
Melihat Clara yang tumbuh semakin besar , sepi dan kosong serta kebekuan hatiku , sedikit berkurang, disaat luang
dan tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan, sore aku selalu mampir untuk bertemu Clara, dan pulang disaat dia sudah tertidur.
Ita tidak pernah ungkapkan apa yang dia mau dan juga isi hatinya, melihat aku lebih sering datang untuk Clara sudah membuatnya bahagia. Seolah dia juga tahu, kalau aku sudah alergi mendengar kata atau ucapan CINTA.
Aku sedang berada disalah satu Pabrik cabang perusahaanku di Bandung, saat Hendra adikku dengan paniknya
mennelponku
“Papa jatuh lagi setelah pulang kerja….rumah sakit Tika menganjurkan untuk dibawa ke RSCM karena alat alat disana lebih lebgkap…dan ini serangan stroke yang kedua” ujar Hendra setengah berteriak
“Ikuti saran Dokter rumah sakit Tika…lu dan Satria bawa papa ke RSCM sekarang, untuk biaya administrasi dan
sebagainya gw transfer ke rekening lu…gw kembali ke Jakarta dengan penerbangan sore ini” jawabku cepat.
Aku sama paniknya seperti saat mendengar Debby jatuh sakit dahulu, terbayang kembali kejadian saat aku bawa
Debby dari Palembang ke Rumah sakit MMC Jakarta, aku tidak berani mengingat kejadian selanjutnya. Aku hanya ingin tiba secepatnya di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) malam ini.
Sekitar pukul 21.00 malam , aku tiba di RSCM, Hendra langsung menjelaskan kepadaku , apa kata Dokter yang
menangani papa saat masuk RSCM tadi.
“Kali ini serangan stroke kedua papa lebih parah dari yang dulu, kalo dulu…stroke papa masih kategori ringan
atau serangan pertama dan penyebabnya hanya kadar gula darah atau diabetes yang tinggi…kali ini dua sekaligus yang menyebabkan stroke papa…hypertensi ..darah tinggi dan juga gula darah yang tinggi seperti sebelumnya…” ujar Hendra menjelaskan padaku.
“Lalu papa gimana? Bisa sembuh total…?” tanyaku lagi
“Bisa tapi perlu waktu lumayan lama dan bertahap…soalnya sekarang setengah organ tubuh papa tidak berfungsi
__ADS_1
dan lumpuh….bagian kiri…” jawab Hendra sambil tertunduk lesu.
Kusandarkan tubuh lemasku di dinding rumah sakit mendengar penjelasan Hendra,”Memangnya makanan papa tidak kalian kontrol?” ujarku kepada ketiga adikku.
“Kita semua dirumah kontrol makanan papa ka Adrian….tapi kita ga bsia kontrol papa saat dia pergi kerja
bawa taksi nya” jelas Satria adikku yang nomor tiga.
“Ya sudah….mungkin dengan begini papa ga keras kepala lagi dengan paksakan dirinya untuk kerja dan bawa taksi
lagi…yang penting sekarang biar papa mendapat tindakan dulu…nanti begitu keluar dari Rumah sakit, kita pikirkan pengobatan apa selanjutnya…apapun yang berkaitan dengan penyembuhan stroke…” ujarku lagi
Setelah seminggu dirumah sakit,papa diperbolehkan pulang. Papa pulang dengan kursi roda karena tubuhnya
sebelah kiri lumpuh , dan cara bicara papa menjadi pelo atau cadel serta menjadi sensitive dan seringkali menangis.
“Tugas papa sekarang hanya istirahat dan sembuh ya? Kalaupun sembuh nanti….papa ga usah bawa taksi lagi
Selain obat obatan medis, aku juga mencari tahu pengobatan pengobatan alternatif, juga ramuan obat
tradisional cina demi kesembuhan papa.
Aku juga menerima pekerjaan sampingan sebagai konsultan juga pengurusam perizinan pabrik pabrik kolega bos
ku dikantor, aku harus bekerja lebih keras karena sekarang semua ransel tanggung jawab ada dipundakku, seluruh keluargaku dan juga si mungil Clara dan Ita.
Aku makin tak perduli dengan yang namanya wanita apalagi segala hal yang menyangkut rasa cinta. Aku juga sudha lelah dengan semua kegagalanku, membangun mimpi lalu dalam waktu sekejap hancur berantakan
bahkan berkeping-keping dan harus kembali kususun lagi dari awal.
Kugunakan juga simpananku untuk membeli mobil bekas agar lebih mudah membawa papa berobat kesana kemari, ketimbang harus repot cari taksi juga menghemat biaya pikirku.
__ADS_1
Malam itu kulihat papa belum tertidur dan menatap kosong langit langit kamarnya, kuhampiri dan duduk disampingnya, kulihat mama sudah tertidur pulas, mungkin lelah seharian mengurus papa dan masak untuk makan adik adikku sepulang sekolah, kecuali Hendra yang sudah berumah tangga.
“Pa…Adrian sekarang sudah beli mobil, biar kalo papa berobat kita tidak repot, Adrian juga sudah belajar setir
mobil, papa kan pernah bilang …kalo nyetir itu pergaulan….dan laki laki harus bisa…” ucapku setengah berbisik takut mengganggu tidur mama disebelahnya.
Kulihat papa tersenyum senang.
“Dan nanti….saat week end…kita nginap dirumah yang Adrian beli di pinggiran Jakarta ya pa? disana enak buat
istirahat…ga bising pa…” lanjutku lagi
“Iya….anakmu sekarang umur berapa?” ucap papa tiba-tiba dengan suara cadel akibat stroke yang dideritanya
Aku seperti tak percaya mendengar kalimat itu keluar dari mulut papa
“mau tiga tahun pa….” jawabku
“Papa pernah bawa penumpang …dan turunnya didekat rumah Ita….papa bolak balik sampai dua kali …mau lihat anak kamu, tapi ga keliatan atau bertemu…” lanjut papa lagi.
Mataku berkaca kaca mendengarnya…papa…orang yang kukenal sangat keras dalam karakter dan pendiriannya, bisa mengucapkan kata kata seperti barusan yang kudengar, bertanya mengenai anakku…cucunya…dan
cairkan kekerasan hatinya.
“Papa mau bertemu….?” Tanyaku pelan
Papa mengangguk …lalu menangis….
Aku mengusap airmatanya “ Iya…nanti jika Adrian luang dang a banyak pekerjaan Adrian akan ajak kesini ketemu papa mama…sekarang sudah malam…papa istirahat ya?” ucapku lembut…sambil merapikan
selimut papa.
__ADS_1