Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 14


__ADS_3

"Mas Pulang dulu ya !! kamu baik-baik di rumah" Ucap Febri dengan lembut.


Safa tak menjawab, ia tetap bergeming di tempat semula, sesekali wanita cantik itu mengusap air mata yang meleleh di sudut matanya.


"Assalamualaikum" Febri kembali berkata, namun kali ini di iringi dengan langka kaki yang berjalan keluar kamar.


"Waalaikumsalam" Balas Safa dalam hati, rasanya ia tak sanggup bersuara, rasa lela dan rasa sakit yang beradu menjadi satu..


Sekarang Febri benar-benar pergi, Safa menyingkap selimut yang menutupi tubuh polosnya, tangisnya keluar, rasa sesak kian menggebu.


"Kenapa aku sampai melakukan ini lagi ? kenapa ? bagaimana kalau aku beneran hamil ?" Safa menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya, sesekali ia menggeleng.


"Tidak jangan sampai aku hamil !! jangan sampai !"


"Kalau semua itu terjadi, entah bagaimana caranya aku menjalani kehidupan ku setelah ini"


Hidup macam apa yang ia jalani sekarang, menjadi kekasih dari seorang pria yang beristri, serta di buang oleh sang ibu demi anak tiri. Sungguh tragis bukan ?


Disaat remaja seusianya menjalani kehidupan yang layak, Safa justru merasakan ketertekanan batin yang luar biasa.


 


Baru saja Febri tiba di rumahnya, sang istri sudah memberikan tatapan sinis dan juga ocehan yang membuat telinga Febri rasanya pengang.


"Dari mana kamu ?? aku ingat-ingat akhir-akhir ini kamu sering pulang telat" seloroh Desi dengan tatapan membunuh.


Febri menatap istrinya sejenak "Biasa lah main bentar, emangnya gak boleh ?" jawab Febri enteng.


"Main sama siapa ? sama selingkuhan ?"


Deeeggg.


Jantung Febri rasanya berhenti berdetak untuk sesaat, wajah Febri langsung berubah pias. Ucapan Desi membuat ia kehilangan kata-kata.


"Kenapa diam ? kamu beneran selingkuh ?" tanya Desi.


"Mana ada ? kalau aku mau selingkuh udah selama ini, tapi kamu lihat kan aku tetap setia sama kamu apapun kondisi kamu" Jawab Febri berusaha mengela, ia tak ingin istrinya sampai tau tentang hubungannya dengan Safa.


"Awas aja kalau sampai kamu selingkuhin aku Mas, aku akan nyingkirin siapapun wanita itu. Hanya aku yang akan menemani kamu sampai akhir hayat kamu"


Ferbi tertegun, ia justru semakin takut kalau keberadaan Safa di ketahui Desi.

__ADS_1


"Sudah jangan memikirkan yang tidak-tidak" pinta Febri sembari mengelus kepala sang istri dengan lembut.


"Aku lapar, siapkan makan malam !" sambung Febri lagi.


"Baiklah"


Febri melangkahkan kakinya menuju kamar, selain untuk berganti pakaian ia juga ingin membersihkan diri.


Didalam kamar mandi, Febri kembali mengingat kegiatan panasnya bersama Safa tadi, sungguh itu sensasi yang berbeda yang belum Febri rasakan. Mungkin karena Safa adalah wanita muda.


Terbesit rasa bangga di hati Febri, karena ia yang mengambil mahkota Safa, masih teringat dengan jelas bercak darah yang menempel di seprai waktu itu.


"Apa aku sudah jatuh cinta pada Safa ?"


Febri memegangi dadanya karena merasakan degup jantung yang begitu kencang, sesekali Febri tersenyum karena merasakan jatuh cinta untuk yang kedua kalinya.


Kali ini Febri benar-benar merasakan kalau ia mencintai wanita lain selain istrinya, rasanya tak karuan, bahagia bercampur bingung tentunya.


Selesai mandi Febri kembali kekamar, ternyata disana sang istri sudah menunggu, satu stel pakaian sudah tersedia di atas kasur.


"Ganti lah dulu pakaian mu, setelah itu mari kita makan malam !" ucap Desi.


"Hmmmm" jawab Febri, ia berjalan dan mengambil pakaian gantinya.


 


Pagi ini tentu sangat berbeda, biasanya sudah ada tukang sayur keliling atau penjual bubur Ayam yang membawa gerobaknya. Namun pagi ini sepi mungkin karena hujan deras semalam. Bahkan jalan-jalan banyak di genangi air..


Tiba-tiba Safa melihat mobil Febri masuk kedalam gerbang rumahnya, entah ada apa lagi laki-laki itu datang sepagi ini..Padahal di lubuk hati yang paling dalam Safa belum mau bertemu dengan Febri.


"Kenapa Mas Febri datang sepagi ini ? aku kan tidak mau bertemu dengan nya"


Jalan satu-satunya Safa tetap berdiam diri di tempat, jangan pernah membuka pintu supaya Febri tak bisa masuk.


"Bodo amat walaupun ini rumahnya Mas Febri, aku tak akan membuka pintu, selain aku malu bertemu dengan nya aku juga masih ingin sendiri" gumam Safa.


Beruntung Safa sudah meminta kunci lain yang di pegang Febri, ada alasan kenapa Safa melakukan itu, ia tak ingin Febri main masuk saja saat ia sedang tidur..


----


Di luar entah sudah berapa kali Febri mengetok pintu rumah itu, namun tak kunjung ada jawaban. Febri mulai khawatir ia takut terjadi sesuatu pada Safa.

__ADS_1


Segera Febri menelpon Safa, akan tetapi sama saja, Safa tak menjawab panggilan darinya. Namun ada sedikit kelegaan di hati Febri karena Safa merijek panggilan telepon darinya.


"Pergilah Mas, maaf kalau aku mengusirmu di rumah mu sendiri, aku sedang tidak ingin bertemu dengan mu dan aku ingin sendiri.. Mas tenang saja aku baik-baik saja disini jadi jangan khawatir!!"


Sebuah pesan singkat masuk keponsel Febri, sekarang Febri mengerti dengan kondisi Safa, ia akan memahami hal itu.


"Baiklah kalau ini mau kamu, Mas akan pergi dan Mas akan datang saat kamu sudah puas sendiri..Jangan lupa kabari Mas kalau ada apa-apa" balas Febri.


"Iya..."


Kalimat singkat itu cukup membuktikan kalau Safa benar-benar tak ingin di ganggu, dengan berat hati Febri melangkah dan meninggalkan rumah tersebut..Mungkin hari ini dan beberapa hari kedepan ia tak akan mengganggu Safa dulu..Febri akan membiarkan Safa tenang dan bisa melupakan masalah dalam hidupnya.


"Semoga kamu baik-baik saja Fa, selama Mas gak datang kesana"


Kendaraan yang ia bawa melaju dengan kencang, membela hiruk pikuk jalanan yang mulai padat. Pandangan mata Febri begitu fokus kejalanan namun pikirannya berkelana entah kemana.


"Mas pasti akan merindukan ku Fa"


"Semoga kamu juga akan merasakan hal yang sama"


-----


Safa menyunggingkan senyumnya saat menyadari kalau Febri telah pergi, lega karena hari ini ia tak akan bertemu dengan laki-laki itu.


"Maaf ya Mas, kalau aku mengusir mu dari rumah mu sendiri"


"Aku benar-benar ingin sendiri sekarang"


"Terima kasih telah mengerti"


Tak ada rencana yang Safa buat untuk menghabiskan hari ini, berdiam diri dengan kesendirian sudah cukup membuatnya tenang. Untuk saat ini Safa tak suka keramaian.


Kelima jari Safa merabah kaca jendela yang luarnya mengembun, bahkan embun itu berhasil menampakan wajahnya yang pucat dengan rambut yang berantakan.


"Lihatlah betapa buruknya hidupku sekarang !"


----


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...

__ADS_1


...KASIH HADIA (BUNGA/KOPI)...


__ADS_2