
Aku tiba dirumah sakit hampir pukul 22.00 malam, aku berlari menuju ruang operasi, kulihat Ita terbaring lemah dengan wajah pucat dan bibir sedikit membiru.
“Ah syukurlah bapak sudah datang, jika lebih lama lagi dan istri bapak tidak mendapat tranfusi darah, ibu bisa
kehilangan nyawanya “ ucap salah satu perawat di dalam ruang operasi.
Nafasku masih terengah engah saat mendengar perawat itu berbicara. Aku lega pada akhirnya semua baik baik saja.
Dua bulan setelah kelahiran putriku yang kedua, adikku Satria melangsungkan pernikahan, dan ini pertama
kali aku menjadi ganti papa sebagai wali, saat pernikahan Satria. Ada rasa rindu dan kehilangan , andai saja papa masih ada…pasti dia bahagia melihat pernikahan Satria.
Rumah yang ditempati Alm papa dan mama serta aku dan adik adikku , adalah
rumah keluarga besar mama, kini hanya mama dan Asty yang tinggal disitu, saat
aku berkunjung sepulang kerja, mama mengajakku bicara.
“Adrian….Tante Ratna akan menikah, dan keluarga mama sepakat untuk menjual rumah yang mama tempati untuk
tambahan biaya pernikahannya, kita sudah cukup lama tinggal disini, sekarang hanya mama dan Asty, terlalu besar juga…lebih baik mama dan Asty pindah ke kontrakan kecil saja ya?” ucap mama.
Tante Ratna adalah adik bungsu mama, dan cukup lama dia belum menikah hingga usianya memasuki kepala empat, tapi syukurlah Tuhan memberinya jodoh nya sekarang.
“Ga perlu mengontrak ma, rumah Adrian cukup kalo hanya untuk mama dan Asty….jadi mama dan Asty tinggal dengan Adrian saja ya? Sambil bisa temani Ita dan anak-anak, karena Adrian sering pulang larut dan kadang harus keluar kota untuk beberapa hari…” balasku
“Ita ga keberatan…?” lanjut mama
“Ga akan ma…Adrian tau bagaimana Ita….semua tergantung Adrian…daripada untuk bayar kontrakan lebih baik mama dan Asty tabung…” ucapku lagi
“Baiklah kalo itu keputusan mu” imbuh mama.
Seminggu setelahnya aku atur kepindahan mama dan adikku Asty untuk tinggal bersamaku, Ita dan kedua anakku.
Kini rumahku terasa lebih hidup dan ramai, ada celoteh kedua putriku, neneknya, tantenya Asty dan kadang papa mama Ita yang datang berkunjung.
“Adrian….hari Senin depan kamu harus berangkat ke Batam, ada buyer kita mau melihat pabrik pabrik disana…mereka disana kurang lebih tiga hari…” ucap atasanku memberikan instruksi.
“Oke pak….besok saya persiapkan segala sesuatunya” jawabku.
Aku terbang dengan pesawat Senin pagi, karena info dari kantorku bahwa para klien dari singapura telah tiba dari
semalam. Setiba di bandara Hang Nadim Batam, sudah ada perwakilan dari pihak pabrik yang menjemputku. Sesaat aku teringat Debby, kalau dulu aku yang menjemputnya di bandara, kini giliranku yang dijemput.
__ADS_1
“Kita ke Hotel tempat bapak akan menginap atau langsung ke tempat para tamu dari singapura itu pak?” jawab laki
laki paruh baya yang menjemputku.
“Langsung ketempat pertemuan saja pak…saya ga mau mereka menunggu terlalu lama” sahutku
“Baik pak…” jawab laki laki yang merpeknalkan dirinya bernama pak Sutomo.
Pertemuanku dengan para tamu dari Singapura berlangsung kurang lebih 2 jam, dan semuanya adalah laki laki.
“Now business matter already clear, now time for us to relax, Mr.Adrian…we want go to karaoke, do you come
in with us?” ucap salah satu laki laki gendut dan bermata sipit. Aku tersenyum dan menggeleng “Forgive me, I can’t joint with you….cause from airport , I come here directly and not yet check in to my hotel, I need to rest for a while,
maybe next time….after we go around see several factory …tomorrow or the next day..” Jawabku menolak ajakan mereka, karena aku ingin beristirahat di hotel, karena dari bandara tadi aku langsung menuju ke tempat pertemuan dengan mereka.
Hotel yang di pesan oleh pihak pabrik rekanan perusahaanku sangat bagus dan lumayan mewah, letaknya pun tidak jauh dari laut. Dari balkon kamar hotelku, dapat kulihat dikejauhan kota Singapura ,terlebih nanti pasti disaat malam ditambah taburan taburan kelap kelip cahaya lampu.
Menjelang matahari terbenam kuputuskan untuk keluar hotel, dan menikmati suasana laut dan pantai yang tak
jauh dari Hotelku. Kapan lagi aku bisa nikmati suasana ini? Pikirku
Aku tengah asik duduk di tepi pantai berpasir sambil menikmati sang surya yang berwarna jingga dan kemerahan, harus ku akui, sunset disini lebih indah dari tempat favorit yang biasa ku datangi, mungkin di Jakarta sudah bercampur asap polusi dan padatnya gedung, sehingga tidak seindah seperti yang kulihat saat ini.
“Agak mundur dong….biar background sunsetnya kena semua…” ucap salah satu wanita, aku enggan menoleh ,
kulanjutkan keasikanku menatap sang surya yang tak lama lagi akan hilang bergnati malam.
“Brukkk…” tiba tiba tiga wanita jatuh kepantai berpasir didepanku dan salah satunya jatuh menimpa punggung lalu
pahaku…mereka tertawa keras menertawakan diri mereka sendiri, rupanya saat akan berfoto, salah satu wanita tersandung tubuhku dan karena mereka bergandengan satu sama lain, maka mereka jatuh kepantai bersamaan.
“Maaf ya mas….maaaf banget ya?:” ujar mereka hampir bersamaan diiringi derai tawanya. Aku hanya balas dengan
senyuman tipis.
“Adrian….ini beneran kamu…?” ucap salah satu wanita yang memegang telpon genggam saat akan mengambil foto teman temannya yang terjatuh tadi.
Aku menoleh ke arah belakangku…
“Sis….ca…?” ucap ku sangat terkejut
“ Kamu kenal Sis….?” Ucap salah satu teman wanitanya yang tadi menimpa tubuhku.
__ADS_1
“Iya….dulu saat masih di Jakarta…” jelas Sisca kepada mereka.
“Huuu…kalo tahu kamu kenal cowok ini …tadi gw minta dipangku aja sekalian…” ucap wanita itu sambil tertawa
terbahak bahak , di ikuti teman temannya.
“Eh kalian duluan aja ya..? nanti kalo mas Satrio hubungi kalian, bilang aku masih lembur ya?” ucap Sisca kepada
ketiga temannya
“Wah…kita disuruh bohong nih….harus ada uang tutup mulutnya nih…” ucap salah satu temannya sambil kembali tertawa cekikikan.
“Iya….pokoknya beres...sekarang…huss…husss..” balas Sisca sambil tertawa dan menggerakkan tangannya bagai mengusir ayam yang masuk ke halaman rumah .
Aku tertawa kecil mendengar semua ocehan lucu mereka, lalu menganggukan kepala saat mereka pamit dari hadapan aku dan Sisca.
“Kamu sedang apa disini Adrian….?” Ucap Sisca sambil duduk disebelahku, sambil menatap kearah surya yang hampir terbenam seluruhnya di batas horizon sana.
“Aku sedang ada urusan bertemu klien, orang singapura….mereka lebih pilih kesini mungkin karena jaraknya lebih
dekat , ketimbang mereka harus ke Jakarta…” jawabku
“Dan kamu? Sedang apa kamu disini ….” Balasku, suasana mulai gelap ,namun cahaya cahaya lampu dari lampu jalan dan juga hotel hotel sekitar memberi sedikit cahaya terang.
“Kamu lupa ya? Atau memang ga tau? Aku memang tinggal disini…dan Batam itu kecil ga seperti Jakarta..aku baru
saja pulang bekerja…yang tadi itu teman teman kerjaku…” jawab Sisca menjelaskan
“Papa mama apa kabar…? Sehat shat ya?” Sisca balik bertanya sambil melirik kearahku
“ Papa meninggal setahun yang lalu…mama sehat…sekarang tinggal bersamaku dengan Istri dan anak anakku…juga Asty” jawabku
“Innalilahi….maaf aku ga tau….kamu kenapa ga kabarin aku?” balas Sisca ,terbesit raut sedikit kecewa di wajahnya.
“Istrimu …siapa namanya? Yang waktu pernah bertemu di mall Jakarta waktu itu….mmmm..” ucap Sisca sambil menaruh jari telunjuknya di dagunya berusaha mengingat.
“Debby….? Dia bukan Istriku….Istri dan ibu dari anak anaku adalah Ita….wanita yang dulu pernah aku tinggalkan lalu memilih kamu…..” sahutku dengan suara parau.
Wajah Sisca terlihat sedikit bingung….”Lalu Debby…?” tanyanya lagi masih dengan wajah heran nya.
“Long Story Sisca…..sudah banyak yang terjadi dan yang kulalui setelah kamu pergi….” Jawabku lagi sambil
mengepulkan asap rokokku.
__ADS_1