
Sara kembali terkejut saat Wina melayangkan tamparan kedua, sakit bercampur perih ia rasakan di pipinya. Sara memegangi pipi yang terasa kebas akibat tamparan Wina.
"Saya gak nyangka kalau kamu sejahat itu sama anak saya" ucap Wina
"Ibu gak usah menyalahkan aku, kita sama saja bu, apa selama ini Ibu berlaku baik pada Safa ?"
Wina terdiam, ia mulai merasakan penyesalan selama ini ia sudah begitu jahat pada Safa dan bahkan sudah mengusir Safa tanpa alasan.
Air mata Wina mengalir dengan deras.
"Bawa dia kepenjara !" ucap Wina pada Febri.
"Memang itu yang akan saya lakukan, saya akan menjebloskan siapa saja yang membuat istri saya menderita" jawab Febri.
Sara ketakutan, ia bingung harus bagaimana, minta tolong pada sang Ayah sementara Ayahnya sedang pergi keluar kota sudah seminggu ini.
"Saya tidak melakukan apa-apa sama Safa, saya hanya memegangi tangannya saja, istrimu yang menyiksa dia sampai duduk di atas perut Safa yang sudah besar itu" teriak Sara.
Febri yang mendengarnya saja langsung merasa ngilu apalagi berada di posisi Safa, ia tak bisa membayangkan bagaimana kesakitan istrinya waktu itu.
"Tapi kamu tetap salah, walaupun kamu hanya memegangi tangannya itu tetap saja salah karena kamu telah membuat Safa tak bisa melarikan diri" Bentak Febri.
Sara menunduk, cairan bening itu sudah lolos begitu saja membasahi pipinya.
"Ibu tolong jangan masukan aku kepenjara Bu !" ucap Sara yang kini sudah berlutut di kaki Wina guna mencari perlindungan.
"Aku memang jahat sama Safa, tapi aku tak pernah menginginkan anakku kenapa-napa,dan kau yang bukan siapa-siapa malah melakukan itu, jadi maaf aku kalau aku akan tetap menjebloskan kamu ke penjara" balas Wina.
"Tidak Bu, aku tidak melakukan apapun, istrinya yang melakukan itu bukan aku"
Febri mulai jengah ia menarik tangan Sara dan menyeretnya menuju mobil, Mang Ucup sampai kaget melihat Sara berteriak meminta pertolongan pada Wina.
"Ada apa dengan Non Sara ? dan tumben Nyonya tak menolongnya apa Nyonya sudah sadar ya kalau Sara bukan anak kandungnya" ucap Mang Ucup dalam hati.
*******
Di dalam perjalan menuju kantor polisi Sara terus saja berteriak minta di lepaskan karena ia merasa kalau ia tak salah dan Desi lah yang salah.
Akan tetapi Febri tak peduli, ia mengabaikan teriakan Sara. Walaupun itu sangat memekakan telinga.
"Kalau Om tak mau melepaskan aku, aku akan loncat disini" ancam Sara.
__ADS_1
Febri tak menanggapia ia terus melajukan mobilnya dengan kencang.
"Aku gak main-main Loh Om, aku lebih baik mati dari pada masuk penjara"
"Silahkan kalau kamu mau loncat, saya akan menambah kecepatan" kali ini Febri membalas.
Namun Sara tak melakukan nya ia justru menangis semakin kencang membuat Febri tersenyum sinis, ia sadar kalau Sara hanya menggertak nya.
Tidak berapa lama mobil sudah berhenti tepat di depan kantor polisi membuat tubuh Sara langsung menegang seketika, ia ketakutan dan bayangan jeruji besi mulai terlintas di ingatannnya.
"Tidak aku tidak mau berada di sini, aku mau pulang"
"Aaaahhhh kenapa Tante sialan itu tak bisa menjaga rahasia"
Sara ingin keluar akan tetapi pintu mobil sudah di kunci oleh Febri, membuat Sara tak bisa kemana-mana.
"Sialan ! ternyata pak tua itu lebih pintar dariku" gumam Sara.
********
Hari sudah menjelang sore, hari ini Febri sudah melaporkan Desi dan Sara ke pihak berwajib, walaupun apa yang ia lakukan tak akan membuat Safa kembali tapi Febri merasa sudah melakukan yang terbaik, ia ingin apa yang Safa rasakan juga di rasakan oleh Desi.
"Fa, kamu masih hidup atau enggak ?"
"Kalau kamu masih hidup tolong kembalilah Fa, Mas akan menjaga kamu dengan baik"
Suara ketokan pintu membuat Febri beranjak, ia membuka pintu dengan pelan.
"Maaf pak menganggu, saya mau mengatakan kalau bapak belum makan siang" ucap Bi Rita.
"Saya belum laper Bi, nanti kalau saya laper saya akan makan"
"Baik Pak, kalau begitu makanannya saya angetin lagi buat bapak makan malam"
Febri hanya membalas dengan anggukan kepala, setelah Bi Rita pergi ia kembali masuk kedalam kamar tak lupa menutup pintu dahulu.
Febri teringat dengan ponsel Safa, ia langsung mencarinya untuk membuka semua aplikasi disana, karena memang Febri belum pernah melihatnya.
"Mas rindu Fa" gumam Febri saat menatap layar ponsel yang sering Safa gunakan menampakan fotonya dan Febri saat menikah dulu.
"Pulanglah Sayang !"
__ADS_1
******
Setelah menempuh waktu yang cukup lama sekarang Orlando sudah tiba di negara nya, Tanpa mampir kemanapun Orlando langsung pulang kerumah walau nanti yang ia temui hanyalah kesepian karena sudah pasti semua orang sudah tidur.
Ia di jemput oleh sopir rumah, saat tiba di rumah Orlando langsung berlari masuk kedalam rumah membuat beberapa pelayan yang menyambut kedatanganya menjadi heran, tapi Orlando tak peduli.
Kamar pertama yang ia lihat adalah kamar Safa, dengan pelan namun pasti Orlando mendorong pintu kamar sehingga membuat Safa yang belum tidur menjadi kaget.
"Orlando" Pekik Safa.
"Kenapa belum tidur ? " tanya Orlando yang langsung duduk di sisi ranjang.
"Kok kamu pulang gak ngabarin aku sih ? katanya belum mau pulang ?" Safa justru balik bertanya.
"Kebiasaan kalau aku nanya kamu juga ikutan nanya"
"Hehe, iya aku kaget aja kok kamu tiba-tiba ada disini"
Orlando menceritakan kalau pekerjaan nya di indonesia telah selesai makanya ia pulang dengan cepat.
Mata Orlando menatap sekeliling kamar Safa, sebuah box bayi dan satu buah lemari baru sudah terletak disana dengan rapih.
"Lemari untuk pakaian dede bayi ya ?".tanya Orlando.
"Iya Ndo, momy kamu yang melakukannya"
"Sebentar lagi rumah ini akan ramai, jadi gak sabar bertemu dede bayi"
Safa mengelus perut nya "Iya Ndo, ini akan menjadi pengalaman pertamaku melahirkan, tapi aku sudah mengalami hal menyakitkan, biasa nya saat melahirkan ada suami yang menemani tapi aku---" Safa tak kuat melanjutkan ucapan nya karena setiap mengingat nama Febri dadanya selalu merasa sesak.
"Kan ada aku, Momy dan Dady yang peduli sama kamu Fa, kamu gak usah mengingat seseorang yang sudah menyakiti kamu"
"Aku sudah berusaha melupakannya Ndo,.tapi itu tak akan bisa karena anak ini adalah darah daging Mas Febri".Safa menunduk untuk menyembunyikan air matanya yang akan jatuh, ia tak mau Orlando tau kalau dia menangis.
"Kalau kamu berusaha kamu pasti bisa melupakan suami kamu Fa, percaya sama aku"
---
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
__ADS_1