CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
HAMPA


__ADS_3

Aku bangkit dari tempat dudukku,


kuhampiri Rey yang masih terisak….kupeluk tubuh Rey…tangis Rey makin keras,


disandarkan kepalanya dibahuku dan kedua tangannya mengepal memukul mukul


dadaku.


“Maafkan aku Rey….maafkan


aku….aku tidak bisa jelaskan detail alasanku…tapi aku tahu hati kecilmu tahu


kenapa….” Bisikku ditelinga Rey


“Dan walau kita tak pernah bicara


atau ungkapkan….hati kecilmu juga tahu kan? Kalo aku sangat mencintaimu…dan


ingin selalu ada disamping kamu? Tapi kamu malah biarkan aku disisi orang


lain…segitu tidak berartinya kah aku buat kamu Adrian…?” ujar Rey disela isak


tangisnya


Aku tak menjawab….ku peluk lebih


erat tubuh Rey….


“Aku….aku…..aku juga cinta kamu


Rey….sudah lama aku simpan…aku ga berani ucapkan….tapi aku tahu…aku cinta kamu


Rey…” akhirnya keluar juga kata kata itu dari mulutku.


Mendengarnya tangis Rey makin


keras dan makin erat memelukku


“Dalam hidup…aku kapal yang


hampir tenggelam Rey….aku tidak mau kamu iku tenggelam denganku, kamu pantas


dapatkan yang lebih baik….dari perjalanan hidupku….soal hati…seringkali kita


tidak bisa dapatkan atau bahkan paksakan apa yang kita inginkan……bahagiamu


sudah cukup bagiku….” Ucapku lagi di telinga Rey.


“Darimana kamu tahu aku bahagia?


Kamu egois Adrian….kamu hanya dengar apa kata hatimu tapi tidak peka untuk


dengarkan hati orang lain…..rasa sakit berkali kali yang kamu dialami dimasa


lalu, membuatmu terlalu takut untuk raih apalagi genggam


impianmu….keinginanmu….” Ujar Rey sambil menatap tajam ke arahku.


“Kamu pilih sakiti dirimu


sendiri….simpan semua dalam hatimu…dan berpikir asalkan orang yang kamu cintai


bahagia…itu sudah ccukup…..tapi apa pernah kamu berpikir…atau tanya dengan


orang orang yang pernah kamu cintai….apakah mereka bahagia ? atau apa yang kamu


lakukan adalah benar benar demi kebahagiaan mereka? Atau hanya karena kamu


terlalu takut dan pilih menyerah?” Rey kembali membuatku terdiam dengan semua


kata katanya.


“Maafkan aku Rey….kamu


benar…..aku memang pengecut….aku terlalu takut untuk raih keinginanku dan gapai


impianku…” Balasku


“Tapi sekarang kamu sudah milik


Herman …Rey…..aku harus terima kenyataannya …tapi minimal kamu sudah tahu isi


hatiku dan juga alasanku….” Ucapku lirih


“Kamu laki laki yang aku kagumi


Adrian….kamu tidak pernah melihatku dari sisi materi….jadi sosok tempat bersandar…..bertanggung


jawab dan selalu optimis serta percaya diri…..aku yakin kamu bisa kembali


bangun usaha dan hidupmu…karena aku sangat tahu karaktermu yang tidak mudah


menyerah …..sekarang aku akan jalani hidup dengan Herman sebagai komitmen apa


yang sudah kuptuskan….komitmen bukan cinta Adrian…..jika Tuhan tadirkan


kita….beri kita ksempatan lagi di waktu mendatang…..aku mau kamu


berjanji….jangan takut untuk raih keinginanmu dan penuhi keinginan


hatimu…sebelum terlambat…dan jangan dengar hanya kata hatimu sendiri…tapi juga


berusaha dengarkan hati orang lain yang kamu cintai….” Ujar Rey seraya


memelukku kembali….erat dan syahdu……


Rey melangkah pergi


meninggalkanku yang hanya bisa terpaku dan menatap punggungnya, jika saja dia


belum jadi milik orang lain, pasti aku sudah berlari dan memeluknya…tapi semua


sudah terlambat…karena kebodohanku dan juga rasa takutku.


Hampa….kosong…..sepi…hanya itu


yang bisa aku lukiskan di hari hariku setelahnya, hanya dua mutiara hatiku


Clara dan Calista buat ku tetap berusaha berdiri tegak di tengah badai dan


berusaha bangkit untuk melewatinya .


Semua yang ku cinta telah


pergi….semua yang kuinginkan sudah sirna….semua terlepas dari genggamanku


sendiri….seolah tak ada lagi sinar surya yang jalani waktu…beranjak saat


mentari pagi…dan rona merahnya beguti menggoda dan indah…setelah itu tenggelam


dibatas horizon sana. Kini yang ada di depanku hanya kegelapan, sedikit sinar


rembulan saja yang bisa kuharap….namun saat inipun sang rembulan tertutup awan,


aku hanya bisa meraba….tertatih dengan kaki penuh luka….


Rasa sepiku sedikit terobati


dengan menangnya tender kecil perusahaanku untuk project pameran sebuah event


organizer ke Bali. Sedikit demi sedikit masalah finansial perusahaanku

__ADS_1


terpecahkan dan membaik.


Tapi setelah pameran selesai dan


dan Handoko kembali lebih dulu bersama truk, aku masih punya sehari waktu di


Bali karena jadwal pesawatku yang ku pesan adalah besok pagi, di hari senin,


karena jika aku kembali ke Jakarta pada hari minggu, harga tiketnya lumayan


tinggi.


Aku habiskan waktu untuk


menikmati kota Bali…..tapi yang ada aku malah jadi mengingat setiap momenku


dengan Ririn disini….Semua wanita yang pernah mencintaiku kini sudah hidup


dilembaran cerita barunya….perlahan namun pasti …semua hal tentangku sudah


pasti akan terlupakan….fuuuh…membayangkan semuanya membuat dadaku sesak dan


rasa perih yang sudah lama kusimpan kembali terasa.


Kepergian dan kehilangan satu


persatu orang yang ku cintai, buat hatiku membeku, gunung es yang pernah


meleleh kembali menjulang dan kembali bentengi hatiku….


Kulangkahkan kakiku meninggalkan


pantai Kuta dan menuju kembali ke Hotel tempatku menginap…telponku berbunyi


tanda pesan whatsapp masuk…


“HALLO BOS….LAGI DIMANA? GANGGU


GA NIH?” dari Meihwa


“HAI MEI….GA KOK …AKU BARU BERES


PEKERJAAN DI BALI, RENCANA BESOK PAGI AKU KEMBALI KE JAKARTA…”


“OHHH BAGUS DONG….LUSA SAYA MAU


KE JAKARTA ADA UNDANGAN DARI SAUDARA, MAU YA TEMANI SAYA? SAYA KURANG FAHAM


DAERAH JAKARTA, NANTI SAYA KIRIM PETA UNDANGANNYA..” Meihwa kembali membals


pesanku


“OK…” Kujawab singkat kembali


pesannya


Aku kembali ke Jakarta dengan


pesawat jam 6.00 pagi, sekitar dua jam aku sudah tiba di bandara Soeta dan


segera menuju ke rumah orang tua Ita untuk menjemput Clara dan Calista, ku


lepas rinduku pada mereka dengan  mengajak mereka sore itu  jalan jalan ke mall…tawa mereka dan celoteh


polos anak anakku buat sepi dan segala sakitku hilang sesaat.


Setelah mengajak Clara dan


Calista  ke mall, aku mampir ke rumah


mama dan Asty, untuk melihat keadaan mereka. Kebetulan Hendra dan Istrinya juga


sedang ada disana, sehingga Clara dan Calista bisa bermain bersama


“Adrian….bulan depan Asty mau


dilamar oleh Surya….” Ucap mama sambil mengorbol denganku dan Hendra , istrinya


Tika dan Asty


“Laki laki  dan keluarganya sudah tahu selruuh masa lalu


kamu Ty?” sahutku pada Asty


“Sudah Kak….Surya juga dulu


pernah satu sekolah dengan Asty…bahkan waktu Asty menikah dengan HIlman dulu,


dia datang kok ke acara resepsi…” jawab adikku


“Oh baguslah kalo begitu…sekarang


Ka Adrian lihat karirmu sudah bagus….kamu juga sudah punya rumah sendiri…Hilman


keberatan kalo mama ikut kalian?” ujarku


“Ngga kak….biar mama ikut Asty


terus…” balasnya


“Iya Ty…seorang ibu lebih dekat


dengan anak perempuannya…kalo sama kakak…nanti mama capek, urus anak


anak….finansial kakak sekarang ga sebaik kamu….kamu bisa ada pembantu untuk


urus anak anak, jadi mama bisa lebih banyak istirahat…” ujarku lagi


“Iya kak….jadi kak Adrian ga


keberatan kan?” ucap Asty meminta restuku


“Ya…kak Adrian malah seneng….kamu


sudah dapat jodoh lagi…..kadang persepsi masyarakat suka aneh sama status janda


ketimbang duda….kayak kak Adrian…” balasku sambil tertawa


“Nah elu sendiri…kapan mau nikah


lagi ?” Hendra mulai ikut dalam obrolan


“Nanti nanti lah Dra…Gw mau fokus


dulu bangun kembali usaha gw yang sempat jatuh….” Jawabku santai


“Tapi tetap harus kamu pikirin ya


Adrian? Kasihan Clara dan Calista….dia perlu seorang ibu….dan juga ga enak sama


papa mamanya Ita….jadi ikut repot urusi anak anakmu….” Ucap mama


“Iya ma…nanti setelah usaha


Adrian kembali membaik…Adrian akan pikrikan soal itu…tapi Adrian juga ga mau


asal cari ya?” ujarku smabil tersenyum


Pagi itu aku kembali melaju ke


Bandara Soekarno Hatta, bukan untuk pergi urusan pekerjaan tapi memenuhi

__ADS_1


janjiku untuk menjemput Meihwa yang datang dengan pesawat jam 10.00 pagi dari


Belitung. Aku parkirkan mobilku dan bergegas menuju pintu keluar di terminal 1


kedatangan, ku perhatikan satu persatu para penumpang yang keluar, karena


kulihat di monitor pesawat yang ditumpangi Meihwa telah mendarat.


Kulihat wanita paruh baya dengan


postur tubuh tinggi , melambai ke arahku seraya tersenyum, dengan dress tanpa


lengan dan rok berwarna merah, Meihwa terlihat cantik dan tak terlihat usianya


yang terpaut 6-7 tahun diatasku.


“Apa kabar…?” ucap Meihwa sambil


menjabat tanganku….


“Baik….di undangan yang kamu


kirim acaranya besok, lalu hari ini kamu menginap dimana Mei?” balasku


“Rencana saya mau menginap


dirumah saudara di cengkareng Adrian, terus besok mau berangkat bersama sama


mereka, tadinya saya mau minta temani kamu….tapi ternyata mereka maunya


berangkat sama sama ke pesta…” Jelas Meihwa


“Oh…ok…jadi kita ke cengkareng


sekarang? “ ucapku sambil memasukan Travel Bag Meihwa kedalam mobil.


“Sekarang saya mau istiahat


sebentar Adrian…dan ngobrol sama kamu….kita k eke Hotel dekat sini aja, nanti


kita bisa makan dan ngobro di Resto Hotel, sudah lama ga ngorbol langsung kan?


Terajhir di Batam ya? Soalnya di Cengkareng banyak keponakan yang kecil kecil


kalo sudah disana ga bisa istirahat, berisik dan pasti pada minta keluar jalan


jalan…malam atau besok pagi aku bis apesan Taxi dari hotel untuk ke


cengkareng….kalo kesana aku sudah sering” ujar Meihwa


“Oke….” Sahutku sambil keluar


area parkir dan menuju Hotel yang terdekat dari Bandara Soeta


Setelah memesan kamar dan menaruh


barang barangnya, aku dan Meihwa turun ke Resto hotel untuk makan siang dan


ngobrol. Kita saling bercerita apa yang terjadi di keseharian hidup kita, aku


juga ceritakan kepergian Ita, juga soal Reyni….memang aku dan Meihwa sering disela


pekerjaan sejak dulu tetap kadang berkomunikasi via Whatsapp untuk saling


berkabar.


“Sekarang di otakku hanya


bangkitkan usahaku dan anak anak Mei…” ujarku sambil menyantap makan siangku.


“Ya Adrian….saya juga sama, malah


jauh sebelum kamu….sejak si tua Bangka itu menikah lagi dengan yang lebih


muda…saya hanya fokus ke usaha usaha saya dan besarin anak anak….sekarang yang


dua sudah berkeluarga hanya tinggal satu yang mau kuliah…” imbuh Meihwa


“Terus? Waktu dulu lagi di Batam


selain pekerjaan berarti kamu ketemu dong sama mantanmu …siapa namanya? Sisca


ya?” ucapnya sambil tertawa


“Ketemu…sebelum akhirnya pertama


kali kita ketemu di hotel malam itu Mei…Cuma entah kenapa…aku biasa aja dan


tegaskan ke dia bahwa semua sudah jadi masa lalu….walau dia bilang masih cinta


lah…merasa bersalah lah bla bla bla….” Jawabku samil tertawa kecil.


“Iyalah…yang namanya nyesel


belakangan….kalo duluan itu namanya DP” ucap Meihwa lagi sambil kita tertawa


bersama


“Dulu aku juga  pernah dekat dengan wanita keturunan Tionghoa


seperti kamu Mei…namanya Debby, Cuma dia warga Negara Hongkong….dulu aku kenal


dia waktu aku masih kerja…dia agen buyer dari perusahaanku…sama seperti dengan


kamu enak bicara dan ngobrolnya …ceplas ceplos ga perlu basa basi apalagi


pura-pura…jadi apapun enak diceritain….” Ujarku


“Ya…saya pernah denger tuh…trus


kemana dia?” ucapnya lagi sambil menyalakan rokok nya , karena kita berdua


telah selesai menyantap makan siang masing-masing


“Meninggal mei….kanker Rahim…”


ujarku pelan


“Ohhh…so sorry to hear that…” sahut


Meihwa


“It’s ok Mei….” Jawabku


“Adrian….aku hanya dua hari di


Jakarta, nanti saat aku mau pulang…bisa ya jemput aku ke Cengkareng dan antar


aku ke bandara? Aku mau kita ngorbol ngobrol lagi…boleh kan?” ucap Meihwa


sambil memanggil pelayan resto untuk membayar bill.


“Boleh dong…tapi jika ga ada


pekerjaan pengiriman ya? Maklum sekarang sekarang ini aku harus ikut turun


kembali ke lapangan…” jawabku seraya tertawa kecil dan menyalakan rokokku


“Ok…setelah pekerjaanmu beres


aja….itu nomor satu….” Balas Meihwa sambil tersenyum

__ADS_1


Kami berpisah di lobby hotel dan


Meihwa kembali naik lift ke kamarnya untuk beristirahat


__ADS_2