Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 84


__ADS_3

Dengan perasaan sesak dan sakit Orlando berjalan dengan lunglai meninggalkan ruangan Febri, ia sudah tak tahan melihat sikap Safa yang begitu perhatian. Apalagi wajah Safa tak bisa berbohong kalau wanita itu khawatir.


Mungkin memang dirinya yang terlalu berharap lebih, sesekali Orlando menertawakan dirinya sendiri, baru di beri perhatian sedikit oleh Safa ia semakin besar mencintai wanita itu.


"Kamu tidak salah Fa, kamu tidak salah" ucapnya sembari membuka pintu mobil.


"Aku yang salah karena terlalu mengharapkan cintamu"


Orlando menginjak pedal gas, akan tetapi karena tak fokus ia tak sengaja menabrak seseorang. Dengan cepat Orlando turun dari mobil.


"Sorry, gue gak sengaja" ucap Orlando merasa bersalah.


Wanita yang baru saja tertabrak oleh Orlando berdiri, kemudian menggeser sepeda bututnya, ia menoleh pada Orlando tak ada amarah dalam dirinya, melainkan sebuah senyum yang ia tampilkan.


"Saya yang minta maaf Tuan, tadi saya gak tau kalau mobil Tuan hendak berjalan makanya saya lewat. Jadi ini kesalahan saya" balas wanita itu.


"Apa kamu baik-baik saja, emmm maksud saya apa kamu terluka ?"


"Tidak Tuan, Alhamdulillah saya baik-baik saja..Kalau begitu saya permisi"


Orlando menatap penampilan wanita itu dari atas sampai bawah. Begitu sederhana, rambut panjangnya yang ia kuncir kuda dan sebuah tas ransel menggantung di pundaknya.


Orlando tau kalau wanita itu bekerja sebagai OB di rumah sakit ini, bisa di lihat dari baju yang ia kenakan.


Dengan cepat Orlando mengeluarkan dompetnya, lalu menarik lembaran berwarna merah yang entah berapa jumlahnya.


"Ambilah, ini sebagai bentuk permintaan maaf saya" ucap Orlando dengan ikhlas.


"Maaf Tuan saya tidak bisa menerimanya, lagian saya juga sudah memaafkan Tuan, kan saya sudah bilang kalau Tuan tidak salah"


"Tapi, saya tetap merasa bersalah, tolong ambilah" Orlando tetap memaksa.


Wanita itu menangkupkan kedua tangannya didadan"maaf Tuan saya tidak bisa" kemudian berlalu pergi dari hadapan Orlando.


"Hei tunggu !" teriak Orlando menggema.


"Ada apa Tuan ?"


"Setidaknya sebutkan namamu !"


"Panggil saya Ayra Tuan"


Orlando terdiam, matanya fokus menatap wanita yang bernama Ayra itu pergi semakin jauh, menuntun sebuah sepeda yang bagi Orlando begitu butut.


∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆


Sore kembali menyapa, Safa masih setia menunggu Febri sadarkan diri. Sesekali ia melihat layar ponselnya untuk mengusir kejenuhan.


"Ha---us" samar-samar telinga Safa mendengar suara berat Febri. Ia lantas meletakkan ponselnya keatas meja nakas kemudian mengecek kondisi Febri.

__ADS_1


"Mas, kamu sudah sadarkan diri"


"Ha--us" kembali Febri mengulang ucapan serupa.


"Alhamdulillah kalau kamu sudah sadarkan diri Mas, sebentar aku ambilin minum dulu" Safa mengambil segelas air putih dan tak lupa sebuah sedotan supaya Febri bisa minum dengan enak.


"Ini Mas minum dulu, biar aku panggilin dokter nantinya"


Begitu pelan Febri meminum minuman itu, mungkin otot-ototnya masih terasa kaku akibat mengalami Koma, belum lagi akibat kecelakaan yang menimpahnya.


Setelah Febri minum Safa langsung memencet tombol untuk memanggil dokter, beberapa saat kemudian dokter beserta perawat masuk keruangan Febri.


"Mas Febri sadar dok, barusan dia minta minum" ucap Safa menjelaskan.


"Baik saya periksa dulu"


Safa sedikit menjauhkan tubuhnya untuk memberikan ruang yang luas kepada dokter dan perawat.


"Pasien sudah sadarkan diri, tapi dia belum bisa bergerak banyak karena kecelakaan kemaren membuatnya untuk sementara mengalami kelumpuhan" jelas dokter itu.


"Lumpuh dok ? apa itu bisa di sembuhkan"


"Bisa Bu, lumpuh yang di alami pasien bukan bersifat permanen, jika pasien bisa teratur menjalani terapi dan perawatan nya baik dia akan kembali seperti semula"


Jawaban dokter sedikit membuat Safa bernafa legah, Tidak berapa lama dokter keluar dari ruangan. Safa duduk disamping ranjang Febri membuat laki-laki itu menoleh lalu tersenyum.


"Jangan banyak bicara dulu Mas ! kamu istirahat yang banyak biar cepat sembuh" balas Safa.


Febri tersenyum, entah kenapa ia merasa bersyukur dengan kejadian yang menimpahnya, karena dengan begini Safa akan merawatnya.


Bahkan Febri rela kecelakaan parah asal bisa di rawat oleh Safa, sungguh sebuah pemikiran yang tak masuk akal.


"Kamu mau makan Mas ?"


"Tapi suapin ya !"


"Iya"


Safa mengambil makanan yang memang di siapkan oleh pihak rumah sakit, namun sebelum itu Safa membenarkan tempat tidur Febri agar tubuh Febri bisa seperti orang duduk, barulah Safa menyuapi laki-laki itu.


"Masih panas gak ?" tanya Safa pada Febri.


"Sedikit tapi enak kok" jawab Febri, padahal ia paling tidak suka dengan makanan rumah sakit selain tak ada rasa,. tampilannya saja tak membuat selera makan.


"Kalau enak habiskan !"


Febri mengangguk, ia terus membuka mulutnya setiap Safa mendekatkan sendok yang sudah di isi dengan bubur berwarna putih bersih itu.


"Mana Arnold ?" tanya Febri yang ingat dengan putra semata wayangnya.

__ADS_1


"Di rumah sama Ibu mas, aku gak mungkin bawa dia kerumah sakit"


"Iya biarkan saja dia di rumah, karena disini banyak penyakit, Arnold kan masih kecil"


"Sedikit lagi Mas !" Safa menyendokkan bubur yang terakhir kemulut Febri.


"Wah kok udah habis"


"Kenapa kamu masih lapar Mas ?"


"Tidak, Mas bingung aja kenapa cepat sekali habisnya"


Safa tak lagi menjawab, ia justru mengambil ponselnya untuk menghubungi Ardi dan Yohan, karena memang Safa sudah meminta nomor kedua laki-laki itu.


"Kamu mau nelfon siapa Fa ?" tanya Febri heran.


"Nelfon Mas Ardi sama Mas Yohan, buat ngabarin kalau kamu sudah sadarkan diri"


"Oh"


Telinga Febri begitu jelas mendengar kata-kata Safa, akan tetapi tidak dengan orang di seberang sana.


Setelah selesai menelfon Safa memasukan ponselnya kedalam tas, membuat Febri heran karena sepertinya wanita itu hendak pergi.


"Kamu mau kemana Fa ?"


"Aku harus pulang Mas, kamu tenang aja tadi Mas Ardi akan kesini buat nemenin kamu"


"Kenapa kamu mau pulang, kamu disini aja Fa ! temenin Mas"


Safa menghela nafas panjang "Besok aku kesini lagi Mas, sekarang aku pulang dulu soalnya Arnold nanyain aku terus"


"Bisakan kamu bilang pada Arnold kalau kamu jagain Ayahnya, dia pasti ngerti Fa"


"Bicara dengan Arnold itu butuh tenaga ekstra Mas, kita harus pelan-pelan bicara sama dia" jawab Safa yang mulai kesal dengan sikap Febri.


"Tapi janji ya besok kamu kesini lagi"


"Inysa Allah ya Mas"


Safa menunggu kedatangan Ardi barulah ia akan pergi,.entahlah ia merasa sudah tak nyaman berada di dekat laki-laki itu, perasaannya seperti sedang mengkhianati perasaan seseorang.


"Semoga saja Orlando bisa jemput aku" batin Safa, dia memang mengirim pesan pada Orlando untuk minta di jemput.


----


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...

__ADS_1


__ADS_2