CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
SELUAS SAMUDERA


__ADS_3

Siang itu aku baru selesai


bertemu calon klien ku di kantor mereka di sekitar area Tangerang, ku sempatkan


untuk mampir dan berziarah ke makam Ita, Rumah yang baru ku beli sebulan yang


lalu juga tak begitu jauh dari makam Ita, sehingga aku bisa sesering mungkin


mengajak Clara dan Calista untuk berziarah ke makam ibu mereka.


Telponku berbunyi sesaat setelah


selesai aku menaburkan bunga di pusara Ita, “Ya Windy…? Ada apa?”


“Ini pak…ada tamu…katanya dari


luar kota…mau ketemu Bapak…” Ucap Windy salah satu staff kantorku


“Dari luar kota…? Laki laki atau


perempuan…?”


“Laki-laki pak….” Ujar Windy


“Dia ga sebutkan namanya


pak…maaf…saya juga lupa nanya tadi…”


“Ya sudah….saya sedang di makam,


suruh tunggu aja…kasihan sudah jauh-jauh datang….saya sampai kantor dalam 20


menit….” Balasku sambil bergegas kembali ke area parkir untuk kembali ke


kantor.


Kulihat Pajero Sport mewah


terparkir di depan kantorku, aku masih bertanya tanya dalam benakku….siapa ya?


Kalau rekananku di daerah, biasanya mereka pasti akan menghubungiku terlebih


dulu via telpon sebelum datang.


Seorang laki laki paruh baya,


berpakaian rapih dan berkelas,kira kira usianya terpaut 4-5 tahun diatasku


tengah duduk di ruangan yang sering kupakai menerima kedatangan para klienku.


“Maaf harus menunggu lama…” ucapku


seraya mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan, aku pernah lihat laki laki


ini, tapi entah kapan dan dimana.


“Oh gpp….dengan Adrian kan…?:


ucapnya sambil menyebut namaku


“Iya Pak…maaf kalau boleh tahu


dengan bapak…?” balasku


“Saya Herman…..dulu kita pernah


bertemu di acara pernikahan saya dengan Reyni….”


“Oh ya…ya….pantas saya seperti


pernah lihat bapak tapi lupa dimana…” Ujarku sambil tersenyum


“Pak Herman mau minum apa…?


Sampai lupa saya…..”


“Oh sudah mas….tadi staff mas


sudah sediakan saya teh hangat….sebelumnya maaf saya menganggu aktivitas nya…”


Ucap laki laki yang bernama Herman itu ramah.


“Tidak menganggu kok


pak…kebetulan tadi saat Pak Herman datang saya baru selesai dari tempat klien


dan sedang mampir berxiarah di makam Alm istri saya….”


“Oh ya Pak…terima kasih sudah


mampir jauh jauh dari semarang kesini….sekalian ada urusan bisnis kah?” tanyaku


“Iya…saya sedang ada urusan di

__ADS_1


Jakarta selama beberapa hari….jadi sekalian mampir kesini…kebetulan saya tahu


karena terakhir saya ikut antar Reyni kesini….”


“Oh iya….ingat saya….maaf ga


sopan waktu itu….saya ga tahu Pak Herman ada di mobil dan antar Reyni waktu


itu…”


“It’s Ok Mas Adrian….oh ya


Mas….selepas jam kerja, bisa kita ngobrol ngobrol ? kebetulan saya menginap di


Swiss Bell Hotel yang tidak terlalu jauh dari sini….kalau ga keberatan saya mau


undang mas untuk ngobrol di resto hotel…karena yang mau saya obrolin bersifat


personal…saya tidak mau bicara di saat jam kerja dan Mas Adrian


beraktivitas….bisa mas?” ucap Herman


“Oh ok….saya kesana sekitar jam


17.00 atau 18.00….gpp?” balasku


“Ok mas…maaf dan terima kasih


sebelumnya…oh ya ini kartu nama saya…hubungi saya kalau sudah OTW atau sampai


di lobby hotel ya mas?” Herman berdiri dan menjabat tanganku sebelum akhirnya


keluar dari kantor dan pergi


Aku terpekur di ruangan


kerjaku….ada apa herman suami Reyni datang kesini …ingin menemuiku dan bicara


sesuatu? Apa mereka sedang bertengkar dan Herman mengetahui hubunganku dulu


atau kedekatanku dengan Reyni dulu? Tapi itu kan semua masa lalu…mereka sudah menikah


hampir dua tahun, dan selama itu pula Reyni tidak pernah menghubungiku, jadi


kupkir kehidupan mereka baik baik saja.


Apa aku harus hubungi dan


beritahu Reyni? Kalau suaminya datang dan menemuiku? Ah…tapi aku gam au


Herman datang menemuiku, kalau dia tahu…pasti Reyni sudah hubungiku dari


kemarin atau tadi pagi.


Ah sudahlah…lihat saja


nanti….akhirnya kuputuskan kembali dengan pekerjaanku


Sekitar jam 17.15 aku tiba di


hotel tempat Herman menginap, ku kirim pesan WA padanya saat aku parkirkan


mobil di basement hotel.


Herman sudah menungguku di Resto


Hotel…tempatnya sungguh nyaman dan berkelas, hampir sama dengan Hotel milik


Meihwa di Belitung.


“Thank you sudah datang Mas


Adrian….sekali lagi sorry jadi merepotkan….” Ucap Herman ramah


“Gpp Pak….no problem….”


Aku memesan Black Cofee


kesukaanku…sangat nikmat bagiku secangkir kopi hitam panas ditemani rokok


kegemaranku…


“Maaf Pak Herman….saya langsung


saja ya? Pak Herman orang bisnis….begitupun saya….kita pasti sudah terbiasa to


the point….sebenarnya apa yang mau bapak bicarakan dengan saya ya pak?” Ucapku


sambil tersenyum lalu meminum kopi panasku.


“Mmm…begini mas Adrian…..saya


tahu dulu mas Adrian sangat dekat dengan reyni….” Herman berhenti sesaat

__ADS_1


“Iya Pak….memang betul….tapi


semua itu masa lalu…apa itu sekarang jadi masalah di antara bapak dan reyni?


Kalau ya…saya yang akan bicara dengan Reyni atau Bapak kasih tahu saya harus


bagaimana…”


“Oh bukan itu masalahnya


Mas….kami juga sudah jalani rumah tangga hampir 2 tahun lebih…tapi…” Herman


kembali berhenti…matanya menerawang langit langit hotel…seolah berat untuk


melanjutkan kata katanya.


Aku hanya diam dan memberi waktu


pada laki laki paruh baya ini untuk melanjutkan ucapannya.


Herman menghela nafas panjang…”


tapi saya tidak bisa memenuhi kewajiban saya sebagai suami Mas…saya tidak bisa


memenuhi nafkah bathin Reyni…..saya hanya dapat berikan materi…saya tahu Reyni


tidak bahagia….walau dia tidak pernah tunjukkan di depan saya…”


Selepas berkata Herman menunduk,


seolah harga diri nya sebagai laki laki terenggut, aku lihat sinar matanya


penuh keputuasaan dan kesedihan yang teramat dalam.


“ Maaf….Pak Herman sudah coba


untuk berobat atau Ikhtiar…?” ucapku pelan


“Saya dan Reyni sudah coba berbagai


cara Mas…sampai akhirnya saya putus asa dan menyerah…..”


“Oke…saya mengerti sekarang


permasalahan Bapak dan Reyni…dan saya merasa terhormat bapak mau ceritakan hal


ini pada saya…padahal ini hal yang sangat personal dalam rumah tangga….Cuma


jujur…saya ga tahu maksud bapak ceritakan semua ini pada saya…..jika ada yang


bisa saya bantu…katakan saja pak…” Ujarku dengan pertanyaan di benakku, tapi


aku tak menyangka, ucapan ku barusan malah menyeretku dalam masalah dan dilema.


“Begini Mas….saya tahu saat


menikah dengan Reyni dulu, Reyni mencintai mas Adrian….bahkan mungkin di dalam


hatinya sampai sekarang…..hanya kita juga tahu…hati seorang wanita sedalam dan


seluas samudra….kita para laki laki tidak akan mudah mengetahuinya kecuali


benar benar belahan hatinya…saya juga tahu Reyni terpaksa menikah dengan


saya…karena permintaan orang tuanya….dan saat itu Mas Adrian juga masih punya


Istri, sehingga akhirnya Reyni mau menerima saya….” Herman berhenti sebentar


untuk meneguk minumannya, aku tak bicara dan menunggu sampai laki laki ini


tuntaskan semua ceritanya.


“Kalau boleh…..saya ingin mas


Adrian…beri kebahagiaan dan buat Reyni tersenyum lagi…..”


“Maksud Pak Herman…?” Ucapku


dengan wajah bingung


“Saya ingin Mas


Adrian….berhubungan lagi dengan Reyni…..atau jika perlu saya akan ceraikan


dia…Reyni berhak bahagia Adrian…..saya hanya menyeret dia masuk ke dalam lembah


kesedihan untuk hidup bersama saya….saya sayang dia….saya juga ga mau


kehilangan dia….tapi  semua percuma jika


dia ga bahagia mas….” Jelas Herman


“ Tapi pak………” ku hentikan

__ADS_1


ucapanku….ku coba susun kata kata dalam benakku


__ADS_2