
Desi pergi meninggalkan rumah Wina dengan perasaan kesal. Awalnya ia mengira setelah memberikan info tentang Safa maka keluarga Safa akan terkejut dan langsung menjemput Safa. Namun nyatanya Wina beserta yang lain tak ada yang peduli dengan Safa.
Akan tetapi sebelum memasuki mobil, Sara berteriak dan memanggil Desi. Sesaat Desi menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Sara.
"Tante tunggu !" pinta Sara dengan nafas ngos-ngosan.
"Ada apa ?" tanya Desi.
"Aku mau bantu Tante supaya buat Safa pergi dari hidup suami Tante"
Kening Desi kembali mengkerut membentuk lipatan kecil..Ia tak mengerti maksud dari ucapan wanita yang cantik yang mengaku sebagai kakak tiri Safa itu.
"Membantu bagaimana maksudnya ?"
"Iya membantu Tante untuk membuat Safa pergi, aku akan lakukan apa saja supaya Safa mau meninggalkan suami tante" jelas Sara dengan senyum liciknya.
"Kenapa kamu mau membantu Saya ? kamukan kakak nya Safa ?"
Sara berdecak "Saya tu kakak tirinya Safa, dari dulu saya gak pernah suka sama dia, dan saya ingin membuat Safa menderita"
"Dan asal tante tau, aku yang membuat Safa terusir dari rumahnya sendiri" sambung Sara kemudian.
Desi tampak berpikir sejenak, ternyata Sara juga membenci Safa sama seperti dirinya.
"Tak ada salahnya aku bekerja sama dengan nya, supaya sih pelakor itu cepat pergi dari kehidupan suamiku" ucap Desi dalam hati.
"Ok saya mau bekerja sama dengan mu" Desi akhirnya menyetujui keinginan Sara yang ingin berniat jahat sama Safa.
Seketika Sara tersenyum lebar "Aku minta nomor Tante boleh ? biar enak saling hubungi"
"Boleh kok" Desi menyebutkan nomor ponselnya, sementara Sara langsung mencatat di ponselnya.
"Makasih Tan, entar kalau Tante butuh bantuan langsung hubungi aku ya ! aku siap 24 jam untuk membantu Tante"
Desi menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum "Ya sudah kalau gitu saya permisi dulu, sampai jumpa lain waktu"
"Bye Tan" Sara melambaikan tangannnya. Sementara Desi kembali memasuki mobilnya.
Setelah kepergian Desi. Sara kembali masuk kedalam rumah dengan perasaan senang bukan main. Ia bahagia karena selain dirinya dan sang Ayah, ada orang lain juga yang begitu membenci adik tirinya itu.
**********
__ADS_1
Siang ini Febri akan berangkat bekerja karena memang ia ada jadwal praktek siang ini. Febri berangkat dari apartemen.
"Hati-hati Mas" ucap Safa.
"Hmmmm, kamu juga hati-hati, gak usah nungguin Mas nanti malam soalnya Mas juga gak pulang kesini"
Safa hanya menganggukan kepalanya "Iya Mas aku mengerti"
"Makasih ya kamu selalu ngertiin Mas, kalau ada apa-apa langsung hubungin Mas"
"Iya Mas"
Sebelum Febri pergi Safa mencium punggung tangan suaminya. Ia menatap kepergian Febri sampai suaminya itu tak terlihat lagi.
Saat Safa hendak masuk dan kembali menutup pintu apartemen, Desi muncul dan menbuat Safa kaget.
"Mbak Desi ...." ucap Safa.
"Kenapa ? kaget lihat saya datang kesini ?"
"Tidak mbak, ayo masuk dulu Mbak biar Safa buatkan minuman !"
"Enggak usah sok baik deh, apapun yang kamu lakukan di mata saya kamu tetaplah seorang pelakor"
"Ayo duduk dulu ! ada yang ingin saya katakan !" ajak Desi.
Safa menurut ia duduk di sofa dimana Desi sudah duluan duduk disana.
"Tinggalkan mas Febri dan pergilah yang jauh. Mengenai biaya lahiran dan hidup kamu aku yang akan menjamin." ucap Desi langsung. Bahkan tanpa basa-basi sedikitpun.
Safa memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap kearah Desi. "Maaf mbak aku tak bisa melakukan itu, anak di kandungan ku butuh Ayah nya, dan Mas Febri juga sangat mengingin kan anak ini" balas Safa kemudian.
"Dasar wanita tak tahu diri, harusnya kamu sadar kalau kamu sudah merusak kebahagiaan orang lain. Sampai kapanpun saya gak akan mau di madu dan juga saya gak akan sudi ada orang lain yang memanggil suami saya dengan sebutan Ayah" bentak Desi dengan kemarahan memuncak.
"Maafkan aku mbak Desi, aku tau aku salah, tapi coba mbak pikirkan jika aku melahirkan anak ini itu berarti mbak akan jadi seorang ibu juga. Kita rawat dia sama-sama mbak"
"Cuiiihhhh" Desi melempar ludanya ke sembarang arah "Kau kira aku mau menerima anak haram itu Hah ? tidak akan itu Safa"
"Dia bukan anak haram mbak, dia punya Ayah dan Ayahnya yaitu Mas Febri"
"Terserah kamu, kalau kamu tak mau pergi jangan salahkan aku jika aku melakukan hal yang buruk padamu dan juga anakmu"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Desi langsung pergi dari apartemen.
Safa menghela nafas panjang, takut dan juga khawatir dengan keadaan nya sendiri.
"Jangan takut Fa, Mas Febri pasti akan melindungiku" batin Safa
*******
Di rumah sakit Febri bertemu dengan Yohan, namun keduanya tak ada yang saling sapa sedikitpun, Febri bahkan langsung masuk keruangannya tanpa menoleh ke arah Yohan.
Dan itu membuat Ardi bingung, pasalnya tak biasanya kedua sahabatnya itu seperti ini.
"Febri kenapa ? tumben gak nyapa kita ?" tanya Ardi pada Yohan.
"Gak rugi gue gak saling sapa sama tu bajingan" balas Yohan, jika mengingat kelakuan Febri tadi pagi amarah Yohan kembali memuncak.
"Ada masalah apa sih ? kok gue gak tau apa-apa ?"
Yohan pun langsung menceritakan bagaimana Febri tadi di rumahnya. Bahkan Yohan juga menceritakan Desi menuntut untuk kasih tau semuanya tentang Febri. Tapi Yohan tak menceritakan semuanya ia hanya mengatakan kalau Febri ada di apartemen.
"Astaga, kenapa dia jadi seperti itu ? padahal rumah tangga nya berantakan karena dia sendiri yang main api" gumam Ardi.
"Udah lah jangan bahas dia, eneg gue dengar namanya. Mending kita kembali kerja"
Ardi menepuk bahu Yohan dengan pelan setelah itu kedua dokter tampan itu kembali dengan rutinitas mereka yaitu menangani dan mengobati pasien.
Sementara di ruangan Febri, laki-laki itu juga merasa kesal karena bertemu dengan Yohan, bagi Febri. Yohan lah yang menyebabkan semuanya berantakan seperti ini.
"Jika saja Yohan tak memberi tahu keberadaan ku di apartemen semuanya gak akan seperti ini" gumam Febri.
Triiing.
Ponsel Febri berdering, dengan cepat laki-laki itu melihat layar segi empat tersebut.
"Malam ini pulang kerumah ya Mas, aku akan masak makanan kesukaan kamu"
Pesan singkat dari Desi baru saja ia terima, membuat Febri tersenyum senang. Ia berharap besok-besok Desi mau menerima keberadaan Safa dan kedua istrinya itu bisa hidup dengan akur.
"Aku tau kamu wanita yang baik Des, aku yakin kamu mau menerima Safa menjadi madu kamu, rumah tangga kita akan baik-baik saja dan kita akan segera mempunyai anak" gumam Febri.
---
__ADS_1
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...