CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
KEPUTUSAN YANG SALAH


__ADS_3

Setelah 7 hari berkabung….aku


kembali beraktivitas, kasihan Handoko kalo harus handle semua pekerjaan


sendirian….lagi pula, aku makin teringat Ita terus jika tetap dirumah…


“Adrian….kamu bekerja saja…soal


Clara dan Calista…biar setiap pagi ibu yang jaga atau nanti Bapak yang jemput


pakai motor untuk bawa kerumah, sampai kamu pulang bekerja….” Ucap Ibu mertuaku


“Baik bu…terima kasih ya? Sudah


merepotkan …” ujarku


Pagi itu aku tengah melamun di


meja kerjaku…Handoko sedang keluar dengan mobil untuk mengambil sedikit


barang…dia bilang cukup sendiri saja…mungkin melihat keadaanku yang belum pulih


100% dapat berkosentrasi dalam pekerjaan setelaj kepergian Ita.


MAS ADRIAN…SAYA RANTI …ADIK MBAK


REYNI….SAYA KEBETULAN SEDANG DI JAKARTA, BISA BERTEMU DENGAN MAS ADRIAN SEBELUM


SAYA PULANG? ADA YANG MAU SAYA BICARAKAN  DAN SAMPAIKAN KE MAS ADRIAN…


Isi pesan Whatsapp masuk ke


telpon genggamku


BAIK RANTI…INFO SAJA KAPAN DAN


DIMANA….kuketik balasan pesan pada Ranti


SORE INI JAM 17,00  DI CITOS YA MAS? …Pesan balasan dari ranti


kembali masuk


OK….Balasku kembali….ku telpon


ibu mertuaku untuk memberitahukan bahwa aku agak terlambat pulang karena mau


bertemu teman dan biarlah Clara dan Calista menginap saja dirumah mertuaku


daripada membangunkannya saat sudah tertidur dan besok pagi akan dengan


neneknya lagi pikirku


Aku tiba terlebih dahulu dan


duduk di salah satu Café di mall dibilangan daerah Cilandak, setelah memesan


kopi ku ketik pesan pada Ranti nama café tempat ku menunggunya.


Selang lima belas menit kemudian,


kulihat seorang wanita celingukan melihat sekeliling café, aku pikir dia pasti


Ranti, berbedam dengan Rey yang berpenampilan modis dan jelas terlihat seorang


wanita karir ,Ranti  lebih feminim dan


memberi kesan seorang ibu rumah tangga modern, tubuhnya dibalut pakaian muslim


modern dan rambutnya ditutup dengan hijab namun bergaya fashion kekinian.


Aku melambaikan tanganku ke


arahnya, Ranti tersenyum dan menghampiriku


“Mau pesan apa Ranti?” ucapku


ramah seraya tersenyum


“Apa aja yang dingin mas….mas


Adrian tapi aku ga bisa lama lama ya? Soalnya anakku di hotel dengan suami …aku


hanya ijin ketemu mas sebentar….” Ujar ranti sambil duduk didepanku


“Oke Ranti…saya juga…takut anak


anak dirumah nyariin…oke langsung aja ..katanya ada yang mau dibicarain….”


Balasku sambil memanggil seorang pelayan café dan memesan segelas minuman


dingin untuk Ranti.


“Sebenarnya aku ga boleh iki mas


…bilang sama mas Adrian….apalagi temui mas….kalau mbak Rey tahu…walah celaka


aku mas…pasti dia marah besar padaku….” Ucap Ranti dengan logat jawanya yang


khas


“Ada apa sih sebenarnya ran?”


tanyaku


“Iki…Mbak Rey sudah ceritakan


semua tentang mas Adrian….termasuk dulu saat dia terbang ke Jakarta menemui Mas


Adrian dan Istri mas yang sedang sakit…” Ranti berhenti berbicara karena


pelayan café datang membawa minuman dingin pesanannya, dia meneguk sebentar


minumannya


“Oke…lalu?” ujarku


“Mbak Rey akan menikah dua hari


lagi….karena dikeluarga kami kalau papa sudah berbicara dan meminta, kami ga


bisa lama lama untuk tidak memenuhinya mas….padahal aku tahu kalo hati mbak Rey


hanya buat mas Adrian…” jelas Ranti lagi


“Calon suaminya baik Ran…?”


ucapku sambil menyalakan rokokku


“Dia teman suamiku mas….pengusaha


furniture di Jepara….” Sahut Ranti


“Oh…lalu Ranti mau Mas datang ke


semarang? Atau hanya ingin memberitahukan hal ini saja?” lanjutku lagi


“Iya mas…Aku mau nya sih mas


datang ke semarang, biar Mbak Rey bisa pertimbangkan lagi soal hatinya dan


keputusannnya…apalagi ini pernikahannya yang kedua…kalau bisa jadi yang


terakhir di hidupnya mas…” ujar Ranti


“Baik Ranti…..mas akan usahakan


datang ke semarang….minta alamatnya ya?” Balasku


“Terima kasih ya mas…?itu


alamatnya sudah aku WA.. Aku langsung pamit yo mas? Takut mas Aris kelamaan


nunggu …mala mini kami harus kembali ke semarang…” ucap Ranti sambil berpamitan


Aku akan datang Rey….tapi saat


pernikahanmu dan melihatmu dipelaminan….kamu pantas dapat kehidupan yang lebih


baik dan berkecukupan…Batinku sambil melihat kepergian Ranti


Malam itu Aku melaju diatas jalan


tol Jakarta – Semarang, biasanya aku selalu minta ditemani Handoko atau teman


untuk bergantian setir, tapi kali ini kuputuskan untuk sendirian membawa


kendaraan ke sana, jika badanku terasa lelah dan mataku sedikit mengantuk aku


berhenti di rest area untuk merokok dan meminum kopi panas, aku tak mau


paksakan kondisi ku untuk tetap memacu mobilku, walau jalan tol yang sepi


selalu menggoda setiap pengemudi untuk tancap gas.


Aku masuk ke kota semarang


menjelang subuh, ku cari Hotel terdekat dari alamat yang diberikan Ranti, agar


aku bisa beristirahat sebentar .


Pukul 8.00 WIB, Kuparkir mobilku

__ADS_1


di mulut jalan menuju alamat rumah yang diberikan Ranti, ditiap ujung jalan


masuk kulihat dua janur kuning terpasang di sisi kanan dan kiri , tertulis


“REYNI & HERMAN”


Sesaat aku ragu untuk melangkah,


terbayang kenanganku belasan tahun silam mengingat pernikahan Sisca juga


Ririn….


“Ah tapi aku sudah jauh – jauh


kesini …aku tidak boleh melewatkan melihat peristiwa terbesar dalam hidup


Rey…lagipula dia tidak pernah menghianatiku….ini memang jalan hidup atau


keputusan yang sudah seharusnya…seperti hal nya Lily….” Batinku


Ku tatap Rey dari jarak beberapa


meter di prosesi acara akad nikah di pagi itu, dirinya begitu memukau,


kecantikannya makin terlihat dengan kebaya khas jawa dan hiasan bunga melati di


rambutnya.


Wanita yang dulu seringkali


memelukku…menciumku….tertawa bersamaku….bersama sama mencari jalan keluar


urusan pekerjaan saat masih dalam satu perusahaan…..kini akan jalani hidupnya


yang baru…dan lupakan masa lalu….dia akan memeluk sosok yang lian…..dia akan


mendampingi laki laki yang lain….dan jalani serta hadapi hidup bersama laki


laki pilihannya, sesaat ego dan rasa cemburuku menguasai hatiku.


Hatiku bagai ditusuk ribuan paku


saat mendengar laki laki itu berucap lewat pengeras suara “SAYA TERIMA NIKAHNYA


REYNI KUSUMAWARDHANI BIN PRASETYO NUGROHO DENGAN MAS KAWIN PERHIASAN DAN


SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DIBAYAR TUNAI…”


Semua yang hadir mengucapkan rasa


syukur, mamanjatkan doa dan terlihat lega dan bahagia, akupun seharusnya


seperti mereka….tapi entah kenapa sakit yang kurasakan? Tapi kenapa didalam


tubuh ini serasa tercabik cabik parang yang tajam?....aku hanya berdiri


mematung…bahkan hingga saat prosesi selesai dan semua yang hadir bergantian


menyalami kedua mempelai, sampai aku dikejutkan seseorang yang menepuk bahuku…


“Mas Adrian….? Terima kasih sudah


datang…tapi aku tadinya berharap Mas datang sebelum pernikahan, bukan saat


pernikahan…..agar Mbak Rey yakin akan keputusannya…tapi sekarang semua sudah


terlambat…” ucap adik Rey pelan ditelingaku…


“Gpp Ranti….ini sudah yang


terbaik bagi Mbak mu….” Hanya itu yang mampu ku ucapkan seraya berusaha


tersenyum…


Ranti menarik tanganku diantara


kerumunan orang yang hadir, dia mengajakku ke pelaminan


“Mbak….lihat iki…sopo yang


datang….” Ucap Ranti


Rey tak bisa sembunyikan


kekagetannya….sesaat dia terlihat gugup…lalu sekilas melihat kea rah laki laki


disebelahnya, dia mencoba menguasai keadaan.


“Adrian….kapan datang? Kok


sendiri? Mana Ita dan anak anak?” ucap Rey berusaha senormal mungkin, walau aku


Aku menyalami laki laki yang


sudah resmi menjadi suaminya….lalu Rey…


“SELAMAT BUKA LEMBARAN HIDUP


BARUMU REY….” Ucapku pelan…


Mata Rey terlihat berkaca kaca,


“Adrian….sampaikan maafku ke Ita…aku tidak bisa memenuhi janjiku dan mewujudkan


keinginannya…”


Aku berusaha untuk


tersenyum….”Ya…nanti aku sampaikan….aku langsung pamit ya Rey? Aku ga bisa lama


lama tinggalkan anak anak …”


Rey hanya mengangguk pelan dan


menatap ku yang perlahan meninggalkan keramaian acara pernikahannya.


Aku melaju dengan kecepatan


normal di jalan tol Cipali, berjuta rasa  berkecamuk di hatiku…ada rasa sedikit sesak di jiwaku….kuputuskan untuk


berhenti di rest area untuk beristirahat dan mengembalikan kosentrasi dan


redakan perihku.


Akhirnya pesta kecil pernikahan


Rey pun selesai, dia memang tidak mengundang banyak orang, hanya keluarga


besarnya dan beberapa teman dekat, lagipula pikirnya ini adalah pernikahan


kedua bagi dirinya begitu juga mas Herman.


Hanya tinggal sanak saudara yang


sedang bersenda gurau dan Suaminya Herman yang sedang mengobrol dengan beberapa


teman dekatnya. Rey pun sedang asik duduk bersama Ranti melepas lelah setelah


dari pagi mengikuti proses acara akad nikah sampai dipelaminan menerima ucapan


selamat dari para undangan.


Sebuah mobil Avanza berhenti


didekat tenda yang dipasang di jalan depan rumah Rey, beberapa orang turun dari


mobil ,dan sesekali terdengar tawa mereka.


“Pak Bernard? Lukman…Yanti…Susi….Mbak


Tati…..?” ucap Rey berdiri dari kursinya sambil menutupi mulutnya dengan kedua


tangannya. Mereka adalah teman teman kerja Rey saat masih satu perusahaan di


Jakarta, termasuk Adrian.


“Selamat Ya Rey? Udah bubar ya


acaranya? Maaf ya telat…habis ini nih si Yanti dandannya makan waktu berjam


jam…” ucap Bernard sambil tertawa.


“Gpp Pak Bernard…..kalian sudah


datang aja saya sudah seneng banget…..tapi coba kalian datangnya pagi…tadi pagi


juga Adrian datang kesini…” ujar Rey


Mendengar nama Adrian..Bernard


terdiam dan rekan rekan mantan teman satu kantor nya itu saling berpandangan.


Rey memperhatikannya dan menangkap ada yang tak beres .


Rantri adik Rey memecah


kecanggungan situasi tersebut, “ Eh ayo…langsung makan dulu….tapi maklumin ya?


Cuma seadanya….”


“Oh iya…makasih Mbak…emang sudah

__ADS_1


lapar nih…kalau jalan sama Pak Bernard harus tahan lapar…dia ga mau mampir


berhenti untuk makan….” Ucap Lukman dan disambut gelak tawa yang lain.


Rey menarik tangan Bernard, dia


sangat tahu Bernard dari sejak lama sangat dekat dengan Adrian, dia ingin


hilangkan rasa penasarannya.


“Ada apa dengan Adrian pak


Bernard..?” ucap Rey smabil menatap penuh selidik ke arah Bernard


“Ga bisa kapan kapan saja


ceritanya Rey? Ini hari besarmu…pernikahanmu….lebih baik kita berdoa segala


yang baik untuk hidupmu….” Ujar Bernard berusaha mengelak


“Kapan kapan? Ga setahun sekali


saya bisa temui Pak Bernard di Semarang….hanya ini kesempatan saya ..tolong


pak…saya mau buka lembaran baru….dan agar bisa tenang jalaninya ke depan..” lanjut


Rey


“Selama ini saya dan yang lain


tahu kedekatan kamu dengan Adrian Rey…..tapi kami tidak mau mencampuri masalah


pribadi…..” Bernard mulai berusaha bercerita


“Oke…lalu…?” ujar Rey penasaran


“Setahun belakangan ini Adrian


sedang dibanting sekeras kerasnya dalam hidupnya…..usaha nya jatuh karena


pegawainya yang berkhianat dan di tipu partner usahanya….Adrian harus menjual


rumah tempat tinggalnya…mengontrak dirumah kecil…dan mengeluarkan para


karyawannya….sampai sampai hanya tinggal dia dan satu orang kepercayaannya yang


tertinggal….dan dia bahlan  ikut turun ke


lapangan mengambil barang…angkat barang dan semua yang dulu dikerjakan masing


masing pegawainya…kini dia kerjakan sendri…seperti awal dia buka usaha….”


Bernard berhenti untuk mengambil air mineral gelas dan meminumnya.


“Adrian….” Gumam Rey pelan


“Jatuhnya usaha Adrian, membuat


pengoobatan intensif Istrinya terpaksa berhenti, karena biayanya sangat


tinggi…..dan……” Bernard melanjutkan ceritanya dan berhenti untuk menghela nafas


panjang


“Dan apa pak Bernard…?’ ucap Rey


makin penasaran


“Dan sekitar dua minggu yang lalu


Istrinya Ita meninggal dunia……” Bernard mengakhiri ceritanya


“Adriaaaan…..” ucap Rey lirih,


matanya berkaca kaca …lalu perlahan bulir bulir air matanya turun membasahi


pipinya. Segera dia hapus dengan tissue agar Herman suaminya tidak curiga.


Ingin rasanya Rey saat itu


berlari dan mengejar Adrian…..namun semua sudah terlambat, Rey seolah melihat


taman indah impiannya di depan matanya, namun dia tak dapat langkahkan kakinya


, karena tangannya terikat…kakinya pun terbenam tanah dan terantai.


Ku kembali dengan nyataku…ku


harus kembali tapaki hari dan sepiku…..aku tetap harus berjalan sekalipun tetap


harus melangkah diantara bebatuan karang tajam tanpa alas aki. Namun aku harus


tetap bertahan…ada dua hati yang polos menjadi tanggung jawab dan bersandar


padaku…Clara dan Calista…


“Ko….mudah mudahan tender


pengiriman kita ke Bali menang ya? Biar keadaan usaha kita membaik…” Ucapku


pada Handoko pagi itu


“Aamiin bos…mudah mudahan


goal…saya belum pernah ke Bali Bos…” ujar Handoko polos


Aku tertawa


mendengarnya…”Aamiin….kamu belum pernah naik pesawat kan Ko? Nanti kalo


goal…kita naik pesawat ke Bali…” wajah Handoko terlihat ceria mendengarnya


“Bos…saya lap mobil dulu ya?


Kotor banget…ga enak lihatnya…” ujar Handoko sambil berdiri dan melangkah


keluar kantor…aku hanya tersenyum dan mengacungkan jempol padanya.


Namun tak lama kemudian Handoko


masuk kembali kedalam kantor…” Bos…ada yang cari…cewek cakep…” ucap Handoko


sambil cengar cengir.


Aku tertawa “ Husshh…genit


kamu…..suruh masuk aja…tapi bener cari saya?”


“Iya Bos…cari Pak Adrian


katanya…..” lanjut Handoko


“Ya sudah….suruh masuk….kamu


pesenin the botol di warung sebelah ya? “ ujarku lagi


Aku kembali memeriksa kertas


kertas file perhitungan biaya pengiriman dimejaku, untuk memastikan bahwa


perhitunganku benar dan tidak meleset. Sampai sosok wanita yang mencariku


berdiri didepan mejaku. Wangi parfum khas seorang wanita semerbak memenuhi


ruanganku, saat kuangkat kepalaku untuk melihat siapa dia..


“PLAKKKK…!!!!” sebuah tamparan


mendarat di pipiku


“Rey….? “ ucapku kaget bukan main


melihat dia sudah ada didepanku


Kami terdiam sesaat ketika


Handoko masuk ruangan dan membawa sebotol minuman dingin


“Saya taruh disini ya Bos?..”


ucapnya sambil meletakkan botol minuman dimejaku dan segera keluar ruangan,


mudah mudahan Handoko tidak melihat saat aku ditampar tadi, batinku


“KAMU BENER BENER JAHAT


ADRIAN……SAAT KAMU KESUSAHAN ..KAMU TIDAK MENGHUBUNGIKU…BAHKAN SAAT ITA


PERGI….KAMU TIDAK MEMBERITAHUKU….KAMU ANGGAP AKU SELAMA INI APA? SEKEDAR TEMAN


PENGHILANG RASA SEPI KAMU? DAN YANG PALING AKU BENCI….BAHKAN KAMU BIARKAN AKU


MEMBUAT KEPUTUSAN YANG SALAH!!!...KAMU KEJAM ADRIAN!!!” ucap Rey setengah


berteriak, dia tak mampu meredam emosinya, isak tangisnya mulai terdengar


Aku diam terpaku, mulutku terasa


terkunci….aku tak tahu harus memberi penjelasan apa…dan aku juga ga tahu harus


memulai dari mana…

__ADS_1


__ADS_2