
Desi terus berusaha untuk menarik tubuh Safa, namun Febri terus melindungi Safa, Febri juga takut terjadi sesuatu dengan kandungan Safa. Walau bagaimanapun anak yang kini berada di rahim Safa sangat Febri inginkan.
"Kenapa kamu terus melindungi dia Mas ? sejauh apa hubungan kalian ?" kembali Desi membentak akan tetapi kali ini dengan deraian air mata.
Sakit..
Sudah pasti ia rasakan, siapapun pasti akan sangat terluka melihat suami sendiri ternyata bermain apa di belakang.
"Makanya kamu tenang dulu !! jangan marah-marah seperti ini, biar aku jelasin" pinta Febri.
"Bagaimana aku bisa tenang Mas, aku melihat dan mengetahui suamiku sendiri sedang bersama perempuan lain"
Febri berusaha menenangkan istrinya, sementara Safa terus berlindung di belakang Febri.
"Kita bicarakan semua ini baik-baik ya !!" ucap Febri dengan lembut.
Mungkin memang Desi harus sedikit mengala sekarang, ia belum mendengarkan cerita dari suaminya, dan memilih marah-marah. Siapa tau Febri tak seperti yang ada di pikirannya.
Ketiga orang itu duduk di sofa, Berulang kali terdengar helaan nafas panjang dari Febri, sementara Safa hanya menunduk tak berani mengangkat kepalanya.
Selain merasa takut, Safa juga merasa bersalah pada Desi. Dalam hal ini Safa adalah orang ketiga dalam rumah tangga Febri dan Desi. Berarti jelas dialah yang menyebabkan Desi menangis.
Mungkin jika Safa berada di posisi Desi akan melakukan hal yang sama. Marah-marah gak jelas karena perasaan terluka dan kecewa.
"Ayo jelaskan Mas ! jelaskan semuanya ! dan ku mohon jangan ada lagi yang kamu tutupi" ucap Desi.
"Baik, Mas akan jelaskan semuanya"
Pertama Febri menatap kearah Safa yang masih menunduk, lalu kemudian kembali menatap kearah Desi yang terus menangis.
"Sebelumnya Mas mau minta Maaf Des.. Maafkan atas kehilafan Mas ini, seperti yang kamu pikirkan bahwa wanita ini dia adalah istri kedua Mas. Malam itu saat Mas mabuk Mas tak sengaja melakukan hal terlarang pada Safa, sehingga Safa hamil" jelas Febri.
"Apa... ? jadi dia istri kamu Mas ? dia madu ku..." Desi menggelengkan kepalanya "Dan dia sedang mengandung anak kamu Mas ?" tanya Desi
"Iya, anak yang ada di kandungan Safa adalah anak Mas, dan akan menjadi anak kamu juga Des"
Air mata Desi mengalir dengan deras, semakin deras bahkan tangisannya terdengar memilukan. Dadanya terasa sangat sesak.
__ADS_1
"Kamu tega Mas, kamu tega menduakan aku, dan mengkhianati cinta kita, mana janji kamu Mas ?"
"Maaf Des, maaf kan aku"
Desi menatap kearah Safa, ia mendekati wanita itu. Febri membiarkan ia pikir Desi tidak akan berbuat macam-macam pada Safa, namun nyatanya Desi malah menarik rambut Safa dengan kuat.
"Awwwww" pekik Safa kesakitan.
"Dasar wanita penggoda, kamu ini masih muda kenapa mau dengan suamiku, apa kedua orang tuamu tak mengajarimu hal baik Hah ??" teriak Desi tanpa memeperdulikan rintihan Safa.
"Ampun Mbak, maafkan aku !"
Melihat Safa yang kesakitan Febri langsung berusaha menghentikan tindakan Desi.
"Desi hentikan, kamu sudah menyakiti Safa!!" ucap Febri.
"Apa kau bilang aku menyakiti dia mas ?? enggak salah ? yang ada dia yang nyakitin aku" kembali Desi menarik rambut Safa.
"Hiks--Hiks-Hiks, ampun mbak Desi, lepaskan ini sakit" pinta Safa dengan lirih.
"Kalau kamu tidak mau melepaskan Safa, jangan salahkan Mas kalau melakukan tindakan kasar sama kamu" bentak Febri menggema.
"Aku gak mau di madu Mas, pokoknya kamu harus tinggalin dia" tunjuk Desi kepada Safa.
"Tidak bisa Des, saat ini Safa sedang mengandung anakku, jadi aku tak bisa meninggalkan dia" jawab Febri.
"Apapun alasan nya kamu harus tinggalin dia Mas, aku gak mau dimadu"
Febri mengusap wajahnya dengan kasar, kepalanya mendadak pusing dengan masalah ini, kenapa secepat ini semuanya terbongkar disaat Febri belum menyiapkan alasan yang tepat pada Desi.
"Mas mau nanya sama kamu Des, dari mana kamu tau Mas ada di sini ?" tanya Febri, jujur ia bingung kenapa Desi sampai tau keberadaannya di apartemen.
"Aku tau dari Yohan"
"Brengsek kau Yohan, kenapa kau mengatakan pada Desi kalau aku di apartemen, awas kau !" Febri begitu kesal mendengar kalau Yohanlah yang memberi tau keberadaannya.
Desi berdiri dan mendekati Suaminya "Ayo kita pulang, dan tinggalkan wanita pelakor ini" ucap Desi sambil menarik tangan suaminya.
__ADS_1
"Kamu saja yang duluan, nanti aku menyusul. Aku ingin bicara empat mata dulu sama Safa !"
"Kamu pikir aku akan setuju Mas, kamu sadar gak sih kalau kamu udah nyakitin aku ? sadar gak ?" Desi menggoyangkan tubuh Suaminya.
"Iya Mas sadar Des, tapi Mas gak bisa ninggalin Safa disaat dia lagi sedih seperti ini, dia sedanh hamil Des kasian kalau pikiran nya tertekan"
"Aku gak papa Mas, pulanglah temenin mbak Desi. Selesaikan masalah kalian dulu. " sahut Safa kemudian.
"Heh pelakor,.di antara saya dan suami saya gak ada masalah ya ! kamu tu sumber masalah bagi kami" Desi menatap Safa dengan tajam.
Akhirnya karena tak ingin ada keributan lagi Febri memilih pulang bersama Desi, tapi ia berjanji pada Safa kalau nanti malam ia akan datang ke apartemen.
Setelah kepergian Desi dan Febri, air mata Safa tumpah dengan deras. Ia menangis sejadi-jadinya. Kepalanya terasa pusing akibat rambutnya di tarik oleh Desi dengan kuat.
**********
"Pokoknya kamu harus tinggalin dia Mas" kembali Desi mengulang ucapan itu.
"Sudah Mas katakan Des, Mas gak bisa ninggalin Safa, dia sedang hamil. Masa kamu gak kasihan kalau nyuruh Mas ninggalin Safa dengan kondisinya seperti ini"
"Aku gak mau tau Mas, lagian buat apa aku kasihan dengan wanita yang menjadi duri dalam rumah tangga ku"
"Semua ini salah Mas, kalau saja malam itu Mas gak melakukan hal keji sama dia, mungkin semua ini gak akan terjadi, jadi stop nyalahin Safa karena dia gak salah apa-apa"
Amarah Desi terus memuncak, apalagi sang suami terus membela Safa.
"Aku harus melakukan sesuatu untuk memisahkan Mas Febri dengan pelakor itu, karena sampai kapanpun Aku gak akan mau di madu, apalagi dia sekarang hamil, aku takut cinta Mas Febri akau seutuhnya untuk perempuan itu" batin Desi.
Keduanya menjadi diam, Febri fokus ke jalanan. Sementara Desi berkelana memikirkan cara untuk memisahkan Febri dan Safa.
Hingga tak berapa lama mobil mereka memasuki rumah, Desi turun duluan namun ia menutup pintu dengan kuat.
"Kenapa semuanya harus terbongkar secepat ini sih ? sekarang aku harus bagaimana ? aku gak bisa memilih antara Desi dan Safa karena kedua wanita itu sangat aku butuhkan" gumam Febri.
----
...LIKE DAN KOMEN...
__ADS_1
...ADD FAVORIT...