Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 44


__ADS_3

Tanpa aba-aba Febri langsung menarik tangan Safa, sehingga membuat wanita itu meringis kesakitan. Namun Febri mengabaikan setiap rintihan Safa bahkan ia lupa kalau saat ini Safa sedang mengandung.


Kemarahan dan emosi Febri mengalahkan semuanya, ia melupakan bahwa ada seseorang yang harus ia jaga, seseorang yang ia harapkan selama ini kehadiran nya.


"Lepaskan aku Mas, Sakit" ucap Safa memohon.


Melihat keadaan Safa, Orlando tak tinggal diam, ia menyusul Safa dan menghempaskan tangan Febri sehingga Safa terlepas.


"Hei, kau jangan main kasar ya sama Safa, ingat dia itu istrimu, dan dia sedang mengandung anak mu" bentak Orlando


"Siapa kau ? jangan ikut campur urusan rumah tangga ku ! sebaiknya kau pergi dari sini"


Orlando menarik kerah baju Febri, ia menatap tajam laki-laki yang lebih pantas di panggil Ayah oleh Safa.


"Jika kau menyakiti Safa itu akan menjadi urusan ku juga, cam kan itu"


"Kenapa kau membela dia, ada hubungan apa kalian ?" tanya Febri kesal.


"Kami tak ada hubungan apa-apa"


"Lalu dari mana kalian Hah ?"


Orlando menatap kearah Safa, haruskah ia menceritakan semuanya pada Febri kalau semalam Safa masuk rumah sakit.


"Kalian tidak bisa jawab kan ? itu berarti kalian ada hubungan serius" Febri melepaskan tangan Orlando yang masih bertengger di lehernya.


"Kami tak ada hubungan apa-apa mas, semalam aku masuk rumah sakit dan Orlando yang menolongku" sahut Safa cepaf.


Mendengar hal itu Febri terkejut, ia langsung menatap Safa dengan cemas.


"Ada apa ? kenapa kamu masuk rumah sakit ?" tanya Febri beruntun.


Orlando terkekeh pelan "Ciih gak usah syok peduli, kemaren kemana aja sampai ngurung Safa di apartemen" ucap Orlando pelan namun masih bisa di dengar jelas oleh Febri.


"Diam kau ! aku tak bertanya padamu"


"Ayo jelaskan Safa kenapa kau masuk rumah sakit dan kenapa kau tak mengabari aku ? aku ini suami kamu jadi aku berhak tau semuanya tentang kamu" Tanya Febri ke Safa.


"Harusnya sebelum kamu nyiksa aku dan ngurung aku kemaren kamu sudah tau konsekuinsinya Mas, aku sedang mengandung tapi kamu selalu nyiksa aku dan batin aku, jadi buat apa aku ngasih tau kamu semuanya" jawab Safa

__ADS_1


"Kenapa kamu bicara seperti itu Fa ? Mas melakukan itu supaya kamu sadar kalau Mas sayang sama kamu, Mas tidak ingin kamu dekat dengan laki-laki lain".


"Berhenti bilang sayang sama aku Mas ! aku muak mendengarnya" bentak Safa


Ia sudah terlalu sakit dengan sang suami, selama ini Safa sudah begitu sabar menghadapi sikap Febri, namun makin hari Febri semakin kasar padanya dan bahkan tadi Febri mengatakan kalau Safa adalah wanita penggoda.


"Kamu cemburu melihat aku dekat dengan Orlando, lalu apa kamu paham kalau aku juga cemburu melihat kamu dekat dengan mbak Desi, Ok aku memang tak seberhak mbak Desi, karena status ku hanya istri simpanan mu" sambung Safa lagi.


Kali ini Safa benar-benar berharap kalau Febri akan mengerti, kalau posisinya juga sama dengan Desi yaitu seorang istri, Safa juga ingin di perhatikan.


"Safa aku pulang dulu, kalau ada apa-apa jangan lupa hubungin aku" ucap Orlando.


"Pergi sana ! dia tidak akan menghubungimu karena aku akan selalu ada disini"


"Buktikan semuanya, kalau kau mengurung Safa lagi jangan salahkan aku kalau aku membawanya pergi" ancam Orlando


*********


Saat ini Safa dan Febri sedang menikmati makan siang atau lebih tepatnya Safa menemani sang suami makan karena sedari tadi dirinya tak mengambil makanan apapun.


Safa lebih banyak diam, dia hanya berbicara seperluanya saja, karena selain masih marah dengan sang suami perasaan Safa begitu di runjung kecewa.


"Enggak, aku gak laper" jawab Safa seadanya.


Febri kembali melanjutkan makan nya sampai nasi dan lauk yanga ada di piringnya habis tak tersisa. Setelah itu Febri minum segelas air putih yang sudah Safa siapkan.


"Udah kan ?" tanya Safa


"Iya, udah memangnya kenapa ?" Febri balik bertanya.


"Aku mau istirahat, kata dokter aku belum boleh banyak gerak" jawab Safa tanpa memperdulikan bahwa suaminya itu juga seorang dokter.


Saat Safa akan beranjak dan menuju kamar Febri menghentikan langkahnya.


"Safa tunggu !"


"Ada apa lagi ?" tanya Safa


"Mas mau nanya semalam kamu di rawat di rumah sakit mana ? dan apa saja yang dokter katakan ?"

__ADS_1


"Lupa Mas" jawab Safa singkat setelah itu ia masuk kekamar tanpa menghiraukan kalau suaminya kesal lagi..


Sekitar jam 2 siang Febri pamit untuk bekerja, Safa tak keluar kamar ia hanya menjawab dari dalam kamar saat sang suami berpamitan bekerja.


Sebenarnya Safa tidak tega bersikap cuek pada sang suami, ia juga merindukan pelukan suaminya. Tapi Safa melakukan itu karena ingin semata-mata Febri sadar bahwa selain Desi ada dirinya yang membutuhkan perhartian.


Tidak berapa lama suasana apartemen sudah hening, dimana tadi terdengar suara musik yang Febri putar sekarang sudah tak ada lagi. Dimana tadi ada suara langka kaki Febri yang bolak balik kedapur sekarang sudah tak ada lagi. Safa sadar kalau suaminya sudah berangkat bekerja.


"Maafkan aku ya Mas, aku gak bermaksud bersikap cuek sama kamu, aku hanya ingin kamu sadar kalau aku juga istri kamu yang butuh perhatian" gumam Safa.


Safa keluar dari kamar, matanya menyapu sekeliling dan benar saja sudah tidak ada lagi Febri disana. Membuat Safa memutuskan untuk menonton televisi karena ia kerasa bosan jika di kamar terus.


Safa menghidupkan televisi, akan tetapi belum lama ia menonton terdengar lagi suara pintu di ketok membuat Safa menoleh dan heran.


"Siapa ya ? apa Mas Febri balik lagi ?" gumam Safa penuh tanda tanya.


Safa beranjak dan membukakan pintu, disana ia kaget karena melihat kedatangan Desi dan juga kakak tirinya Sara.


"Kak Sara, mbak Desi" ucap Safa.


"Kenapa ? kaget ya ? lihat aku datang kesini ?" tanya Sara diiringi tawa menakutkan.


"Mau ngapain kalian kesini ? dan kenapa Kak Sara bisa kenal sama Mbak Desi ?" tanya Safa sembari memundurkan kakinya.


"Kau tak perlu tau bagaimana aku bisa kenal dengan wanita yang kau rebut suaminya, yang jelas kedatangan kita kesini untuk bermain-main denganmu" balas Sara lagi.


Safa ketakutan, bukan karena kedatangan Desi melainkan kedatangan Sara. Ia begitu mengenal sifat kakak tirinya itu. Sara akan melakukan apa saja pada Safa.


"Pergi kalian dari sini atau aku akan telepon Mas Febri" ancam Safa.


"Heh pelakor berani kau mengancam ku Hah ? kau lupa kalau Mas Febri adalah suamiku" bentak Desi


"Ya Allah lindungi aku dan anak ku !!" batin Safa.


---


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...

__ADS_1


__ADS_2