CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
Episode 23


__ADS_3

Aku dan Debby menjadi sering saling berkirim email, bercerita tentang aktivitas sehari-hari, pengalaman dan


perjalanan hidup, saling cerita kejadian lucu bahkan cerita sedih yang ada dalam hidup kami. Dari situ aku tahu kalau pernikahan Debby juga gagal, karena suaminya pergi meninggalkannya dikarenakan Debby di vonis medis tidak bisa mempunyai keturunan. Kami berdua layaknya sahabat pena dan saling menguatkan satu sama lain. Aku jadi ingat cerita RA.KARTINI dulu yang sering berkirim surat dengan sahabatnya di Belanda, hanya bedanya aku dan Debby berlainan jenis pria-wanita, sedangkan dulu RA KARTINI sesama wanita, ah lagian kamu ada ada


aja Adrian, hahahahaha….masa cerita kisah hidupmu mau disamakan dengan Pahlawan Nasional Indonesia, aku tertawa sendiri membayangkan hal tersebut.


Di hari hari nyataku, aku semakin dekat dengan Ririn layaknya sepesang kekasih. Aku biarkan hati dan perasaanku


hanyut mengikuit aliran arus dan putaran waktu. Biarlah kunikmati keindahan suasana senja seperti yang sering kulihat di tepi laut tempat favoritku.


“Besok pesawat kita berangkat jam berapa Adrian…?” ucap Ririn Tanya Ririn di telpon siang itu, saat itu aku

__ADS_1


sedang asik menikmati kue kue sisa hari lebaran dua hari yang lalu. “Jam 9 pagi….minimal kita harus di bandara jam 8.00 Rin..” jawabku


Pagi itu Ririn terlihat manis dengan kaos lengan panjang dan celana jean birunya, jalan masih terasa lengang


mungkin karena masih sebagian besar belum kembali ke Jakarta dan masih berada di kampung halaman masing-masing. Hanya dalam waktu sekitar 30 menit kami sudah sampai di bandara terminal keberangkatan domestik/dalam negeri.


Setelah cek in kami berdua duduk dibangku tunggu, menunggu panggilan untuk boarding ke pesawat, kudekatkan


Setengah jam berlalu, akhirnya kami dengar pemberitahuan bahwa pesawat yang akan kami tumpangi sudah boarding dan kami harus segera masuk ke pesawat, ku genggam jemari Ririn dan kugandeng menuju area boarding.


Dua jam perjalanan, akhrinya kami tiba di Denpasar, suasana khas Bali sangat terasa saat kami turun dari pesawat

__ADS_1


dan berjalan sepanjang koridor bandara Ngurah Rai menuju area parkir. Aku dan Ririn orang yang simple, sehingga kami hanya membawa pakaian seperlunya dan sedikti perlengkapan lain, sehingga cukup dengan hanya membawa tas ransel yang bsia kami bawa ke kabin pesawat, tanpa harus menitipkan dibagasi .


Sehari sebelum keberangkatan aku sudah memesan penginapan didaerah Kuta dan juga mobil sewaan beserta supir, agar memudahkan kami mengunjungi tempat tempat yang kami mau, karena jujur saja ini pertama kali aku ke pulau Dewata ini dan sudah pasti tidak paham jalan jalan disana.


Kami sampai di hotel tepat saat setelah jam makan siang, sekitar jam 14.00 WIT, dan waktu yang pas untuk cek in


ke hotel tersebut sesuai peraturan Hotel dan reservasi yang sudah ku lakukan dengan pihak hotel saat aku masih dijakarta.


“Bapak mau dijemput sore ini untuk mengunjungi beberapa tempat?” Tanya supir mobil yang ku sewa.


“Besok pagi saja ya pak? Kami mau beristirahat dulu dan paling hanya ke kuta dengan berjalan kaki saja..” jawabku

__ADS_1


sambil melihat kea rah Ririn untuk persetujuannya. Ririn hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.


__ADS_2