
Menjelang hari putusan sidang,aku sudah tidak bisa lagi bertemu Ita walaupun diam diam seperti yang kami
lakukan di waktu waktu lalu. Hanya sebatas WA/SMS/Telpon dan juga disaat aku mengirimkan sejumlah uang untuk keperluan Ita dan anakku.
Roda waktu yang berputar di alur hidupku terasa begitu cepat dan lalui jalan berliku, setelah Sisca pergi, aku
pikir lukaku akan hilang dengan membangun cintaku dan Ita dalam sebuah rumah tangga, tapi semua bagai kupu kupu kertas, yang mudah tertiup angin dan koyak.
Kadang tubuhku lelah menerjang arus ombak…..seringkali hati ku perih bagai tangan dan telapak kaki yang
tergores karang pantai.
Inginku kurebahkan tubuhku dan kubiarkan terombang ambing ombak seiring waktu…..berharap dan berharap…..aku terdampar di pantai berpasir yang lembut. Tapi lagi lagi ku terhempas dibebatuan karang
yang tajam….dan lagi lagi aku hanya dapat terdiam dalam kesunyian.
Disaat gamangku…..dikala risauku…Ririn selalu berusaha datang dan hadir disampingku, tak pernah dia sering bicara soal hati, namun dari matanya aku tetap tahu bahwa dia simpan mimpi mimpinya. “Kamu layak dapatkan mimpi yang lebih baik Rin…” ucapku berulang kali dalam hati.
Saat putusan sidang perceraiaanku dan Ita, dia hanya di dampingi salah satu anggota keluarganya, ku lihat Ita
__ADS_1
tertunduk dengan mata berkaca kaca, hatiku ikut tersayat melihat kesedihannya, aku saja yang seorang laki laki cukup dapat rasakan sedih yang mendalam untuk sebuah perpisahan, apalagi seorang wanita.
Saat meninggalkan Ruang Sidang ,ku tatap sesaat mata indah milik Ita…dan seolah berkata “ Maafkan aku Ta….” Bisa kurasakan kesedihan yang dibawanya saat perlahan berlalu dan hilang dari pandanganku.
Hari hari berlalu setelahnya, seperti ada bagian yang hilang dari hidupku, bukan rasa sakit seperti saat
Sisca pergi dulu, tapi rasa kosong dan seperti ada sesuatu yang hilang, tapi aku sendiri tidak tahu persis apa itu. Belajar dari apa yang terjadi dulu,kutenggelamkan kembali diriku dalam pekerjaan , bahkan lebih gila dari yang
sebelumnya, karena selain untuk isi kekosongan hatiku, ada seorang anak kecil disana yang harus kubiayai. Ririn sering minta waktuku untuk bertemu, tapi tak bisa kupenuhi karena kesibukan dan porsi pekerjaan yang sengaja ku tambah sendiri. Sampai akhirnya kondisi kesehatanku drop dan aku jatuh sakit karena gejala typhus sehingga terpaksa harus dirawat dirumah sakit.
Untunglah adik iparku Tika adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit swasta didaerah kebayoran baru, sehingga semua dia yang atur. Selama aku dirawat, Ririn selalu menjenguk dan menemaniku disaat sepulangnya dia dari bekerja. Bahkan dia yang membantuku meminum obat juga menyuapiku makan yang disediakan rumah sakit.
“Kebetulan memang pekerjaannya lagi overload Rin…” jawabku menggelak.
“Kamu boleh bohongi orang lain….tapi tidak denganku….” Balas Ririn sambil menatap tajam ke arahku.
Aku tidak pernah melihat Ririn semarah dan seserius ini. “Maafkan aku Rin….aku harus bekerja lebih keras agar
kebutuhan keluargaku tercukupi dan….ada seorang anak disana yang perlu biaya dariku…” ucapku pelan.
__ADS_1
“Aku tidak bodoh Adrian….pekerjaanmu bukan pedagang yang harus perlu waktu extra lebih panjang jika ingin
penghasilan lebih….kamu juga bukan buruh dengan jam kerja lembur …kamu staff senior dan pekerjaanmu bisa kamu atur dengan efisien asalkan ter planning dengan baik….juga bisa kamu share atau dibagi dengan rekan kerja satu divisimu…yang kamu lakukan adalah sengaja menambah porsi kerjaanmu sendiri….cari repot sendiri…buatan kamu sendiri…” ujar Ririn panjang lebar.
Dengan wanita sepintar Ririn, aku emmang tidak bisa asal berdebat, jika jawabanku kurang kuat, pasti aku akan
mati kutu dibuatnya.
“Untuk alasan anak…aku sangat mengerti….tapi bukan dengan cara sakiti atau tak perduli dengan kesehatanmu
sendiri…kamu bukan robot…banyak yang andalkanmu dan menggantungkan harapan sama kamu…jika kamu jatuh sakit…drop…selain kamu yang rugi…mereka juga ikut menderita” lanjut Ririn.
Aku hanya terdiam mendengar semua kata katanya, semua yang dikatakannya benar, aku laki laki keras kepala, dalam berdebatpun seringkali aku tidak mudah begitu saja mau mengalah, tapi didepan Ririn…aku tidak dapat menyanggah dan emmang ku akui, memang aku yang salah dan ku cari penyakit sendiri.
“Aku tidak perduli bagaimana isi hatimu…tapi aku sayang kamu Adrian…dan aku ga mau liat kamu seperti ini….” Ucap Ririn denga suara parau menahan tangis, matanya berkaca-kaca.
“Iya…maafkan aku….aku janji tidak akan seperti ini lagi…” balasku pelan…ku genggam jemari tangannya…bisa
kurasakan perhatiannya yang besar…amarahnya…bukan kepura-puraan atau dibuat buat, namun tulus dari dalam hatinya.
__ADS_1