
Akupun memulai beradaptasi dengan
suasana dan pekerjaan yang baru, walau diperusahaan yang beberda, bidang yang
kugeluti tetap shipping/Export Import, hanya bedanya kalo dulu komoditinya
adalah pakaian/industry garmen kini berubah menjadi spare part ,mesin yang
berkaitan dengan pesawat terbang. Dan juga jika dulu pegawainya rata rata kaum
wanita, sekarang kebanyakan pria, aku suka tersenyum melihat para rekan kerja
beramai ramai menggoda wanita yang lewat, karena jarangnya dilingkungan kerja,
berbading terbalik dengan perusahaan tempat aku bekerja dulu.
“HAI…MASIH INGAT DENGAN MEIHWA?”
Pesan melalui whatsapp masuk di telpon genggamku
“HAI…MASIH INGAT DONG…APA KABAR
MEI? “ Balasku
Kami saling sapa dan bercerita
kejadian kejadian setelah kami bertemu di Batam diwaktu lalu, dan juga sekilas
jalan hidup masing-masing. Aku juga ceritakan mengenai perusahaanku yang lama
dan tempat ku yang baru sekarang, ternyata saat ke Batam itu adalah tugas
terakhir ku keluar kota diperusahaan lamaku. Memang dari awal kami kenal dan
mengobrol , sungguh enak berbicara dengan Meihwa, wanita yang ceplas ceplos dan
kita berdua bercerita apa saja, walaupun usianya terpaut sekitar 6-7 Tahun
diatasku.
Komunikasi aku dan Meihwa aku
hentikan saat ada telpon masuk di telpon genggamku.
“Adrian…maaf ganggu ya? Ini saya
Bu Lily….sabtu besok bisa bantu ibu pindahan ya? “ Ucap Bu Lily diseberang sana
“Oh beres bu….saya juga sudah
pesan 1 mobil truk kenalan saya dan tiga orang untuk membantu proses pindahan…”
balasku
‘Aduh…terima kasih ya Adrian…saya
bener bener ngerepotin kamu….” Ujar bu Lily
“Ga ngerepotin kok bu….ok nanti
sabtu pagi saya sudah disana ya bu?” ucapku lagi sambil menutup telponku
Sabtu pagi aku sudah berada di
rumah bu Lily, barang barang pun sudah hampir semua dimuat kedalam truk.
“Pak…nanti ikuti mobil saya aja
ya? “ ucapku pada supir dan ketiga rekannya yang membantu menaikan barang dan
menurunkannya nanti.
Kulihat Bu Lily terpaku berdiri
didepan pagar menatap rumah yang cukup lama ditempatinya, kuhampiri dan berdiri
disampingnya, reflek wanita itu
menggenggam jemariku, seolah ingin aku juga rasakan kegalauan dan kesedihan
hatinya. Aku ikut diam membisu dan oba ikut rasakan kepedihan hatinya harus
kehilangan rumah yang ditempatinya bersama pak Hendri dan anak anaknya.
“Ibu dan Nazwa di mobil saya ya?
Biar truk ikuti kita dari belakang….sabar ya bu? Nanti saat Pak Hendri bebas
nanti, pasti beliau akan berusaha keras agar bisa ada usaha dan rumah tempat
tinggal lagi…” ucapku membesarkan hatinya. Wanita cantik dan lembut ini menggangguk
__ADS_1
smabil mencoba menyeka air matanya yang sudah mengambang disudut matanya.
Nazwa duduk di kursi belakang
sambil memeluk boneka nya…”Asyik..kita jalan jalan dan pindah ke rumah baru ya
mi?” ucap anak kecil itu dengan polosnya. Bu Lily hanya terdiam seperti tidak
tahu harus berkata apa.
“Iya..Nazwa….Nazwa pindah kerumah
baru ….nanti Nazwa akan punya teman-teman baru” ucapku menjawab pertanyaan
polos anak kecil itu. Bu Lily melirik ke
arahku dengan tatapan sendu.
Akhirnya kami sampai diperumahan
cluster kecil, Bu Lily sudah membawar sewa rumah untuk 2 tahun dari uang
simpanannya di bank, Nazwa berlari riang ke sekeliling rumah , sementara aku
dan Bu Lily sibuk memberi instruksi kepada supir dan ketiga rekannya untuk
menaruh posisi barang . Menjelang Magrib, semua barang sudah turun dan tertata
dirumah kecil yang akan dihuni Bu Lily dan Nazwa, hanya tinggal kardus kardus
dan beberapa pernak pernik barang yang tergeletak , nanti akan dirapihkan
sendiri oleh Bu Lily. Selepas Isya, setelah istirahat dan minum kopi yang kami
sediakan, truk yang aku sewa beserta ketiga rekannya pun pamit untuk pulang.
Aku membantu Bu Lily membongkar
kardus kardus yang berisi pakaian serta benda benda kecil lainnya, dan membanu
Bu Lily menata dibeberapa sudut ruangan.
“Maaf ya Adrian…kamu jadi capek
…keluarga saya , eyang ,Robbi juga yang lainnya baru bisa kesini besok…” ucap
Bu Lily sambil memasukan pakaian ke lemari, di tempat tidur Nazwa sudah
“Udah bu…ibu ga usah terus terusan
merasa ga enak….saya sudah kenal ibu dan keluarga belasan tahun, jadi apa yang
saya lakukan ini wajar dan sudah seharusnya…” ujarku
Tak terasa hari semakin malam,
Kulihat pukul 22.00, aku sudah memberi kabar lewat whatsapp ke Ita kalo aku
masih membantu Bu Lily menurunkan dan menata barang barang, agar tidak khawatir
karena aku sudah keluar rumah sejak pagi.
“Rencana bu Lily untuk sehari
hari nanti apa bu..?” ucapku sambil beristirahat diruang tamu sambil menikmati
sisa kopi tadi sore dan menghisap rokokku.
“Dulu saya punya usaha catering
Adrian….paling saya akan buka catering kecil kecilan dan terima pesanan kantor
teman teman saya dulu..” Jawab Bu Lily sambil duduk disebelahku.
“Wah…bisnis bagus itu bu….”
Pujiku
Bu Lily tersenyum mendengar ucapanku,
sambil tiba tiba dia rebahkan kepalanya di dadaku.
“Terima kasih Adrian…kamu temani
saya disaat badai datang seperti ini…” ucap Bu Lily pelan, sambil kudengar isak pelan tangisnya
Aku sesaat kaget dan salah
tingkah dengan perlakuan bu Lily yang
tiba tiba seperti itu, tapi aku cepat menguasai keadaan dan maklum…Bu Lily seorang
__ADS_1
wanita yang usianya tak jauh dari usiaku, dan dalam kondisi yang rapuh karena
suaminya Pak Hendri harus mendekam didalam penjara untuk waktu yang cukup lama.
Aku membelai rambutnya yang
panjang sebahu, mencoba meredakan galau dihatinya dan memberi semangat agar
wanita ini dapat melanjutkan roda waktu hidupnya.
“Sabar ya bu….ga ada badai yang
terus menerus, cepat atau lambat…pasti berakhir dan berlalu…” ujarku
menenangkan hatinya
Wanita itu menatap sendu ke
arahku, sinar matanya seolah mencari pegangan ditengah kondisinya yang sedang
limbung. Ku tatap lembut wanita ayu dan cantik ini, ku seka bulir airmata
disudut matanya dengan ibu jariku. Hatiku terenyuh dan iba melihatnya.
“Walau saya sudah tinggal disini,
kamu tetap akan datang berkunjung kan Adrian…?” ucap Bu Lily lagi dengan sorot
mata khawatir. Takut setelah ini aku tidak lagi datang untuk melihat keadaanya.
“Bu…selama bapak ada di dalam,
disela kesibukan saya…saya pasti akan tetap sesekali datang kesini lihat
keadaan ibu dan juga Nazwa” sahutku sambil kembali membelai lembut rambutnya.
“Terima kasih Adrian…..” sahut bu
Lily seraya juga kembali menyusupkan kepalanya di dadaku dan memelukku erat,
seakan ingin lepaskan penat dan beban yang ada di hatinya.
“Tapi ibu jangan terlalu
lelah…..ingat untuk jaga kesehatan….jangan sampai sakit…kasihan Nazwa…” ucapku
setengah berbisik.
Bu Lily hanya menjawab dengan anggukan kepalanya di
dadaku.
Lalu Bu Lily kembali ke posisi duduknya dan menatapku
lagi..” Adrian….maafkan saya seperti ini…” ucapnya pelan
“Ga apa bu….saya tahu dan bisa
rasakan bagaimana kondisi dan hati ibu sekarang ini…” balasku lembut
“Oh ya Bu…sudah hampir jam
sebelas malam…saya pamit …ibu ga usah lanjutkan rapih rapihnya, besok
saja…sejarang ibu tidur saja dan beristirahat…” lanjutku lagi
“Iya Adrian….” Balas Bu Lily dengan suara lembut khas wanita jawa nya. Lalu
dia mengikuti langkahku ke pintu keluar. Ku balikkan tubuhku untuk kembali
berpamitan….Bu Lily sudah berdiri di hadapanku…
“Saya pulang sekarang ya bu?”
ucapku. Wanita itu hanya diam dan menatapku , lalu dia memeluk tubuhku dan
kembali bersandar didadaku
“Sesekali datang kesini ya
Adrian….?” Ujar Bu Lily setengah
berbisik..lalu kembali menatapku
“Iya bu….” Jawabku, entah
keberanian dan refleks begitu saja, aku kembali membelai rambutnya dan mencium
keningnya.
Wanita itu tersenyum manis….lalu
__ADS_1
berdiri di muka pintu rumahnya sampai aku berlalu dari hadapannya.