
Aku bangkit dari tempat dudukku,
kuhampiri Rey yang masih terisak….kupeluk tubuh Rey…tangis Rey makin keras,
disandarkan kepalanya dibahuku dan kedua tangannya mengepal memukul mukul
dadaku.
“Maafkan aku Rey….maafkan
aku….aku tidak bisa jelaskan detail alasanku…tapi aku tahu hati kecilmu tahu
kenapa….” Bisikku ditelinga Rey
“Dan walau kita tak pernah bicara
atau ungkapkan….hati kecilmu juga tahu kan? Kalo aku sangat mencintaimu…dan
ingin selalu ada disamping kamu? Tapi kamu malah biarkan aku disisi orang
lain…segitu tidak berartinya kah aku buat kamu Adrian…?” ujar Rey disela isak
tangisnya
Aku tak menjawab….ku peluk lebih
erat tubuh Rey….
“Aku….aku…..aku juga cinta kamu
Rey….sudah lama aku simpan…aku ga berani ucapkan….tapi aku tahu…aku cinta kamu
Rey…” akhirnya keluar juga kata kata itu dari mulutku.
Mendengarnya tangis Rey makin
keras dan makin erat memelukku
“Dalam hidup…aku kapal yang
hampir tenggelam Rey….aku tidak mau kamu iku tenggelam denganku, kamu pantas
dapatkan yang lebih baik….dari perjalanan hidupku….soal hati…seringkali kita
tidak bisa dapatkan atau bahkan paksakan apa yang kita inginkan……bahagiamu
sudah cukup bagiku….” Ucapku lagi di telinga Rey.
“Darimana kamu tahu aku bahagia?
Kamu egois Adrian….kamu hanya dengar apa kata hatimu tapi tidak peka untuk
dengarkan hati orang lain…..rasa sakit berkali kali yang kamu dialami dimasa
lalu, membuatmu terlalu takut untuk raih apalagi genggam
impianmu….keinginanmu….” Ujar Rey sambil menatap tajam ke arahku.
“Kamu pilih sakiti dirimu
sendiri….simpan semua dalam hatimu…dan berpikir asalkan orang yang kamu cintai
bahagia…itu sudah ccukup…..tapi apa pernah kamu berpikir…atau tanya dengan
orang orang yang pernah kamu cintai….apakah mereka bahagia ? atau apa yang kamu
lakukan adalah benar benar demi kebahagiaan mereka? Atau hanya karena kamu
terlalu takut dan pilih menyerah?” Rey kembali membuatku terdiam dengan semua
kata katanya.
“Maafkan aku Rey….kamu
benar…..aku memang pengecut….aku terlalu takut untuk raih keinginanku dan gapai
impianku…” Balasku
“Tapi sekarang kamu sudah milik
Herman …Rey…..aku harus terima kenyataannya …tapi minimal kamu sudah tahu isi
hatiku dan juga alasanku….” Ucapku lirih
“Kamu laki laki yang aku kagumi
Adrian….kamu tidak pernah melihatku dari sisi materi….jadi sosok tempat bersandar…..bertanggung
jawab dan selalu optimis serta percaya diri…..aku yakin kamu bisa kembali
bangun usaha dan hidupmu…karena aku sangat tahu karaktermu yang tidak mudah
menyerah …..sekarang aku akan jalani hidup dengan Herman sebagai komitmen apa
yang sudah kuptuskan….komitmen bukan cinta Adrian…..jika Tuhan tadirkan
kita….beri kita ksempatan lagi di waktu mendatang…..aku mau kamu
berjanji….jangan takut untuk raih keinginanmu dan penuhi keinginan
hatimu…sebelum terlambat…dan jangan dengar hanya kata hatimu sendiri…tapi juga
berusaha dengarkan hati orang lain yang kamu cintai….” Ujar Rey seraya
memelukku kembali….erat dan syahdu……
Rey melangkah pergi
meninggalkanku yang hanya bisa terpaku dan menatap punggungnya, jika saja dia
belum jadi milik orang lain, pasti aku sudah berlari dan memeluknya…tapi semua
sudah terlambat…karena kebodohanku dan juga rasa takutku.
Hampa….kosong…..sepi…hanya itu
yang bisa aku lukiskan di hari hariku setelahnya, hanya dua mutiara hatiku
Clara dan Calista buat ku tetap berusaha berdiri tegak di tengah badai dan
berusaha bangkit untuk melewatinya .
Semua yang ku cinta telah
pergi….semua yang kuinginkan sudah sirna….semua terlepas dari genggamanku
sendiri….seolah tak ada lagi sinar surya yang jalani waktu…beranjak saat
mentari pagi…dan rona merahnya beguti menggoda dan indah…setelah itu tenggelam
dibatas horizon sana. Kini yang ada di depanku hanya kegelapan, sedikit sinar
rembulan saja yang bisa kuharap….namun saat inipun sang rembulan tertutup awan,
aku hanya bisa meraba….tertatih dengan kaki penuh luka….
Rasa sepiku sedikit terobati
dengan menangnya tender kecil perusahaanku untuk project pameran sebuah event
organizer ke Bali. Sedikit demi sedikit masalah finansial perusahaanku
__ADS_1
terpecahkan dan membaik.
Tapi setelah pameran selesai dan
dan Handoko kembali lebih dulu bersama truk, aku masih punya sehari waktu di
Bali karena jadwal pesawatku yang ku pesan adalah besok pagi, di hari senin,
karena jika aku kembali ke Jakarta pada hari minggu, harga tiketnya lumayan
tinggi.
Aku habiskan waktu untuk
menikmati kota Bali…..tapi yang ada aku malah jadi mengingat setiap momenku
dengan Ririn disini….Semua wanita yang pernah mencintaiku kini sudah hidup
dilembaran cerita barunya….perlahan namun pasti …semua hal tentangku sudah
pasti akan terlupakan….fuuuh…membayangkan semuanya membuat dadaku sesak dan
rasa perih yang sudah lama kusimpan kembali terasa.
Kepergian dan kehilangan satu
persatu orang yang ku cintai, buat hatiku membeku, gunung es yang pernah
meleleh kembali menjulang dan kembali bentengi hatiku….
Kulangkahkan kakiku meninggalkan
pantai Kuta dan menuju kembali ke Hotel tempatku menginap…telponku berbunyi
tanda pesan whatsapp masuk…
“HALLO BOS….LAGI DIMANA? GANGGU
GA NIH?” dari Meihwa
“HAI MEI….GA KOK …AKU BARU BERES
PEKERJAAN DI BALI, RENCANA BESOK PAGI AKU KEMBALI KE JAKARTA…”
“OHHH BAGUS DONG….LUSA SAYA MAU
KE JAKARTA ADA UNDANGAN DARI SAUDARA, MAU YA TEMANI SAYA? SAYA KURANG FAHAM
DAERAH JAKARTA, NANTI SAYA KIRIM PETA UNDANGANNYA..” Meihwa kembali membals
pesanku
“OK…” Kujawab singkat kembali
pesannya
Aku kembali ke Jakarta dengan
pesawat jam 6.00 pagi, sekitar dua jam aku sudah tiba di bandara Soeta dan
segera menuju ke rumah orang tua Ita untuk menjemput Clara dan Calista, ku
lepas rinduku pada mereka dengan mengajak mereka sore itu jalan jalan ke mall…tawa mereka dan celoteh
polos anak anakku buat sepi dan segala sakitku hilang sesaat.
Setelah mengajak Clara dan
Calista ke mall, aku mampir ke rumah
mama dan Asty, untuk melihat keadaan mereka. Kebetulan Hendra dan Istrinya juga
sedang ada disana, sehingga Clara dan Calista bisa bermain bersama
“Adrian….bulan depan Asty mau
dilamar oleh Surya….” Ucap mama sambil mengorbol denganku dan Hendra , istrinya
Tika dan Asty
“Laki laki dan keluarganya sudah tahu selruuh masa lalu
kamu Ty?” sahutku pada Asty
“Sudah Kak….Surya juga dulu
pernah satu sekolah dengan Asty…bahkan waktu Asty menikah dengan HIlman dulu,
dia datang kok ke acara resepsi…” jawab adikku
“Oh baguslah kalo begitu…sekarang
Ka Adrian lihat karirmu sudah bagus….kamu juga sudah punya rumah sendiri…Hilman
keberatan kalo mama ikut kalian?” ujarku
“Ngga kak….biar mama ikut Asty
terus…” balasnya
“Iya Ty…seorang ibu lebih dekat
dengan anak perempuannya…kalo sama kakak…nanti mama capek, urus anak
anak….finansial kakak sekarang ga sebaik kamu….kamu bisa ada pembantu untuk
urus anak anak, jadi mama bisa lebih banyak istirahat…” ujarku lagi
“Iya kak….jadi kak Adrian ga
keberatan kan?” ucap Asty meminta restuku
“Ya…kak Adrian malah seneng….kamu
sudah dapat jodoh lagi…..kadang persepsi masyarakat suka aneh sama status janda
ketimbang duda….kayak kak Adrian…” balasku sambil tertawa
“Nah elu sendiri…kapan mau nikah
lagi ?” Hendra mulai ikut dalam obrolan
“Nanti nanti lah Dra…Gw mau fokus
dulu bangun kembali usaha gw yang sempat jatuh….” Jawabku santai
“Tapi tetap harus kamu pikirin ya
Adrian? Kasihan Clara dan Calista….dia perlu seorang ibu….dan juga ga enak sama
papa mamanya Ita….jadi ikut repot urusi anak anakmu….” Ucap mama
“Iya ma…nanti setelah usaha
Adrian kembali membaik…Adrian akan pikrikan soal itu…tapi Adrian juga ga mau
asal cari ya?” ujarku smabil tersenyum
Pagi itu aku kembali melaju ke
Bandara Soekarno Hatta, bukan untuk pergi urusan pekerjaan tapi memenuhi
__ADS_1
janjiku untuk menjemput Meihwa yang datang dengan pesawat jam 10.00 pagi dari
Belitung. Aku parkirkan mobilku dan bergegas menuju pintu keluar di terminal 1
kedatangan, ku perhatikan satu persatu para penumpang yang keluar, karena
kulihat di monitor pesawat yang ditumpangi Meihwa telah mendarat.
Kulihat wanita paruh baya dengan
postur tubuh tinggi , melambai ke arahku seraya tersenyum, dengan dress tanpa
lengan dan rok berwarna merah, Meihwa terlihat cantik dan tak terlihat usianya
yang terpaut 6-7 tahun diatasku.
“Apa kabar…?” ucap Meihwa sambil
menjabat tanganku….
“Baik….di undangan yang kamu
kirim acaranya besok, lalu hari ini kamu menginap dimana Mei?” balasku
“Rencana saya mau menginap
dirumah saudara di cengkareng Adrian, terus besok mau berangkat bersama sama
mereka, tadinya saya mau minta temani kamu….tapi ternyata mereka maunya
berangkat sama sama ke pesta…” Jelas Meihwa
“Oh…ok…jadi kita ke cengkareng
sekarang? “ ucapku sambil memasukan Travel Bag Meihwa kedalam mobil.
“Sekarang saya mau istiahat
sebentar Adrian…dan ngobrol sama kamu….kita k eke Hotel dekat sini aja, nanti
kita bisa makan dan ngobro di Resto Hotel, sudah lama ga ngorbol langsung kan?
Terajhir di Batam ya? Soalnya di Cengkareng banyak keponakan yang kecil kecil
kalo sudah disana ga bisa istirahat, berisik dan pasti pada minta keluar jalan
jalan…malam atau besok pagi aku bis apesan Taxi dari hotel untuk ke
cengkareng….kalo kesana aku sudah sering” ujar Meihwa
“Oke….” Sahutku sambil keluar
area parkir dan menuju Hotel yang terdekat dari Bandara Soeta
Setelah memesan kamar dan menaruh
barang barangnya, aku dan Meihwa turun ke Resto hotel untuk makan siang dan
ngobrol. Kita saling bercerita apa yang terjadi di keseharian hidup kita, aku
juga ceritakan kepergian Ita, juga soal Reyni….memang aku dan Meihwa sering disela
pekerjaan sejak dulu tetap kadang berkomunikasi via Whatsapp untuk saling
berkabar.
“Sekarang di otakku hanya
bangkitkan usahaku dan anak anak Mei…” ujarku sambil menyantap makan siangku.
“Ya Adrian….saya juga sama, malah
jauh sebelum kamu….sejak si tua Bangka itu menikah lagi dengan yang lebih
muda…saya hanya fokus ke usaha usaha saya dan besarin anak anak….sekarang yang
dua sudah berkeluarga hanya tinggal satu yang mau kuliah…” imbuh Meihwa
“Terus? Waktu dulu lagi di Batam
selain pekerjaan berarti kamu ketemu dong sama mantanmu …siapa namanya? Sisca
ya?” ucapnya sambil tertawa
“Ketemu…sebelum akhirnya pertama
kali kita ketemu di hotel malam itu Mei…Cuma entah kenapa…aku biasa aja dan
tegaskan ke dia bahwa semua sudah jadi masa lalu….walau dia bilang masih cinta
lah…merasa bersalah lah bla bla bla….” Jawabku samil tertawa kecil.
“Iyalah…yang namanya nyesel
belakangan….kalo duluan itu namanya DP” ucap Meihwa lagi sambil kita tertawa
bersama
“Dulu aku juga pernah dekat dengan wanita keturunan Tionghoa
seperti kamu Mei…namanya Debby, Cuma dia warga Negara Hongkong….dulu aku kenal
dia waktu aku masih kerja…dia agen buyer dari perusahaanku…sama seperti dengan
kamu enak bicara dan ngobrolnya …ceplas ceplos ga perlu basa basi apalagi
pura-pura…jadi apapun enak diceritain….” Ujarku
“Ya…saya pernah denger tuh…trus
kemana dia?” ucapnya lagi sambil menyalakan rokok nya , karena kita berdua
telah selesai menyantap makan siang masing-masing
“Meninggal mei….kanker Rahim…”
ujarku pelan
“Ohhh…so sorry to hear that…” sahut
Meihwa
“It’s ok Mei….” Jawabku
“Adrian….aku hanya dua hari di
Jakarta, nanti saat aku mau pulang…bisa ya jemput aku ke Cengkareng dan antar
aku ke bandara? Aku mau kita ngorbol ngobrol lagi…boleh kan?” ucap Meihwa
sambil memanggil pelayan resto untuk membayar bill.
“Boleh dong…tapi jika ga ada
pekerjaan pengiriman ya? Maklum sekarang sekarang ini aku harus ikut turun
kembali ke lapangan…” jawabku seraya tertawa kecil dan menyalakan rokokku
“Ok…setelah pekerjaanmu beres
aja….itu nomor satu….” Balas Meihwa sambil tersenyum
__ADS_1
Kami berpisah di lobby hotel dan
Meihwa kembali naik lift ke kamarnya untuk beristirahat