
Siang itu aku dan Handoko sedang
berada di pusat perbelanjaan sebuah mall di bilangan Jakarta Selatan, aku
berniat mencari beberapa baju dan kemeja untuk kubawa besok ke Belitung, dan
beberapa baju kubelikan untuk Handoko yang juga akan berangkat terlebih dulu ke
Kalimantan mengawasi proses pengiriman material proyek klien perusahaanku.
“Adrian ….?” Tiba tiba suara
wanita terdengar menghampiriku, saat itu aku dan Handoko tengah memilih
beberapa kaos laki laki untuk kami berdua.
“Li…Ly?” Ucapku setengah kaget
melihat kehadiran Lily disitu
“Nazwa…Dharmawan mana?” Lanjutku
lagi setelah menguasai keterkejutanku
“Dharmawan sedang keluar kota
untuk beberapa urusan…Nazwa sedang di tempat bermain anak dengan papa dan
mama….” Ujar Lily menatapku lekat lekat, membuatku grogi.
“Bos…saya pulang duluan ya? Besok
pagi kita ketemu di kantor dulu kan bos? “ ucap Handoko disela pembicaraan aku
dan Lily
“Oh Ok…Ko….gpp kamu pulang
sendiri ?” ucapku sambil memberikan kantong berisi baju buatnya
“It’s Ok bos….” Ujar Handoko ,lalu
berlalu dari hadapanku dan Lily
“Adrian….kamu apa kabar? Aku
turut berduka soal Ita…aku dengar dari Bernard….” Ucap Lily lirih
“Thanks Ly….maaf aku tidak
memberitahumu…aku ga mau kamu mendapat masalah dengan Dharmawan..” Ujarku
“Iya…aku mengerti alasanmu
Adrian….” Imbuh Lily
“Dan kamu…? Gimana kabar kamu?
Semua baik baik saja kan?” Sambil menuju ke sebuah café diikuti Lily
disampingku
“Dharmawan tidak berubah ….tapi
aku berusaha bertahan untuk Nazwa dan Robbi….biarlah…untunglah belakangan ini
Dharmawan sering keluar kota untuk urusan bisnisnya…jadi ga sesering dulu
sakiti aku…” Jelas Lily
“Mudah mudahan suatu hari dia
berubah ya Ly? Sehingga kamu bisa jalani hidup dengan bahagia dengan anak anak
tanpa merasa ketakutan…” aku mengajak Lily duduk di meja café yang kosong.
“Iya mudah mudahan….dan kamu
Adrian..? apa sudah ada calon pendamping hidupmu lagi?” Ucap Lily seraya
kembali tatapku lekat lekat.
Aku hanya terdiam, aku tak ingin
menceritakan perihalku dengan Meihwa….
“Aku masih sendiri….tapi pasti
nanti suatu hari pasti akan kutemukan pendampingku Ly…” ucapku berbohong
“Aku ga bisa lupakan kamu
Adrian….aku bisa bertahan bersama Dharmawan…karena saat bersamanya aku
bermajinasi dan bayangkan kalau aku sedang dengan kamu….” Balas Lily sambil
menggigit bibirnya
“Ah Lily….kamu wanita
ayu…cantik….lembut….laki laki manapun pasti ingin bersamamu…” batinku
“Om Adriaaaaaaaan…..Nazwa
kangeeeeeeen deh sama om…” tiba tiba Nazwa berlari memelukku , papa mama Lily
mengikuti dibelakangnya
“Om juga kangen…” Ucapku sambil
mengelus rambut anak itu
“Om..Tante…silahkan duduk…mau
pesan apa ? “ Ucapku lagi kepada papa mama Lily sambil menarik dua bangku
kosong disamping tempat duduk aku dan Lily.
“Terima kasih….apa aja …eh kamu
Adrian kan? Yang dulu bekerja dengan Hendri? Kata Lily kamu sekarang sudah jadi
pengusaha juga ya? Hebat…” Ujar papa Lily sambil tersenyum ramah padaku
“Ah…Cuma usaha kecil om….masih
kelas warung…” Jawabku merendah
“Semua mulai dari kecil …Hendri
juag dulu kan mulai usaha nya dari kecil sampai karyawan nya jadi banyak dan
punya pabrik….” Ucap Mama Lily ikut dalam obrolan.
Aku, Lily dan kedua orang tuanya
ngobrol segala hal, cukup seru dan asik hingga tak terasa waktu sudah semakin
sore.
“Nazwa….om pulang dulu ya? Nanti
kita ketemu lagi ya? “ Ucapku lembut pada Nazwa sambil mengelus gemas pipinya.
“Iya om….janji ya? Bercanda dan
bermain sama om Adrian itu asik dan ga membosankan, ga seperti papi
dirumah….Nazwa lebih banyak main sendiri….” Ujar Nazwa polos, aku melirik ke
arah Lily
“Iya….om janji….Ly….om…tante…saya
pamit duluan ya?” ucapku sambil memberi salam kepada Lily dan papa mamanya
Aku tiba di Bandara H.A.S
Hanandjoeddin Belitung sekitar jam 11 .00 WIB, ini pertama kali aku ke
Belitung, di pintu keluar ku lihat Meihwa melambaikan tangannya, dengan blouse
tanpa lengan dan celana jeans serta kaca mata hitam, Meihwa terlihat lebih muda
dari usianya. Kami berdua langsung menuju area parkir.
“Aku sudah pesan kamar hotel
untukmu selama kamu disini Adrian….aku tahu kamu ga akan nyaman dirumahku jika
__ADS_1
ada anak anak atau sanak family ku datang ke rumah…” Ucap Meihwa sambil membuka
pintu mobil.
“Ga aku aja yang nyetir Mei? Aku
ga biasa di setirin wanita….” Ujarku sambil tersenyum
“Oke…tapi pelan pelan ya?
Hotelnya ga jauh dari sini….dan kamu belum pernah ke Belitung kan?” balas
Meihwa tertawa
Lumayan grogi juga, karena mobil
sedan Meihwa ini termasuk kelas sedan mewah dan automatic transmision ,agak
menyesal juga aku menawarkan diri untuk menyetir kalo sampai nyerempet,
repot nih urusan …batinku
Tapi syukurah aku cepat
beradaptasi dan hanya dalam 20 menit kami sudah tiba di Hotel yang sudah di
booking Meihwa.
Meihwa memintaku untuk berhenti
saja di depan lobby hotel dan biarkan petugas hotel yang memarkirkan mobilnya.
Ku ikuti langkah Meihwa sambil menarik travel bag ku, ku lihat hampir semua
pegawai hotel mengenal sosok Meihwa, mungkin karena Belitung bukan daerah luas
dan mungkin karena Meihwa sering menginap di hotel ini ,pikirku. Dari mulai
pegawai receptionist sampai roomboy yang mengantarku memberi hormat kepadanya.
Meihwa hanya tersenyum ramah dan sesekali melirikku.
Aku berdecak kagum saat memasuki
kamar yang di pesan Meihwa, aku rasa ini adalah type suite room dan yang paling
mewah di hotel ini, ruangannya sangat luas, perabotannya lengkap dan hampir
serasa seperti berada di dalam rumah yang mewah.
“Mei….ini terlalu mewah….kamu
berlebihan memesan kamar ini…” ucapku setelah roomboy meninggalkan kamar hotel.
“Gpp lah sekali-kali….kan kamu ga
setiap hari atau setiap minggu ke sini…” Ujar Meihwa seraya tertawa
“Ok….lalu masalah permintaanmu
untuk nikah itu? Gimana?” aku menyandarkan tubuhku di sofa yang sangat empuk
“Aku sudah atur….besok beberapa
orang pemuka agama dan saksi akan datang kesini….” Ujar Meihwa santai sambil
menyulut rokoknya.
“Baik Mei….aku mandi dulu ya?”
disambut dengan anggukan kepala oleh Meihwa.
Dari kamar mandi ku dengar Meihwa
berbicara di telpon , sekilas kudengar soal bisnisnya, lalu ku dengar dia
berbicara dibalik pintu “Adrian….aku ke kantor dulu…besok pagi aku sudah ada
disini….kalau kamu merasa bosan…minta saja salah satu karyawan hotel menemanimu
berkeliling dengan mobil hotel ya?”
“Oke Mei…..” sahutku sambil
mengguyur tubuhku di bawah pancuran air shower yang hangat.
Tak terasa aku sudah tertidur
19.00 WIB, lama juga aku tertidur….aku meraih telponku dan video call dengan
anak anakku Clara dan Calista selama 10 menit.
Perutku terasa lapar, kuputuskan
untuk turun ke resto hotel, saat aku keluar dari lift seorang staff wanita
hotel menghampiriku “ Pak Adrian mau makan malam? Silahkan pak ikuti saya….”
Aku sedikit bingung, biasanya disaat aku travling ke daerah atau hotel manapun,
semua biasa aku lakukan sendiri dan baru kali ini ada staff hotel yang
menawariku bahkan menemaniku hingga ke resto. Sangat bagus pelayanan di hotel
ini, pikirku.
“Terima kasih
Mbak…mmm….Sylvia…sudah temani saya makan malam…”Kulihat nametag di baju wanita
staff hotel ini “Sylvia”…..
“Dengan senang hati pak…..tadinya
Bu Mei pesan temani bapak kalo bosan untuk berkeliling sekitar Belitung sini,
pantai disini bagus-bagus…Cuma ternyata bapak tertidur cukup lama,, kalau malam
kurang puas melihat keindahan pantainya pak…” Ujar Sylvia yang ku duga berumur
sekitar 30-an.
“Oh iya Mbak Sylvi…mungkin akibat
lelah dalam perjalanan sejak pagi dari Jakarta…jadi capek dan lumayan tertidur
lama…” aku selesai dengan makan malamku dan nikmati capucino panas ditemani
rokokku.
“Mbak Sylvi asli dari Belitung
sini ?” tanyaku melanjutkan obrolan
“Ngga pak…saya juga
perantau….saya asli dari Surabaya Jawa Timur….saya hanya bekerja disini, suami
dan anak saya ikut kesini….” Jelas wanita itu
“Kalo penduduk asli sini rata
rata keturunan Tionghoa pak….seperti bu Mei….” Lanjut wanita bernama Sylvi itu
“OH iya ya? Kamu kan sama ya?
Kayak saya?” ucapku disambut tawa kami berdua
“Bapak beruntung bu mei pilih
bapak dan kami juga senang yang dipilih bapak….ramah dan ga sombong…” ujar
Sylvi lagi
“Beruntung..? dipilih..? dan Mbak
Sylvi serta para pegawai disini sangat kenal Bu Meihwa ya?” ucapku dengan
sedikit rasa bingung
Sylvi tertawa kecil mendengar
ucapanku “Pasti Bu Mei ga cerita ke Bapak ya? Pak….Bu Mei itu pemilik Hotel
ini…..dan kami semua bekerja padanya…”
Hampir saja Capucino yang sedang
aku teguk tumpah karena rasa terkejutku, Sylvia tambah tertawa melihatnya
__ADS_1
“Dua tahun terakhir ini memang Bu
Mei kadang membawa laki laki yang dekat dengannya, kebanyakan ya sudah pasti
mereka keturunan tionghoa juga…Cuma ya begitu lah pak…mereka angkuh…sombong dan
meremehkan orang lain…tapi syukurlah mereka tidak jadi dipilih oleh Bu Mei….mudah
mudahan pak Adrian juga ga seperti mereka setelah tahu siapa bu Mei ya pak?”
Aku hanya tersenyum…”Saya kenal
bu Meihwa lama Mbak….hampir kurang lebih 3 tahun, walau karena jarak, kami
hanya berkomunikasi via telpon….dia sudah ceritakan perjalanan hidupnya walau
tidak keseluruhan mengenai usahanya…Meihwa baik…dia tidak suka pamer dan dia
juga wanita pintar dalam bisnis juga dalam menilai karakter seseorang….”
“Iya pak…kami ikut bekerja dengan
Bu Mei cukup lama…..kami juga tahu sejak suaminya meninggalkannya dan menikah
dengan wanita muda…Bu Mei juga sering dibohongi para laki laki yang mau
manfaatkan dia saja….kasihan bu Mei pak….” Balas Sylvi
Kulihat jam di tanganku…”Sudah
hampir jam sepuluh malam Mbak…saya kembali ke kamar ya? Besok pagi pagi katanya
Meihwa mau datang kesini…” Ucapku sambil berdiri dari kursi
“Baik Pak…semoga besok
pagi…acaranya berjalan lancar ya?” ujar wanita itu sambil tersenyum
Mukaku sempat memerah karena
malu, karena ternyata para pegawai Meihwa di hotel tahu soal rencana pernikahan
siri kami besok di sini.
Pagi itu aku sudah mandi dan
bersiap menantu kedatangan Meihwa, kupakai kemeja yang ku beli dijakarta, ku
dengar pintu kamar diketuk…”Adrian…..ini aku Mei…kamu sudah bangun?”
Aku bergegas membuka pintu kamar
dan…Oh Tuhan….Meihwa berdiri dengan gaun berwarna merah dengan hiasan hiasan
bermotif kembang….rambutnya di sanggul kecil….wajahnya terlihat cantik dan
tubuhnya yang tinggi besar begitu sexy dan pas dengan gaun yang
dikenakannya…aku sempat tertegun sesaat…
“Hei…malah bengong…..bukannya
disuruh masuk…” ucap Meihwa mengejutkanku , dia tertawa melihat ekspresi
wajahku
“Ka…mu cantik Mei…..” kata kata
itu tiba tiba saja meluncur dari mulutku
Meihwa hanya tertawa kecil….”
Iyalah harus cantik…kalo jelek nanti kamu batalin nikahnya…”
Setengah jam kemudian ditemani
beberapa staff hotel, pemuka agama setempat dan juga dua orang rekannya datang,
para staff hotel menggeser kursi dan meja ruang tamu kamar untuk kami, kami
duduk diatas karpet lembut hotel.
Sungguh aneh….aku tidak merasa
canggung….kikuk…ataupun grogi….walaupun seumur hidupku baru kali ini aku alami
pernikahan secara siri setelah bertahun tahun lalu aku melangsungkan pernikahan
dengan Ita di Kantor urusan Agama. Mungkin sudah takdriku…aku tidak pernah
mengalami acara resepsi pernikahan seperti kebanyakan orang, duduk dipelaminan
dan mendapat ucapan dari banyak orang, semua harus kujalani dengan cara diam
diam.
Akhirnya semuapun berjalan lancar
dan selesai, dihadapan pemuka agama dan para saksi yang hadir, kini aku dan
Meihwa adalah sepesang suami istri, dan Meihwa juga sebelum melangsungkan
pernikahan bersedia menjadi mualaf mengikuti keyakinan yang ku punya.
Kini hanya tinggal aku dan
Meihwa….kami berdiri di balkon hotel dan memandang laut dan pantai Belitung
yang indah.
“Sekarang aku istrimu….jadi boleh
dong aku peluk kamu ya?” ucap Meihwa sambil menatapku dan tertawa kecil
Aku hanya tersenyum, kupeluk
pinggangnya dan kurapatkan ke tubuhku…Meihwa menyandarkan kepalanya didadaku.
“Aku tahu ini tidak seperti
kehidupan normal orang orang….tapi aku ingin jadi bagian dari hidupmu walau
hanya kita berdua yang tahu…..” bisik Meihwa ditelingaku
“Aku ga biasa berjanji manis dan
muluk-muluk Mei….kamu kenalku sejak lama walau hanya lewat telpon, tapi semua
yang ku ceritakan sama kamu apa adanya….aku akan berusaha semampuku….aku tidak
pernah bermaksud manfaatkanmu walau aku tahu kamu bisa dan sudah membantuku…”
balasku sambil menatap lembut mata Meihwa.
“Aku tahu itu Adrian….itu kenapa
aku pilih kamu…karena kamu berbeda…..kalau kamu memang seperti laki laki
kebanyakan, pasti saat setelah kamu kenalku di Batam dulu, kamu pasti akan
intens hubungiku dan mengejarku….”
Kubelai lembut rambut wanita
ini….tak pernah terbesit dalam bayanganku sebelumnya kalau wanita keturunan
Tionghoa didepanku ini sekarang menjadi istri siriku…..Meihwa memejamkan
matanya menikmati hembusan angin laut yang berhembus di balkon hotel dan juga
belaian tanganku, ku beranikan untuk mencium bibir tipis milik Mei….Meihwa
membalas seraya semakin erat memelukku
Malam itu aku dan Mei luapkan
dahaga kesepian yang lama kami simpan, setiap detik kami balut dengan sentuhan
sentuhan kasih tanpa banyak bicara…tanpa banyak kiasan ….tanpa rayuan rayuan dua
orang yang dimabuk asmara
Tak ingin kami lepaskan
pelukan….merasa enggan lepaskan waktu yang berjalan…..hingga pagi menjelang
“Thank you Adrian….Thank you my
Husband…..” ucap lirih Meihwa ditelingaku malam itu sebelum terlelap dalam
__ADS_1
pelukanku