
Rey baru saja turun dari pesawat
dan menyalakan telpon genggamnya, langsung dilihatnya pesan masuk dari Adrian..
“Aku akan tetap simpan rasaku
Adrian….” Ucap Rey dalam hati, dia berencana mampir kerumah orang tuanya untuk
menjenguk Meysa, mumpung dia berada di kota semarang.
Meysa berlari melihat kedatangan
Reyni, dipeluknya Ibu tercintanya….Rey pun menggendong Meysa kedalam rumah.
Diteras terlihat Papa dan mamanya serta Ranti adiknya sedang bercengkrama
sambil minum teh, kebiasaan keluarganya selepas Isya.
“Lho tumben kamu kesini di hari
kerja? Biasanya jumat atau sabtu? “ ucap mama Rey . Rey mencium tangan papa dan
mamanya , Meysa pun lari kedalam kembali bermain dengan anak adikku Ranti.
“Rey habis jenguk teman yang
sakit di Jakarta ma…jadi tadi dari Bandara langsung kesini sekalian…”jawab Rey
sambil ikut duduk dikursi teras melepaskan penat selama diperjalanan tadi.
“Rey….kapan kamu berencana mau
mencari pedamping hidup lagi? Sudah genap setahun lebih suamimu pergi….kamu
masih muda…Meysa masih butuh figure seorang ayah…..” tiba tiba papa Reyni
berbicara seperti itu setelah meneguk secangir teh hangatnya.
Rey terlihat tidak siap dengan
pertanyaan seperti itu, dia diam sesaat untuk mencari alasan yang tepat.
“Rey belum kepikiran untuk hal
itu pa….Rey sudah pernah coba…tapi yang Rey temui mereka hanya mau bermain main
dan tidak serius kea rah sana, jadi lebih baik Rey focus kerja dulu….nanti juga
datang sendiri Pa…” ujar Rey mencoba mengelak dari pertanyaan papanya
“Maksud papamu Rey…papa dan mama
ini sudah tua…kalalu suatu hari kami sudah ngga ada…kami ingin melihat
kehidupanmu dan Meysa baik baik saja, dan sudah punya rumah tangga seperti adik adikmu juga kehidupan yang normal
seperti orang lain….dan kamu juga tidak perlu sampai membanting tulang siang
malam mencari nafkah seperti yang selama ini kamu lakukan….” Ucap mama ikut bicara
“Ma…dari dulu mama kan tau…Rey
tidak suka tergantung dengan laki laki…dulu sebelum bertemu alm mas johan …kan
Rey juga sudah kerja ma…..ada suami atau tidak ada suami…Rey akan tetap bekerja
selagi rey bisa dan dibutuhkan ma….” Balas Rey sambil meminum the yang baru
disediakan Ranti adiknya.
“Oh iya Mbak…..temennya mas Aris
suamiku…..Herman,,.pernah kesini lho nanyain mbak….hebat lho dia
sekarang…pengusaha furniture di Jepara, duda satu anak….” Ranti ikut nimbrug
dalam obrolan.
“Kamu jangan jadi kompor meleduk
deh Ran,,,,” sahutku dengan muka kubuat pura pura sewot, Ranti tertawa
melihatnya, karena dia tahu kata kata dia ini akan jadi panjang dikomentari
papa mamanya.
“Tuh dengar kata Ranti….banyak
kan yang mau sama kamu Rey….kamu cantik…pintar…punya karir yang bagus….mau cari
yang gimana lagi…?” benar saja, mama langsung mengomentari ucapan Ranti.
“Pokoknya papa ingin kamu segera
berumah tangga lagi…papa ga mau kamu berlama lama sendirian dan dekat dengan
banyak laki laki yang ga jelas tujuan nya….” Ucap papa Rey sambil melangkah
masuk kedalam rumah.
Rey sudah hafal karakter dan
sifat kedua orang tuanya, jika papa sudah seperti ini, papa akan jarang mau
bicara dengan Reyni sampai dia mewujudkan keinginannya. Walaupun memang papa
tidak pernah lampiaskan dengan marah, Cuma semua anaknya akan menjadi kikuk
jika papa sudah seperti ini.
“Wah gawat mbak…..sang raja sudah
bertitah…repot iki….memangnya mbak beneran belum ada teman dekat laki laki yang
special…?” ujar Ranti
“Kamu sih…malah nambah
nambahin….jadi repot kan?” ucap Rey pada adik bungsunya ini.
“Rey…mama nidurin Meysa dulu ya?
Sudah ngantuk dia….besok pagi pagi susah dibangunin untuk sekolah kalo tidurnya
terlalu malam…kamu pulang ke ungaran kapan?” ujar mama sambil melangkah ke
dalam rumah.
“Besok pagi setelah Meysa jalan sekolah
Rey langsung berangkat kerja dari sini ma….Rey sudah minta jemput supir kantor
kesini…” jawab Rey
“Mbak…mbak masih dekat dengan mas
Adrian ya?....” ucap Ranti setengah berbisik takut terdengar kedua orang tua
mereka.
“Sudah jarang komunikasi sejak
Mbak pindah dan kerja disini…” jawab Rey pelan
“Mbak Cinta dia ya ?” selidik
Ranti
“Mau tahu aja kamu…” balas Rey
sambil tertawa kecil
“Ranti sebenarnya suka jika Mbak
dekat dengan Mas Adrian…sekilas waktu bertemu dan mengobrol dengannya dirumah
Mbak Rey saat mas johan meninggal…orangnya sopan…kelihatannya laki laki
bertaggung jawab dan ga genit…tapi
sayang ..dia sudah punya istri ya mbak?” Ujar Ranti lagi dengan suara pelan
__ADS_1
Dari sejak sama sama masih duduk
dibangku sekolah, Reyni dan Ranti memang sangat dekat….mereka sering ebrbagi
cerita apa saja , termasuk soal pacar pacar mereka juga perasaan mereka, saling
support dan memberi pendapat serta saran satu sama lain.
“Ya…Adrian memang laki laki baik
Ran….mbak juga ke Jakarta menjenguk istrinya yang sakit…malah Istrinya yang minta
Adrian hubungi mbak agar datang menjenguknya…” ucap Rey disambut dengan wajah
kaget dari Ranti
“Hah???!!! Kok bisa gitu…?jadi
Istrinya sudah kenal Mbak??”
“Sudah Ran….tadinya mereka nyaris
berpisah ….karena Mbak dekat dengan Adrian dan Istrinya juga dekat dengan laki
laki lain..” lanjut Rey
“Lah…Mbak ini gimana…? Padahal
itu kan kesempatan mbak untuk memiliki Adrian…..” ujar Ranti
“Susah jelasinnya Ran…tapi yang
jelas Mbak ga mau memiliki Adrian dengan ending atau cara seperti itu…lagi
pula…laki laki yang dekat dengan istrinya bukan laki laki baik dan hanya ingin
bersenang senang saja…..kamu tahu Anton??” jelas Rey lagi
“Anton…laki laki bajingan yang
tinggalkan mbak begitu saja dalam keadaan hamil..?” ucap Ranti setengah
berbisik menahan suaranya.
Rey mengangguk….
“Lalu kok istrinya bisa meminta
mbak datang ke Jakarta?” lanjut Ranti penasaran
“Istrinya merasa sakitnya ga bisa
disembuhkan…mbak coba kuatkan hatinya…karena memang banyak kok yang bisa sembuh
dari penyakit kelenjar tiroid seperti yang diderita istrinya Adrian….dia minta
mbak damping Adrian jika dia meninggal…” ujar Rey lagi
“Oh My God…..jadi istrinya tahu
kedekatan mbak dengan mas Adrian?” ucap Ranti
“Ya…tapi dia juga tahu kalo mbak
tidak berniat merebut suaminya dari sisinya….walau mbak akui…mbak cinta dengan
Adrian….” Rey meminum sisa teh hangatnya sambil meluruskan kakinya yang terasa
pegal.
“Jadi mbak….tetap mau menunggu
mas Adrian…? Papa sudah seperti itu lho mbak….seperti biasa ga bisa lama lama
untuk memberi papa kepastian…” ujar Ranti lagi
“Entahlah Ranti…mbak bingung…di
ungaran juga banyak yang dekati mbak…tapi entah kenapa mbak ga tertarik dan
memilih menutup diri…walau mbak akui…mbak sering merasa kesepian disaat lepas
menghela nafasnya
“Tapi hati mbak hanya tertuju
sama mas Adrian kan? Wah mbak….mbak sudah jatuh cinta kalo gini …” balas Ranti
cepat
“Mbak ga coba berusaha mencintai
laki laki lain mbak? Agar mas Adrian bisa melanjutkan hidupnya…begitu juga mbak…?”
imbuh Ranti lagi
“Hati ga seperti tempe
dipenggorengan Ran…yang bisa kita bolak balik sesuka kita …kamu kira tujuan
mbak pindah rumah…bekerja disini itu untuk apa? Agar mbak bisa menemukan laki
laki lain…jauh dari hidup Adrian..agar dia bisa melanjutkan hidupnya …begitupun
mbak…tapi sudah hampir setahun mbak lakukan,..tetap saja mbak belum bisa
membuka hati mbak buat orang lain…” ucap Rey sambil menatap langit langit
teras.
“Sudah jam 10 malam Ran….mbak
ngantuk…takut besok kesiangan saat supir kantor jemput mbak…dan mbak mau liat
Meysa saat siap siap pergi ke sekolah….” Rey berdiri lalu masuk kedalam rumah
dan masuk kedalam kamar tamu yang bersebelahan dengan ruang tamu depan, kamar
itu memang disiapkan papa dan mamanya untuk keluarga anaknya jika datang
berkunjung dan menginap.
Empat hari dirawat dirumah sakit,
akhirnya Ita diperbolehkan pulang, Dokter menyarankan agar aku melakukan
medical check up atas penyakit Ita dirumah sakit setiap tiga hari sekali dalam
seminggu.
Clara dan Calista terlihat riang
melihat kehadiran bunda nya lagi ditengah tengah mereka…akupun bisa kembali
fokus menjalankan usahaku.
Untuk memperbesar usahaku dan
memperluas jaringan usahaku, atas referensi dari seorang pegawai marketingku
aku bekerja sama dan bermitra dengan pengusaha muda dengan bidang yang sama,
hanay saja mereka keturunan keluarga kaya raya, sehingga secara finansial
mereka lebih mumpuni dari pada aku, disaat aku mendapat job job pengiriman
dengan jumlah banyak atau nilai yang besar, aku sering kesulitan dalam permodalan,
akhirnya kuputuskan untuk bermitra dengan mereka. Usahaku meroket…aku memiliki
banyak pegawai dan juga armada armada kendaraan yang di sokong penuh dari
finansial partnerku.
Semua berjalan lancar selama enam
bulan kedepan, Itupun rutin ku bawa beriobat bahkan aku bisa meminta pengobatan
yang exclusive dari pihak rumah sakit untuk kesembuhan total penyakitnya.
“Ini omset penghasilan kita bulan
__ADS_1
ini..?? setengah dari bulan lalu pun ga sampai…kenapa customer customer kita
yang rutin ga pernah kirim barang atau produk mereka lagi lewat kita…kalian
sudah cek ?” ucapku gusar pada staff admin dan juga marketingku.
“Sudah pak…saya coba hubungi
mereka…katanya meraka sudah pakai perusahaan jasa pengiriman yang lain, yang
harganya jauh dibawah kita…” ucap salah satu adminku yanti.
Perlahan namun pasti omset
perusahaanku menurun drastis, sebagian kendaraanpun ditarik oleh partnerku
karena lebih banyak menganggur dan tidak beroperasi. Akupun mulai terlibat
hutang dengan rekanan rekanan perusahaanku didaerah daerah, juga mulai
terlambat dalam mebayar gaji para pegawai. Sore itu aku memanggil Handoko ,
pegawaiku yang ikut denganku sejak kudirikan usaha ini, dan sangat
kupercaya..dia masih sangat muda saat mulai ikut kerja denganku, namun
kejujurannya…kemauannya untuk belajar dan tidak perhitungan soal wkatu kerja,
membuatku merasa dapat andalkan dirinya, dan aku seolah melihat diriku sendiri
beberapa tahun yang lalu saat mulai ikut Pak Hnedri dan Mr.Jimmy dulu
diperusahaan mereka
“Ko…saya merasa ada yang tidak
beres…karena tidak mungkin bulan lalu ramai job lalu bulan berikutnya bisa tiba
tiba lenyap dan hampir semua klien beralih ke perusahaan ekspedisi yang lain…”
ucapku serius pada Handoko, para pekerja yang lain sudah pulang sejak jam 17.00
tadi.
“Iya bos….saya juga merasa
begitu….seperti ada yang ga wajar…” balas Handoko
“Coba besok kamu pakai motormu ke
salah satu customer kita yang biasa kirim setiap hari lewat kita…kamu
perhatikan perusahaan apa yang datang dan ambil barang ke mereka…” ucapku lagi
memberi instruksi
“Oke Bos….besok pagi saya
langsung kesana…karena biasanya customer kita yang rutin itu, pengambilan
barangnya harus dibawah jam 10.00 pagi…” jawab Handoko
“Baik Ko…jangan ceritakan hal ini
dengan karyawan yang lain…cukup kamu yang tahu….” Lanjutku
Pagi itu aku tengah bersiap siap
keluar rumah untuk pergi ke ruko, ketika sebuah mobil Avanza berhenti didepan
rumahku, tiga lelaki berbadan besar menghampiriku sambil membawa sebuah surat.
“Dengan Pak Adrian…?” ucap salah
satu laki laki dengan berkemeja batik dan berkacamata
“Ya benar…bapak bapak ini dari
mana..?” tanyaku sambil melihat mereka satu persatu
“Kami dari Bank Mandiri …kami
membawa surat dari kantor pusat, bahwa Bapak sudah menunggak hampir kurang
lebih 6 bulan angsuran atas agunan sertifikat rumah bapak di Bank kami…jadi
jika dalam waktu satu bulan ini bapak tidak dapat mebayar tunggakan tersebut ,
maka rumah ini kami lelang untuk melunasi sisa pinjaman Bapak kepada pihak
Bank…” jelas laki laki itu.
Tubuhku terasa lemas
mendengarnya, namun aku tetap berusaha tenang karena Ita berdiri di pintu rumah
dan mendengar semuanya
“Baik pak….saya akan usahakan
melunasi tunggakan angsuran kami, dan terburuknya kami akan menjual rumah ini
lalu sebagian hasil penjualannya akan kami pakai untuk melunasi semua pinjaman,
daripada dilelang oleh pihak bank, karena setahu saya pihak bank akan melelang
dengan harga dibawah pasaran..” ucapku, lalu ketiga laki laki itu pergi setelah
salah satu dari mereka memberikan surat yang mereka bawa kepadaku.
Ita menatapku tanpa bicara, dia
tahu saat itu pikiranku sedang kalut walau aku terbiasa simpan semua dalam
diam.
“Aku jalan ya Bunda..? kamu ga
usah khawatir…kita pasti bisa cari jalan keluar…” ujarku , Ita mencium tanganku
seperti biasa disaat aku berangkat bekerja. Ita hanya mengangguk pelan.
Sesampainya dikantor kulihat
pegawaiku Handoko sudah duduk menungguku dnegan wajah kesal bercampur geram.
“Hei…kenapa kamu Ko…? Kamu sudah
lakukan apa yang saya instruksikan kemarin?” ucapku sambil menaruh tasku dan
duduk menghadap Handoko
“Kurang ajar mereka Bos…” suara
Handoko terdengar keras dengan nada marahs eorang laki laki yang masih muda
“Siapa yang Kurang ajar? Customer
kita..?” jawabku
“Perusahaan Partner Bos….mereka
sekarang langsung potong jalur ke semua klien kita, dan yang lebih kurang ajar
lagi…pak Gunadi marketing kita juga direkrut mereka dan yang melakukan
negosiasi harga dengan klien….jelas saja dia tahu berapa harag kita dan dengan
mudah di jatuhkannya..” Jelas Handoko
“Brengsekkkk!!!!...” aku juga
ikut terbawa emosi mendengar penjelasan
Handoko
“Cari si Gunadi…!!! Bawa dia
segera kesini….!! Kurang ajar itu orang,…..” teriakku hampir didengar seluruh
pegawaiku.
__ADS_1