Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 41


__ADS_3

Untuk yang kedua kalinya Safa menerima tamparan dari sang suami, di hari yang sama dan di tanggal yang sama. Semua ini akan Safa jadikan sebuah pelajaran bermakna untuk hidupnya.


Ia telah salah mengenal Febri, dulu yang Safa kira kalau Febri adalah orang yang baik dan berhati lembut ternyata salah besar. Febri bukanlah sebaik yang Safa pikirkan.


"Safa ayo buka pintunya, Mas ulangi ya mulai hari ini kamu harus tinggal serumah dengan Mas" teriak Febri dari luar kamar, ternyata laki-laki itu belum pergi dari apartemen.


Safa menutup kedua telinganya rapat-rapat "Aku gak mau Mas, aku gak mau tinggal serumah dengan Mas" balas Safa.


"Harus mau Fa, tak ada alasan untuk mu menolak"


"Pokoknya aku gak mau"


Hening tak ada lagi jawaban dari Febri, membuat Safa menelungkupkan kepalanya di kedua lutut yang ia tekuk. Sungguh sakit kehidupan nya sekarang, di usianya yang masih muda Safa harus merasakan tekanan batin seperti ini.


"Jika kamu tidak sanggup lagi, lepaskan semuanya Fa, di luar sana masih banyak orang yang sayang sama kamu" tiba-tiba ucapan Orlando terlintas di pikirannya.


Akan kah itu yang terbaik untuk hidupnya ? akankah pergi dari kehidupan Febri akan membuat Safa tak merasa tertekan lagi.


Tetapi jika ia pergi kemana tujuan nya ? lalu apa kata orang-orang di seberang sana jika melihat dirinya hamil tanpa suami, mau menunjukan buku nikah ia tak punya karena pernikahan nya dengan Febri hanya sebatas nikah sirih.


"Hiks-Hiks-hiks" isakan tangisan itu kembali meluncur.


********


Melihat sang istri tak juga membuka pintu kamar, Febri akhirnya memutuskan untuk pergi saja, lagian ia ada jadwal praktek hari ini di klinik.


Sebenarnya bekerja dengan perasaan amarah seperti ini sungguh bukanlah hal yang baik, tapi harus bagaimana lagi, Febri harus ke klinik karena ada banyak pasien yang harus ia periksa dan ia sembuhkan.


"Pokoknya Safa harus tinggal serumah dengan ku dan Desi, aku tak akan membiarkan dia dekat lagi dengan laki-laki itu" gumam Febri.


Mobil ia parkirkan di tempat biasa, sebelum keluar dari mobil Febri menarik nafas panjang melalui hidung lalu ia keluarkan dengan pelan melalui mulut. Barulah setelah nya Febri keluar dari mobil dan berjalan dengan santai memasuki klinik.


Wajahnya seperti tak menunjukan kalau sedang ada masalah. Febri masih tersenyum ramah lalu menyapa pasien yang sedang mengantri untuk melaksanakan pemeriksaan USG.


Bidan Tika yaitu asisten Febri sudah menunggu di ruangan.


"5 menit lagi suruh masuk Tik " pinta Febri


"Baik Kak, oh iya ini data pasien yang pertama"


"Punya riwayat apa ?"


"Dia mau program kehamilan, dan katanya 6 bulan yang lalu mengalami hamil anggur"

__ADS_1


Febri tampak menganggukan kepalanya, lalu membaca nama pasien.


5 menit kemudian pasien yang barusan Tika katakan masuk, pasangan suami istri itu datang dengan wajah lesu.


*********


Safa keluar dari kamar ia menatap sekeliling guna mencari sang suami, namun ternyata keadaan sudah sepi dan Febri tak di temukan dimanapun.


"Syukurlah kalau Mas Febri sudah berangkat !" Safa mengehela nafas lega.


"Aku lapar sekali, sebaiknya aku makan dulu, dari tadi aku belum makan apapun"


Safa berjalan menuju dapur, tak ada makanan apapun disana karena memang tadi pagi Safa tak masak.


Matanya menatap sebungkus mie instan, Safa tau kalau mie tak sehat untuk di konsumsi oleh ibu hamil, tapi harus bagaimana lagi perutnya sudah keroncongan dan minta di isi. Safa juga takut anak yang ada di kandungannya kenapa-napa.


"Kita makan mie dulu ya Nak ! nanti Bunda masak makanan bergizi buat kamu" gumam Safa sembari mengusap perut besarnya.


Entah kenapa hari ini tendangan yang Safa rasakan sedikit berkurang, dan itu yang membuat Safa khawatir.


"Lebih baik aku periksa, tapi dimana ya yang ada dokter kandungan lagi, aku gak mau periksa sama Mas Febri"


"Minta bantuan sama Orlando deh"


*********


"Halo Safa ada apa ?". tanya Orlando di seberang sana.


"Kamu dimana Ndo ? bisa minta tolong gak ?"


"Aku masih di luar, minta tolong apa Fa ?"


"Temenin aku kerumah sakit, tapi kamu bisa gak cariin aku dokter kandungan yang bukan suami ku bertugas"


"Baik Fa, aku akan segera kesana ! tungguin ya !"


"Iya Ndo, makasih sebelumnya"


Sembari menunggu Orlando datang Safa duduk di sofa, ia kembali mengusap perutnya. Biasanya kalau di usap seperti ini anak di kandungan Safa akan bergerak.


"Ayo Nak ! gerak lagi, bunda kangen" ucap Safa lirih.


"Kita berjuang sama-sama ya Nak ! please jangan buat bunda khawatir"

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, terdengar suara ketokan pintu, Safa beranjak untuk membukakan pintu namun ternyata pintu terkunci. Pasti Febri yang melakukannya.


"Safa aku udah nunggu di luar, ayo katanya mau periksa" teriak Orlando dari luar.


"Ndo pintunya di kunci sama Mas Febri, dan kunci nya di bawa gimana dong"


"Apa Fa ? aku gak dengar, keraskan lagi suara mu Fa !"


Safa tau suara nya tak akan terdengar jelas oleh Orlando dari luar, berbeda jika dari luar maka Safa akan mendengar dengan jelas...


Tak ingin kehilangan akal Safa akhirnya menelpon saja.


"Orlando, pintunya di kunci dan kuncinya di bawa sama suamiku" ucap Safa langsung setelah panggilan terjawab.


"Kok bisa ? coba cari kunci cadangan Fa siapa tau ada"


"Enggak ada Ndo, seluruh kunci di bawa semua"


"Aku congkel aja gimana ? kamu mau periksa kan ?"


"Iya Ndo, dari tadi gerakan dedeknya berkurang aku khawatir Ndo" Safa kembali teriksak.


"Ya sudah aku congkel aja, kamu tungguin bentar"


Safa menunggu Orlando berusaha membuka kunci, mungkin karena Orlando sudah ahli akhirnya pintu terbuka dari luar.


Orlando terkejut melihat wajah Safa yang memar di pipi kiri dan kanannya.


"Wajah kamu kenapa Fa ? kenapa memar seperti ini ?" tanya Orlando


"Aku gak papa Ndo, ayo antarkan aku ke rumah sakit"


Walau masih penasaran Orlando membawa Safa kerumah sakit, kebetulan tadi saat akan menjemput Safa, Orlando sudah mencari tau dimana yang ada dokter kandungan terbaik dan berjenis kelamin perempuan.


Di perjalanan, Safa menyandarkan kepalanya, matanya menatap keluar jendela. Orlando pun tak ingin bertanya apa-apa, ini mungkin masalah pribadi Safa dan ia tak berhak untuk ikut campur lebih jauh.


Walau melihat wajah Safa yang memar membuat perasaan Orlando sakit, tapi ia sadar kalau hubungan nya dan Safa hanya sebatas teman biasa.


"Yuk, disini dokter kandungannya perempuan jadi kamu bebas konsultasi" ajak Orlando setelah memarkirkan mobilnya.


---


...LIKE DAN KOMEN...

__ADS_1


...ADD FAVORIT...


__ADS_2