
Setelah dari rumah sakit Safa langsung pulang ke apartemen, sesuai dengan permintaan Febri tentunya.
Sesampai di Apartemen Safa langsung istirahat saja, akhir-akhir ini semenjak kehamilannya bertambah besar Safa gampang sekali lelah. Terkadang baru saja melakukan pekerjaan rumah ia sudah keringatan.
"Sehat terus ya anak Bunda ! kelak kamulah yang akan menjadi penyemangat Bunda... Bunda sayang sama kamu nak ! sayang sekali. Maafkan Bunda jika dulu Bunda tak mau menerima kehadiran mu" gumam Safa sambil mengelus perut buncitnya.
Sesekali tendangan kecil ia rasakan dan itu membuat Safa merasa nyaman dan bahagia. Ternyata begini menjadi seorang ibu, melihat anak yang di kandung tumbuh dengan sehat adalah suatu kebahagiaan tersendiri.
*********
"Tumben suami kamu gak di ajak Des ? biasanya kan kamu akan selalu mengajak kemanapun kamu pergi" tanya Tata.
Desi tersenyum sambil merapihkan make up nya kembali "Sekarang aku udah percaya sama dia Ta, aku gak mau selalu mengekang Mas Febri. Aku yakin kok kalau Mas Febri setia sama aku dan tak akan berpaling dariku" balas Desi yakin.
"Syukur deh kalau gitu, memberi kepercayaan pada suami itu membuat rumah tangga menjadi lebih bahagia. Lihat aku selama ini aku gak pernah menaruh rasa curiga sama suamiku"
Desi menganggukan kepalanya, sekarang ia memang manaruh kepercayaan penuh pada Febri, dan sangat berharap kalau semu itu tidak akan Febri khianati.
Mobil sudah melaju dengan cepat, tujuan mereka adalah pulau dewata bali, Desi sengaja tak mengajak Febri karena ia ingin Febri juga menikmati masa bersama teman-temannya.
"Bentar aku telepon Mas Febri dulu, ingin bilang kalau kita sudah berangkat" Desi mengambil ponselnya dan mencari kontak sang suami.
Hanya ada suara seorang wanita di seberang sana yang mengatakan kalau nomor Febri sedang sibuk, Desi tau kalau suaminya sedang banyak pasien. Ia pun memutuskan untuk mengirimi pesan saja.
"Mas aku sudah berangkat, doakan selamat sampai tujuan ya ! kamu jaga diri baik-baik disana. I Love You"
Setelah mengirim pesan Desi kembali memasukan ponselnya ke dalam tas, setelah itu ia bercanda dengan teman-temannya. Sudah sangat lama mereka tak kumpul dan jalan-jalan seperti ini.
**********
Hari sudah menjelang sore, Febri sudah dalam perjalanan pulang menuju apartemen. Ia pun sudah membawa pakaian ganti untuk besok dan seterusnya ia menginap di apartemen.
Rasanya sangat bahagia karena Febri bebas selama seminggu ini, ia tak perlu khawatir akan di beri pertanyaan beruntun oleh istrinya dan memberi kebohongan.
"Malam ini bisa main sama Safa" gumam Febri.
Tidak berapa lama Febri telah tiba di apartemen, ia langsung di sambut oleh Safa.
"Mau mandi atau mau langsung makan Mas ?" tanya Safa.
"Mandi dulu deh, gerah banget soalnya"
__ADS_1
"Ya sudah tunggu sebentar Mas, aku siapkan air hangat dulu"
Febri mengangguk ia menunggu sang istri yang sedang menyiapkan air hangat untuknya mandi, sebenarnya Safa adalah istri yang baik, perhatian dan selalu mengerti kondisi Febri. Hanya saja Febri belum berani untuk mengungkapkan semuanya.
"Sana Mas mandi dulu ! air hangat ya sudah siap" ucap Safa.
Febri berdiri dan mendekati Safa "Mandi bareng yuk" bisik Febri tepat di telinga Safa sehingga menimbulkan rasa geli.
"Gak ah, aku kan udah mandi"
"Mas tak suka ada penolakan ya !"
"Dingin Mas, aku kan udah mandi juga"
"Sekali ini aja Sayang, Mas kangen"
Melihat wajah memelas Febri, Safa pun tak bisa menolak ia juga merasa berdosa jika tak menuruti keinginan suaminya.
"Baiklah Mas, tapi pelan-pelan ya !! kamu kalau lagi gituan pasti lupa mengendalikan diri"
"Hehe, iya Sayang"
"Masuk air yuk"
Febri menuntun istrinya kedalam Bathup yang sudah berisi air hangat dan aroma terapi. Safa duduk membelakangi Febri sehingga Febri bisa menelusuri punggung Safa dengan ciuman bertubi-tubi.
"Emmmm, Mas geliiii" ucap Safa sembari terkekeh.
"Tahan geh... entar lama-lama juga enak" balas Febri dengan suara serak.
Telapak tangan Febri mere mas kedua gun ung kembar milik Safa, membuat tubuh Safa semakin menegang dengan hebat.
Apalagi saat Febri bermain di puncak gun ung kembarnya, rasa geli namun enak selalu ia rasakan. Semua ini selalu membuat Safa hilang kendali dan melupakan setiap rasa sakit, kecewa nya pada Febri.
Permainan panas mereka berlangsung lama, Febri seperti tak puas menjelajah tubuh istrinya, tapi kali ini Febri tak melupakan kalau di dalam perut Safa ada calon anaknya
Setelah lahar panas milik Febri menyembur dengan hebat membasahi perut Safa, keduanya terdiam dengan deru nafas yang cepat..Febri memang tak pernah mengeluarkan sper ma nya kedalam rahim Safa karena ia takut terjadi sesuatu dengan anak di kandungan Safa. Nanti saja akan ia lakukan saat kandungan Safa sudah memasuki trimester ketiga.
"Makasih ya Sayang, kamu selalu berhasil memuaskan aku" Febri mengecup puncak kepala Safa berulang kali.
"Sama-sama Mas"
__ADS_1
"Ya sudah yuk mandi, nanti kamu kedinginan lagi kalau terlalu lama di dalam sini"
"Ini aja aku udah kedinginan Mas"
"Hehe, maafin Mas ya !!"
Safa hanya menganggukan kepalanya "Tidak apa-apa Mas, ini juga sudah menjadi kewajiban ku sebagai istri kamu"
**********
"Safa kemana ya tumben gak kelihatan sore ini, biasanya kan dia sudah keluar dan menunggu tukang somay didepan" tanya Orlando pada diri sendiri
"Padahal aku ingin menanyakan hasil USG anaknya tadi siang"
Orlando kembali menatap ke apartemen Safa, tak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka, akhirnya Orlando memutuskan untuk kembali masuk kedalam apartemennya.
Saat akan mendudukan diri di sofa ruang tamu, ponsel Orlando berbunyi. Tertera nama sang Momy disana.
"Halo Mom, ada apa ?"
"Dasar anak nakal, Orang tua nelpon kok di tanya ada apa,.kamu gak kangen ya sama Momy ?"
"Ya kangen Mom,nanti kan aku pulang"
"Kapan nak ? Momy dan Daddy sangat merindukan kamu"
"Belum tau Mom, kalau Momy dan Dady kangen kenapa gak kalian aja datang keindonesia ?"
"Kau tau sendirikan kalau Dady mu sibuk, nantilah kapan-kapan Momy dan Daddy kesana"
Orlando banyak menceritakan apa saja yang ia kerjakan disini, tak terkecuali tentang Safa. Orlando menceritakan semuanya tentang kehidupan Safa.
Kedua orang tua Orlando hanya mendengarkan dan menasehati Orlando dengan bijak, mereka tak pernah melarang Orlando mau berteman dengan siapa saja. Asal Orlando bisa menjaga diri dengan baik.
"Seandainya kamu bisa aku miliki Fa" gumam Orlando sambil menatap foto Safa yang ia ambil diam-diam.
---
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
__ADS_1