
“Adrian….you mau bantu saya
jalankan pabrik ini ? seperti diperusahaan Hendri dulu?” ucap Mr.Jimmy dengan
wajah serius.
“Tapi saya saat ini masih bekerja
diperusahaan Aircraft Maintenance bos…dan masih terhitung baru…” Jawabku
“Sekarang you siapkan semua perizinan
dan pondasi prosedur agar Pabrik saya dapat melakukan impor dan ekspor…its ok
kalo you masih sambil bekerja
diperusahaan yang sekarang, tapi jika semua sudah settle…you mau bantu saya
disini? Kalo soal gaji dan lainnya, you sebut saja dan nanti di atur Bernard”
ujar Mr.Jimmy lagi. Ternyata Bernard sekarang kembali menjadi manajer
personalia di perusahaan Mr.Jimmy yang baru.
“Ok…” balasku menyetujui
Setiap hari aku mengambil
pekerjaan ganda, siang aku di tempat ku bekerja diperusahaan yang baru, dan
sepulangnya aku lanjutkan mempersiapkan apa yang perlu untuk proses perizinan
sebuah perusahaan agar dapat melakukan ekspor dan impor . Untuk sesaat aku lupa
akan luka di hati.
“Adrian….you and I have Wedding
Invitation from Ex Hendri wife…Lily..…are you will come tomorrow?” Ucap
Mr.Jimmy sambil mengacungkan dua Kartu Undangan berwarna biru laut di
tangannya.
“Yes…I think ..I will come….I’ll
come with My Wife and My Children…” Sahutku sambil terus mengetik di laptopku.
Acara resepsi di ballroom Hotel di
bilangan Ancol Jakarta , benar benar memberi kesan mewah, tamu undangan yang
datangpun rata rata kelas menengah ke atas. Ita mendampingiku dan juga Clara
serta Calista. Kulihat Mr.Jimmy sudah hadir dan tengah berbincang dengan
kolega-koleganya. Sebagian kukenal adalah bos-bos pabrik garment dan juga
supplier –supplier.
Tak lama kemudian terdengar suara
pembawa acara, melalui mic nya , memberitahukan bahwa rombongan kedua mempelai
akan memasuki ruangan.
Dharmawan dan Lily di iringi para
keluarga berjalan dikarpet merah memasuki ruang resepsi, Dharmawan pengantin
pria mengenakan Jas mewah abu abu dan Lily….bagaikan dewi turun dari langit,
kebaya berbahan sutera dan dipadu dengan gaya barat/western, dan rambutnya yang
disanggul kecil membuat dirinya membuat seluruh para undangan yang hadir
berdecak kagum akan kecantikannya.
Disampingnya Nazwa menggandeng
lengan Lily, di iringi alunan musik tradisional jawa, mereka menuju kursi
pelaminan.
“Semoga kamu bahagia Ly…” gumamku
tanpa sadar, kata kata itu meluncur dari mulutku
“Kamu bicara apa tadi…?” ujar Ita
disela alunan music jawa yang agak keras mengisi seluruh ruangan ballroom.
“Oh ngga….itu
pengantinnya…ganteng dan cantik…” balasku .
Tak terasa sudah hampir satu jam lebih kami
berada di acara resepsi tersebut, Ita menghampiriku yang sedang berbincang
dengan Bernard yang juga datang ke acara.
“Ayah…Calista dan Clara sudah mengantuk, kita pulang yuk?’
ucap Ita Istriku
“Oh Ok…” sahutku seraya
berpamitan dengan Bernard, lalu mengandeng Clara menuju pelaminan untuk
mengucapkan selamat kepada kedua mempelai sebelum pulang.
__ADS_1
“Hai Om Adrian……kok ga kerumah
Nazwa lagi sih…?” Ucap Nazwa polos sambil mencium tanganku.
“Iya…Om sibuk..nanti kalo sudah
senggang om mampir ya?” ucapku setengah ebrbisik di teliganya.
Lily menatapku,lalu segera
ditundukkan kepalanya…ku tangkap sorot mata teduhnya dan seolah lagi lagi
berkata “ Maafkan aku…”
“Selamat ya?....” kusalami
Dharmawan dan Lily diikuti Ita dan kedua putriku.
“Ini Ita istri kamu ya Adrian….?”
Ucap Lily saat Ita menyalaminya
“Iya….dan ini Clara dan Calista…”
ujarku
“Kamu beruntung memiliki suami
seperti Adrian ta…” ucap Ita, sambil melirik ke arahku
“Makasih Mbak….” Balas Ita sambil
tersenyum, ah…andai saja dia tahu maksud kata kata Lily.
Saat aku menuruni tangga kecil
pelaminan, tiba tiba saja pembawa acara menyebut namaku “ Kepada Pak
Adrian….sebelum pulang kami ingin anda menyumbang suara dan menyanyikan sebuah lagu untuk kami
disini ya pak?”
Aku menggeleng dan meng
isyaratkan dengan telapak tanganku untuk menolak. Namun Bernard menarik
tanganku ke arah area tempat para pemain music yang mengiringi selama acara
resepsi. Tubuhku lumayan panas dingin melihat mata para undangan tertuju
padaku. Dalam hati aku mengumpat “ Kurang ajar Bernard…pasti ini ulah dia”
karena dia tahu aku kadang menyanyi pada acara di pabrik diperusahaanku yang
dulu.
Tapi sudah kepalang basah, aku
menatapku dari kejauhan. Setelah memberitahu kepada pemain music lagu yang akan
kunyanyikan, aku mulai meraih mic didepanku….ku lihat sosok Lily yang cantik
dan akan memulai kembali hidup barunya, ku pilih lagu Kerispatih, DEMI
CINTA…sesaat aku seperti tak perduli dengan kehadiran para tamu undangan, ku
resapi lirik demi lirik . Lily terus menatapku dan matanya seolah mengatakan
“aku mengerti maksudmu…aku tahu isi hatimu”
Aku baru tersadar ketika lagu
berakhir dan mendengar tepukan dari para tamu undangan yang hadir. Setelah
mengucapkan salam, aku dan Ita beserta anak anakku pun menuju ke area parkir
untuk pulang.
Cinta tak melulu harus terucap…
Cinta tak harus selalu wujudkan
harap
Tersimpan dalam diam dan
kehampaan
Terasing dalam gelap dan
kesunyian
Aku melangkah dari satu hati ke
hati yang lain
Aku selami satu persatu mimpi
indah yang datang hampiri
Disampingku ada sebuah cinta yang
tak kenal waktu
Disisiku ada sebuah hati yang
nyata dan tak semu
Ku harus buang masa lalu dan
mimpi mimpi semu ku
__ADS_1
Ku harus mulai tapaki dan salami
cinta yang ada dihadapanku
Ku ketik bait demi bait, di notepad
telpon genggamku, Kulihat Ita baru saja menemani Clara dan calista tidur
dikamar mereka. Ita terlihat cantik dengan gaun tidurnya…..kuhampiri dan
kupeluk mesra tubuhnya, dengan sepenuh hati ku kecup keningnya, ku ucapkan
sejuta kata maaf dalam hatiku, ku belai lembut rambutnya yang tergerai….
“Ih ayah…mesra banget….” Ucap Ita
sambil tersenyum dan tertawa kecil.
Aku hanya tersenyum….ku cium
bibirnya….ku ingin peluk dirinya sepanjang malamku
Aku lupa jika hari ini adalah
hari ulang tahunku, pagi itu Ita membangunkanku dengan ciuman mesra dan tiba
tiba Clara di ikui sikecil Calista masuk ke kamarku sambil membawa kue ulang
tahun kecil dengan nyala lilin diatasnya.
“Selamat Ulang Tahun Ayah….” Ucap
Ita dan Clara bersamaan
“Wah….terima kasih ya? Ayah lupa
kalau hari ini ulang tahun “ ucapku sambil tertawa, Calista duduk dipangkuanku
sambil ikut meniup nyala lilin diatas kue.
Tak lama kemudia Mamaku, HIlman
dan Asty datang bersama anaknya, mereka ikut memberikan ucapan ulang tahun.
Hilman dengan langkah pelan dan nafas sedikit terengah-engah memberikan hadiah
alat memancing sebagai hadiah ulang tahunku.
“Bang…ini buat abang kalo lagi mancing
dilaut….” Ucap HIlman
“Wah….keren nih…makasih Man….”
Ujarku
Selang beberapa menit kemudian
teman temanku menelponku dan seperti biasa mereka minta traktiran dari yang
berulang tahun. Akhirnya aku booking satu room karaoke untuk merayakannya nanti
sore. Aku minta Ita ikut menyiapkan acara disana sore nanti.
“Man….nanti sore Ka Adrian adain
acara kecil kecilan di karaoke keluarga bersama teman-teman, kamu mau ikutan?”
ucapku
“Wah bang…untuk nafas aja saya
sulit apalagi ikut acara abang…” balas
Hilman smabil tertawa pelan
Dari hari ke hari kondisi Hilman
kulihat makin payah, wajah dan kulitnya pun kehitaman seperti terbakar, mungkin
pengaruh proses cuci darah dan penyakit ginjal yang dideritanya
Aku, Ita, mamanya, Clara dan
Calista siang itu meluncur ke arah
Harmoni Jakarta tempat yang sudah ku booking untuk persiapan acara kecilku,
hingga jika sore teman temnku datang, semuanya telah siap. Namun baru saja kami
memasuki area Slipi, telponku berbunyi.
“Asty bun….” Ucapku kepada Ita
yang duduk disebelahku.
“Ka Adrian…HIlman meninggal….tadi
sudah dibawa tetangga kerumah sakit terdekat di Bhakti Husada, tapi sampai sana
HIlman sudah ga tertolong….” Asty adikku terbata bata mengatakannya disela isak
tangisnya.
“Innalilahi…..ok…Ka Adrian segera
kesana…” balasku
Aku langsung hubungi via Whatsapp
kepada seluruh temanku bahwa aku cancel acara dan berita kan berita duka ini.
__ADS_1