
Kulihat wajah wajah tegang dan penuh amarah tertahan di kantor polisi malam itu, papa dan adik-adikku juga
keluarga Ita. Kulihat disana juga wajah Ita yang sembab karena habis menangis meredakan emosi keluarganya.
Kudekati papa dan berbisik “ Kenapa sampai seperti ini pa?”
“Pokoknya papa ga mau dengar lagi alasan-alasan kamu….kamu ceraikan wanita itu sekarang juga!!!” suara papa
meninggi dan penuh emosi.
“Kami juga ga mau punya besan kampungan dan kurang ajar seperti kalian” salah satu anggota keluarga Ita
berteriak, entah siapa.
“Baik pa…Adrian janji penuhi keinginan papa….nanti kita bicarakan setelah sampai dirumah ya?sekarang papa
tenang dulu dan jangan terbawa emosi “ ucapku pelan sambil memegang bahu papa.
“Baik pa….Adrian akan lakukan proses perceraian dengan Ita….tapi dengan satu permintaan…pertama..jangan lagi
ada keributan seperti tadi….kedua….biarkan anak didalam kandungan Ita lahir dulu, dan biarkan Adrian sebagai laki laki bertanggung jawab atas anak tersebut…” ucapku dihadapan seluruh anggota keluargaku.
“Baik Adrian….dan Kak tata sudah dengarkan penjelasan Adrian. kan.?sekarang tenang dan jangan pikirkan masalah ini lagi ya?” ucap salah satu pamanku, menenangkan dan meredakan emosi papa.
__ADS_1
Mama dari awal masalah ini timbul hanya diam dan hanya mendengar apa yang aku katakan.dan hanya
melihat apa yang terjadi.
Seperti biasa celoteh berisik camar laut seolah mengejek kesendirianku dan sejuta masalah hidupku, deburan
ombak terbentur karang juga seakan tak perduli dengan berbagai macam keluh kesahku. Dibatas horizon sana sang surya seperti sebelum sebelumnya merona indah sebelum tenggelam setelah senja.
Haruskah cinta yang mulai tumbuh kembali tenggelam seperti surya dibatas horizon sana? Haruskah istana kecil yang baru kan kubangunkan kuruntuhkan dengan tangan tanganku sendiri?
Kosong…..nelangsa…..penat….berseliweran di kepalaku, ku kepalkan jemariku...segala emosi berkumpul jadi satu…
aku bayangkan wajah Ita juga hatinya yang akan hancur berkeping keping saat mendengar apa yang sudah kuucapkan dan kuputuskan kepada keluargaku.
Air mata Ita tak henti hentinya mengalir dari sudut matanya yang indah setelah mendengar semua penjelasanku.
“Aku akan mencoba mengerti Adrian….tapi aku minta….jangan lupakan aku…” ucap Ita disela isak tangisnya.
“Ga akan Ta…bagaimana mungkin aku melupakan kamu dan anak darah dagingku sendiri?” balasku pelan.
Kupeluk tubuhnya dan ku kecup kening Ita….aku bisa rasakan ketulusan hatinya mencintaiku.
“Aku sudah dengar seluruh cerita waktu itu dari Hendra dan Tika….dan kamu lakukan apa yang kamu ucapkan ke papa dan keluargamu?” ucap Ririn sore itu diteras rumahku.
__ADS_1
“Wah….aku kayak selebritis aja ya? Sampai masalah dalam negeri aja kamu tahu..” ucapku sambil tertawa untuk
sembunyikan galauku atas pertanyaan Ririn.
“Ohhh…saya selalu update berita mengenai kamu …pak Adrian…” balas Ririn seraya tertawa kecil.
“Wah…kamu….cocoknya profesi kamu jadi wartawan Rin…bukan Finance atau Accounting..” ucapku lagi sambil
tersenyum.
“Dan Ita……dia mau menerima…?” lanjutnya lagi….
Aku hanya mengangguk pelan sambil meneguk sisa kopi di cangkir ku.
“tujuh bulan lagi anakku lahir….aku janji setelah anak itu lahir baru ku proses perceraianku…” ucapku lagi, karena
aku tahu Ririn adalah teman ngobrol yang selalu detail dalam setiap pertanyaannya.
“Kok tahu sih? Apa yang akan aku Tanya selanjutnya…?” balas Ririn seraya tersenyum
“ Ya tahu dong….model bawel kayak kamu…ga cukup dijelaskan mukadimah atau garis besarnya saja” ucapku sambil ku tarik beberapa helai rambutnya lalu berlari kedalam rumah smabil tertawa-tawa.
Beberapa bulan menjelang kelahirannya, Ita pun kembali kerumah orang tuanya, dari pihak keluarganyapun
__ADS_1
sepertinya tidak boleh menemuiku sejak kejadian itu, dan kami terpaksa bertemu secara diam diam diluaran jika saling rindu. Sedih…aneh sekaligus lucu perasaanku saat itu, kami dua pasangan yang telah menikah, tapi harus bertemu diam diam layaknya dua orag yang melakukan perselingkuhan, kadang kami tertawa walau kami sadar dan tahu, kesedihan akan melanda hidup kami dalam waktu tak lama lagi.
Seiring itu, Intensitas Ririn menemuikupun semakin sering dan orang akan melihat kalau kami semakin dekat, aku saat itu tak perduli, Ririn disukai keluargaku…juga papa…minimal permasalahanku atau hubunganku dengan Ita teralihkan untuk sementara waktu dan tak ada keributan lagi.