CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
THE SHOW MUST GO ON


__ADS_3

Satu lagi orang yang ku kagumi…ku


sayangi telah pergi….


Dua orang yang telah membentuk


karakterku telah meninggalkan ku…Alm papa dan juga Mr.Jimmy, tapi seperti


keduanya sering bilang kepadaku…”THE SHOW MUST GO ON…DAN HIDUP TIDAK BISA


BERHENTI DISATU TITIK…”


Kepergian Mr.Jimmu membuat posisi


Direktu Tunggal menjadi kosong, Mrs.Neesha tidak mengerti bisnis garment, dia


ber profesi sebagai penulis di salahh satu tabloid asing, dan mereka juga tidak


dikaruniai anak. Sehingga berdasarkan hasil rapat, kami putuskan mengangkat


sementara Mr. Vijay sebagai Direktur sekaligus Kepala Pabrik.


Aku dan Bernard sama sama tahu,


kalau pergantian ini akan membuat kami harus ikut repot merubah semua legalitas


perizinan perusahaan di instansi instansi terkait. Namun aku dan Bernard juga


sama sama faham, bahwa perusahaan ini harus tetap berjalan dan tidak berakhir


seperti perusahaan Alm Pak Henri dulu.


Cuma ada satu kendala, Keuangan


Mr.Vijay tidak seperti Alm.Mr.Jimmy, karena diapun direkrut sebagai pekerja


expatriate diperusahaan oleh Mr.Jimmy dari Negara asalnya. Sehingga mau tidak


mau kami harus punya investor yang masuk ke dalam perusahaan agar perusahaan


ini tetap berjalan dengan dukungan modal kerja yang cukup.


Sore itu aku sedang memikirkan


bagaimana selanjutnya dan apa yang harus aku , Bernard dam Vijay lakukan agar


perusahaan Mr.Jimmy ini tetap bertahan. Para staff ku baru saja semuanya pulang…tiba


tiba pintu ruanganku diketuk dan Reyni muncul sambil membawa secangkir kopi dan


roti BreadTalk…


“Eh Rey….aku kira kamu sudah


pulang….” Ucapku


“Tadinya begitu….tapi saat mau


masuk ke mobil, aku lihat lampu ruanganmu masih menyala…” jawab Rey sambil


meletakkan secangkir kopi di mejaku.


ruanganku memang terletak diluar


area pabrik, dulu awalnya akan dijadikan mess karyawan, bentuknya satu rumah


tinggal…tapi saat Mr.Jimmy memintaku bergabung, aku juga meminta syarat , kalo


tempat kerjaku adalah diluar area pabrik dan memilih bangunan rumah tersebut,


dan akhirnya Mr.Jimmy meminta para tukang dan mekanik pabrik menyulap bangunan tersebut


menjadi kantor/tempat kerja. Karena seringkali aku bekerja sambil merokok, hal


yang tidak bisa kulakukan jika ruanganku menajdi satu di dalam pabrik, bisa


bisa aku keluar kantor terus hanya untuk menghisap rokokku .


“Kamu pasti sedang sibuk sekali


ya Adrian? Sejak kepergian Mr.Jimmy….” lanjut Reyni lagi


“Yaaah…begitulah Rey….aku ,


Bernard dan Vijay pernah disatu perusahaan, dan dulu karena para big bos

__ADS_1


berseteru, akhirnya perusahaan bubar dan korban terakhir adalah para


karyawan..sekarang perusahaan ini harus tetap jalan Rey, namun Vijay hanya


expatriate….semua perizinan sudah aku dan Bernard rubah menjadi namanya, namun


untuk menerima job job dari buyer, kita membutuh kan modal kerja, dan kita


sangat membutuhkan Investor….” Jelasku


Reyni menjentikkan jari manisnya


di dagunya, dia ikut berpikir setelah penjelasanku tadi, wanita ini ternyata


sangat cantik jika sedang serius seperti itu.


“Adrian….aku ada ide…di tempat


kerjaku yang lama, atasan ku adalah Mr.Rajeev dan Mrs. Devi, warga Negara


India, perusahaan memang bukan milik mereka, owner nya adalah  orang dari Belanda, namun semua aktivitas dia


yang kontrol, dan soal keuangan mereka aku tahu banyak, dan mereka berdua bisa


saja membuka satu pabrik. Namun kalau mulai dari nol…membangun sebuah pabrik dan


lain lain, mereka pasti berpikir itu akan makan waktu lama dan jangka panjang,


nah sekarang perusahaan kita sudah berjalan, tinggal bagaimana mereka masuk


kesini, tanamkan modal/sahamnya…dan duduk sebagai direksi…komisaris atau


apalah…kamu lebih ngerti soal itu Adrian…” ujar Reyni


Aku dibuatnya kagum dan juga


sempat melongo dengan solusi dan ide brilian Reyni….


“Wow….hebat kamu


Rey….hebat…ok…besok aku bicara dengan Bernard dan Vijay, kamu bisa bantu atur


kita ketemu dengan Sanjeev dan Devi ?” ucapku dengan mataku yang berbinar


Rey sambil tertawa kecil.


“Thank u Rey….kamu hebat…” Ucapku


tanpa sadar aku mencubit pipinya.


Reyni berdiri dan siap siap


keluar ruangan, aku juga langsung membereskan kertas kertas kerja yang berserakan


di mejaku..lalu dia menghampiriku dan berdiri disebelahku lalu berbisik “ kamu


lebih hebat Adrian…karakter mu buat para wanita kagum dan gila….” Balas Reyni


sambil tersenyum lalu meninggalkan ruanganku


Dua hari kemudian aku,


Reyni,Bernard dan Vijay bertemu Mr.Sanjeev dan Istrinya Devi di sebuah resto di


mall daerah pinggiran Jakarta selatan. Setelah bicara beberapa menit, aku dapat


membaca karakter Sanjeev yang sedikit angkuh,emosional dan menganggap remeh


kami, namun aku dan Bernard serta Vijay sadar bahwa ego kami tak penting saat


ini, yang kami butuhkan seorang dengan kondisi finansial mumpuni yang mau


menanamkan modal kerjanya demi keberlanjutan Pabrik milik Alm.Mr.Jimmy dan juga


para karyawan.


Sehari sebelumnya aku telah


datang menemui Mrs.Neesha memberitahukan niat kami, dan Mrs.Neesha menyerahkan


sepenuhnya kepada kami, langkah langkah yang akan kami ambil, hak dia hanya


atas tanah dan bangunan pabrik yang seluruhnya murni adalah milik pribadi


Mr.Jimmy, dan kami mengatakan kepada Mrs.Neesha bahwa nanti setelah ada

__ADS_1


investor baru, perusahaan akan membayar sewa kantor dan pabrik kepada


Mrs.Neesha pada setiap tahunnya.


Akhirnya setelah melalui


pembicaraan yang lumayan alot dan lobi lobi, Sanjeev dan Devi bersedia masuk


sebagai Investor dan mereka minta dimasukkan ke dalam jajaran direksi ,


Mrs.Devi sebagai komisaris dan Mr.Sanjeev sebagai Direktur Utama dan Vijay


tetap sebagai Direktur.


Walau aku tidak suka dengan gaya


dan karakter yang dimiliki Sanjeev, namun aku tidak boleh memikirkan pendapat


pribadiku, berlangsungnya perusahaan lebih penting dari suka atau tidak suka


aku kepada Investor baru ini.


Seteleh pertemuan selesai,


Bernard dan Vijay pulang bersama sama, sedangkan aku dan Reyni mencari tempat


lagi untuk mengobrol, ke Café dimana kami bisa merokok, karena tempat pertemuan


tadi adalah No Smoking area.


“aku tahu kamu tidak menyukai


Sanjeev dan Devi, Adrian…” ucap Reyni membuka pembicaraan sambil memanggil


pelayan dan memesan dua gelas kopi .


“Itu tidak penting Rey….perasaan


pribadi ga boleh aku campur aduk dengan bisnis, apalagi ini menyangkut orang


banyak…para pekerja….” Sahutku sambil menyulut rokokku.


Kami berdua asyik mengobrol dari


obrolan mengenai bisnis dan perusahaan, hingga soal perjalanan hidup kami


masing-masing, sampai ketika telpon genggam Rey berdering…


“Iya…mama segera kesana….” Ucap


Rey kepada penelpon , tiba tiba air mata Rey jatuh di sudut matanya.


“Siapa yang telpon dan kenapa


Rey..?” tanyaku melihat perubahan drastis Reyni


“Kaka…anakku….bilang suamiku


meninggal dunia Adrian…..” ujar Rey sesunggukan menahan tangisnya


“Memang ga dibawa kerumah sakit?”


ujarku


“Aku sudah bawa dia bolak balik


dirawat dirumah sakit hampir 3 tahun lamanya, tapi sebulan belakangan ini dia


sudah ga mau lagi….sudah lelah dan pasrah…dia bilang kalaupun harus pergi…dia


ingin dirumah saja….” Balas Reyni sambil menyeka air matanya.


“Ok…kita kerumahmu sekarang….”


Aku memanggil pelayan untuk membayar Bill/tagihan lalu bergegas ke tempat


parkir bersama Reyni.


“Tarik nafasmu dalam


dalam….jangan panik…..kamu sudah tahu hal ini jauh jauh hari sebelumnya…jangan


ngebut…aku ikuti mobilmu dari belakang…” ucapku saat Reyni sudah ada dibelakang


stir.

__ADS_1


__ADS_2