
Satu lagi orang yang ku kagumi…ku
sayangi telah pergi….
Dua orang yang telah membentuk
karakterku telah meninggalkan ku…Alm papa dan juga Mr.Jimmy, tapi seperti
keduanya sering bilang kepadaku…”THE SHOW MUST GO ON…DAN HIDUP TIDAK BISA
BERHENTI DISATU TITIK…”
Kepergian Mr.Jimmu membuat posisi
Direktu Tunggal menjadi kosong, Mrs.Neesha tidak mengerti bisnis garment, dia
ber profesi sebagai penulis di salahh satu tabloid asing, dan mereka juga tidak
dikaruniai anak. Sehingga berdasarkan hasil rapat, kami putuskan mengangkat
sementara Mr. Vijay sebagai Direktur sekaligus Kepala Pabrik.
Aku dan Bernard sama sama tahu,
kalau pergantian ini akan membuat kami harus ikut repot merubah semua legalitas
perizinan perusahaan di instansi instansi terkait. Namun aku dan Bernard juga
sama sama faham, bahwa perusahaan ini harus tetap berjalan dan tidak berakhir
seperti perusahaan Alm Pak Henri dulu.
Cuma ada satu kendala, Keuangan
Mr.Vijay tidak seperti Alm.Mr.Jimmy, karena diapun direkrut sebagai pekerja
expatriate diperusahaan oleh Mr.Jimmy dari Negara asalnya. Sehingga mau tidak
mau kami harus punya investor yang masuk ke dalam perusahaan agar perusahaan
ini tetap berjalan dengan dukungan modal kerja yang cukup.
Sore itu aku sedang memikirkan
bagaimana selanjutnya dan apa yang harus aku , Bernard dam Vijay lakukan agar
perusahaan Mr.Jimmy ini tetap bertahan. Para staff ku baru saja semuanya pulang…tiba
tiba pintu ruanganku diketuk dan Reyni muncul sambil membawa secangkir kopi dan
roti BreadTalk…
“Eh Rey….aku kira kamu sudah
pulang….” Ucapku
“Tadinya begitu….tapi saat mau
masuk ke mobil, aku lihat lampu ruanganmu masih menyala…” jawab Rey sambil
meletakkan secangkir kopi di mejaku.
ruanganku memang terletak diluar
area pabrik, dulu awalnya akan dijadikan mess karyawan, bentuknya satu rumah
tinggal…tapi saat Mr.Jimmy memintaku bergabung, aku juga meminta syarat , kalo
tempat kerjaku adalah diluar area pabrik dan memilih bangunan rumah tersebut,
dan akhirnya Mr.Jimmy meminta para tukang dan mekanik pabrik menyulap bangunan tersebut
menjadi kantor/tempat kerja. Karena seringkali aku bekerja sambil merokok, hal
yang tidak bisa kulakukan jika ruanganku menajdi satu di dalam pabrik, bisa
bisa aku keluar kantor terus hanya untuk menghisap rokokku .
“Kamu pasti sedang sibuk sekali
ya Adrian? Sejak kepergian Mr.Jimmy….” lanjut Reyni lagi
“Yaaah…begitulah Rey….aku ,
Bernard dan Vijay pernah disatu perusahaan, dan dulu karena para big bos
__ADS_1
berseteru, akhirnya perusahaan bubar dan korban terakhir adalah para
karyawan..sekarang perusahaan ini harus tetap jalan Rey, namun Vijay hanya
expatriate….semua perizinan sudah aku dan Bernard rubah menjadi namanya, namun
untuk menerima job job dari buyer, kita membutuh kan modal kerja, dan kita
sangat membutuhkan Investor….” Jelasku
Reyni menjentikkan jari manisnya
di dagunya, dia ikut berpikir setelah penjelasanku tadi, wanita ini ternyata
sangat cantik jika sedang serius seperti itu.
“Adrian….aku ada ide…di tempat
kerjaku yang lama, atasan ku adalah Mr.Rajeev dan Mrs. Devi, warga Negara
India, perusahaan memang bukan milik mereka, owner nya adalah orang dari Belanda, namun semua aktivitas dia
yang kontrol, dan soal keuangan mereka aku tahu banyak, dan mereka berdua bisa
saja membuka satu pabrik. Namun kalau mulai dari nol…membangun sebuah pabrik dan
lain lain, mereka pasti berpikir itu akan makan waktu lama dan jangka panjang,
nah sekarang perusahaan kita sudah berjalan, tinggal bagaimana mereka masuk
kesini, tanamkan modal/sahamnya…dan duduk sebagai direksi…komisaris atau
apalah…kamu lebih ngerti soal itu Adrian…” ujar Reyni
Aku dibuatnya kagum dan juga
sempat melongo dengan solusi dan ide brilian Reyni….
“Wow….hebat kamu
Rey….hebat…ok…besok aku bicara dengan Bernard dan Vijay, kamu bisa bantu atur
kita ketemu dengan Sanjeev dan Devi ?” ucapku dengan mataku yang berbinar
Rey sambil tertawa kecil.
“Thank u Rey….kamu hebat…” Ucapku
tanpa sadar aku mencubit pipinya.
Reyni berdiri dan siap siap
keluar ruangan, aku juga langsung membereskan kertas kertas kerja yang berserakan
di mejaku..lalu dia menghampiriku dan berdiri disebelahku lalu berbisik “ kamu
lebih hebat Adrian…karakter mu buat para wanita kagum dan gila….” Balas Reyni
sambil tersenyum lalu meninggalkan ruanganku
Dua hari kemudian aku,
Reyni,Bernard dan Vijay bertemu Mr.Sanjeev dan Istrinya Devi di sebuah resto di
mall daerah pinggiran Jakarta selatan. Setelah bicara beberapa menit, aku dapat
membaca karakter Sanjeev yang sedikit angkuh,emosional dan menganggap remeh
kami, namun aku dan Bernard serta Vijay sadar bahwa ego kami tak penting saat
ini, yang kami butuhkan seorang dengan kondisi finansial mumpuni yang mau
menanamkan modal kerjanya demi keberlanjutan Pabrik milik Alm.Mr.Jimmy dan juga
para karyawan.
Sehari sebelumnya aku telah
datang menemui Mrs.Neesha memberitahukan niat kami, dan Mrs.Neesha menyerahkan
sepenuhnya kepada kami, langkah langkah yang akan kami ambil, hak dia hanya
atas tanah dan bangunan pabrik yang seluruhnya murni adalah milik pribadi
Mr.Jimmy, dan kami mengatakan kepada Mrs.Neesha bahwa nanti setelah ada
__ADS_1
investor baru, perusahaan akan membayar sewa kantor dan pabrik kepada
Mrs.Neesha pada setiap tahunnya.
Akhirnya setelah melalui
pembicaraan yang lumayan alot dan lobi lobi, Sanjeev dan Devi bersedia masuk
sebagai Investor dan mereka minta dimasukkan ke dalam jajaran direksi ,
Mrs.Devi sebagai komisaris dan Mr.Sanjeev sebagai Direktur Utama dan Vijay
tetap sebagai Direktur.
Walau aku tidak suka dengan gaya
dan karakter yang dimiliki Sanjeev, namun aku tidak boleh memikirkan pendapat
pribadiku, berlangsungnya perusahaan lebih penting dari suka atau tidak suka
aku kepada Investor baru ini.
Seteleh pertemuan selesai,
Bernard dan Vijay pulang bersama sama, sedangkan aku dan Reyni mencari tempat
lagi untuk mengobrol, ke Café dimana kami bisa merokok, karena tempat pertemuan
tadi adalah No Smoking area.
“aku tahu kamu tidak menyukai
Sanjeev dan Devi, Adrian…” ucap Reyni membuka pembicaraan sambil memanggil
pelayan dan memesan dua gelas kopi .
“Itu tidak penting Rey….perasaan
pribadi ga boleh aku campur aduk dengan bisnis, apalagi ini menyangkut orang
banyak…para pekerja….” Sahutku sambil menyulut rokokku.
Kami berdua asyik mengobrol dari
obrolan mengenai bisnis dan perusahaan, hingga soal perjalanan hidup kami
masing-masing, sampai ketika telpon genggam Rey berdering…
“Iya…mama segera kesana….” Ucap
Rey kepada penelpon , tiba tiba air mata Rey jatuh di sudut matanya.
“Siapa yang telpon dan kenapa
Rey..?” tanyaku melihat perubahan drastis Reyni
“Kaka…anakku….bilang suamiku
meninggal dunia Adrian…..” ujar Rey sesunggukan menahan tangisnya
“Memang ga dibawa kerumah sakit?”
ujarku
“Aku sudah bawa dia bolak balik
dirawat dirumah sakit hampir 3 tahun lamanya, tapi sebulan belakangan ini dia
sudah ga mau lagi….sudah lelah dan pasrah…dia bilang kalaupun harus pergi…dia
ingin dirumah saja….” Balas Reyni sambil menyeka air matanya.
“Ok…kita kerumahmu sekarang….”
Aku memanggil pelayan untuk membayar Bill/tagihan lalu bergegas ke tempat
parkir bersama Reyni.
“Tarik nafasmu dalam
dalam….jangan panik…..kamu sudah tahu hal ini jauh jauh hari sebelumnya…jangan
ngebut…aku ikuti mobilmu dari belakang…” ucapku saat Reyni sudah ada dibelakang
stir.
__ADS_1