CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
Episode 36


__ADS_3

Akhirnya setelah menandatangani beberapa surat dan juga membereskan administrasi rumah sakit, aku naik kedalam ambulan di dampingi perawat . Sebelumnya juga aku minta pihak pabrik klien perusahaan Debby untuk membawakan semua perlengkapan dan koper Debby di tempat dia menginap, aku juga meminta agar mereka memberi kabar ke perusahaan Debby mengenai hal ini dan meberikan nomor telpon genggamku dan nomor Debby jika sewaktu waktu mereka akan menghubungi.


Ambulan melaju kencang dengan raungan sirene nya, ku tatap wajah pucat Debby yang masih tak sadarkan diri,


melalui telpon genggam miliknya ku hubungi anggota keluarganya, ku kirim pesan berbahasa inggris, aku tidak menelpon karena aku tidak bisa berbahasa mandarin.


Kugenggam jemari Debby dengan tangan kananku dan tangan kiriku tak henti hentinya membelai rambutnya.


“Bertahan Debby….aku ga mau kehilangan kamu…..” ucapku, aku sudah tak perduli ada seorang perawat dihadapanku.


“Aku sayang kamu….aku butuh kamu….ku mohon….jangan tinggalkan aku …” ucapku ditelinganya, ku kecup kening dan pipi Debby, tak kuasa air mataku menetes mengenai pipinya.


Kalau saja bukan mobil ambulan dengan suara sirene yang melesat kencang bagai anak panah yang terlepas dari


busurnya, mungkin saat ini kami belum smapai dipelabuhan bakauheuni untuk melakukan penyebrangan via kapal cepat ferry.


“Pak saya mau keluar ,membeli makan di kapal…bapak ada yang mau saya belikan?” ucap perawat muda itu, mungkin juga sekalian dia ingin merenggangkan otot ototnya setelah beberapa jam hanya duduk disamping Debby sambil mengecek semua alat yang terpasang ditubuh Debby.


Aku menggeleng…melihat kondisi Debby aku tidak punya nafsu makan atau apapun kecuali ada disampingnya. “Saya minta nomor HP suster aja ya? Kalo ada apa apa bisa saya telpon” ujarku


“Debby sayang…tetap kuat ya? Jangan menyerah ya? Aku ada disini…dan aku akan selalu ada untuk kamu…..sembuh ya saying…” ucapku berkali kali seperti itu ditelinganya, sampai perawat muda itu kembali


masuk ke ambulan dan kami tiba di pelabuhan Merak, lalu kembali melaju di jalan tol menuju rumah sakit MMC di Kuningan Jakarta.


Aku tertidur sesaat…namun tak kulepaskan genggamanku dijemari Debby. Kurasakan telapak tangan Debby lebih


hangat dan tidak dingin seperti sebelumnya, dan juga kurasakan jari jarinya bergerak membalas genggamanku. Aku melonjak bangun dan kembali berucap di telinganya…”kamu sadar Debby? Ya…kamu wanita kuat….tetap sadar ya sayang…? Aku sayang kamu…..jangan menyerah Debby…” bisikku.


“A…aku..ju…ga…sa….yang ka…mu …Adri..an….” ucap Debby sangat pelan, kudekatkan telingaku dibibirnya.


“Iya…iya aku tahu….jangan banyak bicara lagi….simpan tenagamu….sebentar lagi kita tiba di MMC Jakarta, mereka pasti bisa menyembuhkanmu…karena kita kesana setiap minggu…..bertahan ya sayang?” aku kembali berbisik di telinga Debby. Debby menjawab dengan anggukan lemah.


Waktu hampir tengah malam saat ambulan kami tiba di rumah sakit MMC Jakarta, perawat muda itu berkoordinasi


dengan para perawat di ruang UGD MMC dan menyerahkan semua berkas pasien kepada mereka.


Debbypun langsung ditangani dan dibawa segera ke ruangan ICU. Aku mengucapkan terima kasih kepada perawat dan supir ambulan yang telah melayani aku dan Debby dengan baik selama diperjalanan.


Diruangan ICU, para perawat segera memasang alat bantu di tubuh Debby, Debby membuka sedikit matanya untuk


memastikan aku tetap ada disampingnya. Kembali ku genggam jemarinya untuk beri Debby isyarat kalau aku ada dan tetap disampingnya.


Debby kembali memejamkan matanya dan tertidur, setelah perawat menyuntikan obat yang juga mengandung obat tidur agar Debby lebih dapat beristirahat.


Kulihat ada pesan masuk di telpon genggam Debby saat aku mencoba charge telpon genggamnya karena baterai yang hampir habis. Ku baca ada pesan dari kakak laki lakinya


THANKS ADRIAN…YOU ALREADY TAKE CARE MY SISTER…I WILL TAKE A FLIGHT TOMMOROW WITH DEBBY MOM AND DAD…PLS TELL HER

__ADS_1


(Terima kasih Adrian…kamu sudah rawat adik saya…saya akan pakai pesawat besok bersama papa dan mama Debby..tolong sampaikan padanya)


Aku baru bisa pejamkan mataku sekitar jam 3 dini hari, kutarik kursiku disamping tempat tidur Debby, ku


sandarkan kepalaku di pinggir tempat tidur rawat Debby sambil tetap kupegang tangan kirinya. Setengah sadar aku rasakan ada yang mengusap rambutku saat aku tertidur kira kira satu jam.


Ternyata Debby tengah mengusap dan membelai rambutku sambil menatap sayu kepadaku.


“Thanks God…you wake up….” Ucapku pelan. Debby tersenyum tipis sambil terus menatapku penuh arti.


“Aku seperti mimpi Adrian…..dan aku juga dengar dalam mimpiku kamu berkata ..kamu sayang aku…kamu butuh aku…dan minta jangan tinggalkan kamu…” ujar Debby pelan.


“Kamu ga bermimpi Debby….aku memang katakan itu berkali kali sepanjang perjalanan di dalam ambulan tadi..”


ucapku lembut sambil mengelus pipinya.


“So it’s that true Adrian..?” balas Debby setengah berbisik, aku jawab hanya dengan anggukan kepalaku.


“Aku ingin tinggal dirumah kamu….boleh?” lanjut Debby lagi pelan


“Boleh….sangat boleh…bahkan you don’t have to pretend as my wife….tapi nanti benar benar jadi istriku…makanya kamu ga boleh menyerah….harus sembuh….setelah sembuh…kita wujudkan itu…” ucapku seraya


mencium kening dan bibir Debby.


“Really ..?” imbuh Debby, kulihat ada sepercik bahagia dimatanya, walau dia tengah berjuang melawan penyakitnya.


“Ya…really….dan tadi kakakmu memberi kabar…besok dia akan datang dengan papa mamamu…aku yang hubungi mereka lewat telponmu saat dalam perjalanan kita kesini dengan ambulan…” ucapku lagi


Keesokan harinya, kulihat empat orang masuk keruangan tempat Debby dirawat, satu laki laki tampan mirip actor mandarin Andi Lau , lalu seoarang wanita paruh baya dan seorang laki laki tua namun tidak kehilangan pesona dan kharismanya ,pasti disaat muda nya laki laki inipun sangat tampan ,dan yang satu lagi seorang laki laki bertubuh agak gendut dengan kepala plontos tanpa rambut.


“Are you Adrian?” ucap laki laki tampan yang mirip dengan Andy Lau itu.


“Yes…and you?” jawabku dan juga balik bertanya


“I am steven Lee , Debby brother and this is Debby mom and Dad…and this is Mr. David Soon , from Debby company” Laki laki itu mengenalkan dirinya sebagai kakak Debby dan wanita serta laki laki paruh baya itu adalah papa mamanya, sedang laki laki berkepala plontos itu adalah perwakilan dari perusahaan tempat Debby bekerja.


Kujabat tangan mereka satu persatu, lalu mama dan papa Debby segera menghampiri Debby ..memeluk dan


menciumi anak mereka.


“Adrian…I think you also need rest for a while, you look tired…let us wait Debby here.(Adrian, saya rasa kamu


juga perlu beristirahat sebentar, kamu keliatan lelah …biarkan kami yang menunggu Debby disini)” ucapa steven kakak Debby.


“Adrian….betul kata steven…lebih baik kamu istirahat sebentar, sekarang ada papa mama juga disini…kamu ke


apartemen saja…sekalian nanti kesini bawa kunci cadangan untuk steven atau papa maam jika ingin beristirahat disana…mbak siti tau dimana tempat kunci cadangan apartemennya..” ucap Debby

__ADS_1


“Baiklah …” jawabku sambil  aku berpamitan kepada empat orang yang baru datang dari Hongkong pagi tadi.


“Nyonya sakit apa pak?” Tanya mbak Siti saat aku datang ke apartemen dan hempaskan tubuh lelahku yang teramat sangat ke sofa. Kujelaskan penyakit Debby, Mbak siti menangis mendengarnya .


“Nyonya wanita baik pak…..dan teman satu satunya hanya bapak….lain dari itu nyonya hanya memikirkan pekerjaan….saya suka lihat nyonya suka senyum-senyum sendiri diruang kerjanya kalo habis telponan sama bapak..” ucap mbak siti dengan polosnya.


Aku hanya tersenyum mendengarnya…”Aku mau mandi dulu mbak..” ucapku sambil bangkit dari sofa, kulewati ruang kerja Debby , biasanya saat aku datang Debby tengah asik didepan laptopnya untuk memantau pekerjaannya dan juga kadang sedang berkomunikasi dengan kantornya lewat skype.


Kulihat dimejanya ada secarik kertas, terselip diantara buku buku yang habis dibaca Debby, biasanya Debby


selalu rapih dalam menata sesuatu, mungkin saat itu dia sedang terburu buru karena akan pergi mendadak urusan pekerjaannya ke Palembang tempo hari.


Dengan rasa penasaran ku hampiri meja kerja Debby dan ku ambil secraik kertas tersebut.


ADRIAN…SEMOGA TULISAN BAHASA INDONESIAKU SUDAH BENAR…


AKU TAHU KITA BERDUA ORANG YANG TERLUKA


AKU TAHU KITA DUA HATI YANG SUDAH TAK PERCAYA LAGI DENGAN CINTA


BAHKAN MUNGKIN AKU SUDAH TAK TAHU LAGI CINTA ITU APA…


YANG AKU TAHU BERSAMA KAMU ADALAH HAL INDAH


BERSAMA KAMU AKU BISA CERITAKAN SEGALANYA


AKU MERASA KEHILANGAN SAAT KAMU PULANG ATAU TAK ADA


AKU MERASA HIDUP JIKA KAMU ADA DISAMPINGKU DAN TERTAWA BERSAMA


AKU TAK TAHU APA YANG ADA DIHATIMU


AKU JUGA TAK BERANI UNGKAP APA YANG ADA DIHATIKU


AKU INGIN MENJADI WANITA YANG TINGGAL DIRUMAH YANG KAU BELI


AKU INGIN KATAKAN SEMUA INI SAAT AKU AKAN KEMBALI KE NEGARAKU


DAN AKU AKAN TINGGAL JIKA KAMU INGINKANKU…


DEBBY L.


Aku membaca berkali kali tulisan tangan Debby, bahkan setelah aku mandi dan menyantap makanan yang dibuat Mbak Siti, aku kembali membacanya berulang-ulang.


Sampai aku dikejutkan bunyi telpon genggamku malam itu. Kulihat dilayar telponku “DEBBY”


“Ya?’ ucapku

__ADS_1


“Adrian….Debby Condition un stabil again…would you come immediately? She keep call your name before she unconscious (Adrian…Kondisi Debby kembali tidak stabil lagi…bisa kamu datang segera? Dia selalu memanggil namamu sebelum dia tak sadarkan diri..)” ucap steven dengan nada panik.


“Oke…I go there…” jawabku


__ADS_2