
Tubuh Desi masih bergetar menatap foto seorang bayi yang berlumuran darah seperti itu. Namun saat mendengar suara langka sang suami yang mendekat Desi langsung memunguti paket itu supaya sang suami tak melihatnya.
"Kamu kenapa Des ? kenapa teriak-teriak ?" tanya Febri yang juga kaget mendengar teriakan Desi.
"Ti--dak apa-apa Mas, bentar ya aku kekamar dulu" Desi langsung berlalu dari hadapan suaminya tak lupa ia membawa bungkusan paket yang ia terima.
********
"Nak ada paket tuh buat kamu" ucap Wina pada anak tirinya yang baru saja bangun tidur.
"Paket apa Bu ? perasaan Sara gak pesan apa-apa"
"Mungkin dari penggemarmu, di terima aja siapa tau kan kadonya istimewa dan kamu suka"
Sara mengangguk "Dimana paketnya Bu ?"
"Di atas meja ruang tamu Nak"
Sara langsung pergi keruang tamu, benar saja di atas meja itu ada sebuah paket yang cukup besar,. Sara masih terus berpikir siapa kira-kira yang mengiriminya paket seperti ini.
Penggemar ??
la bukanlah orang seperti itu yang memiliki banyak penggemar, berbeda dengan Safa yang dari sekolah sudah banyak yang suka makanya Sara benci sekali dengan adik tirinya itu.
"Gak ada nama pengirimnya" gumam Sara sembari membolak-balikan paket tersebut.
Karena penasaran Sara membawa paket itu kedalam kamarnya, ia ingin membukanya sendiri.
Dengan tersenyum senang Sara mulai membuka bungkusan paket tersebut, sama dengan kejadian Desi tadi. Sara pun langsung terkejut saat melihat isi paket itu.
Sebuah boneka dengan kedua tangan di ikat keatas dan sudah berlumuran darah. Sara menjerit ketakutan melihat semua itu apalagi saat membaca tulisan.
"Akan aku balas kamu...."
"Siapa yang ngirim ini ?" gumam Sara bergetar ketakutan.
"Apa Safa yang ngirim semua ini ?" gumam Sara yang langsung menebak nama itu.
"Aku harus hubungi Tante Desi"
Dengan cepat Sara mengambil ponselnya di atas meja nakas, ia langsung mencari kontak Desi dan menghubunginya, tak cukup waktu lama Desi sudah menjawab telepon dari Sara.
"Halo Tante"
"Iya Sara ada apa ?"
__ADS_1
"Tante aku di kirimin paket, dan isinya seram sekali"
"Apa jadi kamu menerima paket juga ?"
"Iya Tante, aku takut sekali"
"Sama tante juga takut sekali dengan paket itu, kira-kira siapa ya yang mengirim"
"Apa mungkin Safa tante yang ngirim ? kayanya dia mau balas dendam sama kita"
"Kalau itu Safa itu berarti dia masih hidup dong, kita harus cari tau semua ini"
"Iya Tante, kita harus cari tau semuanya"
Tidak berapa lama sambungan telepon terputus, Sara langsung menyingkirkan paket itu dan membuangnya ke tong sampah. Ia masih gemetar saat memegang paket itu karena menurut Sara itu terlalu menakutkan.
"Awas aja kalau semua ini beneran ulah Safa, akan aku balas kamu lebih dari kemaren"
**********
Orlando tertawa keras saat mendengar dari orang suruhan nya kalau mereka sudah menjalankan tugas dengan baik.
"Mereka pasti ketakutan, ini belum seberapa akan ku buat kalian seperti orang gila sampai kalian mengaku sendiri tentang perbuatan kalian pada Safa" gumam Orlando
"Sepertinya aku harus ke indonesia deh, supaya lakinya Safa gak curiga kalau aku yang bawa Safa ke luar negeri, karena jika aku tak ada di apartemen sama seperti Safa, dia pasti bakalan curiga"
Puas tertawa Orlando keluar kamar dan mendapati semua orang berkumpul di meja makan. Orlando langsung duduk di samping Safa sambil tersenyum senang.
"Pagi Fa, bagaimana tidurnya semalam ?" tanya Orlando.
"Nyenyak banget Ndo"
"Ambilin dong sarapan nya !" titah Orlando membuat Safa langsung menatap kedua orang tua Orlando yang juga menatap kearah Safa.
"Kamu kan punya tangan Ndo, ambil sendiri lah !"sahut Gita.
"Iya, biasanya juga apa-apa sendiri, kenapa sekarang manja" Aroon pun ikut menyahut.
Orlando mencibir kearah kedua orang tuanya, mereka gak ngerti aja kalau Orlando sedang cari perhatian dengan Safa.
"Momy dan Dady gak pengertian banget sih" gumam Orlando
Dengan amat terpaksa dan menunjukan kekesalan nya pada kedua orang tuanya Orlando mengisi piringnya sendiri, sementara Aroon dan Gita malah terlihat biasa saja tanpa memperdulikan raut kekesalan di wajah putranya itu.
******
__ADS_1
Selesai sarapan Orlando membicarakan pada Safa tentang rencananya kalau akan pulang ke indonesia. Safa awalnya gak setuju karena ia masih belum terbiasa tanpa Orlando di rumah megah ini, Safa masih sungkan kepada Aroon dan Gita.
"Aku janji gak bakalan lama, sebelum anak kamu lahir aku sudah kembali ke thailand" ucap Orlando menenangkan.
"Memangnya kamu mau ngapain sih Ndo ke sana, bukannya disini juga ada kerjaan"
"Aku kesana cuman ingin membuat suami mu tak curiga kalau aku yang membawamu pergi, karena kalau aku juga menghilang dia pasti bakalan curiga Fa"
Safa berpikir sebentar, memang benar apa yang di sampaikan Orlando, karena sudah pasti Febri akan datang ke apartemen dan jika Orlando tak ada di apartemen juga maka Febri akan sangat curiga.
"Ya sudah deh, aku izinkan tapi janji ya jangan lama-lama"
"Siap bumil" Orlando memberikan hormat pada Safa sehingga membuat Safa terkekeh pelan.
"Apaan sih"
*******
Hari ini Febri kembali datang ke apartemen, bukan karena ingin mencari Safa tapi ingin menanyakan pada pihak apartemen tentang Orlando.
Karena Febri masih yakin kalau Orlando yang membawa istrinya.
"Permisi Mas saya mau tanya" Febri mendekati penjaga apartemen.
"Iya silahkan Mas"
"Orang yang menempati apartemen di lantai 5 sebelah apartemen saya kemana ya ?"
"Oh pak Orlando, dia sedang pulang ke negaranya Mas memang nya kenapa ?"
"Kapan ya Pak ?"
"Sekitar 3 hari yang lalu kalau gak salah"
Febri terdiam jika Orlando pergi baru 3 hari yang lalu itu berarti bukan dia yang membawa Safa, karena Safa sudah menghilang lebih dari seminggu.
Febri meninggalkan apartemen, entah mau kemana lagi, tidak ada satu teman Safa pun yang ia ketahui, bahkan siapa saja keluarga Safa ia pun tak mengenalnya.
Entahlah apa pantas ia di sebut suami yang baik untuk Safa, ia sudah banyak melakukan kesalahan sehingga membuat Safa pergi.
"Maafkan Mas Fa, tolong kembalilah ! Mas lelah mencarimu, Mas tau Mas banyak salah karena menyakiti kamu, bahkan Mas menikahimu Saja sudah kesalahan besar"
Untuk pertama kali Febri menyesali perbuatan nya, ia menangis di dalam mobil sambil mengenang sang istri. Ia sekarang kehilangan dua orang sekaligus pertama istri dan kedua calon anaknya, seseorang yang begitu dia inginkan selama ini.
"Tuhan dimanapun dan apapun keadaan istriku dan calon anakku tolong jaga dia dengan baik, ampuni hamba karena belum bisa menjadi suami yang baik untuknya"
__ADS_1
"Seandainya aku punya kesempatan kedua untuk bersamanya, aku pasti akan membuatnya wanita paling bahagia di dunia ini"