CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
TAK BAHAGIA


__ADS_3

Aku tak pernah menyangka , aku


menikah dengan Meihwa….walau tidak banyak orang tahu…walau ikatan kami tidak


seperti kebanyakan orang dan tak biasa, tapi sekarang secara sah aku adalah


suami dari Meihwa. Semua seakan terjadi begitu cepat dan begitu saja, tanpa


pernah ku rencanakan…apalagi ku pikirkan jauh jauh sebelumnya.


“Adrian….setelah sarapan kita


pergi ke pantai yuk? Kamu kan belum sempat jalan jalan sejak tiba disini..”


Ucap Meihwa sambil merapikan rambutnya didepan kaca seusai mandi.


“Oke….aku telpon anak anakku


sebentar ya?” sahutku


Saat kami turun ke resto hotel,


semua karyawan hotel tersenyum dan memberikan salam kepada kami, tanpa malu


Meihwa menggandeng mesra tanganku dihadapan mereka. Aku sempat sedikit grogi


dan sedikit malu , tapi segera menguasai keadaan dan terlebih hampir seluruh


karywan Meihwa terlihat tulus dan senang dengan kebersamaan kami.


Aku berdecak kagum saat kami tiba


di Pantai Tanjung Tinggi, bebatuan bebatuan besar tersusun artistic oleh alam


di tepi pantai, pantai yang bersih dan air laut yang masih jernih, benar benar membuat


rileks dan teduh mata yang memandangnya.


“Ini salah satu alasanmu tidak


pindah ke Jakarta walau sebagian bisnismu ada disana ya Mei…?” ucapku sambil


mencoba naik disalah satu batu batu yang ada dipantai.


“Iya…aku cinta Belitung Adrian….walaupun


aku sering travling sana sini….tetap saja aku selalu rindu pulang kesini….”


Ujar Meihwa


Seharian penuh aku diajak Meihwa


berkeliling Belitung dengan disupiri salah satu pegawai hotelnya, aku merasa


bagaikan raja dan ratu yang tengah menikmati  paket tour wisata. Dibalik sikap dan karakter


luar Meihwa yang selama ini kutahu …ceplas ceplos…tegas dalam bicara….tidak


cengeng seperti kebanyakan wanita pada umumnya, tapi saat ini….ternyata saat


bersamaku , dapat kulihat sisi manjanya….ke wanitaan nya…yang dia butuhkan dari


seorang laki laki.


Saat malam mulai beranjak, kami


berduapun kembali ke Hotel, seusai makan malam kami di sebuah restoran indah


yang terletak tak jauh dari pantai.


“Mei…terima kasih untuk hari


ini….” Ku tatap wajah Meihwa seraya tersenyum


“Aku yang seharusnya ucapkan


itu….kamu mau menerima tawaranku…walau aku tahu hatimu belum sepenuhnya


milikku…kamu buatku dapat tersenyum dan bisa bermanja lagi….aku ga akan meminta


banyak darimu Adrian….sedikit saja kepingan hatimu…..sekejap saja waktumu….sudah


cukup bagiku….dan jadi bagian dari duniaku…..hidupku….” Mei balas menatapku


sambil menggenggam jemariku


“Besok sore aku sudah harus


kembali ke Jakarta…untuk anak anakku juga usahaku….maafkan aku tidak bisa


seutuhnya disampingmu….” Kulingkarkan kedua tanganku dipinggang Mei dan


memeluknya


“Seperti yang aku bilang tadi

__ADS_1


Adrian…..aku hanya butuh sedikit dari kamu dan ga akan meminta banyak…setiap


detik waktu saat bersama kamu…sudah sungguh berarti bagiku …” bisik Mei di


telingaku


“Terima kasih Mei….” Hanya itu


yang bisa terucap dari mulutku dan ku cium lembut Meihwa, dan Meihwa balas memelukku


seolah enggan lepaskan,karena besok harus berpisah sementara dan aku harus


kembali ke Jakarta.


“Kalo aku kangen kamu….aku bisa


temui di Jakarta kan ?” bisik Meihwa di Bandara saat mengantarku sesaat sebelum


boarding ke pesawat.


“Ya boleh dong…kamu kan istriku


Mei…” ujarku sambil tertawa kecil, Meihwa tersenyum sambil mencubit pelan


pinggangku


Kulambaikan tangan dan perlahan


menghilang dari hadapan Meihwa yang berdiri melepas kepergianku.


Aku kembali dengan kesibukan


usahaku, perlahan karena project yang sudah berjalan mampu mendongkrak keuangan


perusahaanku, diluar pekerjaan ku curahkan perhatianku untuk Clara dan Calista,


ku coba membuat mereka mendapatkan kebutuhan atau kesenangannya yang hilang


beberapa tahun belakangan sejak Alm Ita sakit dan pergi. Karyawanku pun


bertambah sedikit demi sedikit dan akupun dapat membeli sebuah rumah dan pindah


dari rumah kontrakan yang selama ini ku tempati.


Aku dan Meihwa tetap berhubungan


lewat telpon, kecuali dia sedang ada urusan di Jakarta atau rindu yang tak bisa


dia tahan, kamipun bertemu di Jakarta.


Hanya satu pertanyaan yang tidak


kehidupanmu perlahan kembali membaik, apa kamu ga ada niat untuk berumah tangga


lagi? Kasihan Clara dan calista…mereka perlu seorang ibu…walau secara materi


kebutuhan mereka kau penuhi Adrian…”


Aku tak bisa menjawab apalagi


menjelaskan soal pernikahan siri ku dengan Meihwa, aku hanya tersenyum dan


bilang “ iya…nanti….”


“Aku tidak bahagia dengan Herman


….” Ucap Reyni di teras rumah pada adiknya Ranti, Reyni menghela nafas panjang


sambil ******* ***** jarinya.


“Ga bahagia karena dia bukan


pilihan hati mbak…? Tapi kan mbak sudah jalani rumah tangga hampir 2 tahun


lamanya, dan Mbak dan Mas Herman terlihat harmonis dan secara materipun


tercukupi….atau karena sampai saat ini Mbak dan Mas herman belum dapat anak


dari pernikahan kalian…?” Ujar Ranti merasa iba dengan wajah sedih Reyni.


“Aku mencoba pelan pelan lupakan


Adrian di hatiku Ranti…..aku berusaha sadar dan menerima kalau hidup yang harus


kujalani adalah bersama Herman….Herman baik Ran….dia penuhi semua


kebutuhanku…sayangi aku….tapi……” Reyni berhenti bercerita


“Tapi apa Mbak…?” Tanya Ranti


penuh rasa penasaran


“Herman ….impoten Ranti……” Reyni


mulai menangis dan terisak

__ADS_1


Ranti menutup kedua mulutnya


dengan telapak tangannya, dia duduk di samping Reyni, memeluknya dan mengusap


punggungnya


“Ya Tuhan Mbak….kok mbak baru


cerita sekarang….?” Ucap Ranti pelan


“Awal….mbak pikir Herman hanya


terlalu lelah karena kesibukan usahanya yang sita hampir seluruh


waktunya…..tapi setelah enam bulan….akhirnya mbak ajak mas Herman ke dokter dan


dari situ Mbak tahu kalo mas Herman sakit…..” Lanjut Reyni masih terisak


“Mbak dan Mas Herman sudah


berusaha berobat…?”


“Kami sudah coba berbagai cara


Ranti…dari medis sampai pengobatan alternative…tapi sampai detik ini tidak


membuahkan hasil…..” Sambung Reyni


“Lalu mas Herman gimana Mbak…?”


ujar Ranti


“Aku tahu Mas Herman sangat


terpukul….depresi…dia lebih banyak diam setahun belakangan ini….tapi aku tetap


berusaha membesarkan hatinya….dia sudah begitu baik menjamin hidupku dan anak


anak…tapi kamu wanita ranti……kamu tahu kita sebagai wanita …tidak hanya melulu


materi yang kita butuhkan…” Ucap Reyni


“Iya Mbak….aku faham….mungkin ini


juga yang menyebabkan Mas Herman dulu bercerai dan tidak mempunyai anak….”


Lanjut Ranti


“Dulu saat dengan Alm suami Mbak


yang pertama, hampir 3 tahun dia sakit …akhirnya Mbak melakukan kesalahan


dengan laki laki bajingan Anton….sehingga lahir Meysa…..Mbak ga mau lakukan


kesalahan seperti itu lagi……” ucap Reyni disela isak tangisnya


“Kalau dengan Adrian….?” Ujar


Ranti dengan tatap penuh selidik pada Reyni


“Dengan Adrian berbeda ranti….Mbak


mencintainya…..mbak ga pernah menyesal kenal dia…dekat dia…bahkan berhubungan


dengan dia….bersatu atau tidak…Mbak tetap mencintainya…..tapi mbak sadar


sekarang Mbak milik Mas Herman…..” sambung Reyni sambil berusaha menghapus air


matanya


“Kalau yang aku dengar kalau


sekarang Adrian sudah sendiri karena Istrinya meninggal….itu betul Mbak…?”


Ranti menjetikkan jemarinay di gelas minumnya


“Benar Ran…bahkan saat Mbak dan


mas Herman sedang ke Jakarta, mbak datang ke kantor nya….saat Mbak


tahu…semuanya sudah terlambat….walau dia sudah ungkapan semua alasan ke Mbak….”


Hati Reyni semakin sakit saat harus bercerita masalahnya tapi sekaligus harus


mengingat kembali sosok yang di cintainya…Adrian….


“Lalu …selanjutnya rencana Mbak


dan Mas Herman ? tetap ikhtiar berobat…? “


“Entahlah Ranti…..Mbak lihat Mas


Herman sudah frustasi dengan yang dialaminya….diapun semakin jarang dirumah dan


tenggelamkan dirinya dengan kesibukan bisnisnya…..mbak ga tahu sampai kapan

__ADS_1


mbak harus bertahan….” Reyni menghela nafas panjang dan meminum teh hangatnya


untuk redakan gundahnya.


__ADS_2