CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
THANK YOU MY HUSBAND


__ADS_3

Siang itu aku dan Handoko sedang


berada di pusat perbelanjaan sebuah mall di bilangan Jakarta Selatan, aku


berniat mencari beberapa baju dan kemeja untuk kubawa besok ke Belitung, dan


beberapa baju kubelikan untuk Handoko yang juga akan berangkat terlebih dulu ke


Kalimantan mengawasi proses pengiriman material proyek klien perusahaanku.


“Adrian ….?” Tiba tiba suara


wanita terdengar menghampiriku, saat itu aku dan Handoko tengah memilih


beberapa kaos laki laki untuk kami berdua.


“Li…Ly?” Ucapku setengah kaget


melihat kehadiran Lily disitu


“Nazwa…Dharmawan mana?” Lanjutku


lagi setelah menguasai keterkejutanku


“Dharmawan sedang keluar kota


untuk beberapa urusan…Nazwa sedang di tempat bermain anak dengan papa dan


mama….” Ujar Lily menatapku lekat lekat, membuatku grogi.


“Bos…saya pulang duluan ya? Besok


pagi kita ketemu di kantor dulu kan bos? “ ucap Handoko disela pembicaraan aku


dan Lily


“Oh Ok…Ko….gpp kamu pulang


sendiri ?” ucapku sambil memberikan kantong berisi baju buatnya


“It’s Ok bos….” Ujar Handoko ,lalu


berlalu dari hadapanku dan Lily


“Adrian….kamu apa kabar? Aku


turut berduka soal Ita…aku dengar dari Bernard….” Ucap Lily lirih


“Thanks Ly….maaf aku tidak


memberitahumu…aku ga mau kamu mendapat masalah dengan Dharmawan..” Ujarku


“Iya…aku mengerti alasanmu


Adrian….” Imbuh Lily


“Dan kamu…? Gimana kabar kamu?


Semua baik baik saja kan?” Sambil menuju ke sebuah café diikuti Lily


disampingku


“Dharmawan tidak berubah ….tapi


aku berusaha bertahan untuk Nazwa dan Robbi….biarlah…untunglah belakangan ini


Dharmawan sering keluar kota untuk urusan bisnisnya…jadi ga sesering dulu


sakiti aku…” Jelas Lily


“Mudah mudahan suatu hari dia


berubah ya Ly? Sehingga kamu bisa jalani hidup dengan bahagia dengan anak anak


tanpa merasa ketakutan…” aku mengajak Lily duduk di meja café yang kosong.


“Iya mudah mudahan….dan kamu


Adrian..? apa sudah ada calon pendamping hidupmu lagi?” Ucap Lily seraya


kembali tatapku lekat lekat.


Aku hanya terdiam, aku tak ingin


menceritakan perihalku dengan Meihwa….


“Aku masih sendiri….tapi pasti


nanti suatu hari pasti akan kutemukan pendampingku Ly…” ucapku berbohong


“Aku ga bisa lupakan kamu


Adrian….aku bisa bertahan bersama Dharmawan…karena saat bersamanya aku


bermajinasi dan bayangkan kalau aku sedang dengan kamu….” Balas Lily sambil


menggigit bibirnya


“Ah Lily….kamu wanita


ayu…cantik….lembut….laki laki manapun pasti ingin bersamamu…” batinku


“Om Adriaaaaaaaan…..Nazwa


kangeeeeeeen deh sama om…” tiba tiba Nazwa berlari memelukku , papa mama Lily


mengikuti dibelakangnya


“Om juga kangen…” Ucapku sambil


mengelus rambut anak itu


“Om..Tante…silahkan duduk…mau


pesan apa ? “ Ucapku lagi kepada papa mama Lily sambil menarik dua bangku


kosong disamping tempat duduk aku dan Lily.


“Terima kasih….apa aja …eh kamu


Adrian kan? Yang dulu bekerja dengan Hendri? Kata Lily kamu sekarang sudah jadi


pengusaha juga ya? Hebat…” Ujar papa Lily sambil tersenyum ramah padaku


“Ah…Cuma usaha kecil om….masih


kelas warung…” Jawabku merendah


“Semua mulai dari kecil …Hendri


juag dulu kan mulai usaha nya dari kecil sampai karyawan nya jadi banyak dan


punya pabrik….” Ucap Mama Lily ikut dalam obrolan.


Aku, Lily dan kedua orang tuanya


ngobrol segala hal, cukup seru dan asik hingga tak terasa waktu sudah semakin


sore.


“Nazwa….om pulang dulu ya? Nanti


kita ketemu lagi ya? “ Ucapku lembut pada Nazwa sambil mengelus gemas pipinya.


“Iya om….janji ya? Bercanda dan


bermain sama om Adrian itu asik dan ga membosankan, ga seperti papi


dirumah….Nazwa lebih banyak main sendiri….” Ujar Nazwa polos, aku melirik ke


arah Lily


“Iya….om janji….Ly….om…tante…saya


pamit duluan ya?” ucapku sambil memberi salam kepada Lily dan papa mamanya


Aku tiba di Bandara H.A.S


Hanandjoeddin Belitung sekitar jam 11 .00 WIB, ini pertama kali aku ke


Belitung, di pintu keluar ku lihat Meihwa melambaikan tangannya, dengan blouse


tanpa lengan dan celana jeans serta kaca mata hitam, Meihwa terlihat lebih muda


dari usianya. Kami berdua langsung menuju area parkir.


“Aku sudah pesan kamar hotel


untukmu selama kamu disini Adrian….aku tahu kamu ga akan nyaman dirumahku jika

__ADS_1


ada anak anak atau sanak family ku datang ke rumah…” Ucap Meihwa sambil membuka


pintu mobil.


“Ga aku aja yang nyetir Mei? Aku


ga biasa di setirin wanita….” Ujarku sambil tersenyum


“Oke…tapi pelan pelan ya?


Hotelnya ga jauh dari sini….dan kamu belum pernah ke Belitung kan?” balas


Meihwa tertawa


Lumayan grogi juga, karena mobil


sedan Meihwa ini termasuk kelas sedan mewah dan automatic transmision ,agak


menyesal juga aku menawarkan diri untuk menyetir kalo sampai nyerempet,


repot  nih urusan …batinku


Tapi syukurah aku cepat


beradaptasi dan hanya dalam 20 menit kami sudah tiba di Hotel yang sudah di


booking Meihwa.


Meihwa memintaku untuk berhenti


saja di depan lobby hotel dan biarkan petugas hotel yang memarkirkan mobilnya.


Ku ikuti langkah Meihwa sambil menarik travel bag ku, ku lihat hampir semua


pegawai hotel mengenal sosok Meihwa, mungkin karena Belitung bukan daerah luas


dan mungkin karena Meihwa sering menginap di hotel ini ,pikirku. Dari mulai


pegawai receptionist sampai roomboy yang mengantarku memberi hormat kepadanya.


Meihwa hanya tersenyum ramah dan sesekali melirikku.


Aku berdecak kagum saat memasuki


kamar yang di pesan Meihwa, aku rasa ini adalah type suite room dan yang paling


mewah di hotel ini, ruangannya sangat luas, perabotannya lengkap dan hampir


serasa seperti berada di dalam rumah yang mewah.


“Mei….ini terlalu mewah….kamu


berlebihan memesan kamar ini…” ucapku setelah roomboy meninggalkan kamar hotel.


“Gpp lah sekali-kali….kan kamu ga


setiap hari atau setiap minggu ke sini…” Ujar Meihwa seraya tertawa


“Ok….lalu masalah permintaanmu


untuk nikah itu? Gimana?” aku menyandarkan tubuhku di sofa yang sangat empuk


“Aku sudah atur….besok beberapa


orang pemuka agama dan saksi akan datang kesini….” Ujar Meihwa santai sambil


menyulut rokoknya.


“Baik Mei….aku mandi dulu ya?”


disambut dengan anggukan kepala oleh Meihwa.


Dari kamar mandi ku dengar Meihwa


berbicara di telpon , sekilas kudengar soal bisnisnya, lalu ku dengar dia


berbicara dibalik pintu “Adrian….aku ke kantor dulu…besok pagi aku sudah ada


disini….kalau kamu merasa bosan…minta saja salah satu karyawan hotel menemanimu


berkeliling dengan mobil hotel ya?”


“Oke Mei…..” sahutku sambil


mengguyur tubuhku di bawah pancuran air shower yang hangat.


Tak terasa aku sudah tertidur


19.00 WIB, lama juga aku tertidur….aku meraih telponku dan video call dengan


anak anakku Clara dan Calista selama 10 menit.


Perutku terasa lapar, kuputuskan


untuk turun ke resto hotel, saat aku keluar dari lift seorang staff wanita


hotel menghampiriku “ Pak Adrian mau makan malam? Silahkan pak ikuti saya….”


Aku sedikit bingung, biasanya disaat aku travling ke daerah atau hotel manapun,


semua biasa aku lakukan sendiri dan baru kali ini ada staff hotel yang


menawariku bahkan menemaniku hingga ke resto. Sangat bagus pelayanan di hotel


ini, pikirku.


“Terima kasih


Mbak…mmm….Sylvia…sudah temani saya makan malam…”Kulihat nametag di baju wanita


staff hotel ini “Sylvia”…..


“Dengan senang hati pak…..tadinya


Bu Mei pesan temani bapak kalo bosan untuk berkeliling sekitar Belitung sini,


pantai disini bagus-bagus…Cuma ternyata bapak tertidur cukup lama,, kalau malam


kurang puas melihat keindahan pantainya pak…” Ujar Sylvia yang ku duga berumur


sekitar 30-an.


“Oh iya Mbak Sylvi…mungkin akibat


lelah dalam perjalanan sejak pagi dari Jakarta…jadi capek dan lumayan tertidur


lama…” aku selesai dengan makan malamku dan nikmati capucino panas ditemani


rokokku.


“Mbak Sylvi asli dari Belitung


sini ?” tanyaku melanjutkan obrolan


“Ngga pak…saya juga


perantau….saya asli dari Surabaya Jawa Timur….saya hanya bekerja disini, suami


dan anak saya ikut kesini….” Jelas wanita itu


“Kalo penduduk asli sini rata


rata keturunan Tionghoa pak….seperti bu Mei….” Lanjut wanita bernama Sylvi itu


“OH iya ya? Kamu kan sama ya?


Kayak saya?” ucapku disambut tawa kami berdua


“Bapak beruntung bu mei pilih


bapak dan kami juga senang yang dipilih bapak….ramah dan ga sombong…” ujar


Sylvi lagi


“Beruntung..? dipilih..? dan Mbak


Sylvi serta para pegawai disini sangat kenal Bu Meihwa ya?” ucapku dengan


sedikit rasa bingung


Sylvi tertawa kecil mendengar


ucapanku “Pasti Bu Mei ga cerita ke Bapak ya? Pak….Bu Mei itu pemilik Hotel


ini…..dan kami semua bekerja padanya…”


Hampir saja Capucino yang sedang


aku teguk tumpah karena rasa terkejutku, Sylvia tambah tertawa melihatnya

__ADS_1


“Dua tahun terakhir ini memang Bu


Mei kadang membawa laki laki yang dekat dengannya, kebanyakan ya sudah pasti


mereka keturunan tionghoa juga…Cuma ya begitu lah pak…mereka angkuh…sombong dan


meremehkan orang lain…tapi syukurlah mereka tidak jadi dipilih oleh Bu Mei….mudah


mudahan pak Adrian juga ga seperti mereka setelah tahu siapa bu Mei ya pak?”


Aku hanya tersenyum…”Saya kenal


bu Meihwa lama Mbak….hampir kurang lebih 3 tahun, walau karena jarak, kami


hanya berkomunikasi via telpon….dia sudah ceritakan perjalanan hidupnya walau


tidak keseluruhan mengenai usahanya…Meihwa baik…dia tidak suka pamer dan dia


juga wanita pintar dalam bisnis juga dalam menilai karakter seseorang….”


“Iya pak…kami ikut bekerja dengan


Bu Mei cukup lama…..kami juga tahu sejak suaminya meninggalkannya dan menikah


dengan wanita muda…Bu Mei juga sering dibohongi para laki laki yang mau


manfaatkan dia saja….kasihan bu Mei pak….” Balas Sylvi


Kulihat jam di tanganku…”Sudah


hampir jam sepuluh malam Mbak…saya kembali ke kamar ya? Besok pagi pagi katanya


Meihwa mau datang kesini…” Ucapku sambil berdiri dari kursi


“Baik Pak…semoga besok


pagi…acaranya berjalan lancar ya?” ujar wanita itu sambil tersenyum


Mukaku sempat memerah karena


malu, karena ternyata para pegawai Meihwa di hotel tahu soal rencana pernikahan


siri kami besok di sini.


Pagi itu aku sudah mandi dan


bersiap menantu kedatangan Meihwa, kupakai kemeja yang ku beli dijakarta, ku


dengar pintu kamar diketuk…”Adrian…..ini aku Mei…kamu sudah bangun?”


Aku bergegas membuka pintu kamar


dan…Oh Tuhan….Meihwa berdiri dengan gaun berwarna merah dengan hiasan hiasan


bermotif kembang….rambutnya di sanggul kecil….wajahnya terlihat cantik dan


tubuhnya yang tinggi besar begitu sexy dan pas dengan gaun yang


dikenakannya…aku sempat tertegun sesaat…


“Hei…malah bengong…..bukannya


disuruh masuk…” ucap Meihwa mengejutkanku , dia tertawa melihat ekspresi


wajahku


“Ka…mu cantik Mei…..” kata kata


itu tiba tiba saja meluncur dari mulutku


Meihwa hanya tertawa kecil….”


Iyalah harus cantik…kalo jelek nanti kamu batalin nikahnya…”


Setengah jam kemudian ditemani


beberapa staff hotel, pemuka agama setempat dan juga dua orang rekannya datang,


para staff hotel menggeser kursi dan meja ruang tamu kamar untuk kami, kami


duduk diatas karpet lembut hotel.


Sungguh aneh….aku tidak merasa


canggung….kikuk…ataupun grogi….walaupun seumur hidupku baru kali ini aku alami


pernikahan secara siri setelah bertahun tahun lalu aku melangsungkan pernikahan


dengan Ita di Kantor urusan Agama. Mungkin sudah takdriku…aku tidak pernah


mengalami acara resepsi pernikahan seperti kebanyakan orang, duduk dipelaminan


dan mendapat ucapan dari banyak orang, semua harus kujalani dengan cara diam


diam.


Akhirnya semuapun berjalan lancar


dan selesai, dihadapan pemuka agama dan para saksi yang hadir, kini aku dan


Meihwa adalah sepesang suami istri, dan Meihwa juga sebelum melangsungkan


pernikahan bersedia menjadi mualaf mengikuti keyakinan yang ku punya.


Kini hanya tinggal aku dan


Meihwa….kami berdiri di balkon hotel dan memandang laut dan pantai Belitung


yang indah.


“Sekarang aku istrimu….jadi boleh


dong aku peluk kamu ya?” ucap Meihwa sambil menatapku dan tertawa kecil


Aku hanya tersenyum, kupeluk


pinggangnya dan kurapatkan ke tubuhku…Meihwa menyandarkan kepalanya didadaku.


“Aku tahu ini tidak seperti


kehidupan normal orang orang….tapi aku ingin jadi bagian dari hidupmu walau


hanya kita berdua yang tahu…..” bisik Meihwa ditelingaku


“Aku ga biasa berjanji manis dan


muluk-muluk Mei….kamu kenalku sejak lama walau hanya lewat telpon, tapi semua


yang ku ceritakan sama kamu apa adanya….aku akan berusaha semampuku….aku tidak


pernah bermaksud manfaatkanmu walau aku tahu kamu bisa dan sudah membantuku…”


balasku sambil menatap lembut mata Meihwa.


“Aku tahu itu Adrian….itu kenapa


aku pilih kamu…karena kamu berbeda…..kalau kamu memang seperti laki laki


kebanyakan, pasti saat setelah kamu kenalku di Batam dulu, kamu pasti akan


intens hubungiku dan mengejarku….”


Kubelai lembut rambut wanita


ini….tak pernah terbesit dalam bayanganku sebelumnya kalau wanita keturunan


Tionghoa didepanku ini sekarang menjadi istri siriku…..Meihwa memejamkan


matanya menikmati hembusan angin laut yang berhembus di balkon hotel dan juga


belaian tanganku, ku beranikan untuk mencium bibir tipis milik Mei….Meihwa


membalas seraya semakin erat memelukku


Malam itu aku dan Mei luapkan


dahaga kesepian yang lama kami simpan, setiap detik kami balut dengan sentuhan


sentuhan kasih tanpa banyak bicara…tanpa banyak kiasan ….tanpa rayuan rayuan dua


orang yang dimabuk asmara


Tak ingin kami lepaskan


pelukan….merasa enggan lepaskan waktu yang berjalan…..hingga pagi menjelang


“Thank you Adrian….Thank you my


Husband…..” ucap lirih Meihwa ditelingaku malam itu sebelum terlelap dalam

__ADS_1


pelukanku


__ADS_2