Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 23


__ADS_3

Febri tersenyum ia bahagia karena Safa mau menuruti keinginan nya untuk pindah. Kalau Safa pindah ke Apartemen Febri akan tenang karena disana tidak akan ada yang kepo jika ia datang kesana.


"Makasih ya Sayang ! ".


"Sama-sama Mas"


Malam ini keduanya kembali tidur bersama, entah kenapa tak ada rasa canggung lagi di diri Safa, bahkan perempuan cantik itu memeluk Febri dengan erat.


Begitupun dengan Febri yang membalas memeluk istrinya dengan erat, mereka berdua tidur dengan sangat lelap.


 


Pagi-lagi sekali tepatnya jam 04 subuh Febri sudah bersiap untuk pulang. Awalnya ia ingin membangunkan Safa tapi karena istrinya itu tidur dengan sangat pulas Febri menjadi tak tega.


"Kamu cantik sekali kalau sedang tidur seperti ini" ucap Febri dalam hati.


Dengan sangat hati-hati Febri turun dari tempat tidur, ia melangkah dengan pelan supaya suara kakinya tak membangunkan sang istri.


Bahkan menutup pintu kamar saja Febri lakukan dengan sangat pelan.


Di luar belum ada ibu-ibu yang keluar, mungkin sebentar lagi karena mereka akan ke masjid terdekat. Karena dulu Febri dan Desi sering seperti itu.


Di dalam perjalan Febri menelfon Yohan.


"Ada apa Loh nelfonin gue pagi buta begini ? ganggu orang tidur aja tau gak" omel Yohan di seberang sana. Namun Febri tak peduli karena siang nanti ia benar-benar membutuhkan bantuan dari sahabatnya itu.


"Sorry-sorry, kek Lo gak pernah aja gangguin gue"


"Ada apa emangnya ? pasti minta bantuan kalau udah nelfon pagi-pagi kek gini"


"Eh, lo tau aja padahal kan gue belum cerita"


"Gua mah hapal sama sifat lo dan Ardi. Udah cepetan mau di bantuin apa ?"


Febri menceritakan kalau Safa akan ia pindahkan ke apartemen, di sana Yohan mendengarkan dengan jelas walau kadang sesekali Yohan menguap karena rasa kantuk.


"Gitu, lo bisakan bantuin gue ? kali ini aja !"


"Ya bisa, entar gue yang urus istri mudah lo. Tapi kalau ia kepincut sama gue lo jangan marah ya !!"


"Dia gak bakalan kepincut sama lo, karena di dalam perutnya ada bibit gue yang sedang berkembang"

__ADS_1


Terdengar suara Yohan yang tertawa. Namun tak berapa lama sambungan telepon terputus dan Febri juga sudah dekat dengan rumahnya.


Febri melirik jam tangannya masih setengah lima dan Desi akan pulang sebentar lagi, ia memutuskan untuk masuk dan tidur dikamar supaya Desi tak curiga jika semalam ia tak menginap di rumah.


Bi Ratih yang melihat Febri melintas dan memasuki kamar hanya menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya bapak menyimpan sesuatu, semoga saja rumah tangga bapak dan ibu baik-baik saja" ucap Bi Ratih dalam hati, ia sangat menyanyangkan jika rumah tangga Febri dan Desi berantakan.


--------


Tepat jam 06 pagi Desi sudah sampai di rumah, ia tersenyum kearah Bi Ratih yang sedang menyapu lantai. Lalu tanpa bertanya apapun Desi langsung menuju kamar.


Disana Desi geleng-geleng kepala saat melihat suaminya masih tertidur.


"Mas bangun !!" Desi menggoyangkan badan Febri dengan pelan.


Febri yang memang hanya pura-pura tidur langsung terbangun, ia mengucek kedua matanya seolah baru saja terbangun. Kemudian menatap sang istri dimana Desi sudah berdiri di sampingnya dengan wajah yang lelah.


"Kamu baru pulang Yang ?"


"He.em. Ayo bangun kamu mau kerjakan ?"


"Kerja Yang, tapi bentar lagi lah. Masih pagi banget"


------


Safa merabah tempat tidur di sampingnya, ia mencari sosok sang suami namun ternyata kosong. Suaminya tak ada disana. Secepat kilat Safa membuka matanya.


"Mas Febri kemana ? kenapa sepagi ini dia sudah gak ada ?"


Mata Safa melirik sekitar, dikamar mandi tak ada suara gemericik air itu menandakan kalau tak ada orang disana. Dengan nafas berat Safa menunduk ia baru menyadari kalau suaminya itu ada dua istri, mungkin sudah saatnya Febri pulang kerumahnya.


Ia hanya istri simpanan, ia akan di temui Febri disaat laki-laki itu ada waktu ataupun istrinya tak ada. Tak ada hak untuk Safa selalu ingin di temani oleh Febri karena Safa yakin kalau Febri akan mengutamakan istri tuanya.


"Mungkin ini akan menjadi takdirku" gumam Safa.


Selesai mandi Safa menuju dapur, ia ingat kalau hari ini akan pindah ke apartemen. Dan semalam Febri sudah mengatakan kalau ada temannya yang mengurus pemindahannya karena Febri tak bisa menemani.


Benar saja jam 08 pagi Yohan sudah datang, ia tak mau masuk walaupun Safa menawari. Karena tak enak di tunggu terlalu lama Safa bersiap begitu cepat lagian tak ada barang-barang lain yang harus ia bawa selain pakaian nya.


"Ayo Mas Yohan, aku sudah siap" ucap Safa.

__ADS_1


"Barangnya cuman ini Fa ?"


"Iya Mas, hanya baju aja"


"Ya sudah sini biar saya yang bawa, kamu masuk mobil sana !"


Safa menurut, ia memberikan tasnya pada Yohan sementara dirinya memasuki mobil belakang.


Tak berapa lama Yohan pun ikut masuk, ia mulai menginjak pedal gas dan mobil berjalan dengan pelan meninggalkan rumah itu. Safa melirik kebelakang, rumah itu banyak memberikan kenangan selama kurang lebih 2 bulan ia tinggali.


Dan rumah itu menjadi saksi bisu ia merelakan keperawanan nya hilang di renggut oleh Febri.


"Kamu mau beli seuatu gak Fa ?kalau iya bilang aja entar kita mampir sebentar"


Safa mengingat sesuatu, kemaren ia begitu menginginkan es cream dan sosis bakar namun ia tak berani bilang kepada Febri dan tak berniat untuk memesan di aplikasi.


Awalnya Safa ingin mengangguk, namun karena sekarang ia akan tinggal di apartemen Safa akhirnya mengurungkan niatnya.


"Kalau sudah di apartemen nanti akukan bebas mau keluar, gak takut di tanyain sama tetangga seperti di rumah itu" ucap Safa dalam hati.


"Tidak usah Mas langsung ke Apartemen saja, lagian tadi aku udah sarapan, sekarang masih kenyang"


"Oh ya sudah kalau begitu, jadi kita pulang ini ?"..


"Iya Mas, langsung ke Apartemen saja"


Yohan terlihat mengangguk, tak berapa lama mobil Yohan memasuki halaman gedung yang menjulang tinggi, tak perlu di tanya lagi Safa sudah tau kalau ini sebuah Apartemen. Namun untuk nomor berapa yang ia tempati Safa belum tau.


"Ayo masuk, Apartemen Febri ada di lantai 5" jelas Yohan sebelum Safa menjawab.


Lagi dan lagi Yohan yang membawakan tas Safa, dan Safa hanya mengikuti langkahnya dari belakang. Di dalam lif terlihat Yohan memencet angka 5.


"Walaupun tinggal di apartemen kamu tetap harus hati-hati ya Fa ! Febri tak bisa selalu ada buat kamu, dia kan punya istri juga"


Entah kenapa ucapan Yohan begitu menusuk relung hati Safa.


"Iya Mas Yohan"


----


...LIKE DAN KOMEN...

__ADS_1


...ADD FAVORIT...


...KASIH HADIA (BUNGA/KOPI)...


__ADS_2