
Safa terus memundurkan langkanya, tubuhnya bergetar karena rasa takut yang luar biasa. Sementara Sara dan Desi terus menatap Safa dengan senyum penuh penekanan.
"Kalian mau apa sebenarnya ?" tanya Safa.
"Sudah ku bilang kalau kami ingin bersenang-senang dengan mu" jawab Sara.
Desi maju ia mencengkram pergelalangan tangan Safa dengan kuat sehingga membuat Safa meringis. Entah apa lagi yang akan di lakukan Desi kali ini.
"Tinggalkan suamiku ! pergi kau yang jauh pelakor !" bentak Desi kemudian.
"Ku mohon jangan seperti ini mbak Desi ! kita bisa bicara baik-baik, ingat mbak di rahimku ada anak Mas Febri" Safa berusaha mengingatkan.
"Ciiihhh" Desi membuang luda nya sembarang arah "Kau pikir saya mau menerima anak di kandungan kamu Hah ? saya sudah tekankan jika saya tidak bisa memberikan anak untuk Mas Febri maka siapapun wanita di dunia ini juga tidak boleh" sambung Desi lagi.
Air mata Safa mengalir dengan deras, rasa takut di hatinya semakin menggebu "Lepaskan mbak ! ini sakit sekali"
"Tidak akan aku lepaskan ! anak di kandungan mu harus lenyap Safa supaya Mas Febri mau melepaskan kamu"
"Jangan lakukan itu mbak, dia tidak berdosa !" Safa berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang masih di cengkram oleh Desi dengan kuat. Dan hasilnya berbuah dengan baik Safa berhasil melepeskan diri. Ia berlari menjauh dari Desi dan Sara kakak tirinya.
"Pergi kalian ! aku bilang pergi" ucap Safa.
"Mau kemana kamu Hah ? sini mau kamu Safa"
"Aku gak mau Mbak Desi, aku akan melindungi anak ku dari wanita jahat seperti kalian"
Sara tertawa dengan keras, ia terus berjalan mendekati Safa "Ayo Safa nurut sama kita, lebih baik kamu ikhlaskan anak itu lenyap supaya kamu bisa bebas lagi"
"Jangan Mbak Sara !" tangis Safa begitu kencang, ia mengambil ponselnya yang kebetulan ada di dekatnya. Safa ingin menghubungi sang suami untuk meminta pertolongan.
"Mau nelpon siapa kamu Hah ? jangan harap kamu bisa menghubungi Mas Febri" bentak Desi, ia langsung berlari untuk merebut ponsel Safa.
Desi berhasil merebut ponsel itu, benar saja saat di lihat Safa sedang menghubungi Febri namun dengan cepat Desi memutuskan sambungan Telepon sebelum Febri menjawabnya.
*Plllaaaaakkkk
Plaaaaaaakkkk*
Desi menampar pipi Safa berulang kali, dimana wajah Safa baru saja sembuh dari memar akibat tamparan Febri sekarang kembali lagi, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
Bukan hanya itu Desi juga menarik rambut Safa dengan kencang dan menarik tubuh Safa untuk merapat ketembok. Tanpa ampun Desi membenturkan kepala Safa berulang.
"Ampuun Mbak !! ampuni aku !" ucap Safa lirih, ia sudah tak tahan karena benturan yang sangat keras, pusing dan sakit menjadi satu.
__ADS_1
"Tidak ada kata ampun untuk mu Pelakor, karena kamu sudah nyakitin aku, kamu merebut suami ku, dan ini balasan setimpal untukmu" Desi kembali membenturkan kepala Safa
"Ayo terus Tante, kalau bisa sampai di m*ti" teriak Sara kegirangan. Ia memang begitu bahagia melihat saudara tirinya menderita apalagi sampai Safa kehilangan nyawanya.
"Pegang tangannya Safa , saatnya kita tidurkan dia dan melenyapkan bayinya" Pinta Desi.
Safa belum kehilngan kesadaran, dengan tubuhnya yang lemah Safa masih berusaha melepaskan diri. Dengan sisah tenaganya Safa memukul perut Desi sehingga membuat Desi terhuyung kebelakang.
Safa berlari ke arah pintu guna mencari pertolongan.
"Toloooooong.. Orlando Tolong aku !!" teriak Safa menggema.
"Tangkap dia Sara, jangan biarkan dia meminta tolong" ucap Desi.
Sara mengangguk, ia menyusul Safa dan langsung memegangi tangan Safa dengan kuat.
"Lepaskan aku Kak ! apa salahku sampai kamu begitu membenci aku ?"
"Diam kamu Safa, ayo masuk kedalam dan nikmati detik-detik kematian mu" Sara menarik lagi tubuh Safa.
Di apartemen Orlando samar-samar ia mendengar suara seseorang minta tolong, Walau itu sangat kecil tapi Orlando yakin itu adalah suara seseorang.
"Apa jangan-jangan itu Safa ya ?" gumam Orlando.
"Tapi kan ada suaminya, kenapa dia minta tolong ?"
Secepat kilat Orlando keluar apartemen dan beranjak menuju apartemen Safa.
*Praaanggg
Pranggg
Bug
Bug*.
"Safa" Orlando berlari dan langsung membuka pintu apartemen Safa yang memang tak terkunci.
"Hei apa yang kalian lakukan ?" teriak Orlando pada dua orang wanita yang sedang menganiaya Safa.
Desi yang saat itu sedang duduk di atas perut Safa langsung terhenyak kaget begitupun dengan Sara yang sedang memegangi kedua tangan Safa. Mereka berdua langsung berdiri.
Orlando mendekati Safa yang sudah tergeletak tak berdaya di atas lantai, darah segar sudah mengalir dengan deras membasahi kaki Safa.
__ADS_1
Wajah Desi langsung pucat apalagi melihat darah yang begitu banyak keluar dari jalan lahir Safa, ia tak menyangka kalau dirinya akan melakukan itu.
"Bukan aku yang melakukan nya tapi dia ?" ucap Desi menggelengkan kepalanya dengan tunjuk mengarah kearaha Sara.
"Kok Tante nyalahin aku, kan tadi Tante yang duduk di atas perut Safa, aku hanya memegangi tangannya" balas Sara tak terima dengan tuduhan Desi.
"Bukan aku, bukan aku yang melakukan nya" Tubuh Desi bergetar karena rasa takut.
"Diam kalian, ini semua harus di proses secara hukum, karena kalian sudah berniat melenyapkan nyawa seseorang" bentak Orlando.
"Safa bangun Fa !! aku akan membawa mu kerumah sakit" dengan cepat Orlando menggendong Safa dan berlari keluar dari apartemen, ia begitu panik dengan keadaan Safa sekarang.
Sementara Desi dan Sara masih saling pandang, kemudian serempak menatap kearah darah yang masih membekas di lantai.
"Tolong Tente untuk membersihkan darah ini dan membereskan apartemen ini supaya Mas Febri gak curiga sama aku" pinta Desi.
"Baik Tante"
*********
Di rumah sakit yang sebelum nya tempat Safa di rawat Orlando kemudian berlari sambil membawa tubuh Safa yang sudah tak sadarkan diri.
Dokter Wulan yang baru saja selesai memeriksa pasien kaget melihat keadaan Safa, ia masih ingat dengan Safa karena Safa baru saja dia rawat.
"Ada apa lagi ini ? jatuh atau gimana ?" tanya Dokter Wulan.
"Nanti saja bertanya nya dok, cepat tanganin dia dulu"
"Baik, ayo bawa ke IGD"..
Di atas brankar Orlando meletakkan tubuh Safa dengan pelan. Setelah itu seorang perawat langsung memasang infus dan selang oksigen.
"Bapak tunggu di luar ya ! biar kami bisa fokus memeriksa istri bapak"
"Baik dok, tolong lakukan yang terbaik untuk nya dan anaknya !"
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin"
Orlando keluar dari ruangan IGD ia menunggu sambil duduk di bangku panjang dengan perasaan cemas dan juga khawatir.
"Safa sudah tidak aman lagi disini, lebih baik aku bawa dia kabur ke Thailand..Disana dia bisa di rawat oleh Momy ku" gumam Orlando.
---
__ADS_1
...LIKE DAN KOMEN ...
...ADD FAVORIT...