CINTA DIBATAS HORIZON

CINTA DIBATAS HORIZON
SAMA-SAMA JUTEK


__ADS_3

Hilman pergi di hari ulang


tahunku, dengan usia yang masih muda 29 tahun, dia sudah selesaikan perannya


dari skenario yang diterimanya. Di pemakaman ku rangkul adikku Asty, dalam


perjalanan hidupnya dia sudah kehilangan dua orang yang paling disayanginya,


pertama Papa , kedua.. suaminya Hilman.


Dalam hidup, kita sering rasakan


kehilangan, kehilangan cinta seseorang….kehilangan sosok yang kita sayang…semua


suka dan duka berjalan beriringan, silih berganti datang hampiri kehidupan


setiap insan.


Kebahagiaan dan juga kesedihan


sudah bagian dari  skenario perjalanan


hidup, kebahagiaan akan hadir sesaat, dan tak ada yang abadi, kata kata “dan


akhirnya bahagia selamanya” hanya ada dicerita dongeng dongeng sebagai kata


kata penutup akhir cerita, kesedihan …juga akan hilang seiring putaran waktu.


“Adrian…..next month, my company


already do import and export…you harus full time disini, you kasih tahu saya,


berapa anak buah yang you perlu untuk membantu dilapangan….


 ucap Mr.Jimmy sore itu di ruangannya .


Karirku di perusahaan perawatan


dan perbaikan pesawat terbang juga sedang menanjak, segala ide ku di hargai


para Direksi perusahaan berdasarkan pengalaman yang kumiliki, aku juga sudah


diberikan seorang assisten untuk membantuku. Seiring itu seccara pendapatan


atau penghasilan pun aku sudah jauh lebih baik. Namun kini yang memintaku


adalah Mr.Jimmy, seseorang yang kukenal belasan tahun dan sudah ajarkanku


berbagai hal,terutama bidang yang membuatku menjadi seperti sekarang. Aku bukan


kacang yang lupa kulitnya, dan juga hatiku lebih nyaman jika aku bekerja dengan


Mr.Jimmy, karena dia sudah tahu karakterku dan tidak akan kaku dan ketat dalam


aturan pekerjaan, apalagi manajer personalia nya juga teman perjuanganku


Bernard.


Saat ku utarakan niatku,


Mama…Asty dan juga Ita sempat keberatan dengan rencana keputusanku, namun watak


keras kepala yang diturunkan Almarhum papa mmebuat ku tetap dalam keputusanku.


Akhirnya aku mengundurkan diri


dari perusahaan , dan mulai bekerja di perusahaan milik Mr.Jimmy, kembali ke


dunia pabrik garmen atau pakaian yang sudah lama ku tinggalkan, sesaat aku


teringat Alm. Pak Hendri dan juga Lily saat menjadi pemilik sebuah perusahaan


dengan bidang yang sama, sebelum akhirnya hancur berantakan karena perselisihan


antar pemilik.


Satu hal yang membuat Mr.Jimmy


disukai dan dikagumi para pekerjanya adalah, dia dapat menanamkan rasa memiliki


atas perusahaan tempat kita bekerja, sehingga para bekerja benar benar solid


dalam hal tema work dan benar benar memikirkan keberlangsungan perusahaan dan


sadar tugas masing masing tanpa harus diperintah . Seperti diperusahaan milik


pak Hendri dulu, dan Mr.Jimmy sebagai General Manager perusahaan.


Dari dirinya aku dididik menjadi


pribadi seorang pemimpin yang tegas, yang keras dan kalau perlu berdebat hebat


soal pekerjaan, namun setelahnya tidak ada dendam atau simpan rasa kesal, dan


diluar pekerjaan kita tetap sebagai pribadi pribadi dan tetap menajdi seorang


teman.


Diperusahaan milik Mr.Jimmy aku


diperbantukan oleh 4 orang staff, dua laki laki dan dua perempuan, aku diberi


kuasa penuh untuk memilih mereka. Kata mereka gaya kepemimpinanku mirip denga


Mr.Jimmy, aku hanya tertawa dan bilang, “Ya kalian harus maklum…..saya ikut


Mr.Jimmy belasan tahun dan karakter dan gaya saya sekarang terbentuk karena


ajaran dia…”


“Pak….Mbak Reyni….titip salam


tuh…..katanya bos kamu kok jarang datang ya? Kalaupun datang hanya sebentar dan


ga banyak bicara…?” ucap salah satu stafku Risna. Aku hanya tertawa


mendengarnya.


“Pakai salam salam segala….lah


wong satu perusahaan kok….” Balasku sambil tertawa dan memeriksa file file yang


sudah dikerjakan oleh Risna dan Claudia.


“Penasaran kali pak…..perempuan


kan suka sama laki laki yang cool dan cuek gitu…” ucap rekan Risna , Claudia


sambil tertawa cekikikan.


“Huss….kamu….bilang aja saya


sudah punya istri dan anak dua….dan ga terima salam salaman….hanya terima


duit…” balasku sambil ikut tertawa.


Sejak Lily pergi dari hidupku,

__ADS_1


aku sudah tak perdulikan lagi soal hati, yang kutahu sekarang Cinta itu adalah


Ita dan anak anakku.


Sedangkan Cinta dengan Gelora


asmara hanyalah CINTA DIBATAS HORIZON….sama seperti semua cinta yang pernah


hadir di hidupku….Indah sesaat…menggoda mata hati dan jiwa….setelah itu


perlahan redup dan tenggelam di garis batas horizon dikejauhan.


Reyni adalah sosok wanita karir


kekinian, cara berpakaiannya modis, tubuhnya langsing namun sekilas terkesan


sebagai wanita jutek, posisi dia diperusahaan adalah sebagai supervisor


merchandiser,setara dengan posisiku,sering teman teman satu perusahaan bilang


padaku…”Itu supervisor Merchandiser, Bu Reyni jutek banget bro….jarang


senyum….tapi…lumayan cantik …” gurau mereka jika sedang sama sama makan siang.


Aku hanya tersenyum saja, andai mereka tahu jika si jutek itu kirim salam lewat


staffku, pasti mereka ga akan pecaya dan terheran-heran, tapi ako masa bodoh


dengan hal hal macam itu.


Malam itu aku sedang asyik


bermain dengan Clara dan Calista, ketika tiba tiba Mr.Jimmy menelponku “


Adrian….My Textile Shop burn out….habis semua terbakar….you contact pihak


Asuransi dan coba atur dengan mereka soal klaim ” Mr.Jimmy mempunyai beberapa


toko textile di pasar baru, dan salah satu toko miliknya habis terbakar pada


musibah tersebut.


Aku segera berganti pakaian dan


langsung menelpon pihak asuransi, setelah itu aku meluncur ke toko milik


Mr.Jimmy yang terbakar untuk mengambil beberpa foto dan video sebagai bukti


dokumentasi. Kurang lebih dalam waktu satu jam aku sampai di lokasi. Asap hitam


bekas kain yang terbakar mengepul dan membuat area sekitarnya menjadi gelap,


aku kembali ke mobilku untuk mengambil masker yang ada didalam dashboard mobil.


“Adrian…I wanna go there…” ucap


Mr.Jimmy di telpon.


“No Mr.Jimmy….lebih baik you


tetap dirumah….asap bekas kain yang terbakar masih sangat banyak…lbh baik nanti


orang asuransi saya akan minta temui Mr.Jimmy di rumah saja….” Jawabku karena


aku tahu Mr.Jimmy mempunyai penyakit paru paru basah dan asma akut, dan sudah


pernah dilawat di RS Queen Elizabeth Singapore untuk beberapa waktu.


“I am ok….I wanna see my shop…”


Setengah jam kemudian Mr.Jimmy


datang ditemani assiten pribadi dan juga supirnya, die melihat kondisi toko dan


seluruh isinya yang sudah berwarna hitam habis terbakar.


Setelah sekitar 2 jam di sana,


aku dan Mr.Jimmy memutuskan untuk pulang, saat aku menuju arah yang berbeda


karena letak mobilku terparkir agak jauh, assiten pribadi dan supirnya ku


dengar berteriak…” Pak Adrian….Pak Jimmy……!!!” aku menengok kebelakang dan


kulihat Mr.Jimmy ambruk didepan pintu mobilnya, aku segera berlari ke arahnya.


“Mr.Jimmy…come on…wake up….”


Ucapku sambil mengguncangkan tubuhnya dan sedikit menampar pipinya, tapi pria


berdarah India tinggi besar itu tetap diam tak bergerak. Aku minta supirnya


untuk menelpon istrinya, Mr.Jimmy kaya raya, dinegara asalnya dan juga di


Indonesia, investasinya sudah tak terhitung, namun sayangnya dia tidak


dikarunia seorang anak sampai usianya menginjak hampir 60 tahun.


“Pak…Mr.Rajesh mau bicara….” Ucap


supir Mr.Jimmy smabil memberikan telponnya.


“Yes sir? What I have to?” ucapku,pada


Rajesh, Mr.Rajesh adalah kakak kandung Mr.Jimmy,yang juga tinggal dan punya


usaha di Indonesia. Hampir sleuruh keluarga Mr.Jimmy mengenalku, karena aku


ikut bekerja dengan Mr.Jimmy hampir 15 tahun lamanya.


“Adrian….could you bring Jimmy to


Halim airport? I will book S.O.S Flight Charter and bring Jimmy to Siloan


Hospital at Singapore” ucap Mr.Rajes kepadaku. Aku dimintanya membawa Mr.Jimmy


ke bandara halim perdana kusuma, dan dari sana Mr.Jimmy akan dibawa dengan


pesawat S.OS charter menuju Singapore.


Aku segera memberitahu supir agar


seegra mengikuti menuju bandara Halim, Mr.Jimmy kami rebahkan di jok kursi


belakang. Saat itu sudah hampir jam 23.00 sehingga jalan menuju bandara halim,


lebih lenggang dan sepi.


Disana sudah menunggu ambulan


yang akan ikut naik pesawat ke Singapore, didalamnya sudah dilengkapi semua


alat alat kedokteran yang canggih, sesaat aku teringat perjalananku membawa


Debby dengan ambulan Palembang – Jakarta. Mr.Jimmy segera dimasukan kedalam


ambulan, disana sudah berdiri Istrinya Mrs. Neesha dan juga kulihat Bernard

__ADS_1


sudah ada di situ.


Ku salami Mrs.Neesha dan Bernard,


“Adrian…thank you so much…” ucap Mrs.Neesha sambil berurai airmata.


Aku hanya tersenyum dan berusaha


menenangkan Mrs.Neesha


“If you don’t mind…please let us


news about Mr.Jimmy condition at Singapore would you?” ucapku pada Mrs.Neesha,


agar dia mau memberikan berita perkembangan kondisi Mr.Jimmy selama berada di


Rumah Sakit di Singapore. Mrs.Neesha mengangguk “Yes..I will..Adrian…Bernard…”


jawab Mrs.Neesha smabil masuk kedalam ambulan.


Dua puluh menit kemudian kulihat


pesawat S.O.S yang membawa Mr.Jimmy dan Istri terbang melesat membelah angkasa


ditengah malam. Ku hampiri Bernard yang berdiri tak jauh dariku , “Pak


Bernard…besok pagi kumpulkan seluruh staff dan karyawan di aula saja ya pak?


Biar kita sampaikan berita ini, dan juga kitatekan kan the show must go on,


pekerjaan dan tanggung jawab ga boleh terheti…” ucapku, dijawab dengan anggukan


kepala Bernard.


Pagi itu, ruang aula penuh dengan


para Manager dan supervisor, staff kantor dan juga para pekerja buruh pabrik.


Wajah mereka penuh tanda tanya, mengapa mereka dikumpulkan seluruhnya dan tidak


seperti biasanya.


Bernard berdiri didepan mereka,


sambil memegang mic untuk membuka forum dan memberitahukan bahwa Mr.Jimmy


semalam mendadak sakit dan diterbangkan ke Singapore. Lalu Bernard memberikan


Isyarat kepadaku agar ikut berbicara di depan forum, memang kelemahan rekan


kerjaku Bernard dari dulu ini adalah, dia hanya bisa berbicara seperlunya dan


sedikit kaku, padahal jabatannya diperusahaan yang dulu dan sekarang adalah


manager personalia, oleh karena itu, setiap ada buyer atau tamu dari luar


negeri, aku yang selalu ditugaskan perusahaan menjamu dan menemani mereka.


“OK….SAYA LANGSUNG SAJA….SEPERTI


YANG BARU SAJA PAK BERNARD BILANG, OWNER PERUSAHAAN KITA, ATASAN KITA…BOS KITA


MENDADAK JATUH SAKIT DAN HARUS SEGERA DITERBANGKAN KE RUMAH SAKIT DI SINGAPORE…


SEBAGIAN PARA KARYAWAN DISINI


YANG PERNAH SATU PERUSAHAAN DENGAN SAYA DULU, PASTI MENGENAL SOSOK MR.JIMMY


DENGAN BAIK, DAN BAGI YANG BARU BERGABUNG DISINI…PASTI SEDIKIT BANYAK SUDAH


MENGENAL KARAKTER DAN MENGENAL BAGAIMANA BELIAU….


SETELAH DARI PERUSAHAAN YANG


DULU, MR.JIMMY MEMBUKA PABRIK INI DAN SAYA BERKARIR DITEMPAT LAIN, JUJUR…SECARA


KARIR BAHKAN PENDAPATAN MUNGKIN SAYA LEBIH BAIK , TAPI SAAT MR.JIMMY MMEINTA


SAYA BERGABUNG, SAYA PUTUSKAN UNTUK IKUT BELIAU…KARENA APA? SATU YANG SAYA


KAGUM DAN BELAJAR DARI CARA KEPEMIMPINAN BELIAU ADALAH MENANAMKAN SENSE OF


BELONGING…RASA MEMILIKI …PADA TIAP KARYAWANNYA…HAL INI YANG TIDAK PERNAH SAYA


TEMUI DIPERUSAHAAN PERUSAHAAN LAIN…


OLEH KARENA ITU….SAYA MEWAKILI


PIHAK DIREKSI….DAN JUGA PESAN DARI KELUARGA MR.JIMMY, MOHON KEPADA SELURUH


KARYAWAN, BAIK ITU SAYA…PAK BERNARD…PARA MANAGER DAN SUPERVISOR….PARA


STAFF…SEMUA TETAP KOMPAK..SOLID…TEAM WORK….DAN JALANKAN TANGGUNG JAWAB


PEKERJAAN KITA MASING-MASING….ADA ATAU TIDAK ADA BOS KITA DISEKITAR


KITA…SETUJU?” Ucapku diakhir pidato singkatku, dan di jawab sengan suara SETUJU


beramai-ramai bergemuruh diseluruh ruangan aula.


Aku sedang asik menikmati makan


siangku, kucium wangi parfum perempuan disebelahku…ternyata Reyni, wanita yang


dijuluki si jutek oleh laki laki seantero pabrik. Aku tetap acuh dan


melanjutkan makan siangku


“Pidatomu tadi pagi bagus…cukup


memotivasi….salut…” ucap Reyni datar  tanpa


ekspresi berlebihan, dia juga terlihat akan menyantap makan siangnya diruang


kantin siang itu.


“Biasa saja…Cuma spontanitas dan


ucapkan apa yang terlintas dikepala saya saat itu…” sahutku


“Dan ga kegenitan juga…sudah saya


tes dengan coba kirim salam ke staff mu….” Ujar Reyni lagi


Aku hanya tersenyum lalu berdiri


karena sudah selesaikan makan siangku.


“ Pertama saya sudah ada istri


dan anak….kedua….berkirim salam bagi saya hanya untuk para remaja yang masih


duduk dibangku sekolah…” balasku sambil tersenyum kearahnya lalu berbalik arah


menuju kantor, sepintas ku lihat wajah wanita jutek ini bersemu merah karena


malu.

__ADS_1


__ADS_2