
Sejak kepergian Hendri, Lily
selama masa berduka tinggal sementara dirumah papa mamanya, sudah hampir dua
minggu lebih kami tidak berkomunikasi apalagi bertemu. Namun aku mengerti,
bahwa diluar istana dan dunia mimpi kami, ada kehidupan nyata yang bukan milik
kami….
Hari ini aku ditugaskan
perusahaanku untuk mengikuti seminar yang diadalkan Instansi Bea dan Cukai di
Hotel Aston ,Atrium Senen, sebenarnya aku sudah sering ikuti seminar semacam
ini saat aku masih bekerja diperusahaan yang dulu, hanya aku tak menolaknya,
biarlah hitung hitung refreshing daripada dikantor pikirku.
Pagi itu Seminar berjalan seru
karena banyak interaksi dari para peserta seminar kepada narasumber ataupun
pembicara, hingga tak terasa sudah memasuki saatnya break untuk makan siang.
Aku keluar dari ruangan seminar dan mengambil piring dan mengambil nasi serta
beberapa lauk untuk makan siangku. Aku mencai tempat yang tidak terlalu ramai
didekat salah satu ballroom hotel, tidak terlalu ramai dan hanya ada sekumpulan
orang sedang makan siang bersama juga di meja panjang yang telah disiapkan
pihak hotel. Sepertinya acara kantor atau perhelatan antar keluarga. Sambil
menyantap makan siangku, aku duduk dari kejauhan dan iseng melihat kegiatan
mereka dari pintu ballroom yang terbuka.
“Oh rupanya pertemuan antar dua
keluarga kaya…” ucapku dalam hati
Dua orang berdiri dihadapan para
keluarga yang duduk dikursi dengan meja panjang , Yang satu wanita cantik
dengan kebaya putih ala jawa dan satu lagi pria dengan Jas mahal dengan dasi,
tampan dan jelas terlihat dari kalangan atas.
Aku kagum dengan kecantikan
wanita nya…”dari kejauhan saja sudah terlihat begitu cantik…apalagi dari
dekat?...” batinku
Kulihat jam tanganku, sudah
hampir jam 13.00, sebentar lagi seminar akan dimulai kembali, aku segera kembali
menuju ruangan seminar bersama dengan para peserta yang lainnya.
Ternyata setelah break makan
siang, seminar langsung masuk ke sesi terakhir dan langsung ditutup oleh
narasumber dan pihak penyelenggara, ah syukurlah…baru pukul 13.45, aku bisa
pulang lebih awal tanpa harus kembali ke kantor.
Mungkin para peserta lain yang
dikirim masing-masing perusahaannya juga
berpikir hal yang sama denganku, dan mereka juga setelah acara bubar memilih
kembali ke tempat makan siang tadi, untuk meminum kopi atau teh yang masih
tersedia.
Aku mengambil tempat area merokok
agar dapat menghisap rokokku sambil menikmati kopi panasku, hampir saja cankir
kopiku terjatuh saat tubuh seorang anak kecil tiba tiba menghambur dan
memelukku,
“Om Adrian…..Nazwa kangen….” Ucap
anak itu sambil memelukku, tingginya baru sebatas perutku…
“Eh Nazwa…? Kok kamu bisa ada
disini…? Om juga kangen…..mami mu mana?” ucapku seraya kutaruh cangkir kopiku
dan berjongkok untuk balas memeluknya.
__ADS_1
“Nazwa…kamu …ke..man…..” suara
wanita terdengar menghampiri Nazwa dibelakangku.
Aku menoleh kebelakang….Oh Tuhan
wanita cantik yang kulihat saat makan siang tadi…LILY…..
Kami berdua saling terdiam….mata
kami saling beradu tatap dan seolah ingin ungkapkan sejuta kata, namun tak
mampu kami ungkap. Aku segera menguasai keadaan secepatnya, karena kulihat para
keluarga Lily sedang keluar beramai ramai dari dalam Ball room. Papa dan Mama
Lily menghampiri kami, dan segera aku beri salam dan menjabat tangan mereka.
“Nazwa…Om pulang dulu ya? Nanti
kapan kapan om mampir dan main lagi ya?” ucapku sambil berusaha tersenyum
sambil mengusap kepala Nazwa.
Baru saja aku masuk kedalam
mobiku dan menyalakan mesin di area parkir, suara pesan masuk ke telpon
genggamku
ADRIAN….
MAAFKAN AKU…TIDAK MENGUBUNGI
AKHIR-AKHIR INI
SEJAK MAS HENDRI PERGI, AKU
BANYAK BERPIKIR …
BERPIKIR TENTANG
HIDUPKU…ROBBI…NAZWA….DAN KITA
AKU MENCINTAIMU….SUDAH ADA RASA
RINDU DAN CEMBURU DIHATIKU
TAPI AKU SADAR …AKU TIDAK BISA
MEMILIKIMU APALAGI MERUSAK BAHTERA RUMAH TANGGAMU
KAMU DAN AKU HARUS KEMBALI KE DUNIA
AKU MENERIMA SARAN PAPA DAN MAMA
UNTUK MENERIMA LAMARANA DHARMAWAN, LAKI LAKI YANG KAMU LIHAT DI BALLROOM TADI,
ANAK DARI RELASI PAPA
HATIKU SUDAH TAK PENTING
LAGI….AKU HANYA PIKIRKAN MASA DEPAN ANAK ANAKKU DAN ADA FIGUR NYATA SEORANG
BAPAK.
MAAFKAN AKU ADRIAN….
Kubaca pesan Whastapp Lily
berulang-ulang, hatiku yang sudah lama tak tergores luka, kini kembali
teriris…kembali tercabik….
Walau aku sadar sepenuhnya, bahwa
semua yang dikatakan Lily adalah benar….
“Aku juga sudah mulai mencintaimu
Ly…takut kehilanganmu….merindukanmu…cemburuku ke kamu….” Gumamku tanpa sadar.
Aku tak membalas pesan Lily, aku
juga sudah kehabisan kata kata apa yang harus kuketik dan membalas pesannya.
Yang kubisa hanya membenarkan semua isi pesan Lily…dan berharap semoga
kehidupannya berserta anak-anaknya
menjadi lebih baik
Sang Surya kembali tenggelam
dibatas garis Horizon sana , gelapnya malam mulai kembali selimuti alam juga
hatiku…
Tak ada lagi celoteh berisik para
__ADS_1
burung camar …..tak ada lagi sinar jingga nan indah yang manjakan mata dan
hati….SUNYI……SEPI….menjalar kesetiap sel darah dan setiap detak jantung yang
sebelumnya menikmatinya….mencoba menggenggamnya…..meraihnya….
Hatiku yang sudah bertahun tahun
membeku soal cinta, sejak kepergian Debby dulu….sudah mulai mele leh oleh sinar
sang surya yang diberikan wanita cantik bernama Lily, namun badai salju dan angina dingin yang menerpa
hati…membuat hati ini kembali membeku.
“Ah…aku tidak boleh larut dengan
sedih ini…..aku harus belajar dari perjalanan kisah hidupku….CINTA DIBATAS
HORIZON….tidak akan indah selamanya….ada cahaya nyata yang harus kujalani
bersama putaran waktu…senyuman Ita…Clara dan Calista…..” ucapku menguatkan hati
dan jiwaku.
Walau bayang-bayang Lily selalu melintas
di didepanku….jelas teringat….kemesraan kami….menggebunya rindu kami…..ciuman
mesranya….pelukan dan aroma wangi tubuhnya….tak semudah itu aku bisa beranjak pergi
dan terlupa begitu saja.
Di hari hari berikutnya yang
kujalani, selalu kukatakan dalam hati….” Ini memang sudah seharusnya….ini
salah…..Lily benar….” Ku teriakkan kata kata itu dalam hati setiap kali aku
terbakar rindu…
Pagi itu seusai subuh, aku melaju
di jalan tol jagorawi yang masih sepi….aku mengantar adik iparku Hilman untuk
berobat alternative di daerah Ciawi, sudah empat hari aku mengantarnya pulang
pergi demi ikhtiar kesembuhannya.
“Bang….” Ucap Hilman dengan
nafasnya yang berat, sejak menderita penyakit ginjal, Hilman seringkali sesak
dan kesulitan bernafas , jika sudah begitu dia harus segera ke rumah sakit
untuk melakukan cuci darah. Kami baru saja selesai berobat alternatif dan
Hilman menemaniku sejenak mampir untuk sarapan dan minum kopi agar aku lebih
segar pulang kembali ke rumah.
“Kenapa man?” sahutku sambil menyalakan
rokokku
“Sepertinya saya ga bisa bertahan
lebih lama lagi bang….sekarang saya sudah harus cuci darah dari sekali seminggu
menjadi dua kali dalam seminggu….biaya cuci darah ga sedikit bang…daripada
untuk biaya itu, lebih baik saya deposit…untuk anak anak saya sekolah nanti
bang…saya sudah total tidak bekerja lagi…saya sadar sepenuhnya penyakit saya
ini sulit untuk sembuh…” imbuhnya lagi
“Kamu ga boleh begitu man….kamu
laki laki…kepala keluarga….nakhoda…pilot….kamu ga boleh gampang menyerah…kamu
harus pompa semangat hidup kamu…” ucapku membesarkan hatinya.
“Iya bang…saya selalu punya
semangat hidup…untuk Asty juga anak saya yang masih kecil, tapi saya juga harus
terima fakta dan kenyataan yang ada bang….mungkin hanya 1 berbnading sejuta,
orang yang bis asembuh total dari gagal ginjal dan yang harus telah lalui
proses cuci darah…cuci darah ga menyembuhkan bang…..hanya membeli waktu…lebih
lama…” lanjut Hilman lagi dengan tatapan kosong, ada keputus asaan di sinar dan
raut wajahnya.
“Sudah jangan bahas ini lagi
man….soal usia, jodoh …maut ..di tangan Tuhan…..kita manusia yang penting mau
__ADS_1
berusaha sebaik baiknya mencari jalan keluar untuk sembuh …yang kita sebut
dengan ikhtiar….” Ucapku lagi .