CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
BADAI PASTI BERLALU


__ADS_3

Akupun memulai beradaptasi dengan


suasana dan pekerjaan yang baru, walau diperusahaan yang beberda, bidang yang


kugeluti tetap shipping/Export Import, hanya bedanya kalo dulu komoditinya


adalah pakaian/industry garmen kini berubah menjadi spare part ,mesin yang


berkaitan dengan pesawat terbang. Dan juga jika dulu pegawainya rata rata kaum


wanita, sekarang kebanyakan pria, aku suka tersenyum melihat para rekan kerja


beramai ramai menggoda wanita yang lewat, karena jarangnya dilingkungan kerja,


berbading terbalik dengan perusahaan tempat aku bekerja dulu.


“HAI…MASIH INGAT DENGAN MEIHWA?”


Pesan melalui whatsapp masuk di telpon genggamku


“HAI…MASIH INGAT DONG…APA KABAR


MEI? “ Balasku


Kami saling sapa dan bercerita


kejadian kejadian setelah kami bertemu di Batam diwaktu lalu, dan juga sekilas


jalan hidup masing-masing. Aku juga ceritakan mengenai perusahaanku yang lama


dan tempat ku yang baru sekarang, ternyata saat ke Batam itu adalah tugas


terakhir ku keluar kota diperusahaan lamaku. Memang dari awal kami kenal dan


mengobrol , sungguh enak berbicara dengan Meihwa, wanita yang ceplas ceplos dan


kita berdua bercerita apa saja, walaupun usianya terpaut sekitar 6-7 Tahun


diatasku.


Komunikasi aku dan Meihwa aku


hentikan saat ada telpon masuk di telpon genggamku.


“Adrian…maaf ganggu ya? Ini saya


Bu Lily….sabtu besok bisa bantu ibu pindahan ya? “ Ucap Bu Lily diseberang sana


“Oh beres bu….saya juga sudah


pesan 1 mobil truk kenalan saya dan tiga orang untuk membantu proses pindahan…”


balasku


‘Aduh…terima kasih ya Adrian…saya


bener bener ngerepotin kamu….” Ujar bu Lily


“Ga ngerepotin kok bu….ok nanti


sabtu pagi saya sudah disana ya bu?” ucapku lagi sambil menutup telponku


Sabtu pagi aku sudah berada di


rumah bu Lily, barang barang pun sudah hampir semua dimuat kedalam truk.


“Pak…nanti ikuti mobil saya aja


ya? “ ucapku pada supir dan ketiga rekannya yang membantu menaikan barang dan


menurunkannya nanti.


Kulihat Bu Lily terpaku berdiri


didepan pagar menatap rumah yang cukup lama ditempatinya, kuhampiri dan berdiri


disampingnya, reflek  wanita itu


menggenggam jemariku, seolah ingin aku juga rasakan kegalauan dan kesedihan


hatinya. Aku ikut diam membisu dan oba ikut rasakan kepedihan hatinya harus


kehilangan rumah yang ditempatinya bersama pak Hendri  dan anak anaknya.


“Ibu dan Nazwa di mobil saya ya?


Biar truk ikuti kita dari belakang….sabar ya bu? Nanti saat Pak Hendri bebas


nanti, pasti beliau akan berusaha keras agar bisa ada usaha dan rumah tempat


tinggal lagi…” ucapku membesarkan hatinya. Wanita cantik dan lembut ini menggangguk

__ADS_1


smabil mencoba menyeka air matanya yang sudah mengambang disudut matanya.


Nazwa duduk di kursi belakang


sambil memeluk boneka nya…”Asyik..kita jalan jalan dan pindah ke rumah baru ya


mi?” ucap anak kecil itu dengan polosnya. Bu Lily hanya terdiam seperti tidak


tahu harus berkata apa.


“Iya..Nazwa….Nazwa pindah kerumah


baru ….nanti Nazwa akan punya teman-teman baru” ucapku menjawab pertanyaan


polos anak kecil itu. Bu Lily  melirik ke


arahku dengan tatapan sendu.


Akhirnya kami sampai diperumahan


cluster kecil, Bu Lily sudah membawar sewa rumah untuk 2 tahun dari uang


simpanannya di bank, Nazwa berlari riang ke sekeliling rumah , sementara aku


dan Bu Lily sibuk memberi instruksi kepada supir dan ketiga rekannya untuk


menaruh posisi barang . Menjelang Magrib, semua barang sudah turun dan tertata


dirumah kecil yang akan dihuni Bu Lily dan Nazwa, hanya tinggal kardus kardus


dan beberapa pernak pernik barang yang tergeletak , nanti akan dirapihkan


sendiri oleh Bu Lily. Selepas Isya, setelah istirahat dan minum kopi yang kami


sediakan, truk yang aku sewa beserta ketiga rekannya pun pamit untuk pulang.


Aku membantu Bu Lily membongkar


kardus kardus yang berisi pakaian serta benda benda kecil lainnya, dan membanu


Bu Lily menata dibeberapa sudut ruangan.


“Maaf ya Adrian…kamu jadi capek


…keluarga saya , eyang ,Robbi juga yang lainnya baru bisa kesini besok…” ucap


Bu Lily sambil memasukan pakaian ke lemari, di tempat tidur Nazwa sudah


“Udah bu…ibu ga usah terus terusan


merasa ga enak….saya sudah kenal ibu dan keluarga belasan tahun, jadi apa yang


saya lakukan ini wajar dan sudah seharusnya…” ujarku


Tak terasa hari semakin malam,


Kulihat pukul 22.00, aku sudah memberi kabar lewat whatsapp ke Ita kalo aku


masih membantu Bu Lily menurunkan dan menata barang barang, agar tidak khawatir


karena aku sudah keluar rumah sejak pagi.


“Rencana bu Lily untuk sehari


hari nanti apa bu..?” ucapku sambil beristirahat diruang tamu sambil menikmati


sisa kopi tadi sore dan menghisap rokokku.


“Dulu saya punya usaha catering


Adrian….paling saya akan buka catering kecil kecilan dan terima pesanan kantor


teman teman saya dulu..” Jawab Bu Lily sambil duduk disebelahku.


“Wah…bisnis bagus itu bu….”


Pujiku


Bu Lily tersenyum mendengar ucapanku,


sambil tiba tiba dia rebahkan kepalanya di dadaku.


“Terima kasih Adrian…kamu temani


saya disaat badai datang seperti ini…” ucap Bu Lily  pelan, sambil kudengar isak pelan tangisnya


Aku sesaat kaget dan salah


tingkah dengan perlakuan bu Lily  yang


tiba tiba seperti itu, tapi aku cepat menguasai keadaan dan maklum…Bu Lily seorang

__ADS_1


wanita yang usianya tak jauh dari usiaku, dan dalam kondisi yang rapuh karena


suaminya Pak Hendri harus mendekam didalam penjara untuk waktu yang cukup lama.


Aku membelai rambutnya yang


panjang sebahu, mencoba meredakan galau dihatinya dan memberi semangat agar


wanita ini dapat melanjutkan roda waktu hidupnya.


“Sabar ya bu….ga ada badai yang


terus menerus, cepat atau lambat…pasti berakhir dan berlalu…” ujarku


menenangkan hatinya


Wanita itu menatap sendu ke


arahku, sinar matanya seolah mencari pegangan ditengah kondisinya yang sedang


limbung. Ku tatap lembut wanita ayu dan cantik ini, ku seka bulir airmata


disudut matanya dengan ibu jariku. Hatiku terenyuh dan iba melihatnya.


“Walau saya sudah tinggal disini,


kamu tetap akan datang berkunjung kan Adrian…?” ucap Bu Lily lagi dengan sorot


mata khawatir. Takut setelah ini aku tidak lagi datang untuk melihat keadaanya.


“Bu…selama bapak ada di dalam,


disela kesibukan saya…saya pasti akan tetap sesekali datang kesini lihat


keadaan ibu dan juga Nazwa” sahutku sambil kembali membelai lembut rambutnya.


“Terima kasih Adrian…..” sahut bu


Lily seraya juga kembali menyusupkan kepalanya di dadaku dan memelukku erat,


seakan ingin lepaskan penat dan beban yang ada di hatinya.


“Tapi ibu jangan terlalu


lelah…..ingat untuk jaga kesehatan….jangan sampai sakit…kasihan Nazwa…” ucapku


setengah berbisik.


Bu Lily  hanya menjawab dengan anggukan kepalanya di


dadaku.


Lalu Bu Lily  kembali ke posisi duduknya dan menatapku


lagi..” Adrian….maafkan saya seperti ini…” ucapnya pelan


“Ga apa bu….saya tahu dan bisa


rasakan bagaimana kondisi dan hati ibu sekarang ini…” balasku lembut


“Oh ya Bu…sudah hampir jam


sebelas malam…saya pamit …ibu ga usah lanjutkan rapih rapihnya, besok


saja…sejarang ibu tidur saja dan beristirahat…” lanjutku lagi


“Iya Adrian….” Balas Bu Lily  dengan suara lembut khas wanita jawa nya. Lalu


dia mengikuti langkahku ke pintu keluar. Ku balikkan tubuhku untuk kembali


berpamitan….Bu Lily sudah berdiri di hadapanku…


“Saya pulang sekarang ya bu?”


ucapku. Wanita itu hanya diam dan menatapku , lalu dia memeluk tubuhku dan


kembali bersandar didadaku


“Sesekali datang kesini ya


Adrian….?” Ujar Bu Lily  setengah


berbisik..lalu kembali menatapku


“Iya bu….” Jawabku, entah


keberanian dan refleks begitu saja, aku kembali membelai rambutnya dan mencium


keningnya.


Wanita itu tersenyum manis….lalu

__ADS_1


berdiri di muka pintu rumahnya sampai aku berlalu dari hadapannya.


__ADS_2