
Selepas magrib aku tiba dirumah papa, kuberikan ke mama makanan yang papa mau…
“Nih pa….Adrian sudah datang…dia juga bawain makanan yang papa mau….” Ucap mama
Mata papa masih terpejam, nafasnya tak beraturan, kadang terdengar cepat …kadang pelan. Pelan pelan mata papa terbuka, mama menyuapi papa makanan yang kubawa, sambil makan dengan lahapnya, papa melirik
kearahku… walau aku tahu tenggorokan papa sudah sulit menelan akibat stroke yang dideritanya.
Hampir satu setengah tahun lamanya papa harus terbaring ditempat tidur, segala pengobatan sudah kami coba
sebagai ikhtiarku untuk kesembuhan papa.
“Gimana pa? enak ga?” ucapku sambil tersenyum dan kutahan sedihku , agar tetap dapat membesarkan hati papa.
Papa tersenyum dan acungkan jempol kepadaku, dan dengan lidahnya yang kelu dia berucap “Enakkk….”
“Papa sembuh ya? Yang kuat ya? ….nanti kita jalan jalan lagi keluar kota….kali ini Adrian yang setir mobilnya,
Adrian sudah bisa setir sekarang…” ujarku sambil menggenggam tangan papa.
Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.30 malam.
“Pa…sudah hampir tengah malam, Adrian pulang dulu ya? Besok Adrian ajak Ita dan Clara kesini ….” Bisikku
__ADS_1
ditelinganya.
Papa mengangguk dengan matanya yang terpejam. Namun tangannya menggenggam erat jemari tanganku. Kubiarkan sesaat, tak lama kemudian terdengar papa mulai mendengkur dan tertidur. Kulepaskan genggamannya dan aku bersiap siap pulang.
Diruang tamu kulihat Hendra dan Istri serta kedua adikku Satria dan Asty ,duduk di kursi dan sesekali menguap
menahan kantuk mereka.
“jangan perlihatkan kesedihan kalian didepan papa, tetap besarkan hatinya…dan kalau ada apa apa segera
hubungi lewat telpon...” Ucapku sebelum melangkah keluar rumah.
Moblku melesat membelah gelapnya malam, jalanan sangat sepi karena sudah lewat tengah malam, aku tiba sekitar jam 01.00 dini hari, jika sore atau jam pulang orang sehabis bekerja, pasti akan memakan waktu 2-3 jam karena terjebak kemacetan.
Kuparkir mobilku digarasi rumah, kulihat lampu menyala dan Ita membuka pintu .
“Ya ty…?” ucapku dengan suara sediit bergetar
“Kak Adrian….papa…….” tangis Asty pecah diseberang sana.
“Sudah….Kak Adrian tahu….sekarang Kak Adrian langsung kesana….” Ucapku
“Kenapa papa…?” Ucap Ita, namun dia seakan mengerti dari raut wajah sedihku dan sekuat tenaga berusaha tetap
__ADS_1
tenang dan tidak panik
“Bangunkan Clara….dan bawa pakai secukupnya…kita kesana sekarang….” Ujarku denga suara kelu .
Kembali aku melesat bak meteor dengan mobilku, bahkan hampir dua kali lipat kecepatannya disbanding waktu aku
lakukan perjalanan dari rumah papa tadi.
Saat tiba dirumah papa, kulihat Hendra dan Satria bersama warga sekitar sedang mendirikan tiang tenda dan
tarub. Aku diikuti Ita yang sambil menggendong Clara yang masih tertidur berlari menuju kedalam rumah.
Asty sedang terduduk lemas …terdengar isakan tangisnya tak henti keluar dari mulutnya, Ita menaruh Clara di kursi
panjang ruang tamu , lalu memeluk tubuh Asty dan berusaha menenangkannya.
Aku mencari mama….mama berdiri mematung melihat papa yang terbujur kaku di tempat tidur, para tetangga
membantu membuka baju papa dan menutupinya dengan kain panjang .
Mama meneteskan airmatanya, namun mama perlihatkan ketegaran hatinya, mama tunjukan keikhlasan hatinya. Aku memeluk mama dan bersandar dipundaknya, mama mengelus punggungku.
“Mama Ikhlas Adrian….” Ucap mama pelan sambil disekanya tetesan airmata dipipinya.
__ADS_1
“Iya ma….sekarang papa sudah ga capek lagi….sudah sembuh dari sakitnya selama ini…” Balasku seraya ikut
meteskan airmataku