
Siang itu aku baru selesai
bertemu calon klien ku di kantor mereka di sekitar area Tangerang, ku sempatkan
untuk mampir dan berziarah ke makam Ita, Rumah yang baru ku beli sebulan yang
lalu juga tak begitu jauh dari makam Ita, sehingga aku bisa sesering mungkin
mengajak Clara dan Calista untuk berziarah ke makam ibu mereka.
Telponku berbunyi sesaat setelah
selesai aku menaburkan bunga di pusara Ita, “Ya Windy…? Ada apa?”
“Ini pak…ada tamu…katanya dari
luar kota…mau ketemu Bapak…” Ucap Windy salah satu staff kantorku
“Dari luar kota…? Laki laki atau
perempuan…?”
“Laki-laki pak….” Ujar Windy
“Dia ga sebutkan namanya
pak…maaf…saya juga lupa nanya tadi…”
“Ya sudah….saya sedang di makam,
suruh tunggu aja…kasihan sudah jauh-jauh datang….saya sampai kantor dalam 20
menit….” Balasku sambil bergegas kembali ke area parkir untuk kembali ke
kantor.
Kulihat Pajero Sport mewah
terparkir di depan kantorku, aku masih bertanya tanya dalam benakku….siapa ya?
Kalau rekananku di daerah, biasanya mereka pasti akan menghubungiku terlebih
dulu via telpon sebelum datang.
Seorang laki laki paruh baya,
berpakaian rapih dan berkelas,kira kira usianya terpaut 4-5 tahun diatasku
tengah duduk di ruangan yang sering kupakai menerima kedatangan para klienku.
“Maaf harus menunggu lama…” ucapku
seraya mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan, aku pernah lihat laki laki
ini, tapi entah kapan dan dimana.
“Oh gpp….dengan Adrian kan…?:
ucapnya sambil menyebut namaku
“Iya Pak…maaf kalau boleh tahu
dengan bapak…?” balasku
“Saya Herman…..dulu kita pernah
bertemu di acara pernikahan saya dengan Reyni….”
“Oh ya…ya….pantas saya seperti
pernah lihat bapak tapi lupa dimana…” Ujarku sambil tersenyum
“Pak Herman mau minum apa…?
Sampai lupa saya…..”
“Oh sudah mas….tadi staff mas
sudah sediakan saya teh hangat….sebelumnya maaf saya menganggu aktivitas nya…”
Ucap laki laki yang bernama Herman itu ramah.
“Tidak menganggu kok
pak…kebetulan tadi saat Pak Herman datang saya baru selesai dari tempat klien
dan sedang mampir berxiarah di makam Alm istri saya….”
“Oh ya Pak…terima kasih sudah
mampir jauh jauh dari semarang kesini….sekalian ada urusan bisnis kah?” tanyaku
“Iya…saya sedang ada urusan di
__ADS_1
Jakarta selama beberapa hari….jadi sekalian mampir kesini…kebetulan saya tahu
karena terakhir saya ikut antar Reyni kesini….”
“Oh iya….ingat saya….maaf ga
sopan waktu itu….saya ga tahu Pak Herman ada di mobil dan antar Reyni waktu
itu…”
“It’s Ok Mas Adrian….oh ya
Mas….selepas jam kerja, bisa kita ngobrol ngobrol ? kebetulan saya menginap di
Swiss Bell Hotel yang tidak terlalu jauh dari sini….kalau ga keberatan saya mau
undang mas untuk ngobrol di resto hotel…karena yang mau saya obrolin bersifat
personal…saya tidak mau bicara di saat jam kerja dan Mas Adrian
beraktivitas….bisa mas?” ucap Herman
“Oh ok….saya kesana sekitar jam
17.00 atau 18.00….gpp?” balasku
“Ok mas…maaf dan terima kasih
sebelumnya…oh ya ini kartu nama saya…hubungi saya kalau sudah OTW atau sampai
di lobby hotel ya mas?” Herman berdiri dan menjabat tanganku sebelum akhirnya
keluar dari kantor dan pergi
Aku terpekur di ruangan
kerjaku….ada apa herman suami Reyni datang kesini …ingin menemuiku dan bicara
sesuatu? Apa mereka sedang bertengkar dan Herman mengetahui hubunganku dulu
atau kedekatanku dengan Reyni dulu? Tapi itu kan semua masa lalu…mereka sudah menikah
hampir dua tahun, dan selama itu pula Reyni tidak pernah menghubungiku, jadi
kupkir kehidupan mereka baik baik saja.
Apa aku harus hubungi dan
beritahu Reyni? Kalau suaminya datang dan menemuiku? Ah…tapi aku gam au
Herman datang menemuiku, kalau dia tahu…pasti Reyni sudah hubungiku dari
kemarin atau tadi pagi.
Ah sudahlah…lihat saja
nanti….akhirnya kuputuskan kembali dengan pekerjaanku
Sekitar jam 17.15 aku tiba di
hotel tempat Herman menginap, ku kirim pesan WA padanya saat aku parkirkan
mobil di basement hotel.
Herman sudah menungguku di Resto
Hotel…tempatnya sungguh nyaman dan berkelas, hampir sama dengan Hotel milik
Meihwa di Belitung.
“Thank you sudah datang Mas
Adrian….sekali lagi sorry jadi merepotkan….” Ucap Herman ramah
“Gpp Pak….no problem….”
Aku memesan Black Cofee
kesukaanku…sangat nikmat bagiku secangkir kopi hitam panas ditemani rokok
kegemaranku…
“Maaf Pak Herman….saya langsung
saja ya? Pak Herman orang bisnis….begitupun saya….kita pasti sudah terbiasa to
the point….sebenarnya apa yang mau bapak bicarakan dengan saya ya pak?” Ucapku
sambil tersenyum lalu meminum kopi panasku.
“Mmm…begini mas Adrian…..saya
tahu dulu mas Adrian sangat dekat dengan reyni….” Herman berhenti sesaat
__ADS_1
“Iya Pak….memang betul….tapi
semua itu masa lalu…apa itu sekarang jadi masalah di antara bapak dan reyni?
Kalau ya…saya yang akan bicara dengan Reyni atau Bapak kasih tahu saya harus
bagaimana…”
“Oh bukan itu masalahnya
Mas….kami juga sudah jalani rumah tangga hampir 2 tahun lebih…tapi…” Herman
kembali berhenti…matanya menerawang langit langit hotel…seolah berat untuk
melanjutkan kata katanya.
Aku hanya diam dan memberi waktu
pada laki laki paruh baya ini untuk melanjutkan ucapannya.
Herman menghela nafas panjang…”
tapi saya tidak bisa memenuhi kewajiban saya sebagai suami Mas…saya tidak bisa
memenuhi nafkah bathin Reyni…..saya hanya dapat berikan materi…saya tahu Reyni
tidak bahagia….walau dia tidak pernah tunjukkan di depan saya…”
Selepas berkata Herman menunduk,
seolah harga diri nya sebagai laki laki terenggut, aku lihat sinar matanya
penuh keputuasaan dan kesedihan yang teramat dalam.
“ Maaf….Pak Herman sudah coba
untuk berobat atau Ikhtiar…?” ucapku pelan
“Saya dan Reyni sudah coba berbagai
cara Mas…sampai akhirnya saya putus asa dan menyerah…..”
“Oke…saya mengerti sekarang
permasalahan Bapak dan Reyni…dan saya merasa terhormat bapak mau ceritakan hal
ini pada saya…padahal ini hal yang sangat personal dalam rumah tangga….Cuma
jujur…saya ga tahu maksud bapak ceritakan semua ini pada saya…..jika ada yang
bisa saya bantu…katakan saja pak…” Ujarku dengan pertanyaan di benakku, tapi
aku tak menyangka, ucapan ku barusan malah menyeretku dalam masalah dan dilema.
“Begini Mas….saya tahu saat
menikah dengan Reyni dulu, Reyni mencintai mas Adrian….bahkan mungkin di dalam
hatinya sampai sekarang…..hanya kita juga tahu…hati seorang wanita sedalam dan
seluas samudra….kita para laki laki tidak akan mudah mengetahuinya kecuali
benar benar belahan hatinya…saya juga tahu Reyni terpaksa menikah dengan
saya…karena permintaan orang tuanya….dan saat itu Mas Adrian juga masih punya
Istri, sehingga akhirnya Reyni mau menerima saya….” Herman berhenti sebentar
untuk meneguk minumannya, aku tak bicara dan menunggu sampai laki laki ini
tuntaskan semua ceritanya.
“Kalau boleh…..saya ingin mas
Adrian…beri kebahagiaan dan buat Reyni tersenyum lagi…..”
“Maksud Pak Herman…?” Ucapku
dengan wajah bingung
“Saya ingin Mas
Adrian….berhubungan lagi dengan Reyni…..atau jika perlu saya akan ceraikan
dia…Reyni berhak bahagia Adrian…..saya hanya menyeret dia masuk ke dalam lembah
kesedihan untuk hidup bersama saya….saya sayang dia….saya juga ga mau
kehilangan dia….tapi semua percuma jika
dia ga bahagia mas….” Jelas Herman
“ Tapi pak………” ku hentikan
__ADS_1
ucapanku….ku coba susun kata kata dalam benakku