
Saat semua orang sedang sibuk dengan bayi mungil itu, Orlando menggunakan kesempatan ini untuk mengobrol dengan Safa. Ia mengajak Safa ke samping rumah.
Kini keduanya duduk di sebuah bangku panjang yang langsung menghadap ke arah kolam renang. Keduanya masih saling diam belum ada yang ingin membuka pembicaraan.
"Ndo"
"Fa"
Ucap keduanya secara serempak.
"Kamu duluan"
"Kamu duluan"
Lagi dan lagi mereka berdua serempak berkata, membuat keduanya tersenyum simpul.
"Kamu aja yang duluan Ndo !" pinta Safa.
"Kamu aja Fa !"
"Kalau gini terus kita gak bakalan ada yang bicara Ndo !!"
"Bagaimana kalau kita suit ?" Tanya Orlando terkekeh.
"Kaya anak kecil tau gak" balas Safa, namun tetap saja keduanya melakukan permainan anak kecil itu.
"Nah kan kamu yang menang, jadi kamu yang mulai bicara !" ujar Orlando.
"Ok" Safa menghela nafas panjang sebelum memulai pembicaraan.
"Sekarang aku udah melahirkan Ndo ! akan tetapi hubungan ku dengan Mas Febri masih di ambang perpisahan. Rencananya aku mau pulang ke Indonesia, aku mau menyelesaikan rumah tangga ku dengan Mas Febri, supaya aku bisa tenang ngejalani hari-hariku" jelas Safa dengan pandangan lurus kedepan.
Orlando paham akan perasaan Safa, mungkin sebagai wanita Safa di ambang kebingungan. Bingung dengan status yang saat ini ia sandang.
"Menurutku kalau kamu mau pulang ke Indonesia, tunggu sampai Arnold berusia 5 tahun. Kamu juga harus menyiapkan semuanya dengan matang karena ada kemungkinan besar Febri akan merebut hak asuh anak kamu jika kamu memutuskan untuk berpisah"
Safa tercengang selama ini ia tak pernah memikirkan hal itu, ia hanya memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan urusan rumah tangga nya bersama Febri. Karena jujur Safa sudah tidak kuat harus menyandang status gak jelas seperti ini.
"Tapi itu menurut aku Fa, kalau kamu tetap mau pulang sekarang aku siap mengurus semuanya" sambung Orlando lagi.
Safa berpikir sejenak, ia tidak mungkin pulang seperti ini "Aku ikuti semua saranmu Ndo, aku akan pulang ke Indonesia jika Arnold sudah berusia lima tahun. Tapi mulai sekarang kamu jangan ngelarang aku untuk mencari pekerjaan ! aku tidak enak Ndo selalu ngerepotin kalian semua terutama Tante Gita"
Orlando tersenyum "Baik kalau itu mau kamu, aku akan membicarakan semua ini sama Dady supaya kamu di beri pekerjaan"
__ADS_1
"Makasih Ndo"
Orlando menjawab dengan anggukan, waktunya bersama Safa masih panjanga, bukan karena dirinya egois yang tidak ingin Safa bertemu dengan sang suami, hanya saja untuk saat ini bukan waktu yang pas. Apalagi saat pulang nanti Safa langsung memutuskan untuk berpisah. Febri pasti tak akan terima semua itu.
"Oh ya katanya kamu ada yang mau di bicarakan ? apa Ndo ? ?" tanya Safa yang mengingat kalau Orlando juga ingin membicaraka sesuatu.
"Ya aku udah lupa Fa, keasyikan dengerin kamu sih" jawab Orlando berbohong padahal ia hanya ingin bertanya apa kah Safa masih mencintai Febri atau tidak..
Namun Orlando belum sanggup mendengar jawaban Safa nantinya, akhirnya Orlando membiarkan hatinya kembali berharap kalau suatu saat ia bisa memiliki Safa seutuhnya.
"Masa iya lupa sih ?"
"Ya mau gimana Fa, aku beneran lupa kok"
"Kamu gak seru orangnya, belum juga tua udah lupa"
"Hehe, maaf Fa entar kalau ingat aku langsung katakan padamu"
"Siap aku tunggu ya !!"
**********
Di Indoenesia.....
"Bagaimana apa kamu sudah mendapatkan kabar tentang Safa ?" tanya Wina pada Febri. Hari ini Wina sengaja menyuruh Febri untuk datang kerumahnya..
"Gimana sih ?kamu tuh niat gak nyari anak saya ? ingat ya hilangnya Safa itu karena kamu juga, karena kamu yang membuat Safa masuk dalam rumah tangga kamu" bentak Wina emosi.
Saat mendengar seluruh cerita dari Febri bagaimana awalnya Febri bertemu dengan Safa sampai terjadinya pernikahan Sirih, Wina menganggap hilangnya Safa atas ulah Febri.
"Maaf bu, saya tau saya salah ! karena sudah membuat Safa seperti ini"
"Harusnya ya malam itu kamu jangan pulang kerumah Safa, saya gak yakin kalau malam itu kamu mabuk dan meniduri anakku, Kamu melakukan semua itu karena sadar kan ?"
Febri tak tau harus menjawab apa, memang ia telah salah karena malam itu pulang kerumah dimana Safa tinggal dan menganggap kalau Safa adalah Desi istrinya.
"Pokoknya kalau nanti anakku ketemu aku tidak akan merestui hubungan kalian" ucap Wina membuat Febri terkejut.
"Jangan begitu Bu ! aku sangat mencintai Safa, dan aku mohon jika suatu hari nanti Safa ketemu tolong jangan pisahkan kami"
"Cinta-cinta, kamu sadar gak kalau umur kalian itu jaraknya jauh banget, kamu itu pantasnya di panggil Ayah sama Safa bukan di panggil suami. Saya juga ogah punya menantu yang hampir seumuran dengan saya"
Sekarang Febri baru tau karakter mertuanya itu, Wina berbicara selalu menyakitkan. Dia selalu menyalahkan Febri tanpa menyadari kalau dirinya juga salah pada Safa.
__ADS_1
Febri berdiri dengan menatap tajam ke arah Wina.
"Pokoknya sampai kapanpun aku gak akan mau melepaskan Safa !" ucap Febri dingin.
"Safa itu anakku jadi aku lebih berhak dari pada kamu"
"Ibu sadar gak kalau Ibu juga salah karena telah mengusir Safa malam-malam. Seandainya malam itu Ibu tidak mengusir Safa dia juga gak bakalan bertemu sama aku"
Sekarang giliran Wina yang bingung menjawab, ia sudah kalah telak dengan ucapan Febri.
Melihat Wina terdiam Febri tersenyum mengejek.
"Makanya sebelum menyalahkan aku, koreksi dulu dirimu sendiri,.kita ini sama-sama salah jadi jangan saling menyalahkan" seteleh mengatakan itu Febri langsung pergi dari hadapan Wina.
********
Di Thailand.....
Orlando dan Safa kembali keruang tamu dimana masih banyak orang yang berdatangan untuk melihat bayi Safa, semua ini membuat Safa bersyukur apalagi dengan banyaknya kado yang di bawa para teman-teman Aroon dan Gita.
Mereka semua menganggap kalau Safa adalah anak bungsu keluarga Aroon. Safa tak menolak akan hal itu ia malah senang karena dengan begini semua orang tak akan berpikiran negatif tentang dirinya.
Owwweeekkk--Owweeeekkkk.
Suara tangisan Arnold membuat Safa langsung mendekat.
"Dia lapar kayanya Nak, coba kasih susu atau gak ASIin dulu siapa tau ASI kamu sudah keluar" ucap Gita.
"Baik Tante"
"Bawa kekamar aja ya ! para tamu biar Kami yang atasi, kamu juga harus banyak istirahat"
Safa mengangguk ia langsung menggendong anaknya dan membawanya ke kamar.
Di kamar walau masih kesusahan tapi Safa terus berusah untuk memberikan ASI nya pada Arnold. Yang membuat Safa tersenyum bahagia karena akhirnya apa yang Safa inginkan tercapai. ASInya keluar dengan deras.
"Jadi anak yang sholeh ya Nak ! jadi kebanggaan Bunda ! semoga kelak kamu mengerti kenapa Bunda dan ayah berpisah"
----
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR JUGA YA KE NOVELKU YANG INI !!