
Aku tak pernah menyangka , aku
menikah dengan Meihwa….walau tidak banyak orang tahu…walau ikatan kami tidak
seperti kebanyakan orang dan tak biasa, tapi sekarang secara sah aku adalah
suami dari Meihwa. Semua seakan terjadi begitu cepat dan begitu saja, tanpa
pernah ku rencanakan…apalagi ku pikirkan jauh jauh sebelumnya.
“Adrian….setelah sarapan kita
pergi ke pantai yuk? Kamu kan belum sempat jalan jalan sejak tiba disini..”
Ucap Meihwa sambil merapikan rambutnya didepan kaca seusai mandi.
“Oke….aku telpon anak anakku
sebentar ya?” sahutku
Saat kami turun ke resto hotel,
semua karyawan hotel tersenyum dan memberikan salam kepada kami, tanpa malu
Meihwa menggandeng mesra tanganku dihadapan mereka. Aku sempat sedikit grogi
dan sedikit malu , tapi segera menguasai keadaan dan terlebih hampir seluruh
karywan Meihwa terlihat tulus dan senang dengan kebersamaan kami.
Aku berdecak kagum saat kami tiba
di Pantai Tanjung Tinggi, bebatuan bebatuan besar tersusun artistic oleh alam
di tepi pantai, pantai yang bersih dan air laut yang masih jernih, benar benar membuat
rileks dan teduh mata yang memandangnya.
“Ini salah satu alasanmu tidak
pindah ke Jakarta walau sebagian bisnismu ada disana ya Mei…?” ucapku sambil
mencoba naik disalah satu batu batu yang ada dipantai.
“Iya…aku cinta Belitung Adrian….walaupun
aku sering travling sana sini….tetap saja aku selalu rindu pulang kesini….”
Ujar Meihwa
Seharian penuh aku diajak Meihwa
berkeliling Belitung dengan disupiri salah satu pegawai hotelnya, aku merasa
bagaikan raja dan ratu yang tengah menikmati paket tour wisata. Dibalik sikap dan karakter
luar Meihwa yang selama ini kutahu …ceplas ceplos…tegas dalam bicara….tidak
cengeng seperti kebanyakan wanita pada umumnya, tapi saat ini….ternyata saat
bersamaku , dapat kulihat sisi manjanya….ke wanitaan nya…yang dia butuhkan dari
seorang laki laki.
Saat malam mulai beranjak, kami
berduapun kembali ke Hotel, seusai makan malam kami di sebuah restoran indah
yang terletak tak jauh dari pantai.
“Mei…terima kasih untuk hari
ini….” Ku tatap wajah Meihwa seraya tersenyum
“Aku yang seharusnya ucapkan
itu….kamu mau menerima tawaranku…walau aku tahu hatimu belum sepenuhnya
milikku…kamu buatku dapat tersenyum dan bisa bermanja lagi….aku ga akan meminta
banyak darimu Adrian….sedikit saja kepingan hatimu…..sekejap saja waktumu….sudah
cukup bagiku….dan jadi bagian dari duniaku…..hidupku….” Mei balas menatapku
sambil menggenggam jemariku
“Besok sore aku sudah harus
kembali ke Jakarta…untuk anak anakku juga usahaku….maafkan aku tidak bisa
seutuhnya disampingmu….” Kulingkarkan kedua tanganku dipinggang Mei dan
memeluknya
“Seperti yang aku bilang tadi
__ADS_1
Adrian…..aku hanya butuh sedikit dari kamu dan ga akan meminta banyak…setiap
detik waktu saat bersama kamu…sudah sungguh berarti bagiku …” bisik Mei di
telingaku
“Terima kasih Mei….” Hanya itu
yang bisa terucap dari mulutku dan ku cium lembut Meihwa, dan Meihwa balas memelukku
seolah enggan lepaskan,karena besok harus berpisah sementara dan aku harus
kembali ke Jakarta.
“Kalo aku kangen kamu….aku bisa
temui di Jakarta kan ?” bisik Meihwa di Bandara saat mengantarku sesaat sebelum
boarding ke pesawat.
“Ya boleh dong…kamu kan istriku
Mei…” ujarku sambil tertawa kecil, Meihwa tersenyum sambil mencubit pelan
pinggangku
Kulambaikan tangan dan perlahan
menghilang dari hadapan Meihwa yang berdiri melepas kepergianku.
Aku kembali dengan kesibukan
usahaku, perlahan karena project yang sudah berjalan mampu mendongkrak keuangan
perusahaanku, diluar pekerjaan ku curahkan perhatianku untuk Clara dan Calista,
ku coba membuat mereka mendapatkan kebutuhan atau kesenangannya yang hilang
beberapa tahun belakangan sejak Alm Ita sakit dan pergi. Karyawanku pun
bertambah sedikit demi sedikit dan akupun dapat membeli sebuah rumah dan pindah
dari rumah kontrakan yang selama ini ku tempati.
Aku dan Meihwa tetap berhubungan
lewat telpon, kecuali dia sedang ada urusan di Jakarta atau rindu yang tak bisa
dia tahan, kamipun bertemu di Jakarta.
Hanya satu pertanyaan yang tidak
kehidupanmu perlahan kembali membaik, apa kamu ga ada niat untuk berumah tangga
lagi? Kasihan Clara dan calista…mereka perlu seorang ibu…walau secara materi
kebutuhan mereka kau penuhi Adrian…”
Aku tak bisa menjawab apalagi
menjelaskan soal pernikahan siri ku dengan Meihwa, aku hanya tersenyum dan
bilang “ iya…nanti….”
“Aku tidak bahagia dengan Herman
….” Ucap Reyni di teras rumah pada adiknya Ranti, Reyni menghela nafas panjang
sambil ******* ***** jarinya.
“Ga bahagia karena dia bukan
pilihan hati mbak…? Tapi kan mbak sudah jalani rumah tangga hampir 2 tahun
lamanya, dan Mbak dan Mas Herman terlihat harmonis dan secara materipun
tercukupi….atau karena sampai saat ini Mbak dan Mas herman belum dapat anak
dari pernikahan kalian…?” Ujar Ranti merasa iba dengan wajah sedih Reyni.
“Aku mencoba pelan pelan lupakan
Adrian di hatiku Ranti…..aku berusaha sadar dan menerima kalau hidup yang harus
kujalani adalah bersama Herman….Herman baik Ran….dia penuhi semua
kebutuhanku…sayangi aku….tapi……” Reyni berhenti bercerita
“Tapi apa Mbak…?” Tanya Ranti
penuh rasa penasaran
“Herman ….impoten Ranti……” Reyni
mulai menangis dan terisak
__ADS_1
Ranti menutup kedua mulutnya
dengan telapak tangannya, dia duduk di samping Reyni, memeluknya dan mengusap
punggungnya
“Ya Tuhan Mbak….kok mbak baru
cerita sekarang….?” Ucap Ranti pelan
“Awal….mbak pikir Herman hanya
terlalu lelah karena kesibukan usahanya yang sita hampir seluruh
waktunya…..tapi setelah enam bulan….akhirnya mbak ajak mas Herman ke dokter dan
dari situ Mbak tahu kalo mas Herman sakit…..” Lanjut Reyni masih terisak
“Mbak dan Mas Herman sudah
berusaha berobat…?”
“Kami sudah coba berbagai cara
Ranti…dari medis sampai pengobatan alternative…tapi sampai detik ini tidak
membuahkan hasil…..” Sambung Reyni
“Lalu mas Herman gimana Mbak…?”
ujar Ranti
“Aku tahu Mas Herman sangat
terpukul….depresi…dia lebih banyak diam setahun belakangan ini….tapi aku tetap
berusaha membesarkan hatinya….dia sudah begitu baik menjamin hidupku dan anak
anak…tapi kamu wanita ranti……kamu tahu kita sebagai wanita …tidak hanya melulu
materi yang kita butuhkan…” Ucap Reyni
“Iya Mbak….aku faham….mungkin ini
juga yang menyebabkan Mas Herman dulu bercerai dan tidak mempunyai anak….”
Lanjut Ranti
“Dulu saat dengan Alm suami Mbak
yang pertama, hampir 3 tahun dia sakit …akhirnya Mbak melakukan kesalahan
dengan laki laki bajingan Anton….sehingga lahir Meysa…..Mbak ga mau lakukan
kesalahan seperti itu lagi……” ucap Reyni disela isak tangisnya
“Kalau dengan Adrian….?” Ujar
Ranti dengan tatap penuh selidik pada Reyni
“Dengan Adrian berbeda ranti….Mbak
mencintainya…..mbak ga pernah menyesal kenal dia…dekat dia…bahkan berhubungan
dengan dia….bersatu atau tidak…Mbak tetap mencintainya…..tapi mbak sadar
sekarang Mbak milik Mas Herman…..” sambung Reyni sambil berusaha menghapus air
matanya
“Kalau yang aku dengar kalau
sekarang Adrian sudah sendiri karena Istrinya meninggal….itu betul Mbak…?”
Ranti menjetikkan jemarinay di gelas minumnya
“Benar Ran…bahkan saat Mbak dan
mas Herman sedang ke Jakarta, mbak datang ke kantor nya….saat Mbak
tahu…semuanya sudah terlambat….walau dia sudah ungkapan semua alasan ke Mbak….”
Hati Reyni semakin sakit saat harus bercerita masalahnya tapi sekaligus harus
mengingat kembali sosok yang di cintainya…Adrian….
“Lalu …selanjutnya rencana Mbak
dan Mas Herman ? tetap ikhtiar berobat…? “
“Entahlah Ranti…..Mbak lihat Mas
Herman sudah frustasi dengan yang dialaminya….diapun semakin jarang dirumah dan
tenggelamkan dirinya dengan kesibukan bisnisnya…..mbak ga tahu sampai kapan
__ADS_1
mbak harus bertahan….” Reyni menghela nafas panjang dan meminum teh hangatnya
untuk redakan gundahnya.