
Bayi berjenis kelamin laki-laki itu menjadi rebutan bagi keluarga Orlando terutama Gita yang terus ingin menggendongnya, walau Orlando dan Aroon merengek minta gantian tapi di abaikan oleh Gita.
Safa hanya tersenyum melihat semua itu, dia merasa bahagia karena kelahiran anaknya banyak yang suka. Bayi yang baru saja lahir dengan BB 3,8 kg, serta panjang 50Cm di beri nama Arnold Putra Wijaya.
"Semoga kelak kamu menjadi anak yang sholeh ya Nak ! jadi kebanggan bunda" gumam Safa.
Tak berapa lama Baby Arnold menangis dengan kencang.
"Tuh kan nangis ! Momy sih gendong terus" ucap Orlando.
"Dia tuh nangis karena laper bukan karena Momy gendong, iya kan sayang" jawab Gita sembari berjalan mendekati Safa untuk memberikan bayinya.
Namun sebelum Safa membuka bajunya, Gita menoleh ke arah Sang suami dan juga Orlando.
"Kalian berdua keluar dulu, Arnold mau nyusu" usir Gita.
"Iya Mom"
Safa hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Ayah dan anak itu sangat penurut, bahkan apapun yang di ucapkan dan di perintahkan Gita, Baik Aroon maupun Orlando tak ada yang berani membantah.
"Udah sekarang kamu susuin anak kamu Fa, biar dia bisa istirahat malam ini"
"Iya Tante... Emmm kalau Tante capek Tante gak papa kok pulang dulu"
"Enggak Fa, Tante malah senang kok bisa ngurus kamu sama Arnold, apalagi dia lucu banget"
"Makasih ya Tan udah nerima Aku dan Arnold dengan baik"
"Iya Sayang, Tante itu udah anggap kamu sebagai anak sendiri dan Arnold adalah cucu Tante"
Kemudian Gita membantu Safa memberikan ASInya pada Baby Arnold, mungkin Safa belum terbiasa makanya masih sedikit kaku.
"Ya belum keluar juga Tan" ucap Safa hendak menangis karena ASI nya belum keluar sampai sekarang.
"Sabar Nak ! nanti juga keluar Kok, nanti Tante cariin obat buat pelancar ASI" Gita mengelus pundak Safa dengan lembut.
"Tapi kasian Tan, Arnold kayanya kelaparan"
"Di bantu Sufor gak papa ?"
"Iya Tante gak papa"
********
Febri benar-benar tak mengerti akan perasaan nya hari ini, apalagi saat merasa legah dan tanpa sengaja mengucapkan Alhamdulillah membuat perasaannya plong seperti baru saja selesai menghadapi suatu masalah.
Saat ini Febri sudah kembali ke apartemen, ia akan bersiap untuk berangkat bekerja karena jam 08 malam nanti ada jadwalnya praktek.
__ADS_1
"Jika di hitung mungkin Safa akan segera melahirkan"
"Hah" Febri menghela nafas panjang "Dimana kamu sayang ? kemana kamu menghilang dan bagaimana keadaan kamu sekarang ?"
"Jika kesalahan Mas begitu besar Mas mohon maafkan Mas ! Kembalilah Safa ku, kita mulai rumah tangga kita dari awal"
"Mas janji akan menjadikan kamu istri yang paling bahagia di dunia ini, hanya kamu ratuku Fa"
Serentetan kalimat itu terus terucap, ia menatap wajahnya di cermin, kelopak matanya sudah membentuk anak sungai yang siap meluncurkan cairan bening dengan deras.
Febri mendongak guna menahan air matanya supaya tak tumpah, kesalahannya mungkin begitu besar sehingga Safa tak kunjung kembali sampai sekarang.
"Tuhan jaga istriku dimana pun dia berada ! jaga juga anak ku, dan kembalikan mereka kepangkuan ku Tuhan !" Febri mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah untuk mengaminkan doa dan harapan yang barusan ia ucapkan.
Setelah itu Febri meraih jas kedokterannya dan melingkarkan ke lengannya, barulah ia melangkah keliar kamar untuk benar-benar berangkat bekerja.
********
Kondisi Wina akhir-akhir ini menjadi drop, selain tekanan darahnya tinggi ini juga faktor karena Wina terlalu banyak pikiran.
Perasaan bersalah, menyesal menjadi satu. Wina hanya bisa menangis meratapi putri semata wayangnya yang entah dimana keberadaan nya sekarang ,namun di lubuk hatinya yang paling dalam Wina masih berharap suatu hari nanti Safa akan kembali dan memeluknya.
"Safa, dimana kamu Nak ! pulanlah sayang ! maafkan ibu"
"Selama ini Ibu sudah jahat sama kamu ! maafkan Ibu Fa Hiks-Hiks-Hiks"
Tangisan tertahan itu terus meluncur di bibirnya, Wina sudah melaporkan ke polisi untuk mencari keberadaan Safa, bahkan Wina memasang poster kehilangan berharap Safa segera di temukan.
"Usir saja Bi, saya sudah tak punya urusan sama dia" balas Wina dengan tatapan kosong.
"Sudah Bu, saya sudah mengusirnya tapi Pak Endri tetap ingin bertemu dengan Ibu"
Wina menghela nafas panjang "Mau apalagi dia datang kesini ?" gumam Wina.
"Tolong bantu aku ke kursi roda Bi !" pinta Wina pada Bi Lastri.
"Baik Bu"
Wina keluar kamar dengan menggunakan kursi roda, saat di ruang tamu ia menatap Endri dengan tajam.
"Sayang maafkan aku ! aku mencintaimu Sayang" ucap Endri yang langsung berlutut di kaki Wina.
"Lepaskan aku ! pergi kau dari sini ! atau aku panggilkan satpam"
"Wina tolong kasih aku kesempatan sekali lagi ! kita jalani rumah tangga kita dengan baik"
"Ciiihhh" Wina membuang ludahnya "Kau kira saya akan percaya lagi dengan mu, tidak Endri saya tidak mau percaya lagi sama kamu"
__ADS_1
Mendengar hal itu Endri langsung berdiri dan menatap Wina dengan tajam,.
"Dasar wanita tak berguna, sudah duduk di kursi roda masih saja belagu" bentak Endri.
"Heh, kau pikir saya di kursi roda ini karena lumpuh, tidak ya !"
"Hah apapun itu, pokoknya kamu tidak berguna" Endri kembali mendekat ia akan mencekik leher Wina namun dengan cepat Bi Lastri berteriak sehingga Mang Ucup berlari dan memegangi kedua tangan Endri.
"Bawa dia keluar mang ! dan jangan biarkan dia masuk lagi !" perintah Wina.
"Akan aku balas kau Wina ! aku tak akan lupa kesombongan mu ini"
"Bawa dia Mang !"
Endri berontak dan ingin di lepaskan. Namun Mang Ucup tak peduli.
"Lepaskan saya Mang Ucup"
"Tidak bapak Endiri karena Anda sudah menggangu Nyonya saya"
****
"Safa kenapa nangis Mom ?" tanya Orlando.
"ASInya gak keluar Ndo, makanya Safa sedih, jadi Momy minta kamu keluar bentar untuk beliin susu supaya anaknya Safa diam"
Orlando melirik kearah Safa sebentar kemudian langsung berlari keluar untuk membelikan susu, ia tak tega melihat Safa menangis.
Namun Saat berada di depan loby rumah sakit Orlando merasakan perutnya teramat sakit, ia menghentikan langkahnya dan membungkuk sebentar.
"Kenapa sakit sekali ?"
"Ayo dong sembuh, Safa sedang membutuhkan bantuan"
Orlando kembali berjalan dengan memegangi perutnya, walau terasa sangat sakit tapi Orlando tetap berjalan, ia ingin melakukan yang terbaik untuk Safa dan juga baby Arnold.
"Huuuu, sakit sekali"
"Ada apa dengan perutku ? kenapa akhir-akhir ini sering sakit"
Dengan pelan Orlando melajukan mobilnya, keringat dingin bercucuran akibat menahan rasa sakit.
"Sepertinya besok aku harus memeriksakan kondisi perutku"
"Semoga ini hanya sakit perut biasa !"
___
__ADS_1
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...