Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 74


__ADS_3

Febri mendatangi rumah Wina, ia akan membawa Wina bertemu dengan Safa. Febri yakin kalau Wina pasti akan bahagia sekali bertemu dengan putrinya.


"Mang, Ibu ada ?" tanya Febri, ia memang sudah kenal dengan Mang Ucup karena Febri sering berkunjung kerumah itu.


"Ada Mas, di halaman belakang" jawab Mang Ucup ramah.


"Makasih Mang, kalau begitu saya kesana dulu"


"Silahkan Mas !"..


Febri lewat samping rumah, tak cukup berjalan lama ia sudah melihat Wina duduk bersandar sendirian, entah mungkin itu adalah sebuah kebiasaan Wina sekarang, sering menyendiri dan melamun.


"Assalamualaikum Bu" sapa Febri dengan sangat sopan.


Wina mendongak, seperti biasa walau bagaimanapun sikap Febri padanya, ia tak pernah menampakan rasa suka terhadap Febri, bahkan untuk senyum saja Wina merasa enggan.


"Ada apa ?" tanya Wina dingin.


Pertama-tama Febri mencium punggung tangan Wina, walau bagaimanapun Wina adalah ibu kandung Safa.


"Saya kesini cuman mau bilang kalau Safa sudah kembali"


Wina menatap wajah Febri dengan seksama "Apa kamu serius ?"


"Wajahku tidak menampakan kebohongan sama sekali"


"Terus dimana dia kalau memang Safa sudah kembali ?"


"Nanti malam aku akan membawa ibu kesana"


"Katakan saja alamatnya ! aku akan menemuinya sendiri" ujar Wina


"Tidak bisa begitu Bu, aku yang akan mengantarkan ibu kesana" balas Febri kemudian.


Wina tampak menghela nafas panjang, ia tak lagi menjawab ucapan Febri, dengan pelan Wina berdiri hendak pergi meninggalkan Febri.


"Ibu mau kemana ?" tanya Febri.


"Saya mau ke kamar mau istirahat, katanya kau mau mengajakku nanti malam" jawab Wina tanpa menoleh.


Febri mengangguk, setelah Wina pergi kini giliran Febri yang duduk disana, ia menatap taman kecil di hadapanya dengan bayangan yang indah.


Ia sudah hapal dengan rumah ini, karena kata Mang Ucup dulu Safa saat kecil sering bermain di taman ini bersama sang Ayah.


"Aku akan mengembalikan keceriaan kamu Fa, seperti saat dulu kamu masih kecil, bahkan aku akan membuat kamu lebih bahagia"


*********


Hari sudah menjelang sore tapi Orlando masih diam di tempat, ia menatap kedepan dengan tatapan kosong, tak ada senyum atau kebahagiaan disana.


Apartemennya sudah sangat berantakan hanya karena mendengar kalau Safa masih mencintai Febri, harusnya Orlando sudah menyiapkan hati selama ini, ia terlalu yakin kalau di hati Safa sudah tak ada nama Febri, ternyata waktu lima tahun lebih berpisah tak bisa membuat Safa melupakan Febri.

__ADS_1


"Apa aku ini adalah laki-laki bodoh, yang mencintai kamu Fa"


"Apa sih kurangnya aku ? apa aku kurang baik sama kamu ? apa aku kurang perhatian sama kamu Fa ?"


Praaanggggg.


Vas bunga hadapannya kembali menjadi sasaran, serpihan Vas bunga yang pecah sama seperti perasaanya sekarang, hancur berkeping-keping tanpa bisa di jadikan utuh lagi.


"Sepertinya aku butuh tempat untuk menenagkan perasaan ku" gumam Orlando


Orlando bangkit, meraih jaket dan kunci mobil, entah kemana tujuan nya saat ini yang jelas Orlando menginginkan sebuah tempat untuk menenangkan perasaannya.


Ia berjalan dengan gontai, kakinya seperti ada yang memeganng.


*********


Hari sudah semakin sore, Safa masih saja bingung karena tadi Orlando memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Padahal tak biasanya Orlando bersikap seperti itu.


"Orlando kemana ya ? kok nomornya gak aktif ?"


Perasaan Safa gelisa, rasanya ia ingin sekali ke apartemen Orlando untuk memastikan kalau laki-laki itu baik-baik saja, ia takut Orlando kenapa-napa karena memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


"Bunda, aku mau ketemu Papa Ndo" ucap Arnold yang mengagetkan Safa.


"Iya sayang, nanti kita ketemu sama Om ya" Safa berjongkok lalu mengelus pipi Arnold dengan lembut.


"Tapi kapan Bun ?"


"Sabar ya Nak, ini Bunda sedang telepon Om nya"


"Ya sudah Ar nonton televisi dulu ya ! sambil nungguin Om Ando jawab teleponnya"


Lagi dan lagi Arnold mengangguk, ia duduk di sofa sementara Safa menghidupkan televisi lalu mencari acara anak-anak yaitu kartun.


Safa kembali di sibukkan dengan menghubungi Orlando, dan sampai sekarang masih saja sama, nomor Orlando tak aktif membuat Safa benar-benar khawatir.


********


Pukul 19:00 Wib.


Klub malam adalah tempat dimana Orlando menenangkan pikirannya sekarang, di atas meja bekas botol minumannya sudah banyak entah sudah berapa kali Orlando memesan minuman haram itu.


Tapi Orlando tak membiarkan satu orang wanitapun mendekatinya, bahkan saat ada seorang wanita ingin membantunya menuangkan minuman Orlando langsung mengusirnya.


Namun saat dalam keadaan mabuk berat seperti ini ? akankah ia masih akan menolak jika ada yang mendekatinya ?


Tentu saja tidak, apalagi saat melihat seorang wanita berpakaian ketat dan sangat seksi membuat jiwa kelelakian Orlando meningkat, walau bagaimanapun Orlando adalah laki-laki normal.


"Hai tampan" sapa seorang wanita itu.


Orlando tak menjawab, ia justru menarik wanita itu dan duduk di atas pangkuannya, wanita itu terkekeh ia membelai wajah Orlando dengan gerakan lembut namun memabukan.

__ADS_1


"Berikan aku minuman lagi !" ucap Orlando dengan suara serak.


"Baiklah Sayang"


Cup.


Sebelum menuangkan minuman yang di perintahkan oleh Orlando wanita itu mencium pipi kanan Orlando sehingga membuat Orlando terkekeh dengan pelan. Aroma alkohol langsung keluar saat Orlando membuka mulutnya


"Ini sayang, minumlah sampai puas aku akan menemanimu"


"Thanks !"


"Dia tampan sekali, sayang kalau aku tak menikmati tubuhnya malam ini" gumam Ranti wanita yang saat ini duduk di atas pangkuan Orlando.


******


Tok--Tok--Tok.


Safa sedikit berlari saat mendengar suara ketokan pintu, ia yakin kalau itu adalah Orlando. Membuat perasaannya sedikit legah.


Namun nyatanya saat Safa membuka pintu yang datang adalah Febri, membuat Safa bingung dari mana Febri tau rumahnya.


"Ngapain Mas kesini ?" tanya Safa


"Aku mau bertemu dengan anakku"


"Dia sudah tidur Mas, besok saja" Safa hendak menutup pintu namun Febri langsung menahannya.


"Apa lagi Mas ?" tanya Safa kesal.


"Makanya jangan tutup dulu, lihat siapa yang datang bersama ku"


Mata Safa melirik, ia terkejut melihat kehadiran Wina. Apalagi saat Wina langsung memeluk Safa dengan erat.


"Kamu kembali Nak ? kamu kembali ?" Wina terisak, ia begitu erat memeluk tubuh putri nya yang sudah lama menghilang.


"Ibu...."


"Maafkan Ibu Fa !! Maafkan atas kesalahan Ibu ! Selama ini Ibu sudah jahat sama kamu, Ibu terlalu di butahkan dengan cinta yang sesat"


Safa mengelus punggung Wina, ia tak menyangka Ibu yang dulu telah mengusirnya, Ibu yang dulu dengan tega tak menganggapnya anak lagi, sekarang sedang memeluknya dengan erat.


Apa ini Mimpi ?


"Ibu benarkah ini Ibu yang sedang memeluk ku ?" tanya Safa dengan lelehan air mata yang begitu deras.


"Iya sayang, ini Ibu kamu, ibu nya Safa"


"Aku rindu sama Ibu, rindu sekali"


******

__ADS_1


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...


__ADS_2