
Syukurlah , keluargaku tidak heboh ataupun panik, karena saat aku pulang aku terlihat baik baik saja, hanya
balutan di jariku yang jadi pertanyaan mereka dan ku jelaskan hanya kecelakaan saat terjatuh dari motor.
Hari sabtu minggu kali ini aku berniat menghabiskan waktu istirahatku dengan berbaring di kasur kamarku sepuas
puasnya. Badan ku masih terasa pegal pegal dan ngilu akibat bekas kecelakaan waktu itu.
“Ah…nikmat sekali bermalas malasan di tempat tidur seperti ini..” ucapku dalam hati sambil memeluk
gulingku. Kupakai Headset ditelingaku dan kuputar lagu lagu MP3 yang kusimpan di telpon genggamku. Lambat laun mataku kembali mengantuk dan terlelap beberapa menit, sampai mama mengetuk pintu kamarku , "Adrian….ada yang cari kamu….” Ujar mama. Kalau saja headsetku tidak terlepas dari telingaku mungkin aku ga akan mendengar mama mengetuk pintu kamarku.
“Siapa ma?” balas ku agak malas dan tetap berbaring di tempat tidurku.
“Ririn…….” Ucap mama lagi.
“Suruh masuk aja ma….ga Adrian kunci pintunya….” Ujarku lagi.
Kembali kupejamkan mataku yang masih mengantuk….sampai aku sedikit kaget saat Ririn mengelus pipi dan membelai rambutku.
__ADS_1
“Eh Ririn…aku pikir tangan siapa….” Ucapku setengah kaget.
Ririn hanya diam dan menatap lekat lekat mataku, aku sampai grogi ditatap seperti itu.
“Rin…apaan sih….? Ngeliatin begitu….? Masih ada belek ya aku? “ ujarku sambil pura pura mengucek ucek
mataku.
“Jahat kamu…..” Ucap Ririn sambil memukul pelan dadaku
“Jahat kenapa Rin…?” balasku
Kalau aku jawab signal HP yang jelek, pasti akan disanggah Ririn…kalau signal jelek kenapa pesan dan telponku
bisa masuk? Kalo aku bilang tidak sempat karena sibuk pekerjaan…Ririn pasti akan bilang ..saat malam memang kamu tetap bekerja diluar kota sana?....dengan wanita sepintar Ririn, aku tidak bisa memberi alasan alasan seadanya, seperti alasan –alasan yang dibaut para lelaki ke wanita. Jadi aku putuskan hanya memilih untuk diam saja.
“Lalu kenapa dengan tanganmu?”Tanya Ririn lagi melihat jari tanganku yang masih dibalut.
“Kecelakaan….ini kenapa aku ga jawab telpon dan pesanmu…aku ga mau kamu panik, lalu cerita ke Hendra dan Tika, lalu sampai ke Mama Papa…Papa baru sembuh dan pulang dari Rumah Sakit…” jawabku…akhirnya kupilih alasan itu untuk menjawab pertanyaan Ririn.
__ADS_1
Ririn masih duduk ditepi tepat tidurku, lalu semenit kemudian tiba tiba dia memelukku dan merebahkan kepalanya
didadaku.
“Aku rindu kamu Adrian….aku merasa kehilangan kamu….” Bisik Ririn.
Aku tidak tahu harus berkata apa, kepolosannya….luapan isi hatinya….kesungguhan dalam ucapannya membuat hatiku bergetar. Aku hanya diam dan membelai lembut rambut ikalnya. Entah keberanian dari mana, ku kecup kening Ririn mesra.
Ririn bangun dari posisi merebahkan kepalanya didadaku dan kembali duduk di tepi tempat
tidurku….diatapanya mataku penuh arti. Digenggam erat jemari kananku….
Darahku berdersir….jantungku sedikit berdegup lebih cepat….getaran halus isi semua relung hatiku. Ah…aku
takut dengan perasaan ini….rasa ini yang pernah ku alami saat pertama kali dekat dengan Sisca…rasa jatuh cinta….Cuma bedanya dengan Ririn, aku berusaha sekuat kuat nya dari awal menepis dan tidak membiarkan rasa ini ada di dalam hatiku. Tapi kali ini kubiarkan rasa ini meguasai setiap sel darah dan relung serta kisi di dalam hati ini.
“Jangan pergi dari hidupku Adrian….” Ucap Ririn pelan dengan tatapannya yang teduh.
Aku tak bisa membantah atau menepis seperti sebelum sebelumnya jika Ririn berbicara soal hati, kali ini
__ADS_1
kuhanyutkan rasaku….hatiku…..bahkan ku nikmati tiap detik saat aku disampingnya saat ini.