
“Adrian…..aku takut……” bisik Lily
malam itu ,sambil merebahkan kepalanya di dadaku , setelah kami menjemput Nazwa
dan anak kecil yang cantik serta lincah itu tertidur dikamarnya.
“Takut apa Ly…?” balasku sambil
membelai rambutnya dengan ujung jari jariku
“Aku tahu semua ini salah….aku
ada mas Hendri …walau dia tidak memberikan kebahagiaan hati sejak Robbi
lahir….tapi dia penuhi tanggung jawabnya untuk menghidupi kami….kamu
juga….sudah ada istri dan anak anak, walau setelah lewat jalan yang
berliku…..ini memang tak seharusnya….tapi aku takut Adrian…aku mulai takut
kehilanganmu….aku mulai sering rindu kamu ada disisiku….aku mulai cemburu jika
kamu ga ada disini….aku takut semakin
dalam mencintaimu dan ingin memiliki…” ujar Lily dengan suara pelan.
“Lily ….apa yang kamu
rasakan…..sama seperti yang aku rasa….logika ku berulang kali katakan ini
salah…tapi saat mendengar suaramu….bersama kamu….semua logika itu sirna….semua
yang kucoba tepis malah semakin besar seperti bola salju ...dan aku seperti
berada di pasir hisap…makin kuat aku berusaha berontak ,malah makin dalam aku
tenggelam kedalamnya…” balasku sambil mengelus pipi putih Lily
“Apa kita harus akhiri dan saling
lupakan Adrian…?” ucap Lily lagi dengan
suara tersendat seakan lidahnya kelu
“Kalau itu menurutmu yang
terbaik…..aku ikuti kamu….kamu sudah tahu jalan cerita dan kisah cintaku Lily…aku
selalu ikuti dan mencoba menerima…sesakit apapun….seberat apapun….” Balasku
sambil menarik nafasku dalam dalam.
“Tapi aku harus jujur Adrian….aku
ga sanggup….aku bukan remaja lagi….aku tahu harus bagaimana bersikap dan
membaca serta mengerti segala kondisiku juga kamu…..tapi aku ga sanggup melawan
isi hatiku sendiri……” ujar Lily lagi seraya memeluk tubuhku makin erat.
“Apa kita saling jatuh cinta
Adrian…?” ucap Lily sambil menatap le mataku…
Aku terdiam….sudah sekian lama
aku tak mendengar kata kata CINTA….apa Lily betul? Apa ini yang kami rasakan?
Bukan sekedar rasa iba dan kasihanku pada wanita ini karena kondisinya yang
sedang terjatuh dan butuh uluran tangan dan sandaran?
Kami berdua seakan membentur
dinding dan temui jalan buntu, tak kami temukan jawaban….kami hanya bisa hanyut
ikuti arus yang mengalir….walau dengan beribu rasa takut di hati kami.
Sore itu sepulang kerja, aku
singgah dirumah Asty adikku untuk menengok mama dan keponakanku , namun saat
aku datang kulihat raut sedih terpancar di wajah Asty dan mama.
“Kenapa kalian….? Hilman mana?”
Tanyaku pada mama dan Asty.
“Ada dikamar Kak…..” Jawab Asty
__ADS_1
adikku pelan
“Terus…kenapa raut wajah kalian
kusut dan sedih seperti ini?” lanjutku
“Hilman divonis Dokter RS
Fatmawati bagian hemodialisa harus lakukan cuci darah…ginjalnya sudah rusak…”
jelas mama
“Ya Tuhan…Hilman masih tergolong
muda…sudah harus lakukan cuci darah?” ujarku
Kuhampiri Sasya yang sedang
tertidur di box bayi, ada rasa iba dengan adikku , baru saja beberapa bulan
yang lalu, Asty melahirkan seorang putri yang cantik, dan kebahagiaan mereka
seharusnya menjadi lengkap dengan kehadirannya…..namun tak lama harus menerima
vonis penyakit yang termasuk kategori berat.
Aku masuk ke kamar tidur Asty,
kulihat Hilman suaminya tergeletak lemah , mendengar suara pintu terbuka, dia
membuka matanya dan melirik ke arahku
“Eh abang….” Ucapnya emah seraya
senyum ke arahku
“Tetap semangat ya Man…? Nanti
selain medis kita coba juga alternative…kamu harus berjuang untuk sembuh…Asty
dan sikecil Sasha butuh kamu…..” ucapku memberi semangat dan besarkan hatinya.
“Iya bang…” sahut Hilman
Biasanya aku dan adik iparku ini,
ngobrol banyak tentang proyek, bisnis maupun hobi kami yang sama yakni
sesak dan sering harus menarik nafas panjang.
Kukirim pesan Whastapp ke Ita
istriku mengenai kabar sakitnya Hilman dan lima belas menit kemudian Ita datang
menyusul beserta Clara dan Calista, karena rumah yang ditempati Mama dan Asty
masih dalam satu perumahan dengan kami.
“Adriaaaan….mas Hendri……” ucap
Lily diiringi suara tangisnya yang pecah saat menelponku pagi itu saat aku baru
saja tiba di kantor dan menyiapkan berkas berkas pekerjaanku.
“Ada apa Ly…? Tarik
nafasmu…jelaskan pelan pelan….” Jawabku , akupun sebenarnya ikut panik
mendengar suara tangis Ani.
“Tadi pihak LP menghubungiku…bahwa
mas Hendri…telah meninggal…” Lanjut Lily terbata bata disela tangisnya.
“Tapi kan pihak RS Polri tempo
hari mengizinkan pulang karena kondisinya sudah membaik?” ujarku
“Ok…aku kerumahmu sekarang lalu
kita ke LP….” Lanjutku sambil berdiri
dari kursiku dan kurapikan lagi semua berkas berkas pekerjaanku tadi. Aku
menghubungi bagian personalia dengan telpon dimejaku untuk meminta izin keluar
kantor. Lalu segera bergegas ke area parkir.
Kulihat Lily sudah berdiri di
__ADS_1
teras rumah menungguku sambil memeluk Nazwa, melihat kedatanganku mereka
langsung berlari kearah mobilku.
Sepanjang perjalanan Lily tak berbicara, hanya menangis yang dia bisa,
Nazwa yang masih polos dan belum mengerti juga ikut diam sambil melihat keluar
jendela, Dia yang biasanya ramai dengan celotehnya , hari ini seakan ikut merasakan
kesedihan mami nya Lily, dan seakan tahu bahwa sesuatu terjadi pada Papinya.
Sesampainya di LP, Jenazah Pak
Hendri sudah diletakkan dalam peti
jenazah.
Seorang petugas sipir lapas
menghampiriku,
“Jenazah mau diantar ke mana pak?
Boleh kami minta alamatnya?” Ucap petugas itu ramah
“Sebentar saya bicara dengan
keluarganya dulu…” jawabku
Kuhampiri Lily yang masih
menangis dengan derai air matanya di depan peti jenazah Hendri suaminya.
“Ly…Almarhum mau kita bawa ke
ruamhmu di Cibubur atau rumah orang tuamu?” tanyaku sambil mengusap punggungnya
agar dapat lebih sabar dan menerima kejadian ini
“Tadi papa sudah ku
hubungi….katanya bawa ke rumah papa aja di Kramat…” imbuh Lily disela isak
tangisnya
Aku kembali hampiri petugas Lapas
tadi.
“Kita ke kramat raya saja
pak….nanti Ambulan ikuti mobil saya saja bisa?” ujarku
“Oh Baik pak….” Balas petugas
itu, lalu memanggil beberapa rekannya untuk memasukan peti jenazah kedalam
Ambulan
Sesampainya di rumah orang tua
Lily, bendera kuning telah terpasang sejak ujung jalan masuk dan juga sudah
banyak kursi di halaman rumah juga jalan didepannya. Tenda tarub berukuran
sedangpun sedang dipasang dikoordinir Robbi putra pertama Pak Hendri dan Lily
Lily dan Nazwa berlari ke arah
papa mamanya….dia peluk kedua tubuh orang tuanya itu dengan tangisannya. Mama
Lily memeluk erat dan mengelus pundaknya, agar putri nya lebih sabar dan dapat
menerima semuanya.
Aku berdiri mematung melihat
seluruh kejadian , saat Jenazah Pak Hendri diturunkan, Susana duka keluarga
Lily dan satu persatu para pelayat berdatangan.
Aku seperti orang asing yang
berada ditengah kerumunan, sesaat aku sadar bahwa ini bukanlah duniaku, aku
hanya tetesan embun di kisi hati Lily, hanya berlari dan tertawa dalam bayang
bayang istana mimpi, semua begitu sempurna dan indah namun hanya dalam sebuah
__ADS_1
kotak kecil yang kita punya.