Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 37


__ADS_3

Febri meninggalkan rumah Yohan dengan amarah memuncak, sudut bibir laki-laki itu sudah mengeluarkan darah akibat perkelahian nya dengan Yohan. Jika saja mereka tak di pisahkan oleh penjaha rumah Yohan dan warga sekitar mungkin saat ini Febri dan Yohan masih terus berkelahi.


Dengan kecepatan tinggi Febri menebus padatnya jalanan, tujuannya saat ini apartemen. Ia ingin bertemu dengan Safa.


"Persahabatan kita sampai sini saja"


"Ok siapa takut, gue juga males berteman sama laki-laki pecundang kek Lo"


Masih teringat dengan jelas ucapan Yohan saat Febri memutuskan persahabatan mereka. Saat ini mereka berdua sedang di didalam amarah memuncak, apalagi Febri.


Sesampai di apartemen. Safa langsung menyambut kedatangan sang suami, ia terkejut melihat suaminya babar belur seperti ini.


"Masya Allah kamu kenapa Mas ? apa yang telah terjadi ?" tanya Safa.


"Mas berantem Fa"..


"Berantem sama siapa Mas ?"


"Sama Yohan" jawah Febri sambil mendudukan diri di sofa.


"Kok bisa ? bukankah Mas dan Yohan bersahabat ?"


"Itu dulu sekarang gak lagi, Mas gak mau punya sahabat tapi gak bisa jaga rahasia seperti dia"


Safa langsung terdiam, mungkinkah suaminya itu bertengkar karena hubungan mereka.


"Tapi gak harus berantem Mas, bisakan di bicarakan baik-baik. Lagian mungkin memang sudah saatnya mbak Desi tau semuanya" ujar Safa dengan lembut.


"Kenapa kamu malah belain Yohan sih ? kamu pikir dong kalau ketahuan seperti ini, Mas jadi gak bebas ketemu sama kamu, karena pasti Desi akan menghalangi Mas" bentak Febri kemudian.


Safa menatap sang suami dengan mata berkaca-kaca "Bukankah selama ini kamu juga gak bebas buat ketemuan sama aku ? lalu apa bedanya Mas ? sama aja kan ?".


"Kamu gak tau apa-apa Fa, udah mending kamu diam aja !"


Air mata yang sedari tadi Safa tahan tumpah dengan deras. Safa baru tau kalau suaminya itu mementingkan diri sendiri.


"Ambilin alkohol sama kapas Mas mau bersihin luka ini" pinta Febri


Tanpa menjawab apa-apa Safa langsung pergi dan mengambil apa yang suaminya inginkan. Setelah mendapatkan kedua barang yang tadi Febri katakan Safa kembali di mana suaminya berada.


"Ini Mas"


"Hmmmm"..


"Mau aku bantuin gak Mas ?"


"Enggak usah, Mas bisa sendiri"


Suasana mendadak hening, mata Safa fokus menatap sang suami yang sedang membersihkan wajahnya yang luka, sementara Febri terkadang mengerang kesakitan saat kapas yang sudah di olesi alkohol itu menyentuh bagian yang terluka.

__ADS_1


"Brengsek bener sih Yohan ini" gumam Febri yang menatap kaca di hadapannya.


"Awas aja suatu saat akan ku balas dia"


"Udah lah Mas, lagian dalam hal ini Mas Yohan gak salah, dia hanya menyampaikan kebenaran" sahut Safa.


Mata nyalang Febri menatap Safa dengan tajam "Dari tadi kamu belain Yohan, kamu suka ya sama dia ?"


"Astaghfirullah Mas" pekik Safa "Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu, aku bukan belain mas Yohan tapi karena memang apa yang aku katakan benar adanya. Mas Yohan gak salah"


"Terserah lah, capek ngomong sama anak kecil"


Febri langsung berdiri dan menuju kamar, entah sudah berapa kali cairan bening itu terus membasahi pipi mulus Safa. Dulu ia kira jika Desi mengetahui semuanyan maka kehidupan nya akan berubah dan Febri akan cepat-cepat meresmikan pernikahan mereka.


Namun nyatanya Febri justru terus marah-marah, dan menyalahkan orang lain.


**********


"Pelakor itu pasti punya keluarga, aku harus mendatangi keluarganya dan menyuruh mereka menjemput dia dari apartemen suamiku" gumam Desi


Desi mencari tau di media sosial tentang Safa, sayangnya tak bisa langsung di temukan karena Desi tak mengetahui siapa nama lengkap Safa.


Akan tetapi semuanya tak sampai disini, karena Desi bisa mengatui di lembar surat pernikahan sirih antara Febri dan Safa.


"Aku yakin Mas Febri nyimpan nya di rumah ini"


Pertama Desi membuka lemari khusus pakaian Febri, meneliti dengan benar supaya dia mendapatkan sesuatu yang berhubungan dengan Safa.


"Alsafa Margareth" gumam Desi saat membaca nama pasien yang tertera di atas foto USG itu.


Kembali Desi mengetik nama lengkap Safa di media sosial dan sekarang ia dapatkan, juga di pencarian lain.


( Alsafa Margareth adalah anak tunggal dari Bapak Hardi Safaat dan Wina Santia )


Desi terus membaca biodata Safa, yang lengkap dengan alamat serta hoby wanita itu.


"Aku kesana sekarang, aku ingin mengatakan semuanya pada Ibunya"


*********


Rumah mewah dengan dua tingkat adalah tujuan Desi saat ini, wanita itu terpenganga saat melihat kemegahan rumah Safa.


"Dia anak orang kaya tapi kok bisa ya jadi Pelakor, apa dia masih kekurangan uang"


Desi mendekati pagar besi itu, disana ada Mang Ucup yang sedang berjaga.


"Permisi" ucap Desi.


Mang Ucup mendekat "Iya, mau cari siapa ?"

__ADS_1


"Saya mau cari pemilik rumah ini, apa dia ada di rumah ?"


"Ada. Dan mbak nya ada keperluan apa ?"


"Saya sahabat lama pemilik rumah ini" jawab Desi berbohong.


Mang Ucup langsung percaya dan membukakan pagar, setelah itu Desi masuk.


"Mobilnya gak di masukin aja Mbak ?" tanya Mang Ucup.


"Enggak usah saya gak lama kok"


Di teras depan ada Sara yang sedang membaca buku, ia heran melihat kedatangan wanita yang tak ia kenal.


"Permisi, apa anda pemilik rumah ini ?" tanya Desi langsung, tak terlihat ramah sama sekali.


Sara berdiri lalu meletakkan buku bacaan ke atas meja, ia mendekati Desi.


"Ibu siapa ya ?" tanya Sara heran.


"Saya Desi, kedatangan saya kesini mau bertemu dengan pemilik rumah ini atau lebih tepatnya kedua orang tua Safa"


"Anda mengenal Safa adik Saya ?" tanya Sara heran.


Desi menatap Sara dari atas sampai bawah "Kamu kakaknya Safa ?"


"Iya, tapi cuman Kakak tiri"


"Oh, terus mana ibunya Safa, saya mau bertemu ada hal penting yang ingin saya katakan"


"Tunggu sebentar akan saya panggilkan"


Tanpa di persilahkan Desi duduk di kursi teras sambil menunggu Sara memanggil Ibunya Safa. Tak berapa lama Sara dan Wina keluar.


"Maaf, ada apa ya anda mencari saya ?" tanya Wina.


"Apa benar anda ibu dari Safa ?"


Kening Wina mengkerut, siapa wanita ini, kenapa dia kenal dengan Safa. Begitu yang ada di pikiran Wina.


"Anda siapa ? kok bisa kenal dengan anak saya Safa ?"


"Saya Desi, wanita yang suaminya telah di rebut oleh Putrimu" ucap Desi penuh dengan emosi.


Wina menatap Sara, begitupun sebaliknya.. Memang beberapa hari yang lalu Sara pernah menceritakan kalau saat ini Safa sedang hamil tapi Wina tak peduli lagi.


"Itu urusan anda pada anak saya, jadi jangan datang pada Saya, karena saya tak akan peduli" jawab Wina dengan tenang. Tak ada keterkejutan sama sekali di wajahnya.


---

__ADS_1


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...


__ADS_2