CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
RINDU


__ADS_3

“Tapi ….saya sudah menikah lagi


pak….” Akhirnya hanya kata kata itu meluncur dari mulutku


“Oh…tapi Reyni bilang…..mas belum


menikah sejak Istri mas meninggal..?”


“Reyni tidak tahu soal ini


pak…saya memang belum memberitahunya…..” Ujarku


“Jadi Mas Adrian sudah tidak


mencintai Reyni…?” Suatu pertanyaan aneh bagiku karena keluar dari mulut suami


Reyni


Aku terdiam….bingung harus


menjawab atau katakana apa….tapi laki laki di depanku ini sudah korbankan harga


dirinya sebagai laki laki dengan menceritakan kehidupan pribadi nya.


“Lumayan panjang ceritanya


pak…tapi karena Pak Herman sudah cerita apa adanya, artinya pak Herman sudah


percaya dengan saya….jujur saya memang mencintai Reyni pak….tapi saya dan Reyni


jga tahu kalau hal itu sudah tidak mungkin lagi disaat dia sudah memutuskan


menikah dan jalani hidup dengan Bapak….saat Istri saya meninggal dan usaha saya


nyaris bangkrut….saya tidak ceritakan ke Reyni….dan saat dia memutuskan


menikahi Bapak…saya anggap itu yang terbaik dengan Reyni, karena saat itu saya


merasa, saya adalah kapal yang hampir karam…seperti halnya bapak…saya juga ga mau


menyeret Reyni dalam kesusahan dan ikut tenggelam bersama saya…..saya punya


teman wanita…keturunan Tionghoa…kami tidak ada ikatan dan perasaan khusus di


awalnya…dia juga wanita bisnis seperti kita pak…dia tawarkan bantuan untuk


bangkitkan usaha saya, dengan persyaratan saya harus menikahinya…walau secara


siri….saat itu saya sedang perlu modal lumayan besar untuk tender pekerjaan


yang di dapat perusahaan saya…..saya tahu …saya salah…tapi saat itu saya tidak


punya pilihan…namun walau begitu ….saya juga harus hargai kebaikan wanita itu


dan berusaha berkomitmen dengan keputusan saya….walau masih ada Reyni di hati


saya….mungkin Reyni juga seperti itu saat memutuskan hidup dengan pak Herman…..”


Jelas ku panjang lebar


Laki laki paruh baya itu menghela


nafas panjang…” Ahhh andai saat itu Mas Adrian kontak saya atau Reyni…saya


pasti akan bantu mas Adrian…..”


“Saya tahu pak….tapi saat


terakhir Reyni dan Bapak datang ke kantor saya….saat itu saya putuskan untuk


tidak lagi mengusik kehidupan Reyni dan Pak Herman….”


“Kalau saya gantikan jumlah


bantuan uang yang diberikan wanita itu…mas Adrian mau tinggalkan dia dan


bahagiakan Reyni…?” Herman menatap dengan pandangan tajam dan penuh harap


Aku hanya terdiam….tak tahu harus


menjawab apa….


“Saya ga bisa jawab itu saat ini


pak…..untuk hal itu saya perlu waktu berpikir….tapi kalau boleh saya memberi


saran….bapak jangan menyerah dan tetap ikhtiar berobat pak…..” akhirnya


kuputuskan menjawab pertanyaan laki laki paruh baya tersebut

__ADS_1


“Baik mas…tapi saya mohon mas


Adrian pikirkan tawaran saya…dan saya ingin lihat Reyni bahagia dan tersenyum


kembali dalam hidupnya…..Reyni dan juga Mas Adrian…korbankan ego dan kata hati


kalian demi orang lain….dan percaya mas…itu bukan kebahagiaan …tapi hanya


keputusan….”


Aku pamit sekitar jam 20.00 WIB, dibenakku


berkecamuk segala  perasaan dan juga


semua perkataan Herman tadi.


Siang itu aku sedang memberi


instruksi pada Handoko dan beberapa staff operasional nya, untuk persiapan


mereka besok berangkat ke Makasar untuk monitor dan membantu rekanan kami di


daerah untumer k kelancaran pekerjaan proyek pengiriman klien perusahaanku.


Sesaat setelah akau selesai,


telponku bebunyi “Hendra….Tumben adikku telp…”


“Yup Bro….ada apa? Tumben


telpon?” tanyaku


“Sorry ganggu bro…..ini gw


kebetulan lagi mampir ke rumah mama dan Asty…jadi sekalian telpon…udah lama


kita ga ngobrol….” Ujar Hendra di seberang sana


 “Oh …its ok..ga terlalu


sibuk…..mmmm…gini…sebentar gw beresin sedikit pekerjaan….setelah itu gw


meluncur ke situ “


Kulihat di halaman depan rumah


tak mengenali kendaraan milik siapa, terdengar suara anak anak yang tengah


bermain, pasti suara milik putri Hendra dan Asty .


Aku tertegun beberapa saat di


muka pintu rumah sesaat setelah ku ucapkan salam, kulihat sesosok wanita yang


taka sing bagiku dan tersenyum padaku, RIRIN….


“Eh ada tamu….” Ucapku agak


kikuk, kulirik wajah Hendra yang cengar cengir dan sedikit tertawa melihat


tingkahku yang serba salah.


“Apa kabar kamu Adrian…?” sapa


Ririn lembut seraya menatap ke arahku, jantungku berdegup keras…sial…setelah


sekian lama, tatapan mata nya itu tetap saja bisa membuatku salah tingkah dan


membuat hatiku terenyuh.


“Ba…baik…..kamu apa kabar…”


balasku , aku berusaha menghilanglan rasa terkejut ku dan mencoba menguasai


keadaan dan usir kegugupanku


“Ka Adrian kayak habis liat hantu


aja…pucat dan gugup…” Tika istri Hendra meledekku sambil tertawa


Saat itu Asty dan Suami keduanya


pengganti Alm suami nya yang pertama Hilman, belum pulang dari aktivitasnya di


kantor…dan seolah memberi aku dan Ririn berbicara lebih leluasa, Hendra dan


istri mengajak mama dan anak anaknya serta anak Asty keluar sebentar dengan


alasan mau mengajak mereka membeli makanan dan ke toko mainan.

__ADS_1


“Aku turut berduka soal Ita….maaf


aku tidak tahu dan tidak datang melayat…tidak ada yang kabari aku soal itu”


Ucap Ririn lirih


“Iya…gpp…itu sudah terjadi


beberapa tahun yang lalu…oh ya ….anakmu sudah berapa ?” Ucapku sambil


kuberanikan menatap wajah Ririn.


“Dua….adam dan Syifa….” Jawab


Ririn sambil memainkan jemarinya


“Oh…sepasang ya? Aku sesekali


dengar soal kehidupanmu dari Hendra maupun Satria…aku senang kamu sudah bahagia


sekarang Rin….”


“Aamin…jika itu yang kamu dengar


tentangku…..tapi jika masih kamu simpan sedikit rasamu….hati kamu tahu seperti


apa hidup dan isi hatiku….” Ujar Ririn , tiba tiba Ririn sudah memeluk erat


tubuhku


“Aku rindu kamu Adrian…..sangat


rindu…aku mohon jangan lepaskan pelukanku….” Bisik Ririn ditelingaku


Sosok tubuh yang sekian tahun


lamanya menghilang……wangi aroma tubuh yang dulu akrab dalam pelukanku….sepasang


mata teduh yang dulu senantiasa isi hari hariku, kini ada dihadapanku dan


kembali memelukku erat.


“Tapi kamu sekarang……” ucapanku


terhenti


“Ya…aku tahu…sekarang aku wanita


bersuami dan telah menjadi milik orang lain…..tapi hatiku tetap milik kamu


Adrian…..” Ririn semakin erat memelukku


Aku tak bisa melanjutkan


ucapanku, aku tak seharusnya seperti ini, Ririn sudah menjadi milik orang lain


dan juga aku sudah mengikat komitmen dengan Meihwa, tapi yang kulakukan malah


membalas pelukannya dan membelai lembut rambutnya.


“ Aku simpan rasa bersalahku


padamu bertahun tahun dalam hatiku dan hari hari yang kujalani dalam


kehidupanku Adrian….hampir setiap hari aku berkhayal, tak sengaja bisa bertemu


kamu dan memelukmu seperti ini….maafkan aku Adrian….maafkan aku…..”


“Sudah Rin…..aku sudah maafkankan


kamu sejak lama….” Ku pegang dagu Ririn dan menatap wajahnya lekat lekat.


Kami berdua bagai dua orang yang


memendam rindu dan terpisah oleh tembok yang sangat tebal dan tinggi, dan saat


tembok itu runtuh kami berlari dan saling lepaskan rasa yang kami pendam. Aku


tak sangka masih ada perasaan seperti ini terhadap Ririn,dibanding dengan Sisca


beberapa waktu lampau di batam, saat bertemu dengannya aku tidak seperti ini…


Ku cium lembut bibir Ririn….dia


tak menolak dan bahkan menyambut dengan sejuta rasa rindu yang dia punya…


Sesaat kami tenggelam dengan rasa


kami masing masing dan nikmati tiap detik waktu yang bergulir saat ini…

__ADS_1


__ADS_2