CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
BENTENG ES


__ADS_3

Waktu terasa berhenti saat itu,


wanita yang belasan tahun hanya bisa ku kagumi kini dalam pelukan mesraku….kami


tak perduli dengan apa arti rasa kami….kami tak perduli lagi dnegan getar aneh


dalam nurani…..hanya genggaman mesra di jari tangan bahasa kami…..hanya ciuman


lembut terbangkan beribu angan kami.


Lily tidur dipangkuanku….kubelai


lembut rambutnya…..dia tatap mataku penuh arti….


“Adrian….aku tahu semua ini


salah….aku tidak akan meminta banyak darimu…hanya isi sedikit kekosongan


hatiku….yang jujur…sudah ga aku dapatkan sejak lama…sejak Robbi lahir ….karena


kesibukan Mas Hendri…” bisik Lily


Aku hanya mengangguk lalu mencium


keningnya.


Hari haripun berlalu, raut beban


hidup dan kesedihan di  wajah Lily pun


sirna….usahanya di bidang cateringpun semakin ramai order dan dia sudah


memiliki beberapa karyawan untuk membantunya dengan bertambah banyaknya


pesanan. Aku bagai memiliki dua sisi kehidupan sekaligus, disisi yang satu


kehidupan nyataku dengan keluargaku, di sisi yang lain dengan Lily yang penuh


asmara menggebu namun kami tutup rapat tanpa seorangpun tahu.


“Adrian…besok siang kamu ada


waktu temaniku ke RS Polri di Halim…? “ Lily menelponku saat aku sedang


menyantap makan siangku


“Siapa yang sakit Ly…?” jawabku


sedikit terkejut


“Mas Hendri….aku dapat telpon


kalo di dalam dia sakit keras dan sejak vonis hukuman, kondisi kesehatannya


drop dan makin menurun….” Balas Lily dengan suara terbata-bata


“Baik Ly…aku akan ijin ke HRD


setelah makan siang nanti…..agar besok bisa temani kamu…” ujarku


Tubuh tua pak Hendri terbaring


lemah di tempat tidur rumah sakit, selang oksigen dan jarum infus terpasang di


lengannya.


Lily dan Nazwa menghambur ke arah


laki laki itu dan memeluk tubuh lemahnya.


Pak Hendri menengok ke arahku dan


memanggilku dengan isyarat lambaian lemah tangannya


“Kenapa bisa begini pak?” ucapku


tak tega melihat mantan bos ku, terbaring lemah dan makin kurus seperti ini.


Pak Hendri hanya tersenyum


tipis….lalu memberi kode agar aku lebih dekat padanya.


“Adrian….saya sudah dengar dari


Lily  kalau kamu sudah membantunya pindah


dari rumah kami, dan menjenguk mereka sesuai permintaan saya di LP…..terima


kasih…” ucapnya pelan


“Sudah seharusnya pak…ga perlu


berterima kasih…..itu tidak seberapa dibanding saya ikut bekerja sama bapak


bertahun tahun dan juga menimbal ilmu diperusahaan bapak dulu….” Ujarku


“Adrian…..boleh saya minta

__ADS_1


sesuatu?” ucap Pak Hendri lagi lemah


“Boleh pak….saya akan coba penuhi


sesuai kemampuan saya..” jawabku


“Dalam kondisi saya seperti ini


banyak keluarga, teman apalagi bekas rekan bisnis saya tidak ada yang berani


dekati apalagi berhubungan dengan saya…mungkin takut terkena imbas atau


bagaimana saya ga mengerti….yang pasti kalo boleh saya meminta….tolong jaga


Lily dan anak anak…saya rasa…saya ga akan bertahan lebih lama…” ujar Pak Hendri


lagi dengan ucapan setengah berbisik, namun aku dapat mendengarnya , begitu


juga dengan Lily. Lily meneteskan air mata mendengarnya dan menggenggam tangan


pak Hendri.


Ada perasaan bersalah di dalam


hatiku, dengan hubunganku yang telah melewati batas dengan Lily “Maafkan saya


Pak Hendri….” Batinku


“Baik pak….saya akan jaga Lily


dan anak anak, bapak ga usah khawatir soal itu, yang penting sekarang bapak


cepat sembuh dan nanti jika sudah keluar dapat berkumpul lagi dengan ibu dan


anak anak..” ucapku berusaha membesarkan hatinya.


Pak Hendri hanya tersenyum, sinar


mata laki laki itu yang dulu nya kulihat selalu ber api api dan penuh rasa


optimis, kini terlihat redup …nyaris pudar dan siratkan keputusasaan yang


mendalam.


“Kalo ibu mau tunggui bapak


disini selama bapak dirawat, lebih baik Nazwa saya antar ke rumah eyangnya


Pak..” usulku


Kembali pak Hendri mengangguk


Setelah meminta alamat rumah


orang tua Lily, aku memanggil Nazwa karena waktu besuk telah habis dan menghindari


tiba dirumah orang tua Lily terlalu malam.


“Nazwa….nazwa mau kerumah eyang


ga? Mami biar disini nungguin papi….sampai papi sembuh..” ucapku lembut


“Asyikkk….ketemu eyang , ka Robbi


dan tante erna…” jawab Nazwa kegirangan.


Aku berpamitan dengan Pak Hendri


juga Lily, Lily mengantarku sampai ke parkiran mobil.


“Nazwa…jangan nakal selama


dirumah eyang ya?” ucap Lily lembut sambil mengusap kepala putrinya


“Ia mi…..” sahut nazwa dengan


senyum polosnya


“Om…Nazwa boleh duduk didepan


ya?” ucap Nazwa lagi


“Iya…boleh dong…” sahutku


Saat aku menutup pintu mobil


setelah Nazwa naik, Lily  menggenggam


jemariku, ditatapnya lekat lekat wajahku tanpa berkata sepatah katapun. Aku


mengelus telapak tangan Lily dengan ibu jariku, seolah aku tahu dan dapat


rasakan apa yang ingin dikatakan dan jeritan hatinya.


Selama beberapa hari aku tak


mendengar kabar dari Lily sejak kami menjenguk Pak Hendri dan aku antarkan

__ADS_1


Nazwa kerumah Orang Tuanya


Entah kenapa, ada perasaan rindu


bertemu…..memandang wajah cantiknya….mencium lembut bibir tipisnya….membelai


rambut indahnya….sekaligus rasa cemburu membayangkan dia dengan Hendri suaminya…


Gila…ga boleh aku seperti


ini…..ini salah….rasa ini hanya akan jadi CINTA DIBATAS HORIZON lainnya seperti


yang sudah-sudah….aku harus bunuh dan buang rasa ini…Jerit Hatiku


Baru saja aku bergelut dan


berperang batin didalam hatiku, Telpon genggamku berbunyi, pesan whatsapp…dari


Lily


BESOK SORE  MAS HENDRI SUDAH BOLEH KEMBALI KE LAPAS,


MENURUT DOKTER RS KONDISINYA SUDAH LEBIH BAIK, KAMU GA KEBERATAN JEMPUT AKU DAN


JUGA NAZWA?


“YA…SEPULANG KERJA AKU KESANA”


Balasku


Aku tiba di RS Polri menejlang


magrib, setibanya disana Pak Hendri sudah dibawa oleh Ambulan ke Lapas oleh


pihak kejaksaan. Lily menungguku diruang lobby rumah sakit. Wajahnya terlihat


lelah dan pucat, karena mungkin kurang tidur selama beberapa hari menunggui pak


Hendri di Rumah sakit


“Ly…wajahmu terlihat lelah dan


kurang tidur…lebih baik aku antar pulang dulu kerumah….kamu istirahat, besok


baru jemput Nazwa, toh disana ada eyang dan tantenya…juga Robbi…” ucapku


memberi saran.


“Baiklah Adrian…..” ucap Lily


setelah masuk kedalam mobil, diperjalanan Lily sempat tertidur pulas di jok


mobil, kubiarkan sampai kuparkirkan mobilku di dalam rumahnya.


“Lily….kita sudah sampai…”


bisikku ditelinganya


Lily membuka matanya dan sedikit


terkejut dia sudah berada dirumahnya…


“Wah aku tertidur lama ya? Kenapa


ga bangunin aku?” ucapnya..sambil mengucek ucek matanya


“ga tega….kamu terlihat pulas dan


lelah sekali…yuk turun..dan lanjutkan istirahatmu….” Ujarku


Saat kututup pintu karena hari


sudah mulai gelap, Lily berbalik dan berdiri dihadapanku


“Aku ga tahu dengan kamu ….tapi


aku rindu kamu Adrian….” Ucap  Lily pelan


sambil memegang jemariku


Oh My God….seluruh perang batinku…seluruh


benteng es ku…meleleh seketika


“Aku juga…” hanya itu yang


terucap dari mulutku , dan menarik tubuh Lily  kedalam pelukanku


Entah mengapa, tubuhku selalu


merasa seperti kapas dan dengan mudah merasa terbang melayang ditiup angin


disaat aku memeluk wanita ini….disaat aku mencium mesra bibirnya dan menatap


matanya.


Selalu ingin kuhentikan waktu

__ADS_1


saat bersamanya….selalu aku ingin pergi  ke  alam mimpi dan tak kembali ke


dunia nyata….


__ADS_2