
Desi terbangun karena terkejut saat mendengar suara yang begitu membuatnya kaget, ia langsung melirik kekiri dan kekanan namun tak ada apa-apa.
Pandangan nya tertuju pada sang suami yang tertidur pulas di atas sofa, kemudian melirik jam dinding yang berbunyi dengan kencang. Sudah pukul 00:30 Wib itu berarti sudah tengah malam lewat, Tubuh Desi kembali bergetar karena rasa takut itu kembali menyerangnya.
"Tidak, tolong jangan ganggu aku lagi" gumam Desi.
Gordeng jendela memang belum tertutup sempurna membuat pandangan Desi terfokus keluar, hanya kegelapan dan tak ada cahaya sama sekali, hingga tiba-tiba Desi melihat seperti ada yang melintas.
"Aaaaahhhhhhh" teriak Desi kencang.
"Jangan ganggu aku terus, siapa kamu sebenarnya ? kenapa kamu ganggu aku"
Ingatan nya kembali pada ucapan Sara waktu itu "Aku gak mau di ganggu sama hantu nya Safa lagi"
"Apa itu hantunya Safa ya ?" tanya Desi pada diri sendiri.
Hiiiiiii--Hiiiii.
Suara itu kembali terdengar membuat Desi menelungkupkan kepalanya pada kedua lutut yang ia tekuk.
"Amupuni aku Safa, tolong jangan ganggu aku lagi. Maafkan aku Fa ! aku gak sengaja membunuh mu dan anak mu. Hiks-Hiks-hiks" Desi mulai terisak membuat Febri terbangun karena merasa terganggu dengan suara sang istri.
Febri terkejut melihat Desi menangis di atas tempat tidur, ia berdiri dan akan mendekati sang istri namun ucapan Desi berhasil membuat tubuh Febri membeku seketika.
Saat nama Safa wanita yang ia rindukan dan ia cari selama ini di ucapkan Desi sembari menangis.
"Maafkan aku Fa, aku gak sengaja melakukan nya" kembali Desi mengucapkan hal serupa.
"Apa maksud Desi ? melakukan apa ?" ucap Febri dalam hati dengan bertanya-tanya.
Isakan tangis Desi membuat Febri mendekat lagi, ia memegang pundak Desi sehingga membuat Desi terlonjak kaget.
"Aaahhh, jangan-jangan, aku menyesal" teriak Desi
"Kamu bicara apa Des ? ini aku suami kamu"
Desi mengangkat kepalanya tanpa apa-apa Desi langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat, tubuhnya yang bergetar begitu terasa oleh Febri.
"Mas aku takut Mas, kenapa kamu tertidur padahal kamu janji kan gak akan tidur malam ini"
"Maafkan aku, tadi aku ngantuk banget padahal aku udah minum kopi 3 gelas"
__ADS_1
"Hiks-hiks-hiks aku takut sekali Mas, suara itu kembali menghantui aku"
"Tidak ada apa-apa Des, ini hanya perasaan mu saja"
Sebenarnya Febri ingin menanyakan maksud dari ucapan istrinya yang menyebut nama Safa, namun melihat kondisi Desi seperti ini membuat Febri tak tega, ia akan bertanya besok pagi saat keadaan Desi sudah membaik...
"Tapi disana tadi" Desi menunjuk keluar jendela "Ada yang lewat Mas, aku melihat dengan jelas"
Febri mengikuti kemana istrinya menunjuk, tak ada apa-apa yang dapat ia lihat selain kegelapan malam.
"Sudah ayo tidur lagi ! Mas temani" ucap Febri dengan lembut.
"Tapi Mas"
"Tidak akan ada apa-apa Des, ini hanya perasaan kamu saja. Besok kita kedokter ya"
"Kamu beranggapan kalau aku gila ya Mas ? sudah ku bilang aku ini waras Mas, aku memang benar-benar mendengar suara misterius itu"
"Suara siapa Des ? gak ada apa-apa"
"Suara Hantu Safa" teriak Desi keceplosan. Membuat Febri menatap Desi dengan tajam.
"Maksud kamu ?" tanya Febri.
"Apa maksud kamu bilang itu hantunya Safa ? jelaskan Desi !!" bentak Febri.
"Aku salah ucap Mas, percayalah ! aku gak sengaja mengatakan itu"
"Bohong !! ayo jelaskan semuanya ! atau jangan-jangan kamu dalang dari menghilangnya Safa" Suara menggelegar Febri begitu menggema mengisi seisi ruangan. Membuat Desi benar-benar ketakutan.
Ia berusaha meraih tangan sang suami akan tetapi langsung di tepis oleh Febri dengan keras, Desi sudah mengeluarkan air matanya.
"Tidak Mas percayalah padaku ! aku tak terlibat sedikitpun dengan menghilangnya Safa, aku tak tau apa-apa Mas"
"Lalu kenapa tadi kamu menyebut nama Safa ? kenapa ?"
Pertengkarang di antara keduanya terus berlanjut, Febri terus membentak Desi namun dengan banyak alasan Desi menghindari semuanya.
*********
Keesokan paginya Orlando sudah bersiap untuk pulang ke Thailand, ia memang mempercepat kepulangan nya karena rindu dengan Safa, namun ia sudah menyusun rencana untuk membuat Desi dan Sara masuk penjara hari ini.
__ADS_1
"Kirimkan hasil Visum ini pada dokter Febri ! itu sudah tertera alamatnya. Dan kirimkan juga bukti rekaman dari istrinya !" perinta Orlando pada anak buahnya.
"Baik Tuan, terus apa setelah ini tugas kami selesai ?"
"Iya tugas kalian sudah selesai, karena aku sudah puas mengerjai mereka dan kedepannya itu akan menjadi urusan Febri bagaimana dan apa yang akan ia lakukan pada istrinya itu"
Anak buah Orlando mengangguk ia langsung menerima hasil Visum Safa dan juga beberapa lembar foto saat Safa masih pendarahan hebat, dan saat ia memergoki Safa sedang di aniaya Desi ia sempat mengambil foto karena kelak itu akan sangat berguna walaupun disana Desi membelakangi camera tapi ia yakin Febri pasti mengenali istrinya itu.
"Aku akan kembali ke thailand, dan kalian liburan lah ! uangnya sudah aku transfer ke rekening kalian, terima kasih sudah bekerja dengan baik"
Tak berapa lama Anak buah Orlando telah pergi, membuat Orlando tersenyum senang karena seluruh rencananya berjalan dengan baik.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mu Fa, maafkan aku karena aku membalas mereka tanpa sepengetahuan mu" batin Orlando.
*******
"Pak ada tukang paket di depan !" ucap Bi Rita pada Febri yang sedang menyeruput kopinya.
"Buat saya apa Desi ?" tanya Febri.
"Katanya buat Bapak"
"Oh begitu" Febri langsung keluar rumah dan menerima paket, sementara Desi masih di dalam kamar entah sedang apa karena Febri tak peduli.
Febri mulai membuka paketnya, ia mengernyit bingung saat tertera bukti hasil visum tersebut sebagai seorang dokter Febri jelas tau apa makna dari semua ini, dan yang membuatnya tambah kaget ternyata hasil Visum itu adalah nama Alsafa Margareth dan itu adalah istrinya.
Jantung Febri berdegup kencang, ia kembali melihat isi paket dan menemukan beberapa lembar foto, rasanya nafas Febri terhenti seketika saat melihat foto itu, disana terlihat jelas Safa sedang di aniaya oleh dua orang wanita, apalagi darah yang mengalir di lantai.
"Safa istriku"
Tak berapa lama ponselnya berdering, Febri mendapatkan pesan dari nomor tak di kenal, sebuah rekaman suara yang akan membuat Febri marah semarah marahnya. Ia tak menyangka kalau Desi yang membuat ia kehilangan anak dan istrinya.
"Desi, kau tega melakukan ini pada Safa dan calon anak ku ?"
"Bersiaplah mendekap di penjara !"
Febri tak akan mengampuni Desi apapun alasan nya.
-
...LIKE DAN KOMEN...
__ADS_1
...ADS FAVORIT...