
Hidup itu seringkali ironis,bahkan orang orang keturunan Tionghoa juga Debby di Hongkong sana percaya
dengan yang namanya “Karma”. Tuhan punya cara sendiri untuk mengatur skenario hidup yang kita miliki dan juga terkadang cara yang unik bahkan diluar dugaan untuk mengajarkan serta memberitahu manusia.
Awal-awal ada rasa sakit saat mengetahui orang tua Ririn tidak menyukaiku dan bisa dikatakan tidak merestui
hubunganku dengan Ririn, tapi dari pengalaman hidupku, aku pun mencoba bercermin….intropeksi…siapa dan bagaimana aku.
Mungkin Tuhan ingin meberitahuku inilah yang Ita rasakan, mencintai namun tidak disukai dan mendapat restu dari
orang tua seseorang yang dicintainya.
Hari hari dan waktu berlalu dengan semua isi cerita yang ada didalamnya, kusandarkan tubuh limbungku pada putaran waktu. Kubiarkan tubuhku terombang ambing kembali dilautan hidupku yang luas dan kucoba bernafas
sebisaku….semampuku.
Susah lama aku tak menerima email dari Debby, mungkin aktivitas dan kesibukannya membuat dia tak sempat mengirimkan email padaku seperti biasa, untuk mengurani gundahku, ku tuangkan ceritaku…resahku padanya lewat email.
Sejak aku datang kerumah Ririn, kami tak sering bertemu seperti sebelumnya, aku hanya katakan pada hatiku,
__ADS_1
bahwa mungkin karena kesibukan yang kami miliki sehari-hari. Dan orang tuanya yang sudah mengetahui keberadaanku.
Sampai suatu hari Ririn datang ke rumahku dengan mata sembab karena menangis. Aku yang sedang berisitirahat
setelah selesai mencuci motorku, sedikit terkejut dengan kedatangannya ditambah raut wajah sedihnya.
“Hei…ada apa Rin..? kenapa kamu?”tanyaku
Ririn tak menjawab pertanyaanku dan malah berlari ke arahku dan memelukku, sambil terisak dan terbata-bata dia
berusaha ucapkan sesuatu…”aku…..maafkan aku Adrian…..” Ucap Ririn terhenti dan kembali terisak. Aku jadi bingung dibuatnya.
“Pelan-pelan…jelaskan padaku….apa yang terjadi..” ujarku berusaha menenangkannya
kepasar dan pagi tadi papa sudah berangkat mencari nafkah, Hendra dan Tika juga sedang tidak menginap dirumah seperti yang mereka lakukan tiap week end.
Aku terdiam….tubuhku bergetar mendengar penjelasannya Ririn…sakit karena rasa takut kehilangan dan segala
amarah sayat hatiku saat itu….bagai dihujam ribuan pisau tajam….tapi aku tetap berusaha kuatkan diri dan mencoba tetap bersikap tenang.
__ADS_1
“Lalu kamu sendiri bagaimana? Dan apa yang kamu katakana ke papa mamamu?” ucapku pelan…akhirnya aku dapat berbicara walau dengan rasa kelu dilidahku
“Aku tidak katakana apa-apa dan membantah mereka Adrian….aku coba bertanya pada Tuhan …dengan sholat
Istikharah…tapi yang keluar selalu nama Farid…” lanjut Ririn sambil terus terisak.
Ku hela nafasku dalam-dalam untuk redakan sakitku…..sesaat kami berdua membisu…
“Rin….kalo manusia bisa salah….tapi Tuhan ngga pernah salah…..kamu sudah dapat jawaban langsung
dariNya….aku akan mencoba menerimanya…..” ucapku pelan sambil berusaha sekuat tenaga menahan sedihku.
“Tapi aku ga mau…!!!.....aku ingin wujudkan mimpku sejak awal bersama kamu…” Imbuh Ririn disela sela
tangisnya.
“Aku memang sering bilang ke kamu…manusia itu harus punya mimpi….harus….dan sekuat tenaga kita untuk
mewujudkannya…..tapi yang berkuasa tentukan mimpi kta nanti seperti apa…itu Tuhan…kita ini hanya aktor dan aktris…hanya jalani scrypt/skenario….ujung jalan ceritanya speerti apa” ucapku berusaha bijak walau jujur aku juga berharap mimpiku dan Ririn jadi kenyataan dan terwujud.
__ADS_1
“Kapan rencana kamu dan Farid….” Ucapku…
“Ga tahu…..!!! dan andaipun tahu…aku ga akan sanggup bilang padamu….sudaaaaah aku ga mau bicarakan hal ini lagi…!!!” ujar Ririn …tangisnya pun kembali pecah.