
Setelah 7 hari berkabung….aku
kembali beraktivitas, kasihan Handoko kalo harus handle semua pekerjaan
sendirian….lagi pula, aku makin teringat Ita terus jika tetap dirumah…
“Adrian….kamu bekerja saja…soal
Clara dan Calista…biar setiap pagi ibu yang jaga atau nanti Bapak yang jemput
pakai motor untuk bawa kerumah, sampai kamu pulang bekerja….” Ucap Ibu mertuaku
“Baik bu…terima kasih ya? Sudah
merepotkan …” ujarku
Pagi itu aku tengah melamun di
meja kerjaku…Handoko sedang keluar dengan mobil untuk mengambil sedikit
barang…dia bilang cukup sendiri saja…mungkin melihat keadaanku yang belum pulih
100% dapat berkosentrasi dalam pekerjaan setelaj kepergian Ita.
MAS ADRIAN…SAYA RANTI …ADIK MBAK
REYNI….SAYA KEBETULAN SEDANG DI JAKARTA, BISA BERTEMU DENGAN MAS ADRIAN SEBELUM
SAYA PULANG? ADA YANG MAU SAYA BICARAKAN DAN SAMPAIKAN KE MAS ADRIAN…
Isi pesan Whatsapp masuk ke
telpon genggamku
BAIK RANTI…INFO SAJA KAPAN DAN
DIMANA….kuketik balasan pesan pada Ranti
SORE INI JAM 17,00 DI CITOS YA MAS? …Pesan balasan dari ranti
kembali masuk
OK….Balasku kembali….ku telpon
ibu mertuaku untuk memberitahukan bahwa aku agak terlambat pulang karena mau
bertemu teman dan biarlah Clara dan Calista menginap saja dirumah mertuaku
daripada membangunkannya saat sudah tertidur dan besok pagi akan dengan
neneknya lagi pikirku
Aku tiba terlebih dahulu dan
duduk di salah satu Café di mall dibilangan daerah Cilandak, setelah memesan
kopi ku ketik pesan pada Ranti nama café tempat ku menunggunya.
Selang lima belas menit kemudian,
kulihat seorang wanita celingukan melihat sekeliling café, aku pikir dia pasti
Ranti, berbedam dengan Rey yang berpenampilan modis dan jelas terlihat seorang
wanita karir ,Ranti lebih feminim dan
memberi kesan seorang ibu rumah tangga modern, tubuhnya dibalut pakaian muslim
modern dan rambutnya ditutup dengan hijab namun bergaya fashion kekinian.
Aku melambaikan tanganku ke
arahnya, Ranti tersenyum dan menghampiriku
“Mau pesan apa Ranti?” ucapku
ramah seraya tersenyum
“Apa aja yang dingin mas….mas
Adrian tapi aku ga bisa lama lama ya? Soalnya anakku di hotel dengan suami …aku
hanya ijin ketemu mas sebentar….” Ujar ranti sambil duduk didepanku
“Oke Ranti…saya juga…takut anak
anak dirumah nyariin…oke langsung aja ..katanya ada yang mau dibicarain….”
Balasku sambil memanggil seorang pelayan café dan memesan segelas minuman
dingin untuk Ranti.
“Sebenarnya aku ga boleh iki mas
…bilang sama mas Adrian….apalagi temui mas….kalau mbak Rey tahu…walah celaka
aku mas…pasti dia marah besar padaku….” Ucap Ranti dengan logat jawanya yang
khas
“Ada apa sih sebenarnya ran?”
tanyaku
“Iki…Mbak Rey sudah ceritakan
semua tentang mas Adrian….termasuk dulu saat dia terbang ke Jakarta menemui Mas
Adrian dan Istri mas yang sedang sakit…” Ranti berhenti berbicara karena
pelayan café datang membawa minuman dingin pesanannya, dia meneguk sebentar
minumannya
“Oke…lalu?” ujarku
“Mbak Rey akan menikah dua hari
lagi….karena dikeluarga kami kalau papa sudah berbicara dan meminta, kami ga
bisa lama lama untuk tidak memenuhinya mas….padahal aku tahu kalo hati mbak Rey
hanya buat mas Adrian…” jelas Ranti lagi
“Calon suaminya baik Ran…?”
ucapku sambil menyalakan rokokku
“Dia teman suamiku mas….pengusaha
furniture di Jepara….” Sahut Ranti
“Oh…lalu Ranti mau Mas datang ke
semarang? Atau hanya ingin memberitahukan hal ini saja?” lanjutku lagi
“Iya mas…Aku mau nya sih mas
datang ke semarang, biar Mbak Rey bisa pertimbangkan lagi soal hatinya dan
keputusannnya…apalagi ini pernikahannya yang kedua…kalau bisa jadi yang
terakhir di hidupnya mas…” ujar Ranti
“Baik Ranti…..mas akan usahakan
datang ke semarang….minta alamatnya ya?” Balasku
“Terima kasih ya mas…?itu
alamatnya sudah aku WA.. Aku langsung pamit yo mas? Takut mas Aris kelamaan
nunggu …mala mini kami harus kembali ke semarang…” ucap Ranti sambil berpamitan
Aku akan datang Rey….tapi saat
pernikahanmu dan melihatmu dipelaminan….kamu pantas dapat kehidupan yang lebih
baik dan berkecukupan…Batinku sambil melihat kepergian Ranti
Malam itu Aku melaju diatas jalan
tol Jakarta – Semarang, biasanya aku selalu minta ditemani Handoko atau teman
untuk bergantian setir, tapi kali ini kuputuskan untuk sendirian membawa
kendaraan ke sana, jika badanku terasa lelah dan mataku sedikit mengantuk aku
berhenti di rest area untuk merokok dan meminum kopi panas, aku tak mau
paksakan kondisi ku untuk tetap memacu mobilku, walau jalan tol yang sepi
selalu menggoda setiap pengemudi untuk tancap gas.
Aku masuk ke kota semarang
menjelang subuh, ku cari Hotel terdekat dari alamat yang diberikan Ranti, agar
aku bisa beristirahat sebentar .
Pukul 8.00 WIB, Kuparkir mobilku
__ADS_1
di mulut jalan menuju alamat rumah yang diberikan Ranti, ditiap ujung jalan
masuk kulihat dua janur kuning terpasang di sisi kanan dan kiri , tertulis
“REYNI & HERMAN”
Sesaat aku ragu untuk melangkah,
terbayang kenanganku belasan tahun silam mengingat pernikahan Sisca juga
Ririn….
“Ah tapi aku sudah jauh – jauh
kesini …aku tidak boleh melewatkan melihat peristiwa terbesar dalam hidup
Rey…lagipula dia tidak pernah menghianatiku….ini memang jalan hidup atau
keputusan yang sudah seharusnya…seperti hal nya Lily….” Batinku
Ku tatap Rey dari jarak beberapa
meter di prosesi acara akad nikah di pagi itu, dirinya begitu memukau,
kecantikannya makin terlihat dengan kebaya khas jawa dan hiasan bunga melati di
rambutnya.
Wanita yang dulu seringkali
memelukku…menciumku….tertawa bersamaku….bersama sama mencari jalan keluar
urusan pekerjaan saat masih dalam satu perusahaan…..kini akan jalani hidupnya
yang baru…dan lupakan masa lalu….dia akan memeluk sosok yang lian…..dia akan
mendampingi laki laki yang lain….dan jalani serta hadapi hidup bersama laki
laki pilihannya, sesaat ego dan rasa cemburuku menguasai hatiku.
Hatiku bagai ditusuk ribuan paku
saat mendengar laki laki itu berucap lewat pengeras suara “SAYA TERIMA NIKAHNYA
REYNI KUSUMAWARDHANI BIN PRASETYO NUGROHO DENGAN MAS KAWIN PERHIASAN DAN
SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DIBAYAR TUNAI…”
Semua yang hadir mengucapkan rasa
syukur, mamanjatkan doa dan terlihat lega dan bahagia, akupun seharusnya
seperti mereka….tapi entah kenapa sakit yang kurasakan? Tapi kenapa didalam
tubuh ini serasa tercabik cabik parang yang tajam?....aku hanya berdiri
mematung…bahkan hingga saat prosesi selesai dan semua yang hadir bergantian
menyalami kedua mempelai, sampai aku dikejutkan seseorang yang menepuk bahuku…
“Mas Adrian….? Terima kasih sudah
datang…tapi aku tadinya berharap Mas datang sebelum pernikahan, bukan saat
pernikahan…..agar Mbak Rey yakin akan keputusannya…tapi sekarang semua sudah
terlambat…” ucap adik Rey pelan ditelingaku…
“Gpp Ranti….ini sudah yang
terbaik bagi Mbak mu….” Hanya itu yang mampu ku ucapkan seraya berusaha
tersenyum…
Ranti menarik tanganku diantara
kerumunan orang yang hadir, dia mengajakku ke pelaminan
“Mbak….lihat iki…sopo yang
datang….” Ucap Ranti
Rey tak bisa sembunyikan
kekagetannya….sesaat dia terlihat gugup…lalu sekilas melihat kea rah laki laki
disebelahnya, dia mencoba menguasai keadaan.
“Adrian….kapan datang? Kok
sendiri? Mana Ita dan anak anak?” ucap Rey berusaha senormal mungkin, walau aku
Aku menyalami laki laki yang
sudah resmi menjadi suaminya….lalu Rey…
“SELAMAT BUKA LEMBARAN HIDUP
BARUMU REY….” Ucapku pelan…
Mata Rey terlihat berkaca kaca,
“Adrian….sampaikan maafku ke Ita…aku tidak bisa memenuhi janjiku dan mewujudkan
keinginannya…”
Aku berusaha untuk
tersenyum….”Ya…nanti aku sampaikan….aku langsung pamit ya Rey? Aku ga bisa lama
lama tinggalkan anak anak …”
Rey hanya mengangguk pelan dan
menatap ku yang perlahan meninggalkan keramaian acara pernikahannya.
Aku melaju dengan kecepatan
normal di jalan tol Cipali, berjuta rasa berkecamuk di hatiku…ada rasa sedikit sesak di jiwaku….kuputuskan untuk
berhenti di rest area untuk beristirahat dan mengembalikan kosentrasi dan
redakan perihku.
Akhirnya pesta kecil pernikahan
Rey pun selesai, dia memang tidak mengundang banyak orang, hanya keluarga
besarnya dan beberapa teman dekat, lagipula pikirnya ini adalah pernikahan
kedua bagi dirinya begitu juga mas Herman.
Hanya tinggal sanak saudara yang
sedang bersenda gurau dan Suaminya Herman yang sedang mengobrol dengan beberapa
teman dekatnya. Rey pun sedang asik duduk bersama Ranti melepas lelah setelah
dari pagi mengikuti proses acara akad nikah sampai dipelaminan menerima ucapan
selamat dari para undangan.
Sebuah mobil Avanza berhenti
didekat tenda yang dipasang di jalan depan rumah Rey, beberapa orang turun dari
mobil ,dan sesekali terdengar tawa mereka.
“Pak Bernard? Lukman…Yanti…Susi….Mbak
Tati…..?” ucap Rey berdiri dari kursinya sambil menutupi mulutnya dengan kedua
tangannya. Mereka adalah teman teman kerja Rey saat masih satu perusahaan di
Jakarta, termasuk Adrian.
“Selamat Ya Rey? Udah bubar ya
acaranya? Maaf ya telat…habis ini nih si Yanti dandannya makan waktu berjam
jam…” ucap Bernard sambil tertawa.
“Gpp Pak Bernard…..kalian sudah
datang aja saya sudah seneng banget…..tapi coba kalian datangnya pagi…tadi pagi
juga Adrian datang kesini…” ujar Rey
Mendengar nama Adrian..Bernard
terdiam dan rekan rekan mantan teman satu kantor nya itu saling berpandangan.
Rey memperhatikannya dan menangkap ada yang tak beres .
Rantri adik Rey memecah
kecanggungan situasi tersebut, “ Eh ayo…langsung makan dulu….tapi maklumin ya?
Cuma seadanya….”
“Oh iya…makasih Mbak…emang sudah
__ADS_1
lapar nih…kalau jalan sama Pak Bernard harus tahan lapar…dia ga mau mampir
berhenti untuk makan….” Ucap Lukman dan disambut gelak tawa yang lain.
Rey menarik tangan Bernard, dia
sangat tahu Bernard dari sejak lama sangat dekat dengan Adrian, dia ingin
hilangkan rasa penasarannya.
“Ada apa dengan Adrian pak
Bernard..?” ucap Rey smabil menatap penuh selidik ke arah Bernard
“Ga bisa kapan kapan saja
ceritanya Rey? Ini hari besarmu…pernikahanmu….lebih baik kita berdoa segala
yang baik untuk hidupmu….” Ujar Bernard berusaha mengelak
“Kapan kapan? Ga setahun sekali
saya bisa temui Pak Bernard di Semarang….hanya ini kesempatan saya ..tolong
pak…saya mau buka lembaran baru….dan agar bisa tenang jalaninya ke depan..” lanjut
Rey
“Selama ini saya dan yang lain
tahu kedekatan kamu dengan Adrian Rey…..tapi kami tidak mau mencampuri masalah
pribadi…..” Bernard mulai berusaha bercerita
“Oke…lalu…?” ujar Rey penasaran
“Setahun belakangan ini Adrian
sedang dibanting sekeras kerasnya dalam hidupnya…..usaha nya jatuh karena
pegawainya yang berkhianat dan di tipu partner usahanya….Adrian harus menjual
rumah tempat tinggalnya…mengontrak dirumah kecil…dan mengeluarkan para
karyawannya….sampai sampai hanya tinggal dia dan satu orang kepercayaannya yang
tertinggal….dan dia bahlan ikut turun ke
lapangan mengambil barang…angkat barang dan semua yang dulu dikerjakan masing
masing pegawainya…kini dia kerjakan sendri…seperti awal dia buka usaha….”
Bernard berhenti untuk mengambil air mineral gelas dan meminumnya.
“Adrian….” Gumam Rey pelan
“Jatuhnya usaha Adrian, membuat
pengoobatan intensif Istrinya terpaksa berhenti, karena biayanya sangat
tinggi…..dan……” Bernard melanjutkan ceritanya dan berhenti untuk menghela nafas
panjang
“Dan apa pak Bernard…?’ ucap Rey
makin penasaran
“Dan sekitar dua minggu yang lalu
Istrinya Ita meninggal dunia……” Bernard mengakhiri ceritanya
“Adriaaaan…..” ucap Rey lirih,
matanya berkaca kaca …lalu perlahan bulir bulir air matanya turun membasahi
pipinya. Segera dia hapus dengan tissue agar Herman suaminya tidak curiga.
Ingin rasanya Rey saat itu
berlari dan mengejar Adrian…..namun semua sudah terlambat, Rey seolah melihat
taman indah impiannya di depan matanya, namun dia tak dapat langkahkan kakinya
, karena tangannya terikat…kakinya pun terbenam tanah dan terantai.
Ku kembali dengan nyataku…ku
harus kembali tapaki hari dan sepiku…..aku tetap harus berjalan sekalipun tetap
harus melangkah diantara bebatuan karang tajam tanpa alas aki. Namun aku harus
tetap bertahan…ada dua hati yang polos menjadi tanggung jawab dan bersandar
padaku…Clara dan Calista…
“Ko….mudah mudahan tender
pengiriman kita ke Bali menang ya? Biar keadaan usaha kita membaik…” Ucapku
pada Handoko pagi itu
“Aamiin bos…mudah mudahan
goal…saya belum pernah ke Bali Bos…” ujar Handoko polos
Aku tertawa
mendengarnya…”Aamiin….kamu belum pernah naik pesawat kan Ko? Nanti kalo
goal…kita naik pesawat ke Bali…” wajah Handoko terlihat ceria mendengarnya
“Bos…saya lap mobil dulu ya?
Kotor banget…ga enak lihatnya…” ujar Handoko sambil berdiri dan melangkah
keluar kantor…aku hanya tersenyum dan mengacungkan jempol padanya.
Namun tak lama kemudian Handoko
masuk kembali kedalam kantor…” Bos…ada yang cari…cewek cakep…” ucap Handoko
sambil cengar cengir.
Aku tertawa “ Husshh…genit
kamu…..suruh masuk aja…tapi bener cari saya?”
“Iya Bos…cari Pak Adrian
katanya…..” lanjut Handoko
“Ya sudah….suruh masuk….kamu
pesenin the botol di warung sebelah ya? “ ujarku lagi
Aku kembali memeriksa kertas
kertas file perhitungan biaya pengiriman dimejaku, untuk memastikan bahwa
perhitunganku benar dan tidak meleset. Sampai sosok wanita yang mencariku
berdiri didepan mejaku. Wangi parfum khas seorang wanita semerbak memenuhi
ruanganku, saat kuangkat kepalaku untuk melihat siapa dia..
“PLAKKKK…!!!!” sebuah tamparan
mendarat di pipiku
“Rey….? “ ucapku kaget bukan main
melihat dia sudah ada didepanku
Kami terdiam sesaat ketika
Handoko masuk ruangan dan membawa sebotol minuman dingin
“Saya taruh disini ya Bos?..”
ucapnya sambil meletakkan botol minuman dimejaku dan segera keluar ruangan,
mudah mudahan Handoko tidak melihat saat aku ditampar tadi, batinku
“KAMU BENER BENER JAHAT
ADRIAN……SAAT KAMU KESUSAHAN ..KAMU TIDAK MENGHUBUNGIKU…BAHKAN SAAT ITA
PERGI….KAMU TIDAK MEMBERITAHUKU….KAMU ANGGAP AKU SELAMA INI APA? SEKEDAR TEMAN
PENGHILANG RASA SEPI KAMU? DAN YANG PALING AKU BENCI….BAHKAN KAMU BIARKAN AKU
MEMBUAT KEPUTUSAN YANG SALAH!!!...KAMU KEJAM ADRIAN!!!” ucap Rey setengah
berteriak, dia tak mampu meredam emosinya, isak tangisnya mulai terdengar
Aku diam terpaku, mulutku terasa
terkunci….aku tak tahu harus memberi penjelasan apa…dan aku juga ga tahu harus
memulai dari mana…
__ADS_1