CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
TERKHIANATI


__ADS_3

Rey baru saja turun dari pesawat


dan menyalakan telpon genggamnya, langsung dilihatnya pesan masuk dari Adrian..


“Aku akan tetap simpan rasaku


Adrian….” Ucap Rey dalam hati, dia berencana mampir kerumah orang tuanya untuk


menjenguk Meysa, mumpung dia berada di kota semarang.


Meysa berlari melihat kedatangan


Reyni, dipeluknya Ibu tercintanya….Rey pun menggendong Meysa kedalam rumah.


Diteras terlihat Papa dan mamanya serta Ranti adiknya sedang bercengkrama


sambil minum teh, kebiasaan keluarganya selepas Isya.


“Lho tumben kamu kesini di hari


kerja? Biasanya jumat atau sabtu? “ ucap mama Rey . Rey mencium tangan papa dan


mamanya , Meysa pun lari kedalam kembali bermain dengan anak adikku Ranti.


“Rey habis jenguk teman yang


sakit di Jakarta ma…jadi tadi dari Bandara langsung kesini sekalian…”jawab Rey


sambil ikut duduk dikursi teras melepaskan penat selama diperjalanan tadi.


“Rey….kapan kamu berencana mau


mencari pedamping hidup lagi? Sudah genap setahun lebih suamimu pergi….kamu


masih muda…Meysa masih butuh figure seorang ayah…..” tiba tiba papa Reyni


berbicara seperti itu setelah meneguk secangir teh hangatnya.


Rey terlihat tidak siap dengan


pertanyaan seperti itu, dia diam sesaat untuk mencari alasan yang tepat.


“Rey belum kepikiran untuk hal


itu pa….Rey sudah pernah coba…tapi yang Rey temui mereka hanya mau bermain main


dan tidak serius kea rah sana, jadi lebih baik Rey focus kerja dulu….nanti juga


datang sendiri Pa…” ujar Rey mencoba mengelak dari pertanyaan papanya


“Maksud papamu Rey…papa dan mama


ini sudah tua…kalalu suatu hari kami sudah ngga ada…kami ingin melihat


kehidupanmu dan Meysa baik baik saja, dan sudah punya rumah tangga seperti  adik adikmu juga kehidupan yang normal


seperti orang lain….dan kamu juga tidak perlu sampai membanting tulang siang


malam mencari nafkah seperti yang selama ini kamu lakukan….” Ucap mama ikut bicara


“Ma…dari dulu mama kan tau…Rey


tidak suka tergantung dengan laki laki…dulu sebelum bertemu alm mas johan …kan


Rey juga sudah kerja ma…..ada suami atau tidak ada suami…Rey akan tetap bekerja


selagi rey bisa dan dibutuhkan ma….” Balas Rey sambil meminum the yang baru


disediakan Ranti adiknya.


“Oh iya Mbak…..temennya mas Aris


suamiku…..Herman,,.pernah kesini lho nanyain mbak….hebat lho dia


sekarang…pengusaha furniture di Jepara, duda satu anak….” Ranti ikut nimbrug


dalam obrolan.


“Kamu jangan jadi kompor meleduk


deh Ran,,,,” sahutku dengan muka kubuat pura pura sewot, Ranti tertawa


melihatnya, karena dia tahu kata kata dia ini akan jadi panjang dikomentari


papa mamanya.


“Tuh dengar kata Ranti….banyak


kan yang mau sama kamu Rey….kamu cantik…pintar…punya karir yang bagus….mau cari


yang gimana lagi…?” benar saja, mama langsung mengomentari ucapan Ranti.


“Pokoknya papa ingin kamu segera


berumah tangga lagi…papa ga mau kamu berlama lama sendirian dan dekat dengan


banyak laki laki yang ga jelas tujuan nya….” Ucap papa Rey sambil melangkah


masuk kedalam rumah.


Rey sudah hafal karakter dan


sifat kedua orang tuanya, jika papa sudah seperti ini, papa akan jarang mau


bicara dengan Reyni sampai dia mewujudkan keinginannya. Walaupun memang papa


tidak pernah lampiaskan dengan marah, Cuma semua anaknya akan menjadi kikuk


jika papa sudah seperti ini.


“Wah gawat mbak…..sang raja sudah


bertitah…repot iki….memangnya mbak beneran belum ada teman dekat laki laki yang


special…?” ujar Ranti


“Kamu sih…malah nambah


nambahin….jadi repot kan?” ucap Rey pada adik bungsunya ini.


“Rey…mama nidurin Meysa dulu ya?


Sudah ngantuk dia….besok pagi pagi susah dibangunin untuk sekolah kalo tidurnya


terlalu malam…kamu pulang ke ungaran kapan?” ujar mama sambil melangkah ke


dalam rumah.


“Besok pagi setelah Meysa jalan sekolah


Rey langsung berangkat kerja dari sini ma….Rey sudah minta jemput supir kantor


kesini…” jawab Rey


“Mbak…mbak masih dekat dengan mas


Adrian ya?....” ucap Ranti setengah berbisik takut terdengar kedua orang tua


mereka.


“Sudah jarang komunikasi sejak


Mbak pindah dan kerja disini…” jawab Rey pelan


“Mbak Cinta dia ya ?” selidik


Ranti


“Mau tahu aja kamu…” balas Rey


sambil tertawa kecil


“Ranti sebenarnya suka jika Mbak


dekat dengan Mas Adrian…sekilas waktu bertemu dan mengobrol dengannya dirumah


Mbak Rey saat mas johan meninggal…orangnya sopan…kelihatannya laki laki


bertaggung jawab dan  ga genit…tapi


sayang ..dia sudah punya istri ya mbak?” Ujar Ranti lagi dengan suara pelan

__ADS_1


Dari sejak sama sama masih duduk


dibangku sekolah, Reyni dan Ranti memang sangat dekat….mereka sering ebrbagi


cerita apa saja , termasuk soal pacar pacar mereka juga perasaan mereka, saling


support dan memberi pendapat serta saran satu sama lain.


“Ya…Adrian memang laki laki baik


Ran….mbak juga ke Jakarta menjenguk istrinya yang sakit…malah Istrinya yang minta


Adrian hubungi mbak agar datang menjenguknya…” ucap Rey disambut dengan wajah


kaget dari Ranti


“Hah???!!! Kok bisa gitu…?jadi


Istrinya sudah kenal Mbak??”


“Sudah Ran….tadinya mereka nyaris


berpisah ….karena Mbak dekat dengan Adrian dan Istrinya juga dekat dengan laki


laki lain..” lanjut Rey


“Lah…Mbak ini gimana…? Padahal


itu kan kesempatan mbak untuk memiliki Adrian…..” ujar Ranti


“Susah jelasinnya Ran…tapi yang


jelas Mbak ga mau memiliki Adrian dengan ending atau cara seperti itu…lagi


pula…laki laki yang dekat dengan istrinya bukan laki laki baik dan hanya ingin


bersenang senang saja…..kamu tahu Anton??” jelas Rey lagi


“Anton…laki laki bajingan yang


tinggalkan mbak begitu saja dalam keadaan hamil..?” ucap Ranti setengah


berbisik menahan suaranya.


Rey mengangguk….


“Lalu kok istrinya bisa meminta


mbak datang ke Jakarta?” lanjut Ranti penasaran


“Istrinya merasa sakitnya ga bisa


disembuhkan…mbak coba kuatkan hatinya…karena memang banyak kok yang bisa sembuh


dari penyakit kelenjar tiroid seperti yang diderita istrinya Adrian….dia minta


mbak damping Adrian jika dia meninggal…” ujar Rey lagi


“Oh My God…..jadi istrinya tahu


kedekatan mbak dengan mas Adrian?” ucap Ranti


“Ya…tapi dia juga tahu kalo mbak


tidak berniat merebut suaminya dari sisinya….walau mbak akui…mbak cinta dengan


Adrian….” Rey meminum sisa teh hangatnya sambil meluruskan kakinya yang terasa


pegal.


“Jadi mbak….tetap mau menunggu


mas Adrian…? Papa sudah seperti itu lho mbak….seperti biasa ga bisa lama lama


untuk memberi papa kepastian…” ujar Ranti lagi


“Entahlah Ranti…mbak bingung…di


ungaran juga banyak yang dekati mbak…tapi entah kenapa mbak ga tertarik dan


memilih menutup diri…walau mbak akui…mbak sering merasa kesepian disaat lepas


menghela nafasnya


“Tapi hati mbak hanya tertuju


sama mas Adrian kan? Wah mbak….mbak sudah jatuh cinta kalo gini …” balas Ranti


cepat


“Mbak ga coba berusaha mencintai


laki laki lain mbak? Agar mas Adrian bisa melanjutkan hidupnya…begitu juga mbak…?”


imbuh Ranti lagi


“Hati ga seperti tempe


dipenggorengan Ran…yang bisa kita bolak balik sesuka kita …kamu kira tujuan


mbak pindah rumah…bekerja disini itu untuk apa? Agar mbak bisa menemukan laki


laki lain…jauh dari hidup Adrian..agar dia bisa melanjutkan hidupnya …begitupun


mbak…tapi sudah hampir setahun mbak lakukan,..tetap saja mbak belum bisa


membuka hati mbak buat orang lain…” ucap Rey sambil menatap langit langit


teras.


“Sudah jam 10 malam Ran….mbak


ngantuk…takut besok kesiangan saat supir kantor jemput mbak…dan mbak mau liat


Meysa saat siap siap pergi ke sekolah….” Rey berdiri lalu masuk kedalam rumah


dan masuk kedalam kamar tamu yang bersebelahan dengan ruang tamu depan, kamar


itu memang disiapkan papa dan mamanya untuk keluarga anaknya jika datang


berkunjung dan menginap.


Empat hari dirawat dirumah sakit,


akhirnya Ita diperbolehkan pulang, Dokter menyarankan agar aku melakukan


medical check up atas penyakit Ita dirumah sakit setiap tiga hari sekali dalam


seminggu.


Clara dan Calista terlihat riang


melihat kehadiran bunda nya lagi ditengah tengah mereka…akupun bisa kembali


fokus menjalankan usahaku.


Untuk memperbesar usahaku dan


memperluas jaringan usahaku, atas referensi dari seorang pegawai marketingku


aku bekerja sama dan bermitra dengan pengusaha muda dengan bidang yang sama,


hanay saja mereka keturunan keluarga kaya raya, sehingga secara finansial


mereka lebih mumpuni dari pada aku, disaat aku mendapat job job pengiriman


dengan jumlah banyak atau nilai yang besar, aku sering kesulitan dalam permodalan,


akhirnya kuputuskan untuk bermitra dengan mereka. Usahaku meroket…aku memiliki


banyak pegawai dan juga armada armada kendaraan yang di sokong penuh dari


finansial partnerku.


Semua berjalan lancar selama enam


bulan kedepan, Itupun rutin ku bawa beriobat bahkan aku bisa meminta pengobatan


yang exclusive dari pihak rumah sakit untuk kesembuhan total penyakitnya.


“Ini omset penghasilan kita bulan

__ADS_1


ini..?? setengah dari bulan lalu pun ga sampai…kenapa customer customer kita


yang rutin ga pernah kirim barang atau produk mereka lagi lewat kita…kalian


sudah cek ?” ucapku gusar pada staff admin dan juga marketingku.


“Sudah pak…saya coba hubungi


mereka…katanya meraka sudah pakai perusahaan jasa pengiriman yang lain, yang


harganya jauh dibawah kita…” ucap salah satu adminku yanti.


Perlahan namun pasti omset


perusahaanku menurun drastis, sebagian kendaraanpun ditarik oleh partnerku


karena lebih banyak menganggur dan tidak beroperasi. Akupun mulai terlibat


hutang dengan rekanan rekanan perusahaanku didaerah daerah, juga mulai


terlambat dalam mebayar gaji para pegawai. Sore itu aku memanggil Handoko ,


pegawaiku yang ikut denganku sejak kudirikan usaha ini, dan sangat


kupercaya..dia masih sangat muda saat mulai ikut kerja denganku, namun


kejujurannya…kemauannya untuk belajar dan tidak perhitungan soal wkatu kerja,


membuatku merasa dapat andalkan dirinya, dan aku seolah melihat diriku sendiri


beberapa tahun yang lalu saat mulai ikut Pak Hnedri dan Mr.Jimmy dulu


diperusahaan mereka


“Ko…saya merasa ada yang tidak


beres…karena tidak mungkin bulan lalu ramai job lalu bulan berikutnya bisa tiba


tiba lenyap dan hampir semua klien beralih ke perusahaan ekspedisi yang lain…”


ucapku serius pada Handoko, para pekerja yang lain sudah pulang sejak jam 17.00


tadi.


“Iya bos….saya juga merasa


begitu….seperti ada yang ga wajar…” balas Handoko


“Coba besok kamu pakai motormu ke


salah satu customer kita yang biasa kirim setiap hari lewat kita…kamu


perhatikan perusahaan apa yang datang dan ambil barang ke mereka…” ucapku lagi


memberi instruksi


“Oke Bos….besok pagi saya


langsung kesana…karena biasanya customer kita yang rutin itu, pengambilan


barangnya harus dibawah jam 10.00 pagi…” jawab Handoko


“Baik Ko…jangan ceritakan hal ini


dengan karyawan yang lain…cukup kamu yang tahu….” Lanjutku


Pagi itu aku tengah bersiap siap


keluar rumah untuk pergi ke ruko, ketika sebuah mobil Avanza berhenti didepan


rumahku, tiga lelaki berbadan besar menghampiriku sambil membawa sebuah surat.


“Dengan Pak Adrian…?” ucap salah


satu laki laki dengan berkemeja batik dan berkacamata


“Ya benar…bapak bapak ini dari


mana..?” tanyaku sambil melihat mereka satu persatu


“Kami dari Bank Mandiri …kami


membawa surat dari kantor pusat, bahwa Bapak sudah menunggak hampir kurang


lebih 6 bulan angsuran atas agunan sertifikat rumah bapak di Bank kami…jadi


jika dalam waktu satu bulan ini bapak tidak dapat mebayar tunggakan tersebut ,


maka rumah ini kami lelang untuk melunasi sisa pinjaman Bapak kepada pihak


Bank…” jelas laki laki itu.


Tubuhku terasa lemas


mendengarnya, namun aku tetap berusaha tenang karena Ita berdiri di pintu rumah


dan mendengar semuanya


“Baik pak….saya akan usahakan


melunasi tunggakan angsuran kami, dan terburuknya kami akan menjual rumah ini


lalu sebagian hasil penjualannya akan kami pakai untuk melunasi semua pinjaman,


daripada dilelang oleh pihak bank, karena setahu saya pihak bank akan melelang


dengan harga dibawah pasaran..” ucapku, lalu ketiga laki laki itu pergi setelah


salah satu dari mereka memberikan surat yang mereka bawa kepadaku.


Ita menatapku tanpa bicara, dia


tahu saat itu pikiranku sedang kalut walau aku terbiasa simpan semua dalam


diam.


“Aku jalan ya Bunda..? kamu ga


usah khawatir…kita pasti bisa cari jalan keluar…” ujarku , Ita mencium tanganku


seperti biasa disaat aku berangkat bekerja. Ita hanya mengangguk pelan.


Sesampainya dikantor kulihat


pegawaiku Handoko sudah duduk menungguku dnegan wajah kesal bercampur geram.


“Hei…kenapa kamu Ko…? Kamu sudah


lakukan apa yang saya instruksikan kemarin?” ucapku sambil menaruh tasku dan


duduk menghadap Handoko


“Kurang ajar mereka Bos…” suara


Handoko terdengar keras dengan nada marahs eorang laki laki yang masih muda


“Siapa yang Kurang ajar? Customer


kita..?” jawabku


“Perusahaan Partner Bos….mereka


sekarang langsung potong jalur ke semua klien kita, dan yang lebih kurang ajar


lagi…pak Gunadi marketing kita juga direkrut mereka dan yang melakukan


negosiasi harga dengan klien….jelas saja dia tahu berapa harag kita dan dengan


mudah di jatuhkannya..” Jelas Handoko


“Brengsekkkk!!!!...” aku juga


ikut terbawa emosi  mendengar penjelasan


Handoko


“Cari si Gunadi…!!! Bawa dia


segera kesini….!! Kurang ajar itu orang,…..” teriakku hampir didengar seluruh


pegawaiku.

__ADS_1


__ADS_2