CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
KEMBALI


__ADS_3

Vivi si bungsu memandang ke arah


kakak kakaknya, berharap mereka yang jelaskan dan mengatakannya kepadaku,


akhirnya Devi putri kedua Miehwa angkat bicara


“Begini om….jujur kami bertiga


ingin Mami kembali bersama papi kami…..”


“Tapi bukannya kata mami kalian


…papi kalian sudah menikah lagi…?” ucapku


“Benar om….tapi  papi sudah mendapatkan balasannya….sebelum


bertemu om, kami coba temui papi….dan kondisi papi sedang terpukul, sudah


setahun papi sendirian….dan istrinya kabur dengan laki laki yang sebaya dengan


usianya…” Jelas Devi


“Tapi kalian yakin mami kalian


mau memaafkan papi kalian…?” lanjutku


“Kami akan coba bicara dengan


mami om…tapi kami mohon om juga bantu kami bicara…itu juga kalau om tidak


keberatan….” Ujar Devi lagi


“Baik….om akan coba bicara dan


usahakan semaximal yang om bisa agar mami kalian kembali bersama papi


kalian…..walau kalian tahu kerasnya karakter mami kalian seperti apa…tapi


percayalah om akan berusaha semaximal mungkin…..”


“Terima kasih banyak om…” ucap


mereka nyaris secara bersamaan


“Iya…gpp…om juga minta


maaf…menerima keputusan ini tanpa minta mami kalian berbicara terlebih dahulu


dengan kalian….”


“Its ok…om….kami sedikit lega


karena ternyata om berbeda dengan para laki laki sebelumnya yang dekati mami…”


ucap Daniel putra sulung Meihwa.


Tak lama kemudian, akupun pamit


untuk pulang, dalam perjalanan kupikirkan apa yang harus kukatakan pada Meihwa…


Siang itu kantorku terasa sepi,


hanya admin perempuanku yang ada, sedangkan pegawai yang laki laki, sedang


keluar kota untuk memonitor pekerjaan pengiriman salah satu proyek kontraktor


klien kami.


Telpon genggam ku berbunyi….mudah


mudahan saja dari salah satu klienku mengenai masalah pekerjaan atau job. Tapi


perkiraanku salah, dilayar smartphone ku tertulis nama meihwa...


“Adrian….sedang apa kamu?” ucap


Meihwa diseberang sana


“Lagi santai saja menunggu telpon


dari customerku Mei….kamu ga sibuk…?” balasku


“Ngga….aku lagi kangen kamu…..aku


mau ke Jakarta….mau ketemu kamu….suamiku….” ucap Meihwa dengan tawa manjanya.


“Huuu…dasar kamu…..oke…pakai


pesawat jam berapa kamu besok….?” Lebih baik aku berbicara langsung soal apa


yang dikatakan anak anak Miehwa pikirku


“Aku pakai pesawat jam 6


pagi….biar lebih awal sampai sana dan bisa seharian bersama suamiku untuk lepas

__ADS_1


kangen…” Ucapnya lagi seraya tertawa renyah


“Ok Mei…sampai besok ya…?” ujarku


sambil menutup telpon genggamku.


Sekitar jam 7.00 kurang 15 menit


aku tiba di bandara Soeta, perjalanan Belitung – Soekarno Hatta rata rata


sekitar 1 jam perjalanan, Kali ini Meihwa tidak membawa bawaan berlebih


sehingga dia lebih cepat keluar di pintu kedatangan domestic karena tidak perlu


mengantri pengambilan barang dari bagasi pesawat.


Kulihat Meihwa melambaikan


tangannya dan berjalan ke arahku, aku tersenyum ke arahnya, saat sudah


disampingku, tanpa sungkan Meihwa langsung menggamit lenganku dan kami berjalan


beriringan menuju mobilku di area parkir, seperti dugaanku, Meihwa seperti


biasa sudah memesan kamar hotel tempat dia biasa menginap jika sedang


berkunjung ke Jakarta, alasan dia hotelnya bagus dan letaknya tak terlalu jauh


dari bandara.


Begitu kami masuk ke kamar,


meihwa langsung memelukku dan menghujani ku dengan ciuman ciumannya,


“Wow…Mei……….” Aku sedikit terengah engah dengan pelukan dan ciumannya yang


bertubi tubi dan tiba-tiba


“Aku kangen kamu….aku ingin hari


hari saat seperti kita menikah kemarin di Belitung…..” Meihwa menatapku dan tak


mau melepaskan pelukannya.


“I…iya Mei…tapi ada yang mau aku


bicarakan  denganmu…..”


“Nanti saja…aku masih kangen…..”


melepaskan pelukannya….kupegang bahu Meihwa dan kutatap matanya memberi isyarat


bahwa ada hal penting yang ingin ku katakan.


“Apa yang kamu mau bicarakan …?”


Meihwa duduk disebelahku sambil menyalakan rokok nya.


“Mei…belum lama ini aku bertemu


anak anakmu…Daniel…Devi dan Vivi….kebetulan mereka sedang di Jakarta…kamu ga


perlu marah atau tegur mereka…maksud anak anakmu juga baik….mereka sayang


dengan mami nya…”


“Oh ya…? Mereka bicara apa ke


kamu…?” mimic wajah Meihwa terlihat sedikit terkejut.


“Mereka mau pastikan kalau laki


laki yang dekat dan dipilih maminya itu tidak seperti laki laki yang sebelum


sebelumnya dekati kamu….matere…padahal aku juga matere ya?” ucapku sambil


tertawa agar ketegangan di wajah Meihwa sirna


“Lalu mereka bilang apalagi…?”


ujar Miehwa menatap sedikit serius ke arahku


“Mereka….ingin yang terbaik untuk


maminya…..mereka ingin maminya bersama kembali dengan papinya…saat aku bilang


…bukankah papi kalian sudah menikah lagi? Mereka bilang benar…tapi mereka sudah


bertemu papi mereka sebelum bertemu aku…..dan papi mereka sudah setahun sendiri


karena istrinya kabur dan lari dengan laki laki yang sebaya dengannya….mantan


mu sudah dapatkan balasannya Mei….” Jelasku


“Dan kamu pasti bilang mau

__ADS_1


memenuhi permintaan mereka dengan bicara denganku? Kamu tahu jawaban yang akan


keluar dari mulutku Adrian…..tidak….aku lebih baik sendiri daripada kembali


dengan papi nya anak anak….sekalipun kamu mau meninggalkan ku….” Suara Meihwa


bergetar, air mata yang tak pernah kulihat menetes di pipi wanita ini, kali ini


kulihat membasahi pipi putihnya.


“Mei….maafkan aku….aku ga


bermaksud membuatmu sedih atau mencoba membuka luka hatimu kembali….tapi untuk


orang se usia kita, kita harus maklumi dan mau mendengar juga apa pendapat anak


anak kita….anak anakmu sudah dewasa, mereka punya jalan pikirannya


masing-masing, tapi intinya mereka sayang kamu dan ingin keluarganya kembali


utuh…..”


“Tapi Adrian….aku ga mungkin mau


kembali dengan papinya anak anak setelah apa yang dia perbuat padaku….sakit


Adrian….sakit….dan bertahun tahun aku perlu waktu untuk sembuhkan lukaku….”


Ucap Meihwa disela isak pelan tangisnya


“Aku mengerti sakitmu…..lukamu


Mei….mungkin aku orang yang sangat faham apa itu arti dan tahu apa rasanya


sakit ditinggalkan orang yang kamu cintai….apa itu dia pergi dengan orang


lain…atau meninggalkanmu karena pergi dari dunia ini….tapi dari beberapa sakit


yang telah kulalui…kita tak boleh larut oleh rasa sakit itu Mei….kamu harus


belajar menerima…bahkan memaafkan…agar luka di hati kita tidak menjadi semakin


parah…”


“Jadi maksudmu? Aku harus


bagaimana….?” Ujar Meihwa lagi


“Satu yang harus kau ingat…..aku


ga akan kemana –mana…tapi kalau aku boleh meminta….temui anak anakmu…temui juga


papi mereka…dan tanya hatimu dengan jujur…apakah kamu masih


mencintainya…lupakan apa yang sudah lewat….pikirkan hanya hari ini dan


besok….mau kamu lakukan itu untukku Mei…?” kutatap Meihwa lekat lekat sambil


kugenggam jemarinya.


“Baik….aku akan penuhi


permintaanmu….tapi kamu ga akan menghilang dan pergi dari kehidupanku kan..?”


Meihwa sekarang yang menatapku sendu dan tersirat sorot mata takut kehilangan.


Aku tersenyum dan membelai


rambutnya…” kan tadi aku bilang….aku ga akan kemana mana….sekalipun kamu harus


kembali bersama papinya anak anak….aku tetap Adrian yang kamu kenal….dan ada


disini untukmu…..”


“Baik….aku selalu percaya kata


katamu Adrian…..” sedetik kemudian Meihwa merebahkan kepalanya di dadaku,


kubelai lembut rambut dan pipinya….


“Aku kangen kamu…aku butuh kamu


saat ini Adrian….” Bisik Meihwa ditelingaku….aku lega Meihwa mau mendengar


semua ucapanku…ku peluk tubuhnya dan kubalas cumbuan Meihwa untuk hilangkan


rasa rindunya.


Tak ada lagi kata kata yang


keluar dari mulut kami, hanya naluri untuk lewati waktu saat ini….detik demi


detik…menit demi menit….jam demi jam hingga sore menjelang, dan Meihwa harus


kembali ke bandara dengan pesawat jam 19.00WIB malam.

__ADS_1


__ADS_2