
“Tapi ….saya sudah menikah lagi
pak….” Akhirnya hanya kata kata itu meluncur dari mulutku
“Oh…tapi Reyni bilang…..mas belum
menikah sejak Istri mas meninggal..?”
“Reyni tidak tahu soal ini
pak…saya memang belum memberitahunya…..” Ujarku
“Jadi Mas Adrian sudah tidak
mencintai Reyni…?” Suatu pertanyaan aneh bagiku karena keluar dari mulut suami
Reyni
Aku terdiam….bingung harus
menjawab atau katakana apa….tapi laki laki di depanku ini sudah korbankan harga
dirinya sebagai laki laki dengan menceritakan kehidupan pribadi nya.
“Lumayan panjang ceritanya
pak…tapi karena Pak Herman sudah cerita apa adanya, artinya pak Herman sudah
percaya dengan saya….jujur saya memang mencintai Reyni pak….tapi saya dan Reyni
jga tahu kalau hal itu sudah tidak mungkin lagi disaat dia sudah memutuskan
menikah dan jalani hidup dengan Bapak….saat Istri saya meninggal dan usaha saya
nyaris bangkrut….saya tidak ceritakan ke Reyni….dan saat dia memutuskan
menikahi Bapak…saya anggap itu yang terbaik dengan Reyni, karena saat itu saya
merasa, saya adalah kapal yang hampir karam…seperti halnya bapak…saya juga ga mau
menyeret Reyni dalam kesusahan dan ikut tenggelam bersama saya…..saya punya
teman wanita…keturunan Tionghoa…kami tidak ada ikatan dan perasaan khusus di
awalnya…dia juga wanita bisnis seperti kita pak…dia tawarkan bantuan untuk
bangkitkan usaha saya, dengan persyaratan saya harus menikahinya…walau secara
siri….saat itu saya sedang perlu modal lumayan besar untuk tender pekerjaan
yang di dapat perusahaan saya…..saya tahu …saya salah…tapi saat itu saya tidak
punya pilihan…namun walau begitu ….saya juga harus hargai kebaikan wanita itu
dan berusaha berkomitmen dengan keputusan saya….walau masih ada Reyni di hati
saya….mungkin Reyni juga seperti itu saat memutuskan hidup dengan pak Herman…..”
Jelas ku panjang lebar
Laki laki paruh baya itu menghela
nafas panjang…” Ahhh andai saat itu Mas Adrian kontak saya atau Reyni…saya
pasti akan bantu mas Adrian…..”
“Saya tahu pak….tapi saat
terakhir Reyni dan Bapak datang ke kantor saya….saat itu saya putuskan untuk
tidak lagi mengusik kehidupan Reyni dan Pak Herman….”
“Kalau saya gantikan jumlah
bantuan uang yang diberikan wanita itu…mas Adrian mau tinggalkan dia dan
bahagiakan Reyni…?” Herman menatap dengan pandangan tajam dan penuh harap
Aku hanya terdiam….tak tahu harus
menjawab apa….
“Saya ga bisa jawab itu saat ini
pak…..untuk hal itu saya perlu waktu berpikir….tapi kalau boleh saya memberi
saran….bapak jangan menyerah dan tetap ikhtiar berobat pak…..” akhirnya
kuputuskan menjawab pertanyaan laki laki paruh baya tersebut
__ADS_1
“Baik mas…tapi saya mohon mas
Adrian pikirkan tawaran saya…dan saya ingin lihat Reyni bahagia dan tersenyum
kembali dalam hidupnya…..Reyni dan juga Mas Adrian…korbankan ego dan kata hati
kalian demi orang lain….dan percaya mas…itu bukan kebahagiaan …tapi hanya
keputusan….”
Aku pamit sekitar jam 20.00 WIB, dibenakku
berkecamuk segala perasaan dan juga
semua perkataan Herman tadi.
Siang itu aku sedang memberi
instruksi pada Handoko dan beberapa staff operasional nya, untuk persiapan
mereka besok berangkat ke Makasar untuk monitor dan membantu rekanan kami di
daerah untumer k kelancaran pekerjaan proyek pengiriman klien perusahaanku.
Sesaat setelah akau selesai,
telponku bebunyi “Hendra….Tumben adikku telp…”
“Yup Bro….ada apa? Tumben
telpon?” tanyaku
“Sorry ganggu bro…..ini gw
kebetulan lagi mampir ke rumah mama dan Asty…jadi sekalian telpon…udah lama
kita ga ngobrol….” Ujar Hendra di seberang sana
“Oh …its ok..ga terlalu
sibuk…..mmmm…gini…sebentar gw beresin sedikit pekerjaan….setelah itu gw
meluncur ke situ “
Kulihat di halaman depan rumah
tak mengenali kendaraan milik siapa, terdengar suara anak anak yang tengah
bermain, pasti suara milik putri Hendra dan Asty .
Aku tertegun beberapa saat di
muka pintu rumah sesaat setelah ku ucapkan salam, kulihat sesosok wanita yang
taka sing bagiku dan tersenyum padaku, RIRIN….
“Eh ada tamu….” Ucapku agak
kikuk, kulirik wajah Hendra yang cengar cengir dan sedikit tertawa melihat
tingkahku yang serba salah.
“Apa kabar kamu Adrian…?” sapa
Ririn lembut seraya menatap ke arahku, jantungku berdegup keras…sial…setelah
sekian lama, tatapan mata nya itu tetap saja bisa membuatku salah tingkah dan
membuat hatiku terenyuh.
“Ba…baik…..kamu apa kabar…”
balasku , aku berusaha menghilanglan rasa terkejut ku dan mencoba menguasai
keadaan dan usir kegugupanku
“Ka Adrian kayak habis liat hantu
aja…pucat dan gugup…” Tika istri Hendra meledekku sambil tertawa
Saat itu Asty dan Suami keduanya
pengganti Alm suami nya yang pertama Hilman, belum pulang dari aktivitasnya di
kantor…dan seolah memberi aku dan Ririn berbicara lebih leluasa, Hendra dan
istri mengajak mama dan anak anaknya serta anak Asty keluar sebentar dengan
alasan mau mengajak mereka membeli makanan dan ke toko mainan.
__ADS_1
“Aku turut berduka soal Ita….maaf
aku tidak tahu dan tidak datang melayat…tidak ada yang kabari aku soal itu”
Ucap Ririn lirih
“Iya…gpp…itu sudah terjadi
beberapa tahun yang lalu…oh ya ….anakmu sudah berapa ?” Ucapku sambil
kuberanikan menatap wajah Ririn.
“Dua….adam dan Syifa….” Jawab
Ririn sambil memainkan jemarinya
“Oh…sepasang ya? Aku sesekali
dengar soal kehidupanmu dari Hendra maupun Satria…aku senang kamu sudah bahagia
sekarang Rin….”
“Aamin…jika itu yang kamu dengar
tentangku…..tapi jika masih kamu simpan sedikit rasamu….hati kamu tahu seperti
apa hidup dan isi hatiku….” Ujar Ririn , tiba tiba Ririn sudah memeluk erat
tubuhku
“Aku rindu kamu Adrian…..sangat
rindu…aku mohon jangan lepaskan pelukanku….” Bisik Ririn ditelingaku
Sosok tubuh yang sekian tahun
lamanya menghilang……wangi aroma tubuh yang dulu akrab dalam pelukanku….sepasang
mata teduh yang dulu senantiasa isi hari hariku, kini ada dihadapanku dan
kembali memelukku erat.
“Tapi kamu sekarang……” ucapanku
terhenti
“Ya…aku tahu…sekarang aku wanita
bersuami dan telah menjadi milik orang lain…..tapi hatiku tetap milik kamu
Adrian…..” Ririn semakin erat memelukku
Aku tak bisa melanjutkan
ucapanku, aku tak seharusnya seperti ini, Ririn sudah menjadi milik orang lain
dan juga aku sudah mengikat komitmen dengan Meihwa, tapi yang kulakukan malah
membalas pelukannya dan membelai lembut rambutnya.
“ Aku simpan rasa bersalahku
padamu bertahun tahun dalam hatiku dan hari hari yang kujalani dalam
kehidupanku Adrian….hampir setiap hari aku berkhayal, tak sengaja bisa bertemu
kamu dan memelukmu seperti ini….maafkan aku Adrian….maafkan aku…..”
“Sudah Rin…..aku sudah maafkankan
kamu sejak lama….” Ku pegang dagu Ririn dan menatap wajahnya lekat lekat.
Kami berdua bagai dua orang yang
memendam rindu dan terpisah oleh tembok yang sangat tebal dan tinggi, dan saat
tembok itu runtuh kami berlari dan saling lepaskan rasa yang kami pendam. Aku
tak sangka masih ada perasaan seperti ini terhadap Ririn,dibanding dengan Sisca
beberapa waktu lampau di batam, saat bertemu dengannya aku tidak seperti ini…
Ku cium lembut bibir Ririn….dia
tak menolak dan bahkan menyambut dengan sejuta rasa rindu yang dia punya…
Sesaat kami tenggelam dengan rasa
kami masing masing dan nikmati tiap detik waktu yang bergulir saat ini…
__ADS_1