Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 89


__ADS_3

Malam semakin larut, setelah percakapan nya sebentar dengan sang Ibu membuat Safa bernafas lega. Berharap Febri akan mengerti akan pilihannya.


Benar memang Safa berhak memilih dan menentukan siapa pasangannya kelak. Hubungannya dengan Febri dulu di landasi dengan sebuah keterpaksaan, seandainya saja Febri tak pernah merenggut mahkotanya mungkin saja saat itu Safa tak akan menjadi istri kedua Febri. Tapi semua ini kembali pada takdir.


Ponselnya terus saja berbunyi, pesan masuk dari sang kekasih terus berlanjut.


"*Hei sayang, kenapa tidak di balas lagi ? sudah tidur kah ?"


"Sayang ..."


"Oh Sayangku* .."


Safa terkekeh geli demi membaca satu persatu pesan dari Orlando, entah kenapa ia merasa malu sendiri karena sikap Orlando yang menurutnya sangat lebay. Tapi Safa tak bisa mempungkiri kalau dirinya begitu bahagia sekarang.


"Belum Ndo, kamu sendiri kenapa belum tidur ?" balas Safa kemudian.


"Gak bisa tidur, habis kangen sama kamu"


"Kan baru ketemu tadi, kok udah kangen sih ?"


"Ketemunya kan cuman bentar Fa, dan aku akan terus kangen sama kamu walaupun setiap menit ketemu"


Safa kembali terkekeh, ia menggelengkan kepalanya berulang.


"Udah ah lebay terus, sana tidur ! aku juga udah ngantuk !"


"Baiklah, selamat malam ya sayangku. Sampai jumpa besok"


"Malam juga Ndo".


Safa mematikan ponselnya lalu meletakkan di atas meja nakas, senyum di bibirnya masih mereka, sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur ia sudah membayangkan bagaimana rasanya hidup bersama dengan Orlando.


**********


Pagi kembali datang, sinar matahari kembali bersinar dengan terang. Sementara itu Safa baru saja terbangun dari tidurnya, mungkin karena begadang semalaman ia menjadi kesiangan seperti sekarang.


"Bunda banguuuuunn" teriak Arnold menggema membuat Safa yang masih sangat malas membuka selimut yang melilit tubuhnya harus segera ia lakukan. Karena jika tak bangun maka Arnold akan melakukan hal aneh seperti menyiram wajahnya dengan air..


"Pagi sayangnya Bunda" ucap Safa dengan suara serak.


Arnold tak menjawab ia tampak cemberut membuat Safa heran dengan sikap anaknya "Loh kok udah cemberut aja, Arnold kenapa nak ?"


"Hari ini aku mau ikut Bunda pergi"


Kening Safa mengkerut, ia heran dari mana Arnold tau kalau hari ini ia akan pergi lagi. Pasalnya semalam ia belum bercerita sedikitpun pada Arnold.


"Memangnya siapa yang ngasih tau Ar kalau Bunda mau pergi ?"


"Papa Ndo"

__ADS_1


"Hah" Safa terkejut "Emang Ar telefon Papa Ndo ya ?"


Arnold menggelengkan kepalanya "Kan Papa Ndo ada di bawah Bun, dia mau jemput Bunda berarti Bunda sama Papa mau pergi"


Astaga....


Sepagi ini Orlando sudah ada di rumahnya ?


Tapi tunggu !!


Benarkah ini masih pagi ? atau hanya perasaan Safa saja. Dengan segera Safa melihat jam di ponselnya. Matanya melotot sempurna saat melihat angka 08 yang tertera disana.


"Astaga aku kesiangan" pekik Safa kemudian.


"Ar tunggu di bawa dulu sama Papa Ndo dan nenek, Bunda mau mandi dulu !" pinta Safa pada Arnold.


"Baik Bun"


Tak menunggu Arnold pergi, Safa sudah melesat kekamar mandi, ia merutuki kebodohan nya sendiri karena bisa bangun kesiangan. Ini pasti karena semalam terlalu asik chatingan sama Orlando. Atau karena ia terlalu bahagia hingga membuat tidurnya juga begitu nyenyak.


Beberapa menit kemudian Safa telah selesai dengan aktifitas mandinya, ia langsung keluar dari kamar mandi dan mencari pakaian yang pas untuk ia kenakan hari ini.


********


Di rumah sakit..


Semalam yang menemaninya adalah Ardi. Dan sekarang Ardi tengah membantu membereskan barang-barang Febri.


"Pulangnya nungguin Safa ya Ar" ucap Febri.


"Siap" Ardi menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari layar ponsel


"Nanti kamu bantu aku ya untuk mempersiapkan lamaran pada Safa"


Untuk yang ini Ardi tak bisa fokus lagi, ia segera menyimpan ponselnya pada saku celana, kemudian beranjak mendekati Febri.


"Lo mau ngelamar Safa lagi ?" tanya Ardi dan di jawab dengan anggukan oleh Febri.


"Udah di kasih tau sama Safa ?"


"Udah kemaren"


"Terus apa jawaban Safa ?"


"Iya dia diam aja, tapi gue yakin kok Ar kalau Safa mau, dapat di lihat dari tatapan matanya yang begitu tulus merawat gue"


Ardi menganggukan kepalanya berulang, ia tak menjawab apapun lagi, tapi Ardi berharap Safa memang mau rujuk dengan Febri.


"Gue akan mendoakan yang terbaik buat Lo dan Safa"

__ADS_1


"Thanks Ar"..


Hingga beberapa saat kemudian Safa tiba membuat Febri langsung tersenyum senang, akan tetapi senyum itu langsung lenyap seketika saat melihat kehadiran laki-laki lain bersama Safa.


Bukan Febri tak kenal, hanya saja ia heran kenapa bisa Orlando dan Safa datang bersama.


"Bagaimana keadaan anda dokter Febri ?" tanya Orlando basa-basi.


"Seperti yang anda lihat, Oh ya kenapa anda bisa datang bersama dengan Safa ? apa kalian tidak sengaja bertemu ?" Febri balik bertanya.


Safa melirik kearah Orlando dan di balas senyuman oleh Orlando.


"Kami memang datang bersama, bahkan saya yang menjemput Safa di rumahnya"


"Kenapa bisa ?" Febri semakin heran, ia butuh kejelasan sekarang.


"Mas, bisa kita bicara sebentar !" sahut Safa kemudian.


"Bicarala Fa ! Mas akan mendengarkan mu"


Sebelum memulai Safa menarik nafas panjang "Sebelumnya aku mau minta maaf Mas, kemaren kan Mas Febri ngajakin aku rujuk dan Maaf Mas aku gak bisa terima itu. Karena aku sudah menemukan laki-laki lain" jelas Safa dengan kepala menunduk.


"Jangan tundukan kepalamu Sayang !" titah Orlando sehingga membuat Febri kaget, begitupun dengan Ardi yang langsung terbelalak kaget saat mendengar kata Sayang yang Orlando ucapkan.


"Ada apa ini ? kenapa anda memanggil Safa dengan sebutan sayang ?" tanya Febri


"Kita memang ada hubungan" jawab Orlando langsung


"Sejauh apa hubungan kalian ? kenapa bisa seperti ini Fa ? kamu gak bisa ninggalin Mas gitu aja, ingat Fa kita udah punya anak dan kamu harus pikirin masa depan anak kita"


"Anda tenang saja,masa depan Arnold aman dengan saya" sahut Orlando.


"Tau apa kau tentang Arnold hah ?" bentak Febri kemudian.


Safa menggenggam tangan Orlando dengan erat, ia takut jika sudah mendengar suara bentakan, apalagi itu adalah suara Febri karena semua ini akan mengingatkan dirinya akan masa lalu yang pahit.


"Aku bahkan lebih tau tentang Arnold dari pada anda dokter Febri, aku tau semuanya jadi dia aman jika memiliki Ayah sambung seperti saya" balas Orlando di iringi dengan senyuman.


"Fa, apa dia yang selalu di sebut Arnold Papa ? apa laki-laki ini orangnya Fa ? Jawaaaaaaab" tanya Febri dengan tatapan tajamnya pada Safa.


"I----ya mas"


"Brengs*k" Febri memukul pinggir ranjangnya, jika saja saat ini ia bisa berjalan mungkin saja ia sudah menghajar Orlando dengan keras. Ia tak terima dengan semua ini apalagi Safa yang memilih Orlando.


----


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT ...

__ADS_1


__ADS_2