
Vivi si bungsu memandang ke arah
kakak kakaknya, berharap mereka yang jelaskan dan mengatakannya kepadaku,
akhirnya Devi putri kedua Miehwa angkat bicara
“Begini om….jujur kami bertiga
ingin Mami kembali bersama papi kami…..”
“Tapi bukannya kata mami kalian
…papi kalian sudah menikah lagi…?” ucapku
“Benar om….tapi papi sudah mendapatkan balasannya….sebelum
bertemu om, kami coba temui papi….dan kondisi papi sedang terpukul, sudah
setahun papi sendirian….dan istrinya kabur dengan laki laki yang sebaya dengan
usianya…” Jelas Devi
“Tapi kalian yakin mami kalian
mau memaafkan papi kalian…?” lanjutku
“Kami akan coba bicara dengan
mami om…tapi kami mohon om juga bantu kami bicara…itu juga kalau om tidak
keberatan….” Ujar Devi lagi
“Baik….om akan coba bicara dan
usahakan semaximal yang om bisa agar mami kalian kembali bersama papi
kalian…..walau kalian tahu kerasnya karakter mami kalian seperti apa…tapi
percayalah om akan berusaha semaximal mungkin…..”
“Terima kasih banyak om…” ucap
mereka nyaris secara bersamaan
“Iya…gpp…om juga minta
maaf…menerima keputusan ini tanpa minta mami kalian berbicara terlebih dahulu
dengan kalian….”
“Its ok…om….kami sedikit lega
karena ternyata om berbeda dengan para laki laki sebelumnya yang dekati mami…”
ucap Daniel putra sulung Meihwa.
Tak lama kemudian, akupun pamit
untuk pulang, dalam perjalanan kupikirkan apa yang harus kukatakan pada Meihwa…
Siang itu kantorku terasa sepi,
hanya admin perempuanku yang ada, sedangkan pegawai yang laki laki, sedang
keluar kota untuk memonitor pekerjaan pengiriman salah satu proyek kontraktor
klien kami.
Telpon genggam ku berbunyi….mudah
mudahan saja dari salah satu klienku mengenai masalah pekerjaan atau job. Tapi
perkiraanku salah, dilayar smartphone ku tertulis nama meihwa...
“Adrian….sedang apa kamu?” ucap
Meihwa diseberang sana
“Lagi santai saja menunggu telpon
dari customerku Mei….kamu ga sibuk…?” balasku
“Ngga….aku lagi kangen kamu…..aku
mau ke Jakarta….mau ketemu kamu….suamiku….” ucap Meihwa dengan tawa manjanya.
“Huuu…dasar kamu…..oke…pakai
pesawat jam berapa kamu besok….?” Lebih baik aku berbicara langsung soal apa
yang dikatakan anak anak Miehwa pikirku
“Aku pakai pesawat jam 6
pagi….biar lebih awal sampai sana dan bisa seharian bersama suamiku untuk lepas
__ADS_1
kangen…” Ucapnya lagi seraya tertawa renyah
“Ok Mei…sampai besok ya…?” ujarku
sambil menutup telpon genggamku.
Sekitar jam 7.00 kurang 15 menit
aku tiba di bandara Soeta, perjalanan Belitung – Soekarno Hatta rata rata
sekitar 1 jam perjalanan, Kali ini Meihwa tidak membawa bawaan berlebih
sehingga dia lebih cepat keluar di pintu kedatangan domestic karena tidak perlu
mengantri pengambilan barang dari bagasi pesawat.
Kulihat Meihwa melambaikan
tangannya dan berjalan ke arahku, aku tersenyum ke arahnya, saat sudah
disampingku, tanpa sungkan Meihwa langsung menggamit lenganku dan kami berjalan
beriringan menuju mobilku di area parkir, seperti dugaanku, Meihwa seperti
biasa sudah memesan kamar hotel tempat dia biasa menginap jika sedang
berkunjung ke Jakarta, alasan dia hotelnya bagus dan letaknya tak terlalu jauh
dari bandara.
Begitu kami masuk ke kamar,
meihwa langsung memelukku dan menghujani ku dengan ciuman ciumannya,
“Wow…Mei……….” Aku sedikit terengah engah dengan pelukan dan ciumannya yang
bertubi tubi dan tiba-tiba
“Aku kangen kamu….aku ingin hari
hari saat seperti kita menikah kemarin di Belitung…..” Meihwa menatapku dan tak
mau melepaskan pelukannya.
“I…iya Mei…tapi ada yang mau aku
bicarakan denganmu…..”
“Nanti saja…aku masih kangen…..”
melepaskan pelukannya….kupegang bahu Meihwa dan kutatap matanya memberi isyarat
bahwa ada hal penting yang ingin ku katakan.
“Apa yang kamu mau bicarakan …?”
Meihwa duduk disebelahku sambil menyalakan rokok nya.
“Mei…belum lama ini aku bertemu
anak anakmu…Daniel…Devi dan Vivi….kebetulan mereka sedang di Jakarta…kamu ga
perlu marah atau tegur mereka…maksud anak anakmu juga baik….mereka sayang
dengan mami nya…”
“Oh ya…? Mereka bicara apa ke
kamu…?” mimic wajah Meihwa terlihat sedikit terkejut.
“Mereka mau pastikan kalau laki
laki yang dekat dan dipilih maminya itu tidak seperti laki laki yang sebelum
sebelumnya dekati kamu….matere…padahal aku juga matere ya?” ucapku sambil
tertawa agar ketegangan di wajah Meihwa sirna
“Lalu mereka bilang apalagi…?”
ujar Miehwa menatap sedikit serius ke arahku
“Mereka….ingin yang terbaik untuk
maminya…..mereka ingin maminya bersama kembali dengan papinya…saat aku bilang
…bukankah papi kalian sudah menikah lagi? Mereka bilang benar…tapi mereka sudah
bertemu papi mereka sebelum bertemu aku…..dan papi mereka sudah setahun sendiri
karena istrinya kabur dan lari dengan laki laki yang sebaya dengannya….mantan
mu sudah dapatkan balasannya Mei….” Jelasku
“Dan kamu pasti bilang mau
__ADS_1
memenuhi permintaan mereka dengan bicara denganku? Kamu tahu jawaban yang akan
keluar dari mulutku Adrian…..tidak….aku lebih baik sendiri daripada kembali
dengan papi nya anak anak….sekalipun kamu mau meninggalkan ku….” Suara Meihwa
bergetar, air mata yang tak pernah kulihat menetes di pipi wanita ini, kali ini
kulihat membasahi pipi putihnya.
“Mei….maafkan aku….aku ga
bermaksud membuatmu sedih atau mencoba membuka luka hatimu kembali….tapi untuk
orang se usia kita, kita harus maklumi dan mau mendengar juga apa pendapat anak
anak kita….anak anakmu sudah dewasa, mereka punya jalan pikirannya
masing-masing, tapi intinya mereka sayang kamu dan ingin keluarganya kembali
utuh…..”
“Tapi Adrian….aku ga mungkin mau
kembali dengan papinya anak anak setelah apa yang dia perbuat padaku….sakit
Adrian….sakit….dan bertahun tahun aku perlu waktu untuk sembuhkan lukaku….”
Ucap Meihwa disela isak pelan tangisnya
“Aku mengerti sakitmu…..lukamu
Mei….mungkin aku orang yang sangat faham apa itu arti dan tahu apa rasanya
sakit ditinggalkan orang yang kamu cintai….apa itu dia pergi dengan orang
lain…atau meninggalkanmu karena pergi dari dunia ini….tapi dari beberapa sakit
yang telah kulalui…kita tak boleh larut oleh rasa sakit itu Mei….kamu harus
belajar menerima…bahkan memaafkan…agar luka di hati kita tidak menjadi semakin
parah…”
“Jadi maksudmu? Aku harus
bagaimana….?” Ujar Meihwa lagi
“Satu yang harus kau ingat…..aku
ga akan kemana –mana…tapi kalau aku boleh meminta….temui anak anakmu…temui juga
papi mereka…dan tanya hatimu dengan jujur…apakah kamu masih
mencintainya…lupakan apa yang sudah lewat….pikirkan hanya hari ini dan
besok….mau kamu lakukan itu untukku Mei…?” kutatap Meihwa lekat lekat sambil
kugenggam jemarinya.
“Baik….aku akan penuhi
permintaanmu….tapi kamu ga akan menghilang dan pergi dari kehidupanku kan..?”
Meihwa sekarang yang menatapku sendu dan tersirat sorot mata takut kehilangan.
Aku tersenyum dan membelai
rambutnya…” kan tadi aku bilang….aku ga akan kemana mana….sekalipun kamu harus
kembali bersama papinya anak anak….aku tetap Adrian yang kamu kenal….dan ada
disini untukmu…..”
“Baik….aku selalu percaya kata
katamu Adrian…..” sedetik kemudian Meihwa merebahkan kepalanya di dadaku,
kubelai lembut rambut dan pipinya….
“Aku kangen kamu…aku butuh kamu
saat ini Adrian….” Bisik Meihwa ditelingaku….aku lega Meihwa mau mendengar
semua ucapanku…ku peluk tubuhnya dan kubalas cumbuan Meihwa untuk hilangkan
rasa rindunya.
Tak ada lagi kata kata yang
keluar dari mulut kami, hanya naluri untuk lewati waktu saat ini….detik demi
detik…menit demi menit….jam demi jam hingga sore menjelang, dan Meihwa harus
kembali ke bandara dengan pesawat jam 19.00WIB malam.
__ADS_1