
Cukup lama Reyni tertidur
dipangkuanku, tak sadar akupun ikut tertidur disandaran sofa yang empuk, aku
terbangun saat kurasakan ciuman lembut di pipiku…
“ Sudah bangun Rey…? Wah aku
ketiduran juga rupanya…..jam berapa sekarang?” ucapku sambil melihat jam tanganku.
Jam 17.20 WIB, lama juga kami tertidur .
Reyni bangkit dari pangkuanku,
lalu melangkah ke kamar untuk melihat putri bungsunya, yang ternyata masih saja
tertidur pulas. Mungkin anak itu tidak terbiasa menempuh perjalanan jauh dengan
mobil.
“Aku pulang ya Rey…?” ujarku
sambil meneguk minuman yang tersisa di atas meja. Reyni menghampiriku dan
berdiri didepanku, tiba tiba Reyni memeluk erat tubuhku yang masih bersandari
di sofa, “ andai saja bisa…aku ga ingin kamu pulang Adrian….” Ucap Rey seraya
menatapku lekat-lekat.
“ Kamu tuh ya?....selalu to the
point….” balasku sambil tersenyum dan mencubit pinggangnya.
“Iya dong….gini hari kebanyakan
kiasan atau basa basi..kelamaan tauuuu…” balas Reyni sambil tertawa
“Dasar kamu…….” Aku ikut tertawa
“Maafkan aku Adrian…pernah begitu
terobsesi dan penasaran, sampai aku ikuti kamu waktu itu, aku pikir kamu sama
saja dengan kebanyakan laki laki yang ku kenal, tapi kamu apa adanya…tidak
berniat memanfaatkan wanita…apalagi melihat materi atau uangnya….juga berniat menyakiti
hatinya…” ujar Reyni dengan wajah serius dan tatapan matanya yang membuatku
terpaku …tak berkutik dan terdiam.
Aku hanya tersenyum, sambil
mengusap kepala Reyni…., Reyni memeluk pinggangku sampai aku sampai di pintu
rumahnya.
“Nanti kalau sudah dapat kabar
dari kaka, kapan kita harus kerumah pacarnya…kasih tahu aku…” ucapku sambil
melangkah keluar rumahnya.
“Baik ayah….” Sahut Reyni…
Aku tertegun mendengarnya dan
kubalikan tubuhku…”Kamu manggil apa tadi Rey..?” tanyaku
“Ayah…..” Sahut Rey sambil menjulurkan
lidahnya meledekku, aku tertawa melihat tingkahnya
“Kamu tuh ya….ya sudah ibu….ayah
pulang ya?” balasku gantian meledek Reyni sambil ikut ikutan menjulurkan
lidahku dan mengedipkan mataku. Kami berdua tertawa, tak lama aku pun melaju
pulang seiring temaramnya senja.
Aku merasa sepi tanpa kehadiran
Ita , Clara dan Calista dirumah malam itu, mereka pergi bersama keluarga
besarnya ke kampung keluarga mereka di Banten, rencananya mereka disana sampai
hari minggu dan aku akan datang menjemput nya di hari sabtu jika tidak merasa
__ADS_1
terlalu lelah setelah seminggu bekerja.
“ADRIAN…MAAF GANGGU KAMU…INI KAKA
PERUTNYA SAKIT BANGET KATANYA…ADA SEDIKIT DARAH KELUAR DARI KEMALUANNYA…AKU
TAKUT…” Pesan Whatsapp Reyni ku baca di telpon genggamku
Aku tidak membalas pesannya dan
memutuskan untuk langsung menelponnya
“Hallo? Ga apa kamu nelpon? Nanti
jadi masalah buatmu …” ucap Reyni diseberang sana
“Gpp….Ita dan anak anak sedang ke
kampung bersama keluarga besarnya….kamu sudah bawa kaka ke dokter…?” ujarku
“Tadi sudah aku bawa ke klinik
terdekat, tapi Dokter spesialisnya sudah pulang, karena sudah terlalu malam”
Balas Reyni
“Ya sudah…tunggu aku…kita ke
rumah sakit terdekat aja , disana pasti ada dokter jaga 24 jam” ujarku lagi
Aku tiba di rumah Reyni sekitar
pukul 23.00, Reyni sudah duduk diteras sambil memangku putrinya yang bungsu
sedangkan Lisa putri pertamanya duduk sambil memegangi perutnya.
“Yuk…kita berangkat sekarang…”
Reyni duduk dijok sebelahku dan Lisa duduk di jok belakang, kulihat wajah nya
meringis menahan sakit
“Ka…kalo perutmu sakit, kamu coba
tiduran saja, ganjal kepalamu dengan bantal kecil itu….sabar ya? Sebetar kita
Syukurlah setelah diperiksa tidak
ada hal serius pada kandungan Lisa, perutnya sakit karena Lisa terlalu lelah
dan banyak aktivitas. Dokter memberinya vitamin dan obat pereda rasa sakit dan
pil agar membuatnya bisa tidur nyenyak dan cukup istirahat
Kami kembali kerumah Rey hampir
jam 01.00 pagi, Lisa langsung masuk ke kamar tidurnya karena sudah tak dapat lagi
menahan kantuknya…Rey menggendong Meysa putri bungsunya untuk tidur di kasur
sebelah Lisa.
“Sudah malam..bahkan sudah dini
hari….kamu ga usah pulang ya?....besok kamu kerja dari sini aja…” ucap rey
sambil sesekali menguap karena kantuknya.
“Baiklah….aku pinjam bantalmu ya?
Biar aku tidur di sofa…” balasku
Aku berusaha memejamkan mataku,
namun suara dengung nyamuk mengganggu tidurku walau aku sudah coba tutup seluruh wajahku dengan selimut.
Namun rasa kantukku lambat laun
menyerangku, sehingga aku sudah tak perduli lagi dengan suara nyamuk yang
berseliweran disekitarku.
Sekitas jam 3.00 pagi, aku merasa
ada sesuatu yang lembut menyentuh pipi dan bibirku…ku buka perlahan mataku yang
sangat beras karena rasa kantuk yang belum hilang dan baru sekejap aku tertidur
pulas.
__ADS_1
“Rey….??” Ucapku setengah
berbisik
“Disini banyak nyamuk dan dingin
…angin malam masuk dari sela sela lubang angina, ga baik buat
kesehtanmu….pindah ke kamar ya?” ucap Reyni lembut sambil menarik pelan
tanganku, aku yang setengah sadar karena sedang lelap tertidur hanya mengikuti
langkahnya sambil mataku sesekali terpejam.
Ahhh…nikmat sekali saat
kurebahkan tubuhku dikasur empuk milik Reyni, lelahku serasa terbang entah
kemana….Reyni memakaikan selimut ditubuhku, agar tidak terlalu kedinginan karena
AC di kamarnya.
Sesaat aku berpikir “ Aku ga
seharusnya tidur disini…..” namun rasa lelah dan kantukku mengalahkan akal
sehatku, lima menit kemudian aku tertidur dan pergi ke alam mimpi
Aku terjaga saat terdengar sayup
sayup Adzan subuh dikejauhan, kurasakan dua tangan lembut memeluk tubuhku,
pantas saja tubuhku terasa sedikit hangat dan tidak terlalu merasakan dingin AC
kamar, suara nafas lembut Reyni jelas terdengar di telingaku. Kubalikkan
tubuhku menghadap Reyni yang masih tertidur pulas. Ku tatap wajah cantiknya,
wanita berkarakter keras, tegas dan blak blak an ini, terlihat lembut, dan
keibuan saat tertidur. Ingin aku segera beranjak dari tempat tidur dan
melepaskan pelukan Rey, tapi aku tak bergerak, malah aku membelai lembut
rambutnya sambil terus menatapnya….Damn!!…kenapa aku lakukan ini….ga boleh….ini
salah…berulangkali batinku katakan itu.
Tapi wajah cantik Reyni begitu
menghipnotis dan menggoda naluri kelaki lakianku….tiba tiba Reyni membuka
matanya….melihatku yang sedang membelai rambut dan menatapnya, dia tersenyum….
“Kamu sudah bangun…?” ucapnya
setengah berbisik
“Iya….habis ada yang meluk sih…”
balasku sambil tertawa kecil
“Gombal….kayak kamu tidur ga
pernah dipeluk aja…” ujar Reyni sambil mencubit pelan perutku
Lalu kami terdiam, mata kami
saling tatap dan selami relung hati kami masing-masing, Reyni memelukku kian
erat, akupun melakukan hal yang sama, ku rengkuh tubuh Reyni makin erat dibalik
selimut, semua terjadi begitu saja, suasana pagi yang hening dan dingin buat
kami berdua larut, lalu bagai boneka boneka atau wayang yang dikendalikan sang
dalang, kami saling bercumbu , hanya hati kami yang bicara…hanya naluri yang
kami ikuti.
Namun tiba tiba pintu kamar
diketuk dan terdengar suara Mesya putri bungsu Rey, “Ibuuuu….” Ucap anak itu dibalik
pintu.
“Mesya …Rey…” bisikku
ditelinganya, sambil melepaskan pelukanku.
__ADS_1