
Papa dirawat selama kurang lebih 7 hari, syukurlah hari ini papa sudah diperbolehkan pulang. Aku sedang bereskan administrasi rumah sakit, saat telpon genggamku berbunyi tanda pesan masuk..
“JADI KETEMU HARI INI?....” pesan dari Ita.
“JADI…AKU BERESKAN URUSAN ADMINISTRASI PAPA DULU, NANTI KETEMU DI TEMPAT DULU BIASA KETEMU…” balasku
Badanku masih terasa penat karena semalam menunggui papa, tentu saja tidru dirumah sakit tidak senyenyak kalau kita tidur di rumah, mataku sedikit mengantuk. Tapi aku sudah berjanji dan harus kupenuhi untuk bertemu Ita dan anakku.
Setelah kuberskan urusan administrasi rumah sakit, aku memanggil taxi untuk membawa papa pulang, papa
ditemani Hendra dan Tika, sedangkan aku seperti biasa mengendarai sepeda motorku.
Sore itu hujan rintik rintik mengguyur Jakarta, kalau menunggu benar benar berhenti pasti bisa sampai malam
__ADS_1
nih…”batinku. Aku memutuskan menerobos gerimis dengan motorku, tidak jauh dari tempat bertemu dengan Ita, aku hentikan motorku di depan sebuah bank , niatku ke ATM untuk mengambil sejumlah uang, setelah tadi uangku habis untuk membayar biaya administrasi rumah sakit. Gerimis masih saja turun, aku hentikan motorku dibelakang sebuah taxi, sambil melihat dari jok motorku apakah atrian ATM cukup panjang atau tidak.
Tiba-tiba dari arah belakangku ku dengar suara berdecit dan sedetik kemudian…”BRAKKKKK…!!!!” sebuah mobil
menabrak aku dan motorku dari arah belakang. Aku dan motorku kontan langsung masuk ke bawah mobil taxi didepanku, benturan yang cukup keras membuat aku dan motorku masuk agak jauh dibawah taxi didepanku. Jari telunjuk dan jari tengahku kiriku terjepit handle kopling motor. Kejadian begitu cepat, yang ku ingat saat taxi akan berjalan…kupukul keras keras bagian bawah mobil dengan kepalan tangan kananku.
Samar samar ku dengar orang berteriak “ Stop pak!..orangnya masih hiduo…” beberapa detik kemudian ada yang
menarik tubuhku dan motorku. Saat itu aku diantara sadar dan tidak, kulihat sekilas dua jariku yang nyaris putus berlumuran darah. Refleks kudatangi pengemudi mobil yang menabrakku dank u tarik kerah bajunya penuh emosi…wajah orang itu terlihat penuh ketakutan melihat amarahku dan darah yang menodai baju dan berlumuran di pergelangan tanganku.
“Antar saya ke rumah sakit sekarang…!!!” hardikku
“Ba…baik pak….” Jawabnya , wanita paruh baya disebelahnya pindah ke kursi belakang , aku duduk dikursi depan
__ADS_1
disebelah laki laki yang menabrakku tadi. Sebelumnya aku sempatkan bicara dengan security bank untuk enitipkan motorku, aku bilang padanya nanti ada keluarga ku yang akan mengambilnnya.
Lambat laun oandanganku kian gelap, mungkin karena aku banyak mengeluarkan darah, sebelum aku kehilangan
kesadaran, aku teringat Ita dan anakku yang pasti akan menuju ketempat yang kujanjikan, susah payah kuketik pesan ditelpon genggamku “AKU KECELAKAAN, SEDANG DIBAWA KE RUMAH SAKIT PGR CIKINI…” setelah itu pandanganku kabur…gelap dan makin gelap.
Tubuhku terasa dingin, bajuku yang basah karena hujan….darahku yang keluar banyak dan AC ruangan UGD rumah sakit ynag sangat dingin , membuat aku menggigil, samar samar ku dengar perawat yang berbicara dengan seorang Dokter. Sekilas isi perbincangan mereka mengenai keluarga pasien dan biaya tindakan menyambung saraf tersisa pada dua jariku yang nyaris putus.
Dengan suara lirih kupanggil perawat, pandanganku saat itu masih kabur dan semua yang kulihat samar samar
dan tidak jelas. “Ssuter…..”ucapku
“Ya pak..?” jawab perawat itu sambil menghampiriku.
__ADS_1
“Sebentar lagi keluarga saya akan datang kesini…dan mengenai biaya, tolong ambilkan tas yang saya pakai saat tadi saya dibawa kesini. Perawat itu mengambil tasku yang terletak disampingku tak jauh dari kepalaku. Aku mencoba membuka tasku dengan sisa kesadaran dan tenaga yang ku punya. Ku ambil beberapa lembar uang, sesuai nominal jumlah yang kudengar tadi dari pembicaraan perawat dan dokter. “Sekarang tolong lakukan
tindakan atau operasi pada tangan saya suster, tidak perlu menunggu keluarga saya, biar nanti mereka mengurus kepulangan saya saja “ ucapku sebelum kembali tak sadarkan diri.