, lalu memanggil beberapa rekannya untuk memasukan peti jenazah kedalam


Ambulan


Sesampainya di rumah orang tua


Lily, bendera kuning telah terpasang sejak ujung jalan masuk dan juga sudah


banyak kursi di halaman rumah juga jalan didepannya. Tenda tarub berukuran


sedangpun sedang dipasang dikoordinir Robbi putra pertama Pak Hendri  dan Lily


Lily dan Nazwa berlari ke arah


papa mamanya….dia peluk kedua tubuh orang tuanya itu dengan tangisannya. Mama


Lily memeluk erat dan mengelus pundaknya, agar putri nya lebih sabar dan dapat


menerima semuanya.


Aku berdiri mematung melihat


seluruh kejadian , saat Jenazah Pak Hendri diturunkan, Susana duka keluarga


Lily dan satu persatu para pelayat berdatangan.


Aku seperti orang asing yang


berada ditengah kerumunan, sesaat aku sadar bahwa ini bukanlah duniaku, aku


hanya tetesan embun di kisi hati Lily, hanya berlari dan tertawa dalam bayang


bayang istana mimpi, semua begitu sempurna dan indah namun hanya dalam sebuah

__ADS_1


kotak kecil yang kita punya.


__ADS_2