
"Seharusnya anda mundur saja dan ikhlaskan Safa kembali padaku" ucap Febri membuat Orlando naik pitam...
Rahang Orlando mengeras, bagaimana mungkin ia akan mundur dan menyerahkan Safa pada Febri lagi.
"Jika saja anda tak berada di kursi roda seperti ini, mungkin aku sudah mengajak mu untuk adu jotos dari tadi"
Febri memiringkan sudut bibirnya, membuat Orlando merasa tertantang.
"Bilang saja anda takut dengan saya" ucap Febri terkekeh.
"Cuiiihhh" Orlando melempar ludahnya kesembarang arah "Takut dengan anda, itu bukan selera saya." balasnya dengan sengit.
"Ok" Febri menarik nafas nya "Percapakan kita telah usai, anda silahkan pergi karena saya mau istirahat" usir Febri kemudian berbarengan dengan seorang kurir yang tiba untuk mengantarkan pesanan Febri.
"Saya memang akan pergi tanpa anda usir dulu. Tapi ingat sampai kapanpun saya tidak akan mundur dan menyerahkan Safa dengan anda"
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan memenangkan semua ini, saya yakin Safa tidak akan merelakan Arnold dengan mudah" balas Febri.
"Ini bukan perlombaan" setelah mengatakan itu Orlando pergi meninggalkan Febri yang baru saja selesai membayar pesanannya.
*******
Di dalam perjalanan pulang dari rumah Febri, kekesalan Orlando semakin menjadi. Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan kemudian meraih ponselnya lalu menghubungi sang Momy untuk meminta bantuan atas masalah nya.
"Halo sayang, ada apa kau menghubungi Momy ?" tanya Gita di seberang sana.
"Kangen Mom"
"Kalau kangen kenapa gak datang kesini, Momy sama Dady juga kangen sama kamu.. Oh ya bagaimana keadaan Safa dan Arnold ?"
"Mereka baik Mom, hmmm aku mau minta bantuan Mom"
"Bantuan apa nak ? cepat katakan !"
"Sekarang aku dan Safa menjalin hubungan Mom, tapi hubungan kami terhalang oleh mantan suami nya Safa, jika Safa menikah dengan ku, mantan suami nya Safa meminta Arnold" Orlando menceritakan semuanya.
Tak berapa lama terdengar tawa menggelegar dari Gita di seberang sana membuat Orlando mengernyit heran, pasalnya ia merasa tak ada yang lucu dari ceritanya, tapi kenapa Gita begitu keras tertawa.
__ADS_1
"Mom kenapa tertawa ? apanya yang lucu ?" tanya Orlando penasaran.
"Haha tidak ada nak, Syukur kalau kalian sudah menjalin hubungan Momy senang mendengarnya, karena akhirnya cinta kamu terbalaskan... Masalah Arnold jangan kau takutkan kalau kamu dan Safa mau menikah iya silahkan itu lebih baik"
"Maksud Momy bagaimana sih ? kan aku sudah jelaskan kalau aku dan Safa menikah, Arnold akan di bawa sama mantan suaminya Mom"
"Itu tidak akan terjadi sayang, di dalam catatan kelahiran Arnold yang tertera nama kamu dan Safa sebagai kedua orang tuanya masa kamu gak ingat sih ? dan lagi pula mantan suaminya Safa tidak punya catatan pernikahan nya dengan Safa juga kelahiran Arnold sebagai bukti kalau dia ayahnya. Tidak apa-apalah jahat sesekali Ndo demi kebahagiaan kita"
Orlando terdiam sejenak, ia kembali mengingat kelahiran Arnold dulu saat pihak rumah sakit meminta data untuk akte kelahiran Arnold, disana tertera nama Orlando bukan Febri sebagai ayah Arnold.. Itu semua atas usul kedua orang tua Orlando untuk melindungi Safa dan Arnold.
"Sial, kenapa aku tak ingat masalah itu ya" gumam Orlando tapi masih bisa di dengar oleh Gita.
"Ya sudah sekarang kamu dan Safa jangan takut menghadapi mantan suaminya Safa, kalian punya pegangan yang kuat untuk mempertahankan Arnold.. Tapi harapan Momy semoga saja mantan suaminya Safa bisa nerima hubungan kalian jadi tidak ada permasalahan lagi"
"Iya Mom, makasih atas semuanya ya Mom, dengan begini aku akan segera menikah dengan Safa"
"Iya Momy setuju, tapi ingat seluruh acara dan rangkaian harus di gelar dengan mewah ya Nak, karena inikah pernikahan pertama kamu, Momy dan Dady juga ingin memperkenalkan Safa sebagai menantu di keluarga kita"
"Siap Mom, itu bisa di atur"
**********
Sementara itu Safa masiy saja bersedih memikirkan nasib percintaannya yang tak pernah sesuai harapan.
Hari ini ia lebih banyak berada di kamar, semenjak pertemuan singkat nya dengan Febri. Safa lebih betah mengurung diri memikirkan cara untuk membuat Febri mengikhlaskan hubungan nya dengan Orlando.
Tok-Tok-Tok.
Suara ketokan pintu dari luar kamar membuat Safa mau tak mau beranjak dari duduknya, ia berjalan kearah pintu kemudian membuka pintu dengan pelan.
"Ini sudah sore bahkan sudah mau maghrib kamu gak mandi ?" tanya Wina melihat penampilan Safa masih sama seperti tadi.
"Nanti saja Bu" jawab Safa lesu.
Wina memegang tangan Safa "Kamu jangan seperti ini nak, kamu harus kuat dan lawan Febri, ingat setiap permasalah pasti ada jalan keluarnya".
"Safa tau bu, tapi ini teramat sulit untuk Safa. Mas Febri memberikan pilihan yang Safa sendiri tak tau harus memilih siapa"
__ADS_1
Safa berjalan masuk di ikuti oleh Wina, mereka duduk di pinggir ranjang dengan Safa yang menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu. Air mata nya kembali menetes membasahi pipinya.
"Sudah jangan nangis terus, kalau kamu lemah seperti ini, Febri akan semakin berbuat semena-mena" ucap Wina.
"Tapi Safa harus bagaimana Bu, Safa gak bisa melepaskan Arnold tapi Safa gak mau pisah sama Orlando Bu, mereka adalah orang yang sangat Safa sayangi"
"Ibu ngerti Fa, makanya kamu harus cari cara untuk melawan Febri, pasti ada caranya kok".
Safa mengangkat kepalanya, ia menatap lurus kedepan. Hingga tak berapa lama terdengar suara Adzan maghrib berkumandang.
"Siap-siap sana, kita sholat bareng" ucap Wina lagi.
"Baik Bu"
Wina keluar dari kamar Safa, sementara Safa bergegas membersihkan diri untuk bersiap melaksanakan sholat maghrib. Ia ingin meminta petunjuk pada sang pemilik kehidupan supaya di beri jalan keluar atas masalah yang ia hadapi sekarang.
Tak cukup lama Safa sudah siap di ruang persholatan bersama Wina dan Arnold. Mereka bertiga sholat bersama.
Selesai sholat Safa memanjatkan doa kepada Allah SWT.
"Ya Allah saat ini hamba sedang menghadapi masalah yang bagi hamba begitu sulit, hamba mohon beri hamba petunjuk untuk menyelesaikan masalah ini. Karena hamba yakin jalanmu adalah yang terbaik untuk hamba"
Setelah itu Safa mengusap kedua telapak tangannya di wajah. Sembari menghapus air mata yang tak sengaja menetes saat ia memanjatkan doa.
"Ibu duluan ya !" ucap Wina yang sudah selesai melipat mukenanya.
"Iya bu, aku mau mengaji dulu"
"Ar, ayo sama nenek, bunda mau ngaji katanya"
Arnold mengangguk, setelah kepergian sang ibu dan Arnold. Safa melanjutkan membaca Al-Quran. Supaya hatinya merasa tenang dan masalah yang ia hadapi segera terselesaikan.
----
....LIKE DAN KOMEN...
...ADS FAVORIT...
__ADS_1