Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 15


__ADS_3

Seminggu kemudian, entah kenapa dari kemaren Safa merasakan tidak enak badan, rasanya mual namun sedikitpun tak ada yang di muntahkan. Hanya cairan kekuningan saja.


Sudah satu minggu juga ia dan Febri tak pernah bertemu, bukan merasakan rindu melainkan Safa senang karena tak selalu melihat wajah Febri..


"Mau mandi kenapa males bener ya ! enggak biasanya aku seperti ini" gumam Safa yang heran dengan perubahaan mood nya sendiri.


"Makan sop enak kek nya"


Lantas Safa berjalan kearah dapur, rambut panjangnya ia kuncir kuda. Disana Safa membuka kulkas dan mengambil apa saja bahan untuk membuat Sop Ayam yang lezat.


Namun baru saja akan membuka bawang putih, aroma yang di timbulkan membuat Safa langsung berlari kekamar mandi, perutnya terasa seperti di aduk-aduk.


"Iiihh, kok bau banget" Safa menyingkirkan bawang putih itu.


"Kalau enggak pakai bawang putih mana enak ! lagian aku ini kenapa sih ?"


Safa mulai berpikir, ia menerawang jauh apa yang terjadi dengan nya beberapa hari ini. Tiba-tiba otaknya menangkap sesuatu yang sangat Safa takutkan.


"Enggak , itu gak mungkin" gumam Safa sambil memegangi perutnya yang masih rata.


Benarkah kalau ada calon anaknya disana ? benarkah kalau ada seseorang yang hidup di rahimnya ?.


"Jangan sampai itu terjadi !!"


Tak ingin penasara Safa langsung mengambil ponselnya, ia mencari artikel tentang ciri-ciri wanita hamil.


*Ciri-ciri wanita hamil.



Telat menstruasi.


Pay*d*ra terasa sakit.


mual dan munta di pagi hari.


Sensitif terhadap aroma yang menyengat*.



Dengan sangat seksama Safa membaca artikel tersebut, di antara ciri-ciri yang ia baca ada sebagian besar yang saat ini Safa alami. Itu semua membuat degup jantung Safa berdetak kencang.


"Aku harus beli Tespack !! aku ingin memastikan nya sendiri"


Sebelum pergi Safa membereskan bahan masakan yang barusan akan ia masak namun tak jadi karena aroma bawang putih yang begitu menyengat, di luar rumah Safa menatap sekeliling, keadaan sepi mungkin para tetangga sedang masak atau beres-beres. Bukan Safa menghindar hanya saja Safa malas jika mereka banyak pertanyaan.


Dengan menaiki sebuah motor yang ia temui di pangkalan ojek Safa langsung menuju sebuah apotek.


"Tungguin ya Pak !! jangan pulang dulu saya gak lama kok" pinta Safa.


"Baik dek"


Safa memasuki apotek itu, dengan suara yang amat pelan bahkan hampir tak terdengar Safa berbicara pada penjaga Apotek tersebut.

__ADS_1


"Mbak beli tespack 3 !" ucap Safa.


Wanita yang berdiri di depan Safa agak bingung, pasalnya ia sama sekali tak mendengar apa yang di ucapkan Safa.


"Maaf bisa di besarkan lagi suaranya ?"


"Aduuuh, mbak ini budek atau gimana sih, itu aja gak dengar" gerutu Safa dalam hati.


"Beli tespack 3" kali ini Safa sedikit membesarkan volome suaranya.


"Oh tespack"


"Jangan kenceng-kenceng loh mbak, kan dari tadi saya pelan banget ngomongnya"


"Lah memangnya kenapa ? ini punyamu kan ?" Wanita itu memberikan 3 buah tespack sesuai yang di inginkan Safa.


"Bukanlah ! ini punya kakakku, dia nyuruh aku yang beli makanya aku malu" jawab Safa berbohong.


"Oh". wanita itu tampak mengangguk dan percaya.


"Ya udah berapa semuanya mbak ?"


"30 ribu"


Safa mengeluarkan uang dengan jumlah yang sama seperti yang di katakan wanita itu, setelah itu Safa pergi dan kembali menaiki motor yang masih menunggu dirinya.


------


"Masih ada pasien lagi di luar ?" tanya Febri pada sang Asisten.


"Habis Kak"


"Ya sudah tolong istirahat dulu 30 menit"


"Baik kak"


Setelah sang asisten keluar dari ruangannya, Febri menyandarkan punggungnya sembari melipat kedua tangan nya didada.


"Kamu apa kabar Fa ? mas kangen banget sama kamu, kangen pengen dengerin suara kamu" ucap Febri lirih.


"Sedang apa kamu sekarang ? apa kamu tak merindukan Mas sehingga kamu betah tak mengabari Mas seperti ini"


Febri terus bergumam tak jelas, Safa benar-benar telah mengalihkan dunianya.


------


Sementara itu Safa baru saja tiba di rumah, setelah membayar ongkos Safa langsung masuk kedalam rumah, ada 3 orang ibu-ibu yang menatap kearahnya namun Safa tak peduli karena saat ini ada sesuatu yang harus ia selesaikan.


Dengan langkah yang cepat serta tangan nya yang bergetar Safa menacari wadah untuk menampung urinnya sendiri, karena dengan urin itu ia bisa mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya.


Masih penuh dengan harapan yang besar semoga saja ia tak mengandung, karena kalau sampai itu terjadi dunianya akan benar-benar hancur.


"Pakai ini aja lah ! nanti langsung buang"

__ADS_1


Setelah mendapatkan wadah yang ia butuhkan Safa langsung masuk kekamar mandi, walaupun menurut artikel yang ia baca kalau melakukan tes itu lebih akurat di pagi hari, akan tetapi Safa sudah tak sabar ia ingin mengetahuinya sekarang.


"Semoga negatif !! semoga ini hanya perubahan siklus saja makanya aku telat"


Namun harapan tak sesuai dengan keinginan, ketika dengan jelas dua buah garis merah terpampang dengan jelas di indera penglihatan nya. Detik itu juga air mata Safa menetes dengan deras.


"I---ni, tidak mungkin"


"Tidak !!"


"Kenapa ini harus terjadi padaku ?"


Tangis Safa langsung pecah disana, ia terduduk di lantai kamar mandi sambil memegangi sebuah tespack yang terus menampakan warna merah yang semakin terang.


"Aaahhhh. Hiks--hiks--hiks"


"Aku gak mau hamil... aku gak mau jadi ibu sekarang"


"Ini semua salah Mas Febri..."


-----


30 menit telah berlalu Febri kembali di sibukka dengan pekerjaan nya, memeriksa pasien yang rata-ratanya ibu hamil.


Walaupun pikiran nya terus tertuju pada Safa tapi Febri berusaha semaksimal mungkin dalam memeriksa pasien, ia tak ingin ada kesalahan dan menyebabkan pasien kecewa karena pemeriksaan nya.


Hingga beberapa saat kemudian Febri merasakan ponselnya bergetar, memang kalau sedang memeriksa pasien Febri akan mengalihkan setelan mode di ponselnya, ia tak ingin di ganggu oleh siapapun.


"*Siapa ya ? kenapa nelpon terus ? apa begitu penting"


"Ah palingan juga Desi*"


Febri kembali menjelaskan pada pasien mengenai keluhan yang ia jalani, setelah selesai barulah Febri mengecek siapa yang menelponnya.


Dengan segala keterkejutan nya Febri heran karena ada panggilan tak terjawab dari Safa.


Tanpa menunggu lama Febri langsung menghubungi Safa balik, ia takut kalau gadis itu membutuhkan apa-apa.


"Halo Fa, maaf tadi mas ada pasien makanya gak di jawab panggilan dari kamu" ucap Febri tak enak hati.


"Kamu dimana sekarang ?" tanya Safa di seberang sana, terlihat sekali kalau ia enggan menjawab ucapan Febri.


"Di Klinik"


"Aku kesana sekarang !"


----


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...


...KASIH HADIA (BUNGA/KOPI)...

__ADS_1


__ADS_2